Skip to main content

Peniadaan Salat Jum’at Karena Virus Corona, Bagaimana Sikap Kita?

Salat Jum’at adalah ibadah pekanan yang diwajibkan kepada setiap muslim sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumuah ayat 9. Sebagai kewajiban, salat jum’at tentu saja tidak boleh ditinggalkan begitu saja karena hal tersebut akan menjadikan seorang muslim berdosa dan pintu hatinya akan tertutup.

Akhir-Akhir ini, penomena besar telah menimpa beberapa Negara dan menjadi perhatian serius dunia internasional. Wabah virus corona atau dikenal dengan istilah covid-19 yang muncul pertama kali di Negara cina tepatnya wuhan awal desember lalu menjadi ancaman serius bagi setiap orang di belahan dunia temasuk Indonesia.
Peniadaan Salat Jum’at Karena Virus Corona, Bagaimana Sikap Kita?

Tamu dari cina tersebut menyebar dengan begitu cepat seakan tidak ada tabir yang dapat menghalanginya memaksa pemerintah melakukan pembatasan kegiatan diluar rumah termasuk aktivitas beribadah seperti salat berjamaah dan salat jum’at yang pada prinsipnya adalah kewajiban bagi kaum muslimin.

Sikap Kita Dalam Menyikapi Peniadaan Salat Jum'at

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga penjamin kemaslahatan ummat dalam menjalankan syariat, telah mengeluarkan himbauan secara resmi untuk meniadakan salat jum’at selama dua pekan dan menggantinya dengan salat duhur di rumah masing-masing. 

Baca Juga: Virus Corona Hanya Satu Diantara Penyebab Kematian

Adapun poin-poin fatwa mui provinsi Sulawesi selatan dalam menyikapi Covid-19 tersebut, adalah:
  1. Pelaksanaan salat jumat selama dua pekan ditiadakan karena daerah tersebut telah termasuk dalam kategori pandemic virus.
  2. Pelaksanaan salat Jum’at diganti dengan salat duhur di rumah masing-masing.
  3. Jika penyebaran virus corona telah menurun, salat Jum’at kembali dilakukan di masjid dengan tetap menjaga jarak dan bersalaman serta perlengkapan salat dibwa masing-masing.
  4. Untuk menghindari terpapar berita hoax, masyarakat hendaknya merujuk pada otoritas pemerintah yang resmi terkait virus corona.
  5. Agar masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan, senantiasa bersalawat dan beristigfar, serta meningkatkan iman dan takwa.
Himbauan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawasi Selatan tersebut menjadi rujukan bagi basyarakat untuk meniadakan salat Jum’at dan menggantinya dengan salat duhur di rumah masing-masing.

Dalam perkembangannya di masyarakat terutama di media-media sosial, himbauan tersebut menuai polemik dengan masing-masing argumen yang diungkapkan. Hal tersebut seakan menjadi masalah baru akibat Virus Corona yang mewabah di Negara kita. Kemudian bagaimana sikap kita dalam menyikapi peniadaan salat Jum’at karena Covid-19 tersebut?.

Sebagai seorang muslim yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan, hendaknya berfikir dan bertindak berdasarkan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadis. Melakukan sebuah tindakan dalam beragama yang didasarkan pada bisikan hawa nafsu semata akan menjauhkan kita dari kebenaran.

Patut kita berbangga bahwa kebanyakan kaum muslimin ketika agamanya merasa diotak-atik maka jiwa amarahnya akan bergejolak meskipun mungkin dalam kesehariannya terkadang alfa dari menjalankan kewajibannya. Hal tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi umat islam sekaligus sebagai bahan evaluasi keberhasilan pendidikan islam di Negara kita.

Berbuat tanpa ilmu ibarat berjalan tanpa kompas ujungnya akan tersesat. Beribadah tanpa akidah ibarat menanam rumput ilalang, tumbuh subur cepat beranak tapi tak berbuah. Ilmu dan akidah harus satu tak terpisahkan dalam memahami dan menjalankan agama secara benar.

Baca Juga: Dampak Virus Corona Terhadap Pendidikan di Indonesia

Menurut pandangan penulis, sikap kita sebagai seorang muslim, yaitu:
  • Menerima himbauan tersebut sebagai keputusan yang mengayomi.
  • Menjalankan himbauan tersebut jika berdomisili di wilayah yang sudah jelas terpapar virus corona dan atau daerah lintasan wabah tersebut seperti bandara, terminal dam sebagainya.
  • Menjauhi cacian dan umpatan terhadap terhadap saudara seiman yang menjalankan himbauan tersebut demikian sebaliknya. Apalagi terhadap para ulama yang menetapkan keputusan.
  • Tetap menjalankan salat berjamaah dan salat jum’at di daerah pedesaan yang masih terisolasi seperti di Dusun Pattallassang Desa Tabbingjai Kecamatan Tombolo Pao Kab. Gowa dan daerah lainnya yang senasib.
Pandangan penulis tersebut didasarkan pada beberapa alasan, yaitu:
  • Himbauan Majelis Ulama Indonesia tersebut sudah pasti melalui kajian mendalam dengan berbagai pertimbangan yang matang dimana lembaga keagamaan islam tersebut merupakan kumpulan ulama berintegritas dan berilmu.
  • Salat Jum’at tidak mutlak wajib kepada setiap laki-laki dewasa. Kewajiban salat Jum’at akan gugur jika terdapat uzur atau penghalang seperti hujan deras dan kekhawatiran terhadap keselamatan jiwa misalnya dalam keadaan perang yang bergejolak. Virus Corona adalah wabah yang dapat mengancam jiwa diri sendiri dan orang lain.
  • Sebagai ketaatan kepada pemimpin dalam menjaga keberlangsungan hidup masyarakatnya baik secara fisik dan mental.
Demikian penjelasan tentang sikap seorang muslim dalam menyikapi peniadaan salat jum’at akibat Virus Corona tersebut. Tulisan ini hanya berdasarkan pandangan dari penulis berdasarkan keilmuan yang dimilikinya yang mungkin terdapat perbedaan pandangan dengan saudaraku yang lain.(AZ)
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar