Skip to main content

Panduan Pelaksanaan Ibadah Haji

Ibadah haji adalah salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim apabila mereka memiliki kesanggupan untuk melaksanakannya. Ibadah haji adalah ibadah yang dilakukan setiap tahun yaitu dengan mengunjungi Baitullah dengan tujuan ibadah dengan melalakukan serangkaian ritual berdasarkan syarat dan ketentuan dan hanya mengharapkan ridho Allah swt.

Bagi orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji ke Baitullah, akan diberikan pembekalan terkait kegiatan selama ibadah haji dilakukan dan juga pelatihan panduan tata cara pelaksanaan ibadah haji melalui program manasik haji. Manasik haji umumnya dilaksanakan 3-6 bulan sebelum jamaah berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ritual ibadah haji.

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji

Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat sakral bagi umat islam, apalagi hanya dapat dilaksanakan satu kali setiap tahun. Oleh karena itu, pelaksanaan ibadah haji harus dilaksanakan sebaik mungkin berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan agar pelaksanaan ibadah hajinya sah dan diterima Allah swt. Untuk itu, pada artikel kali ini dijelaskan panduan pelaksanaan ibadah haji agar bapak/ibu dapat melaksanakan ibadah haji dengan benar sesuai syarat dan ketentuan ibadah haji.

1. Ihram

Ihram adalah berniat melaksanakan ibadah haji dengan memakai pakaian suci yang disebut pakaian ihram. Bagi jamaah haji laki-laki diharuskan memakai pakaian ihram yang tidak berjahit, sedangkan bagi wanita memakai pakaian ihram yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Baca Juga : Pelaksanaan Ibadah Umrah
Ketika Bapak/Ibu sudah mengenakan pakaian ihram pada tanggal 8 Zulhijjah dan berniat melaksanakan ibadah haji dengan mengucapakan niat, maka prosesi ibadah haji Bapak/Ibu sudah dimulai. Adapun niat pelaksanaan ibadah haji, yaitu:
LABBAIKA HAJJAN Atau LABBAIKA ALLAHUMMA HAJJAN “Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan ibadah Haji.” 
Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan kalimat talbiyah, yaitu:
LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIK, LABBAIKA LAA SYARIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WALMULK. LAA SYARIKA LAK. “Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu: aku penuhi panggilan-Mu Tiada sekutu bagi-Mu, aku pnuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan ni’mat adalah kepunyaan-Mu; demikian pula segala kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.” 

2. Mabit di Mina 

Ketika matahari sudah terbit pada tanggal 8 Zulhijjah, Bapak/Ibu berangkat ke Mina untuk bermalam di sana sampai subuh tanggal 9 Zulhijjah. Adapun aktifitas yang dilakukan selama di Mina yaitu melaksanakan salah Duhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh yang dilakukan dengan mengqashar yaitu jumlah rakaat yang empat menjadi dua rakaat. Selain itu, Bapak/Ibu dapat melakukan aktifitas lain seperti memperbanyak zikir dan berdiskusi dengan Jemaah haji yang lain.

3. Wukuf di Arafah 

Wukuf adalah prosesi ibadah haji yang dilakukan dengan duduk menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan dan berdo’a kepada Allah swt tentang apa saja yang Bapak/Ibu harapkan. Selain itu, bapak/ibu memperbanyak ampunan kepada Allah, banyak berzikir, membaca Al-Qur’an, atau mendengarkan nasehat.

Setelah matahari terbit di Mina, selanjutnya bapak/ibu akan berangkat untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Wukuf di Arafah dilaksanakan setelah salat Duhur sampai terbenam matahari pada tanggal 9 Zulhijjah. 

4. Mabit di Muzdalifah

Setelah matahri terbenam di Arafah, bapak/ibu akan berangkat ke Musdalifah untuk bermalam di sana. Di sana bapak/ibu melaksanakan salat magrib dan isya dengan jamak qasar, selanjutnya bapak/ibu tidur sampai subuh. Silahkan bapak/ibu kumpulkan batu kecil sebanyak 7 biji untuk persiapan melempar jumrah.

5. Melempar Jumrah Aqabah

Melempar jumrah aqabah dilaksanakan pada tanggal 10 zulhijjah setelah matahari tertib atau pada waktu duha. Perlu bapak/ibu perhatikan pada saat melempar jumrah untuk mendekati jumrah tanpa menyakiti jamaah haji yang lain. Setelah bapak/ibu mengambil posisi sebelah kanan dari kiblat, bapak/ ibu berhenti melantunkan talbiyah dan silahkan melakukan lemparan jumrah sebanyak tujuh kali yang diiringi takbir pada setiap lemparan.

6. Tahallul Awwal

Tahallul atau memotong rambut dilakukan dengan dua cara, yaitu:
  1. Memotong rambut pendek saja bagi jamaah haji laki-laki dan memetong beberapa helai bagi jamaah perempuan.
  2. Memangkas seluruh rambut sampai gundul khusus bagi jamaah haji laki-laki, dimulai dari sebelah kanan.
Setelah melakukan tahallul, bapak ibu dibolehkan mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa dan seluruh ketentuan larangan ihram dihalalkan kembali selain bersetubuh.

7. Hadyu 

Hadyu adalah memetong hewan kurban yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jika bapak/ibu tidak sempat melaksanakannya pada hari tersebut, bapak/ibu boleh melaksanakannya pada tanggal 11-13 zulhijjah atau pada hari Tasyrik.  Bapak/ibu bisa melakukannya sendiri atau mewakilkannya kepada yang amanah.

8. Tawaf Ifadah

Ritual pelaksanaan ibadah haji selanjutnya adalah tawaf ifadah yaitu mengelili Ka’bah sebanyak 7 kali putaran yang dimulai dengan memberi salam kepada Hajar Aswad demikian juga setelah mengakhirinya yang dilaksanakan pada tanggal 10 Zulhijjah. 
Thawaf Ifadah juga dapat  dilaksanakan  pada hari Tasyrik jika terdapat uzur pada tanggal 10 Zulhijjah. Selain itu, tawaf ifadah juga boleh dilakukan di luar hari hari Tasyrik jika memiliki halangan tertentu sampai halangan tersebut selesai.  

9. Tahallul Tsani

Tahallul tsani adalah melaksanakan  satu dari tiga hal yang belum dilakukan pada tahallul awwal. Semua larangan haji termasuk berhubungan suami istri kembali halal setelah tahallul Tsani dikerjakan.  Setelah tawaf, bapak/ibu kembali ke Mina sebelum magrib dan tidak boleh bermalam di Mekkah. 

10. Melempar Tiga Jumrah

Melempar  tiga jumrah dilaksanakan setelah salah duhur pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Namun bagi yang berhalangan, boleh mengerjakan sampai tengah malam.  Adapun Tiga jumrah yang dimaksud yaitu Jumratul Ula, Jumratul Wustha, Jumratul Aqabah. 

11. Thawaf Wada’

Rangkaian pelaksanaan ibadah haji yang terakhir adalah Thawaf Wada’. Tawaf wada’ dilaksanakan sama dengan tawaf ifadah akan tetapi tidak ada sa’i. Ibadah haji wanita yang haid tanpa melakukan tawaf wada tetap sah.

Demikian penjelasan tentang panduan pelaksanaan ibadah haji. Semoga bapak/ibu dapat melaksanakan ibadah haji dengan benar berdasarkan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar