Skip to main content

Renungan Hidup : Pertanyaan Bocah Kecil Untuk Sang Ayah

Pagi itu seperti biasa selepas shalat subuh aku berangkat jalan-jalan subuh di daerah tempat dimana aku tinggal. Ditemani bocah lelakiku yang usianya 5 Tahun yang tidak mau ketinggalan ketika ayahnya hendak keluar rumah.  Abi saya naik kuda-kuda ya, itulah ucapan yang selalu disampaikan ketika kami keluar sekitar kompleks. Saya pun mengangkatnya ke atas pundakku, Kami pun jalan-jalan santai tidak jauh dari rumah kami.
Selama perjalanan, kami sering bercanda dan saling melontarkan pertanyaan satu sama lain. 

Pertanyaan Bocah Kecil Untuk Sang Ayah

Pagi itu tampak masih sangat sunyi, sinar mentari pun masih tampak sayu, sesekali masih terdengar nyanyian serangga yang menemani perjalanan dan percakapan kami berdua. Tiba-tiba sang bocah memulai pembicaraan.
Renungan Hidup

Bocahku : Abi, kenapa kita (Bahasa Makassar yang berarti kamu) suka jalan-jalan subuh?
Saya : Iya, ” Supaya kita menjadi sehat”, Jawabku Singkat.
Bocahku : “Oh….” Jawabnya Singkat seakan mengerti. Tapi kenapa orang-orang masih belum pada bangun? Sang bocah melanjutkan pertanyaanya.
Saya : “Iya, mungkin mereka mengira ini masih malam”, jawabku Singkat sambil mengikuti ayunan kaki.
Bocahku : “Tapi kan Abi, ini sudah agak terang kenapa mereka masih mengira malam, seharusnya kan sudah bangun”, sang bocah kembali menimpali jawabanku.
Saya : “Mungkin mereka kecapean, sehingga mereka tidurnya lelap”. Aku mencoba memberi jawaban dari arah lain.
Bocahku : “Kenapa mereka kecapean?”. Sang bocah kembali bertanya.
Saya : “Iya, karena mereka kerja diwaktu siang makanya malam mereka istirahat”. Aku mencoba memberi jawaban formalitas.
Bocahku : “Kalau orang kerja capek ya Abi? Tapi Abi tidak capek”, Sambil menengadah menatapku berharap penjelasan.
Saya pun berhenti dan duduk di pinggiran tanah kosong ditemani sang bocah di sebelah kananku. Percakapan pun saya lanjutkan.
Saya : “Nak, Abi itu capek sepulang kerja makanya kan Abi cepat tidur, betul tidak?”, Saya berusaha meminta persetujuan darinya.
Bocahku : “Betul !!!” Jawabnya Singkat. Dengan wajah yang agak sedikit layu, dia melanjutkan pembicaraannya. “Tapi Abi, kenapa tidak temani saya main robot-robot tadi malam padahal kan saya sudah tunggu dari sore”.
Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak, kutatap sang bocah dengan senyuman lirih kurangkul pundaknya kusembunyikan perasaan bersalah dalam dadaku sambil berfikir jawaban dari pertanyaan yang menusuk tersebut.
Saya : “Abi minta maaf, sebentar saya temani main ya?”. Aku berusaha bernegosiasi agar perasaan kecewanya dapat pudar.
Bocahku : “Abi, Janji ya…” Diiringi senyuman mekar penuh harap.
Saya : Sambil mengangkat dua jempol, kuucapkan “sip !!!”.
Mentari pagi sudah mulai menyinari sekitar, kami pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan kembali ke rumah. Dalam perjalanan, berbisik aku dengan diriku, ternyata banyak asa yang tersimpan dalam diri sang anak. Perhatian yang kuberikan selama ini ternyata masih kurang. Atukah dia yang sudah mampu menggunakan nalarnya untuk mengungkapkan perasaannya?. Kumantapkan dalam benakku,  “Sesibuk dan secapek apapun, aku harus meluangkan waktu untuknya”.

Untuk Direnungkan

Apakah karena kesibukan, sehingga keluarga kita terkadang alfa dari kehadiran kita? Apakah materi yang kita kejar selama ini sudah cukup untuk keluarga kita? Apakah perhatian yang kita anggap cukup, bagi mereka itu juga sudah cukup? 
Pertanya-pertanyaan tersebut sifatnya relatif, tergantung dari masing-masing kita yang menjalani alur kehidupan ini. Tapi yang pasti, berusalah untuk selalu hadir bagi mereka yang bersandar di pundakmu, butuh kehangatanmu, dan butuh petuahmu.

#Goresan Pena AZ
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar