Skip to main content

Pintarjaki Berenang?: Kisah Inspiratif Sang Khatib

Hari Jum’at pernuh berkah setiap umat islam berkewajiban melaksanakan shalat jum’at saat ia taka da uzur. Kutapaki jalan menuju rumah Ilahi berharap keberkahan milikku hari ini. Kuraih air wudhu, kubasuh anggota tubuh rukun wudhu sebagai syarat sahnya ibadahku hari ini. Bertafakkur aku menanti sang khatib menyampakain petuah-petuah hidup untuk diri lebih baik dari kemarin.
Detik waktu menandakan ritual ibadah jum’at akan segera dimulai. Sang khatib dipersilahkan naik ke mimbar untuk menyampaikan nasehat penggugah hati sebagai salah satu rukun ibadah hari ini. Berdiri sang khatib, kulirik ia masih begitu muda, berkulit putih dengan paras yang rupawan dihiasi rabut-rambut tebal berwana agak kecoklatan memenuhi dagu dan pipinya menambah kerupawanan sang khatib.

Berdiri ia dengan tegap menatap mereka yang bersimpuh siap mendengarkan petuahnya diringi dengan ucapan dari lisannya, “Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Disambut gemuruh para jama’ah, “Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh”. Sang khatib kembali duduk di atas mimbar yang memang ketentuannya seperti itu mendengarkan suara azan melengking menggetarkan hati pelumat nestapa asa dunia.
“Lailaha Illallah”, Untaian suara azan terkahir dari sang muazzin menandakan azan telah selesai dilantunkan dan khutbah akan segera dimulai.

Kisah Inspiratif Sang Khatib

Berdiri sang khatib dari tempat duduknya, dengan suara menggema ia mulai menyampaikan nasehatnya kepada kami para jama’ah. Sebuah kisah yang ia ceritakan kepada kami, yang menurutnya ia kutib dari cerita seorang ilmuan muda bergelar professor yang merupakan rektor salah satu Universitas Negeri di Makassar yang kebetulan saya pernah menimba ilmu di sana.
Sang Khatib mulai mengisahkan, Pada suatu hari, seorang professor akan mengadakan penelitian di sebuah daerah pedalaman jauh dari keramaian. Karena medan yang begitu sulit, maka perjalan ke tempat yang dituju harus melalui jalur sungai. Sang professor tanpa pikir panjang mencari nelayan untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.
Selama perjalanan ke tempat tujuan, sang professor bertanya kepada sang nelayan, “Mutauji itu apa dibilang ilmu biologi?”. Dengan nada polos sang nelayan menjawab, “ Apa itu biologi?, tidak kutauki karena tidak pernaka belajar”. Dengan nada yang menggurui sang professor menimpali jawaban sang nelayan, “Rugi sekaliki, kamu sudah kehilangan 20 persen hidupmu”.
Kemudian sang professor kembali melanjutkan percakapan, “Kalau fisika, mutauji?”. Sang nelayan menjawab dengan minder, “Makanan ikan kapang (Mungkin: Bahasa Makassar) prof”. Sang professor kembali menjawab dengan nada merendahkan, “Sekarang kamu sudah kehilangan 50 persen dari hidupmu”.
Beberapa menit berlalu, sang professor kembali bertanya dengan pertanyaan serupa, “Kalau biologi dan fisika tidak mutau, pasti kamu tau tentang geografi?”. Sang nelayan dengan nada pasrah menjawab, “Tidak kutauki juga apa itu geografi”. Mendengar jawab sang nelayan, sang professor tertawa dengan sinis seraya berkata, “Kamu benar-benar sudah kehilangan 80 persen dari kehidupanmu!”. Sang nelayan tertunduk malu dengan komentar sang professor dengan segala kehebatan yang ia tonjolkan.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba urus sungai menjadi deras dikuti angin kencang yang menerpa perahu sang nelayan. Awan menghitam dengan suara petir menggelegar disertai tetesan air mulai berjatuhan. 
Dengan sedikit panik sang professor kembali bertanya kepada sang nelayan, “Kenapai ini?”. Dengan tenang sang nelayan menjawab, “Biasanya kalau seperti ini akan terjadi badai dan ombak besar dan kemungkinan perahu kita akan tenggelam”. Kemudian sang nelayan melanjutkan pertanyaannya kepada sang professor, “Pintarjaki Berenang?”.
Dengan wajah pucat sang professor menjawab, “Tidak Kutauki Berenang”. Dengan tenang sang nelayan menjawab, “Kalau begitu prof sudah kehilangan 100 persen dari kehidupanta!”.
Sang khatib mengakhiri kisahnya, Bahwa setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing yang terkadang orang lain tidak tahu tentangnya. Manusia harus menjauhkan diri dari sifat kesombongan sebab ia akan mengantarkan manusia kepada kebinasaan. Sang khatib kemudia menjelaskan  makna hadis Nabi tentang orang yang memiliki sifat sombong dalam dirinya meskipun hanya sebesar biji zarrah tidak akan mencium bau syurga.

Sang khatib kemudian menyimpulkan, kesembongan manusia disebabkan karena beberapa hal yang ada padanya, yaitu:
1.Secuil ilmu yang dimilikinya
2.Sebongkahan Harta yang dititipkan kepadanya
3.Segenggam kekuasaan yang diamanahkan untuknya

Aku tertunduk berbisik dengan diriku, bermunajab dalam doakaku, tertanam dalam qalbuku, kesembongan harus menjauh dariku, ketawadhuan harus mengiringi tapakku dan keikhlasan harus bertengger dalam jiwaku tak peduli secongkak apapun sekitarku.

Goresan Pena AZ.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar