Skip to main content

Cinta dan Pacaran :Diskusi Guru dan Muridnya

Hari itu cuaca tanpak cerah, terlihat senyuman mekar dari beberapa anak yang duduk di bawah pohon asam yang tumbuh di samping sekolah mereka. Sesekali terdengar pekikan tawa dari cerita yang mereka kisahkan yang aku tak tahu tentang apa itu. Tersenyum sendiri aku dari jauh, memperhatikan mereka yang seakan dunia miliknya tanpa beban yang bertengger di pundaknya. Ingatanku datang menyapa mengenang  masa silam saat usiaku masih seumuran mereka bersama para sahabat yang hari ini entah dimana rimbanya.

Sorot mataku tertuju pada seorang siswa yang usianya sekitar 15 Tahun yang duduk menyendiri jauh dari teman-temannya yang saling berbagai cerita. Wajahnya lusuh, layu Nampak kehilangan arti dalam hidupnya. Merenung ia menatap dedaunan yang menari oleh hempasan angin sepoi yang seakan penasaran dengan cerita hidupnya. Bergumam dalam benakku seakan sehati dengan isyarat alam yang hanya mengikuti qadar ilahi, tumbuh rasa penasaran yang jawabannya tak bisa diulur sang waktu.

Diskusi Guru dan Muridnya

Beranjak aku dari kedudukanku, melangkah kaki diringi ayunan tangan yang seirama mendekati sang anak yang sekan tak perduli dengan alam sekitarnya.
Guru : “Assalamualaikum”, ucapku sambil mengulurkan tangan ke arahnya tanda salam kepadanya.
Siswa : “Waalaikumussalam, Eh Bapak…”. Dengan sedikit kaget dan kelihatn gugup, ia meraih tanganku dan menciumnya sebagai bentuk penghormatan kepada gurunya.
Aku duduk disamping kanannya seakan tidak mengerti dengan sikap sang remaja yang dari tadi aku perhatikan dari kejauhan. Dengan santai aku mencoba membuka pembicaraan.
Guru : “ Gimana kabarnya, sudah salat Duhur belum?”. 
Siswa : “Alhamdulillah baik, Iya pak sudah dari tadi sama teman-teman”, Sambil tersenyum meski masih tampak raut wajah yang layu.
Guru : “Ini cuacanya enak ya, terasa sejuk!!”, Aku mulai berbasa basi sebelum kukupas isi hatinya.
Siswa : “Iya Pak, Sejuk!!”, Iya menjawabnya Singkat sebagai tanda kegundahan hatinya.
Guru : “Oh iya… Dari tadi Bapak perhatikan, kamu tidak sepert biasanya, kamu ada masalah ya?”, Aku mulai mencoba memasuki alamnya.
Siswa : “Tidak kok pak, biasa aja”. Dia berusaha menyembunyikan masalahnya meski bahasa tubuhnya tampak berbeda.
Guru : “Yakin kamu baik-baik saja?”, Saya mencoba berbahasa negosiasi kepadanya. Kemudian saya lanjutkan, “Dulu waktu saya seusia kamu, saya juga sering seperti ini, duduk termenung sendiri, resah, sedih, gundah gulana, kecewa, cemburu bercampur menjadi satu, membuat saya tidak begitu semangat, Kamu tahu tidak apa sebabnya?, Karena seorang teman kelas yang jelita”. Aku mulai mencoba berselancar dialam pikirannya.

Tiba-tiba ekspresinya berubah 180 derajat, dia memperbaiki posisi duduknya seakan ceritaku adalah kisahnya. Kali ini bukan lagi saya yang melontarkan pertanyaan, siswa tersebut mencoba menggali kisahku.
Siswa : “Terus, terus… ceritanya gimana pak?”, dengan ekspresi wajah yang sumringah seakan memaksaku menceritakan kisah itu.
Guru : “ Iya, Dulu waktu saya masih usia 15 Tahun ketika itu saya duduk di kelas 3 SMP jatuh cinta pada seorang teman kelas yang begitu anggun dan jelita, setiap saat wajahnya terbayang dalam ingatan, setiap langkah seakan ia menyertaiku, setiap dudukku seakan ia di sampingku, dalam tidurku ia hadir menyapaku”. 
Dengan wajah yang berseri-seri siswa tersebut sontak berucapa “Pas!!!”. Saya kemudian berhenti berkisah dan kembali menggali isi pikiran dan bahasa hati sang siswa.
Guru : “Pas… maksudnya apa ya?”. Pura-pura tidak mengerti apa yang dialami siswa tersebut.
Siswa : Dengan bahasa negosisasi ia berkata, “Tapi jangan bilang ke teman-teman ya pak!!, Sebenarnya ada yang saya suka di kelas, pas seperti kisahnya bapak, wajahnya selalu terbayang setiap saat”. 

Cinta dan Pacaran

Dengan sedikit malu, ia mulai terbuka kepadaku. Kemudian saya terus menggali dan mencoba memahami sang remaja tersebut. Saya kemudian melanjutkan perbincangan.
Guru : Dengan sedikit tersenyum aku bertanya, “ Terus…. Mengapa kamu kelihatan tidak bersemangat?, Bukankah seharusnya kamu lebih bersemangat lagi?”
Siswa :  Tiba-tiba ekspresinya kembali layu dan berkata, “ Ustaz saya bilang, kita sebagai seorang muslim yang baik tidak boleh pacaran karena itu pelanggaran agama”. Seakan tidak menerima petuah sang ustaz, ia kemudian bertanya, “Apa benar kita tidak boleh pacaran ya pak?”.

Dengan tatapan yang halus, aku berusaha menjawab pertanyaa tersebut dengan pendekatan negosiasi agar hatinya dapat menerima dan menghindari keterguncangan fikiran.
Guru : “Begini…. Allah itu menciptakan makhluknya dengan cinta dan kasih sayang, termasuk kita sebagai manusia. Cinta itulah yang memberi makna dalam hidup kita. Tanpa cinta, kehidupan tidak akan berjalan harmonis dan akan terjadi kekacauan dalam dunia ini”.
Dengan wajah yang kembali bercahaya seakan berkata “Inilah yang benar”, siswa tersebut kembali bertanya, “Berarti pacaran boleh ya pak?”.
Saya kemudian menjelaskan tentang arti cinta dan pacaran, berharap ia dapat menerima penjelasanku dan ia bisa membedakannya.
Guru : “Begini… Cinta itu adalah anugerah sang ilahi dan cinta adalah bahasa hati, kita bahagia karenanya. Sementara pacaran itu bahasa tubuh, seperti bergegangan tangan, pergi berduaan, saling telfonan, videocall dan sebagainya. Nah itu tidak boleh, kamu harus menjauhi itu, pacaran itu bisa merusak kehidupan kita. Coba lihat berapa banyak orang yang tidak mencapai cita-citanya karena terpaksa menikah yang diawali dari pacaran, Betul tidak??”. Aku berusaha menjelaskan secara persuasif dan meminta persetujuan darinya.

Dengan kepala yang mengangguk-angguk seakan paham dengan penjelasan tersebut, siswa tersebut menjawab, “Betul, betul!!”. Kemudian ia melanjutkan pembicaraan.
Siswa : “Berarti... tidak boleh pacaran ya pak?, tapi jatuh cinta tidak apa-apa kan pak?”, Sambil ia menatap saya menandakan ia paham tentang kedua konsep tersebut.
Guru : “Iya tidak boleh pacaran sementara jatuh cinta itu biasa”, kemudian saya melanjutkan, ” Supaya kita terhindar dari pacaran dan cinta tetap ada dalam hati kita, maka tidak perlu kamu ungkapkan cinta itu, cukup kamu rasakan saja, karena memang cinta itu bukan ungkapan tapi perasaan”. Saya kemudian menambahkan, “Anggap semua orang di kelasmu sebagai temanmu yang paling spesial untukmu”.

Beberapa menit kemudian, Bel sekolah berdering tanda pelajaran ke-3 akan segera dimulai.
Siswa : Dengan wajah yang yang tampak bersemangat dengan senyuman mekar, siswa tersebut berkata,” Terimakasih Banyak Pak, Saya masuk dulu. Assalamualaikum!!”, Sambil meraih tangan kananku dan menciumnya (Salim) lalu ia beranjak masuk kelas.
Kisah ini memberikan hikmah kepada kita, bahwa memahami psikologi remaja adalah kunci penting bagi seorang pendidik dalam memberikan solusi bagi anak didiknya sehingga perilaku mereka tetap bisa diarahkan ke arah yang positif.

#Goresan Pena : AZ
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar