Skip to main content

Hubungan Antara Filsafat dan Ilmu

Filsafat dan Ilmu
Mempelajari filsafat merupakan cara untuk mendapatkan pemahaman baru tentang realitas yang ada, menemukan wawasan baru, memperoleh pencerahan, dan kebenaran baru. Singkatnya, belajar filsafat adalah untuk mendapatkan pemahaman atau memahami dunia dan diri kita sendiri. Dengan demikian, kita harus siap untuk mengubah atau mengganti keyakinan atau asumsi kita ketika kita mendapatkan pemahaman baru yang lebih baik. Kebebasan untuk menerima hal-hal yang berbeda juga sangat diperlukan dalam melakukan kajian filosofi.

Hubungan Filsafat dengan Ilmu

Hubungan antara filsafat dengan ilmu ternyata dipahami dengan cara yang berbeda dan terkadang saling bertentangan, meskipun keduanya memiliki argumen yang kuat. Kita juga harus siap untuk menerima bahwa tidak setiap pertanyaan memiliki jawaban dalam filsafat, jadi pada akhirnya kita sendiri harus menemukan dan menemukan jawaban itu. Dan seringkali kita harus siap untuk mengajukan pertanyaan tanpa jawaban ke makam kita nanti. Seperti yang dikatakan Magee: "Apa yang dirumuskan oleh para filsuf besar bagi kita adalah pertanyaan abadi, bukan jawaban abadi".
Berikut ini dijelaskan tiga hubungan filsafat dengan ilmu yang saling berkaitan antara keduanya.alasan pentingnya mempelajari filsafat untuk memahami ilmu.

Relatifitas Filsafat dari Ilmu

Dalam Al-Qur'an ada kata-kata tentang ilmu dalam berbagai bentuk 'ilma,' ilmi, 'ilmu,' ilmihi, 'ilmuha,' ilmuhum dan diulang sebanyak 99 kali. Bentuk ilmu tersebut dalam terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama Indonesia ditafsirkan sebagai pengetahuan, pengetahuan, ilmu, kecerdasan, dan kepercayaan. Sedangkan kata ilmu itu sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu  alima yang berarti pengetahuan atau pengertian. Artinya, seseorang dianggap mengerti karena mereka sudah mengetahui objek atau fakta melalui pendengaran, penglihatan dan hati.
Kata ilmu dalam istilah teknis operasional adalah kesadaran akan kenyataan. Pemahaman ini berasal dari makna ayat-ayat dalam Alquran. Orang-orang yang memiliki kesadaran akan realitas melalui pendengaran, penglihatan dan hati akan berpikir secara rasional dalam meraih kebenaran. Ilmu dapat merupakan persepsi tentang esensi dari semua hal, suatu bentuk persepsi sederhana yang tidak disertai oleh hukum.
Ilmu harus dinilai secara konkret dalam artian bahwa hanya kekuatan intelektual yang mendominasi beton dapat memberikan kemungkinan kecerdasan manusia di luar yang konkret. Bahwa pengetahuan atau realitas kebenaran akan hadir secara keseluruhan dalam persepsi individu, meskipun dalam pemahaman itu bisa berbeda untuk realitas atau objek. Kehadiran penuh objek terhadap subjek adalah realitas yang tak terhindarkan sehingga ilmu harus mampu mengukur kebenarannya.
Jika ilmu disebut sebagai kesadaran akan realitas, maka realitas pamungkas ketika manusia dilahirkan adalah alam semesta. Di alam, manusia mulai mendengar, melihat, dan merasakan objek yang mereka alami dalam bentuk suara, bentuk, dan perasaan. Sifat ini adalah titik awal kesadaran untuk mengenali realitas, terutama diri sendiri. 
Manusia akan mulai berfikir tentang metarealitas, kekuatan supernatural yang muncul dan sibuk mengurus proses penciptaan dari tidak ada menjadi ada atau dari kematian ke kehidupan, lalu dari kehidupan ke kematian ketika mereka sudah dewasa. Kehadiran fisika sebagai realitas menjadi jembatan untuk melihat sesuatu yang bersifat metafisik yaitu di belakang fisik dan ciptaan. Keragaman tak terbatas alam semesta oleh manusia adalah realitas yang tidak dapat disangkal tanpa argumen logis, yang berangkat dari kesadaran akan realitas yang diperoleh dari pendengaran, penglihatan dan hati.
Berfikir filsafat dalam ranah alam semesta bersifat relatif sebab berkaitan dengan ranah metafisika yang terkadang membatasi logika berfilsafat. Dengan demikian manusia akan menyadari dirinya tentang keberadaan alam semesta sebagai realitas fisik dan kehadiran Allah sebagai realitas metafisik. Ranah fisika sebagai realitas terbuka, sedangkan ranah metafisika sebagai realitas tertutup. Alam semesta yaitu mikro kosmos dan makro kosmos hadir sebagai kenyataan untuk mengukuhkan keberadaan Tuhan sebagai pemilik absolut yang tidak pernah punah, sementara alam semesta itu sendiri dapat punah sebagai saudara atau tidak kekal.
Alam semesta adalah sumber ilmu kedua yang merupakan ciptaan Allah SWT karena sebelum keberadaan alam semesta, Tuhan mula-mula tidak memiliki awal dan tanpa akhir. Sementara alam memiliki awal dan akhir. Oleh karena itu, pengetahuan langsung dari Tuhan adalah mutlak, sedangkan ilmu melalui alam semesta adalah relatif. Menurut Al-Qur'an, mempelajari alam akan mengungkapkan rahasianya kepada manusia dan mengungkapkan koherensi, konsistensi dan aturan di dalamnya. Ini akan memungkinkan manusia untuk menggunakan pengetahuan mereka sebagai perantara untuk mengeksplorasi kekayaan dan sumber-sumber tersembunyi.

Cara Pandang Ilmu dan Filsafat

Proses rasionalitas mampu mengarahkan seseorang untuk memahami metarionalisme sehingga muncul kesadaran baru tentang realitas metafisik yaitu apa yang terjadi di balik objek rasional yang bersifat fisik. Kesadaran ini disebut sebagai transendensi, yang disebutkan dalam alquran yang bermakna orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka berpikir tentang penciptaan langit dan bumi.
Bagi mereka yang percaya, proses rasionalitas dan spiritualitas dalam ilmu seperti menjaga mata uang, antara satu sisi dan lainnya adalah keseluruhan yang bermakna. Ketika kesadarannya menyentuh realitas alam semesta, biasanya pada saat yang sama kesadarannya menyentuh dunia spiritual dan sebaliknya.
Ini berbeda dengan mereka yang hanya memiliki tampilan material alias sekuler. Mereka hanya melihat dan mewujudkan integritas alam semesta dengan paradigma materialistis sebagai proses kebetulan yang memang sudah ada cetak biru untuk alam itu sendiri. Manusia dilahirkan dan kemudian mati adalah siklus alami dalam rantai rotasi alam semesta. Atas dasar paradigma ini, membangkitkan kesadaran tentang realitas alam sebagai objek yang harus dieksploitasi untuk mencapai tujuan hedonistik sesaat. Alam menjadi laboratorium sebagai tempat pengujian ilmiah ateistik, di mana kesadaran tentang Tuhan atau spiritualitas tidak muncul bahkan tidak sengaja disajikan dalam wacana perkembangan ilmu pengetahuan

Kebenaran Filsafat dan Ilmu

Filsafat adalah pemikiran sedangkan ilmu adalah kebenaran. Sederhananya, filsafat dan ilmu yaitu berpikir tentang kebenaran. Pertanyaan mutlak dalam berfilsafat sebagai ilmu yaitu:
Apakah itu benar? 
Jika itu benar maka apa tingkat kebenarannya? 
Apa ukuran kebenaran? 
Di mana otoritas kebenaran? 
Dan apakah kebenaran itu abadi?
Tujuan filsafat dan ilmu adalah untuk mencari kebenaran bersama. Hanya saja filsafat tidak berhenti pada satu baris kebenaran tetapi ingin terus mencari kebenaran kedua, ketiga dan seterusnya hingga kehabisan energi. Sedangkan ilmu terkadang merasa cukup puas dengan satu kebenaran dan ketika ilmu disuntikkan dengan filsafat, alias berpikir, itu bergerak maju untuk menemukan kebenaran lain.
Filsafat seperti energi dan ilmu seperti mesin listrik. Jika energi disuplai ke turbin mesin, mesin akan bekerja untuk menghasilkan setrum yang digunakan untuk menyalakan lampu yang memancarkan cahaya.
Filsafat dan ilmu bekerja bersama dengan kebenaran, tetapi kebenaran filsafat dan kebenaran ilmu masih relatif sebagai proses yang belum selesai. Yaitu, bahwa kebenaran yang diperoleh oleh filsafat dan ilmu tidak pernah selesai dan terus diproses menjadi hukum dialektik dan seterusnya sebagai tanda bahwa manusia, pikiran dan kreasi mereka relatif. Sedangkan kebenaran itu sendiri identik dengan pencipta kebenaran. 
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar