Skip to main content

Pengertian Filsafat Serta Objek dan Tujuannya

Pengertian Filsafat

A. Pengertian Filsafat

Pengertian Filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan Sophia yang berarti ilmu kebenaran. Jadi makna dari istilah filsafat adalah cinta sains atau pecinta sains. Biasanya filsuf atau orang bijak, berkata kepada orang-orang yang menyukai berbagai ilmu. Seperti matematika, logika, kimia, astrologi, ketuhanan, sastra, keberadaan dan sebagainya.
Namun, Pengertian Filsafat berkembang sebagai "ilmu yang membahas bentuk dilihat dari sisi yang ada", tidak didasarkan pada sisi-sisi tertentu seperti kesehatan yang sebagai ilmu kedokteran berdasarkan sisi pemikiran yang tepat sebagai logika, berdasarkan sisi kuantitas sebagai al-jabar atau matematika, berdasarkan sisi kimia yang menjadi kimia dan sebagainya. Sebagai contoh model diskusi akan menyebutkan, melihat makhluk sesuai dengan penampilan mereka, bukan eksklusif mereka, adalah objek studi filosofis. Seperti apa sifat makhluk itu; apakah formulir tersebut bertingkat; apakah seseorang menggunakan bentuk lain; apakah formulir tersebut memiliki sumber dan juga tujuan, dan sebagainya.

B. Objek Filsafat

Selaras dengan batas-batas baru Filsafat yang ketinggalan jaman dan baru, objek Filsafat ke batas apa pun adalah objek dari berbagai jenis ilmu pengetahuan. Tetapi objek Filsafat baru adalah batas baru yang sampai sekarang telah menjadi standar, adalah bentuk itu sendiri.
Beberapa filsuf, terutama yang ditemukan di barat, yang kemudian menjadi metodologi dan asal referensi Muslim, menduga bahwa objek Filsafat adalah metafisik, alias non-materi. Jadi bagi mereka Filsafat adalah ilmu metafisika dan objeknya adalah bentuk non-fisik. Karenanya mereka tidak menjadikannya menjadi sains atau sains (sains) yang, bisa menjadi panduan dan panduan. Tetapi mengklasifikasikannya sebagai pengetahuan atau pengetahuan saja. Karena itulah agama. kepercayaan pada Tuhan, malaikat, roh, dan sejenisnya diklasifikasikan sebagai pengetahuan yang tidak perlu dan tidak ilmiah, karena dapat dicoba.
Seperti yang tertulis dalam buku-buku master dan sejarah Filsafat yang kami pelajari selama belasan tahun di Qum hauzah (pesantren) di Iran, penyebab kebingungan bermula dari memberikan subtitle pada karya-karya Aristoteles. Aristoteles dalam bukunya, membahas banyak hal, yang selaras dengan batasan lama Filsafat adalah objek dari ilmu filsafat. Setelah ia membahas bentuk yang diamati berdasarkan ekamatra, ia membahas bentuk dalam bentuk bentuk. Namun dalam diskusi ini dia tidak memberi judul. Penerjemah karya ke dalam bahasa Arab, memberinya judul diskusi menggunakan nama "ma ba'da al tabi'ah", yaitu "diskusi setelah diskusi fisika".
Karena dunia barat hingga akhir abad ke-18 berorientasi pada kemajuan Islam, mereka menerjemahkan buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Tentu saja, karena pembahasan metafisika adalah bentuk yang dilihat dari segi bentuk, argumen yang digunakan adalah argumen logis. Ini berarti bahwa ia tidak melalui studi tentang ecamatra atau lima cita-cita sebagai ilmu-ilmu lain (sesuai dengan batas-batas baru Filsafat), atau sebagai subtitle lain (selaras menggunakan batas-batas usang Filsafat). Akhirnya, ada kesalahan dalam pemahaman ilmu Filsafat, yaitu ia berpikir bahwa Filsafat adalah ilmu yang meneliti bentuk-bentuk non-fisik. Selain itu ada diskusi tentang bentuk-bentuk non-material seperti Tuhan.

C. Tujuan Filsafat

Ketika Filsafat (dalam arti baru) adalah ilmu yang membahas keberadaan dalam hal keberadaan, tujuan mempelajarinya adalah untuk mengenali bentuk itu sendiri dan yang tertinggi adalah sumbernya, maka tujuan mempelajari filsafat zenith adalah untuk mengenal Tuhan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar