Skip to main content

Mengenal Kepribadian Muslim

A. Pengertian Kepribadian Muslim

Pada dasarnya kepribadian tidak terjadi secara otomatis tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang, sedangkan orang yang bertujuan membentuk kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki karakter mulia. Tingkat kemuliaan moral berkaitan erat dengan tingkat iman. Karena Nabi Muhammad S. A.W mengatakan bahwa "orang beriman yang paling sempurna dari imannya adalah orang beriman yang terbaik dari akhlaknya". Al-Qur'an dan Sunnah adalah dua warisan Rasulullah yang harus selalu disebut oleh setiap Muslim dalam semua aspek kehidupan, salah satu aspek kehidupan yang paling penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi umat Islam. Orang Muslim yang diinginkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah adalah orang yang saleh, orang yang sikap, perkataan dan tindakannya diwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah. Beberapa hal penting lainnya juga dibahas dalam makalah ini, terkait dengan optimalisasi penerapan konsep manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Kepribadian Muslim

Kepribadian Muslim seperti yang diilustrasikan oleh Al-Qur'an tentang tujuan Nabi Muhammad mengirim kepada umatnya, yang merupakan berkah bagi semua dunia.
Karena itu, seseorang yang mengaku sebagai Muslim harus memiliki kepribadian sebagai pribadi yang selalu dapat memberikan rahmat dan kebahagiaan kepada siapa pun dan di lingkungan apa pun. Taat dalam menjalankan ajaran agama, tawadhu ', suka membantu, memiliki sifat sayang, tidak suka menipu atau mengambil hak orang lain, tidak suka mengganggu dan tidak menyakiti orang lain.
Persepsi masyarakat tentang kepribadian Muslim berbeda. Faktanya, tidak banyak yang memiliki pemahaman yang sempit sehingga orang Muslim nampaknya tercermin pada orang-orang yang hanya rajin mempraktikkan Islam dari aspek ubi, tetapi itu hanya satu aspek dan ada banyak aspek lain yang harus dilekatkan pada kepribadian seorang Muslim. Oleh karena itu, standar pribadi Muslim berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah adalah sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga mereka dapat menjadi referensi untuk pembentukan orang Muslim yang sempurna.

B. Macam-Macam Kepribadian Muslim

Kepribadian Muslim sebagai individu dan sebagai umat, terintegrasi dalam bentuk pola yang sama. Dalam hal ini teori dasar kepribadian Muslim, baik sebagai individu maupun sebagai ummah tunggal, ada bentuk dikotomi yang terintegrasi. Dikotomi hanya terletak pada pembagian tetapi pada dasarnya tetap sama. Berikut merupakan kepribadian muslim yang harus dimiliki oleh setian orang Islam.
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang Bersih)
Dengan aqidah yang bersih, seorang Muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT dan dengan ikatan yang kuat ia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuannya.
2. Ibadah Shahihul (Ibadah yang Benar)
Dalam melaksanakan sembahyang apapun, itu harus mengacu pada sunnah Nabi Muhammad yang berarti bahwa tidak boleh ada penambahan atau pengurangan elemen
3. Matinul Khuluq (Akhlak yang Baik)
Dengan akhlak mulia manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia khususnya di akhirat
4. Qawiyul Jismi (Fisik Kuat)
Kekuatan fisik berarti bahwa seorang Muslim memiliki daya tahan sehingga ia dapat menjalankan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat
5. Mutsaqqaful Fikri (Wawasan Luas atau Cerdas)
Seorang Muslim harus memiliki wawasan Islam dan ilmiah yang luas
6. Mujahidun Linafsihi (Serius)
Menerapkan kecenderungan ke arah yang baik dan menghindari yang buruk menuntut keseriusan dan ketulusan yang akan ada ketika seseorang berjuang melawan nafsu.
7. Qadirun ‘Alal Kasbi (Kemampuan Menghasilkan)
Membela kebenaran dan berjuang untuk menegakkannya hanya bisa dilakukan ketika seseorang memiliki independensi, terutama dalam hal ekonomi
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (Urusan Terorganisir)
Serius, bersemangat dan berkorban, keberadaan kontinuitas dan berbasis pengetahuan adalah di antara mereka yang mendapatkan perhatian serius dalam menjalankan tugas mereka
9. Harishun ‘Ala Waqtihi (Efisiensi Seiring Waktu)
Setiap Muslim sangat dituntut untuk mengatur waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlaku secara efektif, tidak ada yang terbuang
10. Nafi'un Lighairihi (Manfaat untuk Orang Lain)
Rasulullah SAW mengatakan yang berarti: "yang terbaik dari manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR Qudhy dari Jabir)

C. Struktur Kepribadian Muslim

Struktur Kepribadian Islam dalam wacana psikologi Islam tentang struktur dan kepribadian sangat erat dibahas dengan substansi manusia. Substansi jiwa menurut para filsuf dan psikolog Islam terdiri dari tiga bagian, yaitu fisik, spiritual dan nafsani atau nafsu. Substansi fisik dalam bentuk fisik manusia lebih sempurna daripada makhluk luar lainnya yang memiliki unsur bumi, udara, api, dan air, mereka akan hidup jika diberi kekuatan hidup atau al bayah. Substansi roh adalah substansi yang merupakan kesempurnaan awal. Al Gazali menyebutnya lathifah yang lembut dan spiritual. Roh ada ketika tubuh tidak ada dan tetap ada meskipun tubuh sudah mati. Fathur Rahman menyatakan bahwa roh itu dapat dipercaya, oleh karena itu ia memiliki keunikan dibandingkan dengan makhluk lain. Dengan mandat ini ia menjadi khalifah di bumi. Substansi nafsani berarti jiwa, kehidupan atau roh, konotasinya adalah kepribadian dan substansi psiko fisik manusia. Nafs ini adalah kombinasi antara tubuh dan roh. Karena itu nafs adalah potensi alami dan spiritual. Ini dalam bentuk aktualisasinya berpotensi akan membentuk kepribadian Muslim yang merupakan perpaduan harmonis antara hati, akal budi dan nafsani. Struktur kepribadian Islam adalah perpaduan yang harmonis antara hati, akal dan nafsani.

1. Hati

Al Gazali menyatakan bahwa hati memiliki naluri yang disebut al nur al ilahy dan al bashirah al bathinah (mata batin). Jantung dalam pengertian fisik adalah hati (hati), bukan hati (hati). Hati dalam arti spiritual adalah untuk menunjukkan hati nurani dan roh. Jantung ini berfungsi sebagai panduan, pengontrol, dan pengontrol struktur nafs lainnya. Jika jantung berfungsi normal, manusia menjadi baik sesuai dengan sifat aslinya. Karena hati memiliki sifat ilahi yang dipancarkan dari Tuhan. Dia tidak hanya mampu mengenali fisik dan lingkungan tetapi juga mampu mengenali lingkungan spiritual dan spiritual religius. Mengenai hati ini Nabi Muhammad pernah berkata: "Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika dia baik maka semua tubuh akan baik, tetapi jika dia rusak maka semua tubuh juga akan rusak, ingatlah bahwa dia adalah jantung. Menurut Huzaifah, hati dibagi menjadi empat yaitu hati yang bersih, yaitu
(1) Hati orang percaya dan menerima terang
(2) Hati tertutup yang merupakan hati seorang kafir, hati yang buta dan tidak melihat kebenaran
(3) Hati yang terbalik adalah hati orang munafik, yaitu, melihat kebenaran tetapi kemudian menyangkalnya
(4) Hati yang memiliki dua ketentuan, yaitu ketentuan iman dan ketentuan kemunafikan, itu tergantung mana yang paling dominan. Orang yang hatinya diterangi oleh Tuhan akan memiliki kepribadian yang kuat, tegas dan tidak mudah putus asa. Dan jika dia memiliki nafsu muthmainah dia akan tenang dan optimis karena dia percaya rahmat Tuhan pasti akan diberikan. Agar hati selalu mendapat cahaya Ilahi menurut imam Al Gazali, maka itu harus luas dan baik (disengaja). Dengan ilmu pengetahuan manusia akan mengetahui semua urusan dunia dan akhirat, dan menurut al Gazali hati berfungsi untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Secara psikologis hati memiliki kekuatan emosi (al infialy) dan kognisi.

2. Akal

Dalam perkiraan, itu berarti al alsak (tahan) al Ribath (ikatan) al Bajr (tahan) al Naby (haram) dan manin (cegah). Berdasarkan makna ini, apa yang disebut orang rasional adalah seseorang yang mampu menahan dan mengikat hasratnya. Jika nafsunya terikat, maka rasionalitasnya dapat eksis. Dengan alasan seseorang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan merugikan. Akal mampu memperoleh pengetahuan dengan kekuatan nalar (al Nazhr) dan kekuatan argumentatif. Melalui akal manusia dapat bermuhasabah yaitu menunda keinginan untuk tidak terburu-buru melakukannya sehingga menjadi jelas dengan kelayakannya untuk dilakukan atau ditinggalkan. Menurut al-Hasan, jika pekerjaan itu termotivasi untuk mengharapkan berkah Allah, maka lakukanlah, tetapi jika bukan karena Tuhan lebih baik ditunda dulu. Dan jika motivasinya adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah, maka kita harus berpikir dulu apakah dalam melakukan sesuatu, dia mendapat bantuan atau tidak, jika tidak maka harus ditunda dulu. Dan ketika Anda memiliki jaminan pertolongan Tuhan, lakukanlah supaya ia akan mendapatkan keberuntungan. Muhasabah juga dapat dilakukan setelah menyelesaikan sesuatu, yaitu, apa yang telah dilakukan adalah tulus karena Tuhan, sesuai dengan ketentuan Tuhan. Apakah waktu kerja di luar kendali atau tidak, konsekuensinya baik atau tidak. Dengan muhasabah orang akan diselamatkan dan bisa menjadi perilaku dan kepribadian yang lebih baik. Seperti Plato, Al Zukhaily berpendapat bahwa jiwa rasional terletak di kepala sehingga pikiran bukan hati.
Antara pikiran dan hati sama-sama memperoleh kekuatan kognisi tetapi cara dan hasilnya berbeda. Akal mampu mencapai pengetahuan rasional tetapi tidak supra rasional, sehingga ia mampu mencapai kebenaran tetapi tidak mampu merasakan esensinya Menurut Al Gazali sehingga manusia selalu bisa berdekatan dan mendapatkan perawatan ilahi sehingga ia harus berpengetahuan luas dan memiliki iradah. Dengan pengetahuan seseorang akan mengetahui semua urusan dunia dan akhirat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan akal. Dengan kemauan dan alasan seseorang akan mengetahui cara untuk meningkatkan dan mencari penyebab yang terkait dengannya.
Al Gazali percaya bahwa orang yang muak dengan keinginannya selalu menginginkan makanan yang baik. Ini memberi kita pemahaman bahwa jika orang tersebut sehat, maka secara alami itu berarti bahwa semua makanan selama mereka sehat dan halal dan toyyiban pasti akan terasa enak (enak). Dengan demikian nafsu untuk selalu menginginkan hal-hal baik yang baik akan berkurang atau diperjuangkan dengan kondisi sehat. Al Gazali juga percaya bahwa pengetahuan yang diperoleh di hati akan memiliki kekuatan untuk melihat dan dapat membedakan berbagai bentuk. Pandangan batin dan pandangan terlahir sebenarnya memiliki kebenaran yang sama, tetapi derajatnya berbeda. Jantung seperti pengendara sementara pikiran seperti kendaraan. Hati buruk atau pengendara akan lebih bahagia daripada kendaraan buruk itu sendiri. Namun, masih diperlukan alasan untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Pikiran yang sehat akan memengaruhi tindakan dan emosi seseorang serta kepribadiannya. Intelek dibagi menjadi dua, alasan dharuri dan alasan muktasabah. dharuri adalah pikiran yang bisa diketahui dengan mudah. Alasan muktasabah adalah pikiran baru yang tahu dengan cara usaha, alasan muktasabah dibagi menjadi dua yaknu duniawi adalah alasan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keduniawian. Pikiran muktasabah ukhrawi adalah kecerdasan yang digunakan untuk mencapai akhirat. Secara psikologis orang yang memiliki jiwa yang bersih dan pikiran yang sempurna akan dapat mengaktualisasikan diri mereka dalam kehidupan dan kehidupan, yaitu melihat kenyataan dengan cermat, tepat seperti apa adanya dan lebih efisien. Ia dapat menerima situasi dirinya dan orang lain secara profesional, yaitu mengenali semua kekuatan dan keterbatasan masing-masing, sehingga ia akan dapat menerima input dari orang lain secara alami tanpa paksaan.

3. Nafsu

ia memiliki dua kekuatan yaitu, al-Ghadhabiyah dan al-Syahwaniyah. Al-Ghadhabiyah adalah kekuatan yang memiliki potensi untuk menghindari semua hal yang berbahaya. Ghadab dalam psikoanalisis disebut defenci (pertahanan, pertahanan dan perawatan), yang merupakan tindakan untuk melindungi egonya sendiri dari kesalahan, kegelisahan, dan rasa malu atas tindakannya sendiri, sedangkan nafsu dalam psikologi disebut nafsu makan, yaitu hasrat atau keinginan atau nafsu Prinsipnya adalah kesenangan. Jika keinginannya tidak terpenuhi maka ada ketegangan, prinsip kerja sama dengan prinsip kerja hewan, baik hewan liar yang suka menyerang maupun hewan jinak yang cenderung hasrat seksual. Nafsu adalah struktur bawah sadar dalam kepribadian manusia, jika manusia didominasi oleh nafsu mereka, maka mereka tidak akan dapat eksis baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, jika kepribadian seseorang didominasi oleh nafsu, maka prinsip kerjanya adalah mengejar kesenangan dunia, tetapi jika nafsu dipandu oleh jantung cahaya ilahi, ghadab akan berubah menjadi kemampuan tingkat tinggi. jika nafsu diperintah oleh syaitan maka yang muncul adalah sifat-sifat shahitaniyah dan ini disebut jantung yang sakit, hati yang sakit dapat membengkak ketika kembali ke cahaya ilahi tetapi akan lebih menyakitkan jika dikendalikan oleh nafsu syaitan. Dalam psikologi orang yang mengalami gangguan mental tidak mudah diukur atau diperiksa oleh perangkat medis, untuk mengetahui biasanya hanya dapat dilihat gejala seperti tindakan, perilaku dan pikiran, seperti kecemasan, kecemburuan, kesedihan yang tidak masuk akal, kehilangan kepercayaan diri, kemarahan , keras kepala, merosot, memfitnah, mengganggu orang lain dan sebagainya. Kesehatan mental juga memengaruhi kesehatan tubuh, baru-baru ini dalam ilmu kedokteran istilah psikomtik ditemukan sebagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan mental, seperti tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah, exceem, sesak napas, dll. Obat-obatan dari berbagai penyakit mental dan disebabkan oleh mental adalah berfungsinya sistem kerja yang harmonis antara hati, akal, dan nafsu. Dan ini hanya bisa dilakukan melalui latihan kejiwaan yang sedang berlangsung. Keharmonisan jiwa memungkinkan seseorang untuk berurusan secara harmonis dengan komunitas. Untuk alasan ini, diperlukan The Art of Interction, yang merupakan seni memiliki hubungan yang baik terhadap moral yang baik, sebagai landasan utama untuk kebahagiaan rakyat, moral yang baik juga merupakan faktor utama dalam meningkatkan kepribadian seseorang.
Dalam tasawuf jiwa yang bersih dan jiwa yang kotor termasuk dalam nafsu. Dan mereka membagi nafsu menjadi 3 bagian:
1. Kemarahan bernafsu
Ia selalu cenderung tidak bermoral, baik imoral maupun imoral. Orang yang didominasi oleh kemarahan maka kepribadiannya serakah, serakah, keras kepala, sombong, dan hal-hal lain yang tidak terpuji seperti seks bebas, berkelahi dan sebagainya.
2. Lustsu lawamah
Dia telah menerima nur ilahi dan suka beribadah tetapi masih sering melakukan amoralitas batin dan kemudian buru-buru beristirahat dan mencoba memperbaikinya. Orang yang memiliki kepribadian baik akan selalu mengevaluasi diri (koreksi diri) menjadi lebih baik.
3. Nafsu Muthmainah
Kepribadian yang berasal dari hati manusia, di dalamnya selalu dilindungi dari sifat-sifat tercela dan menumbuhkan sifat-sifat yang patut dipuji dan selalu tenang. Kecenderungannya adalah menyembah, mencintai orang lain, meningkatkan kepercayaan, dan mencari berkah Tuhan dan teosentris. Menurut Ibnu Kholdum bahwa jiwa hati dikunjungi oleh roh nalar. Semangat substansi ini mampu mengetahui segala sesuatu di alam. Dia menjadi tidak mampu mencapai pengetahuan karena jilbab, jika jilbab hilang maka dia akan dapat menemukan pengetahuan. Bahkan beberapa ahli tasawuf lainnya membagi nafsu menjadi 7 bagian, yaitu: nafsu amarah, nafsu lawamah, nafsu malhamah, nafsu muthmainah, nafsu al rodhiyah, nafsu mardhiyah, dan nafsu kita.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar