Skip to main content

Konsep Manajemen Pendidikan Islam

Dari segi manajemen bahasa berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata manajemen yang berarti manajemen, tata kelola, atau tata kelola. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia Bahasa Inggris yang ditulis oleh John M. Echols dan Hasan Shadily (1995: 372) manajemen berasal dari kata dasar untuk mengelola yang berarti mengelola, mengelola, menerapkan, mengelola, dan memperlakukan.
"Ramayulis menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan sifat manajemen adalah al-tadbir (regulasi)". Kata ini adalah turunan dari kata dabbara (mengatur) yang banyak ditemukan dalam Al Qur'an sebagai kata Allah SWT:
Artinya: Dia mengatur urusan dari surga ke bumi, kemudian (perselingkuhan) naik kepadanya dalam satu hari yang levelnya seribu tahun menurut perhitungan Anda (Al Sajdah: 05).
Manajemen Pendidikan Islam

Dari isi ayat di atas dapat dilihat bahwa Allah adalah pengatur alam (manajer). Keteraturan alam semesta adalah bukti kebesaran Allah dalam mengelola dunia ini. Namun, karena manusia yang diciptakan oleh Allah SWT telah dijadikan khalifah di bumi, maka ia harus mengatur dan mengelola bumi sebaik mungkin sebagaimana Tuhan mengatur alam semesta. "Sedangkan manajemen menurut istilahnya adalah proses mengoordinasikan kegiatan kerja sehingga mereka dapat diselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain".
Jika kita memperhatikan dua istilah manajemen di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah proses memanfaatkan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerja sama dengan mereka, sehingga tujuan bersama dapat dicapai secara efektif, efisien, dan produktif. Padahal Pendidikan Islam adalah proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada siswa sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran di dunia dan akhirat.

Konsep Manajemen Pendidikan Islam

Dari perspektif sejarah, institusi pendidikan Islam khususnya madrasah dan pesantren tumbuh dari bawah, dari ide-ide para pemimpin agama setempat. Mulai dari bacaan yang kemudian mendirikan mushalla / masjid, madrasah diniyah, dan kemudian mendirikan pesantren atau madrasah. Sebagian besar tumbuh dan berkembang dari kecil dan kondisinya sangat terbatas. Selanjutnya ada tubuh dan berkembang pesat atau mengalami peningkatan kualitas terus menerus, ada juga yang mandek (berjalan di tempat) dan ada pula yang mati. Bagi mereka yang terus berkembang hingga mereka mampu mendirikan lembaga pendidikan publik dan perguruan tinggi, didukung oleh bisnis lain yang menguntungkan seperti pertanian, perdagangan, percetakan, industri jasa dan sebagainya.
Sejak dekade 90-an, kesadaran masyarakat untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Islam mulai meningkat di mana-mana dan beberapa di antaranya telah mampu menjadi sekolah unggulan atau sekolah efektif. Yang penting adalah model manajemen apa yang tepat untuk pendidikan Islam yang memiliki karakteristik ini.

Konsep Manajemen Berbasis Wirausaha

Seperti yang dinyatakan sebelumnya bahwa sebagian besar pendidikan Islam tumbuh dan berkembang dari bawah dan dari kecil. Manajemen yang tepat adalah manajemen yang dapat memberikan nilai tambah. Manajemen yang dapat memberikan nilai tambah adalah manajemen kewirausahaan. Rhenald Kasali dalam "Paulus Winarto menegaskan bahwa seorang wirausaha adalah seseorang yang suka perubahan, membuat berbagai temuan yang membedakan diri dari orang lain" menciptakan nilai tambah, memberikan manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain, karyanya dibangun terus menerus (bukan ledakan sesaat ) dan dilembagakan sehingga suatu hari dapat bekerja secara efektif di tangan orang lain. Seorang manajer yang juga seorang wirausaha memiliki karakter sebagai berikut: memiliki keberanian untuk mengambil risiko, suka tantangan, memiliki daya tahan tinggi, memiliki visi jauh ke depan dan selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Menjadi wirausahawan membutuhkan integritas yang kuat, etos kerja yang tinggi dan kemampuan untuk menghadapi tantangan, hambatan, dan bahkan ancaman. Pengusaha adalah orang yang berani mengambil keputusan "keluar dari zona nyaman dan masuk ke zona ketidakpastian (penuh risiko)". Manajer biasa (konvensional) sebenarnya adalah orang-orang yang paling membutuhkan keamanan dan status quo, dan sebaliknya takut akan perubahan. Ini masuk akal karena ia berada di puncak piramida dalam struktur organisasi dengan semua fasilitas, posisi dan kehormatan yang melekat padanya.
Seorang wirausahawan pada dasarnya adalah seorang inovator (inovator) karena melakukan sesuatu yang baru, dianggap baru atau berbeda dari kondisi sebelumnya. Apa yang dilakukan itu membawa perubahan menjadi lebih baik dan memberi nilai tambah bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Dalam upaya menciptakan nilai tambah, seorang wirausahawan memprioritaskan kekuatan suatu merek, yang merupakan citra atau merek yang kuat untuk apa yang ia lakukan. Dengan merek yang bagus, jelas akan memberikan nilai tinggi. Citra merek untuk lembaga pendidikan adalah aset paling berharga yang mampu menciptakan nilai bagi pemangku kepentingan dengan meningkatkan kepuasan dan menilai kualitas dan pada akhirnya melahirkan kepercayaan. Seorang manajer yang merupakan wirausahawan tidak hanya dapat membangun merek belaka, tetapi juga memanfaatkan kekuatan merek untuk menggandakan akselerasi perubahan.
Pesan Kyai Dahlan (KH. Ahmad Dahlan) untuk "hidup Muhammadiyah dan tidak mencari kehidupan di Muhammadiyah" dapat ditafsirkan dalam konteks semangat kewirausahaan. Ini berarti bahwa setiap orang yang bekerja di badan amal bisnis Muhammadiyah harus dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan lembaganya. Dengan cara ini akumulasi modal akan terjadi (capital development) sehingga amal bisnis Muhammadiyah dapat terus tumbuh dan berkembang.

Konsep Manajemen Berbasis Masyarakat

Yaitu manajemen yang dapat menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. "Data EMIS dari Departemen Agama menunjukkan bahwa 90% madrasah bersifat pribadi dan 100% pesantren adalah milik pribadi" . Ini berarti bahwa lembaga pendidikan Islam adalah lembaga milik masyarakat, atau dapat dikatakan "dari, oleh dan untuk masyarakat". Manajemen pendidikan Islam yang tepat adalah manajemen yang dapat mendekatkan pendidikan Islam ke masyarakat, diterima, dimiliki dan dibanggakan oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (Management Based School) dan pendidikan berbasis masyarakat (Community Based Education) dalam konteks otonomi daerah, lahir karena didasarkan pada kesadaran bahwa masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab terhadap institusi pendidikan di Indonesia. daerah selain sekolah dan pemerintah.
Bagi lembaga pendidikan Islam yang "dari, oleh dan untuk rakyat", maka mengembalikan pendidikan Islam ke masyarakat adalah suatu keharusan jika pendidikan Islam ingin mengambil dan memanfaatkan kekuatannya. Dengan kata lain, masyarakat adalah kekuatan utama pendidikan Islam. Mencabut pendidikan Islam dari akar rumput (komunitas) sebenarnya akan melemahkan pendidikan Islam itu sendiri. Pesantren yang mampu menjaga hubungan baik dengan basis sosialnya terbukti mampu terus tumbuh, dan sebaliknya akan mengalami pasang surut ketika ditinggalkan oleh masyarakat.
Lembaga pendidikan di negara maju, terutama yang berstatus swasta, umumnya memiliki lembaga seperti Dewan Sekolah, Dewan Madrasah, Dewan Pembina, Dewan Pembina, dan lain-lain yang, di antaranya, ditugaskan untuk memperhatikan hubungan, kedekatan dan aspirasi. masyarakat dan siap untuk memanfaatkan potensi masyarakat dan memberikan layanan masyarakat (langsung atau tidak langsung) kepada masyarakat. Di Universitas Stanford, misalnya, ada Dewan Pengawas yang berwenang untuk mengelola hibah dan hadiah (besar), sumbangan (sumbangan) dan sebagainya dikumpulkan dari dana publik untuk pengembangan Universitas Stanford.
Di negara-negara Persemakmuran seperti Universitas London Inggris dan Universitas McGill Kanada misalnya ada lembaga yang disebut Dewan Gubernur. Anggota lembaga ini sebagian besar dari luar universitas yang umumnya memiliki tugas dan peran sebagai Dewan Pengawas di Universitas Stanford. 
McGill University Kanada misalnya ada lembaga bernama Dewan Gubernur. Anggota lembaga ini sebagian besar dari luar universitas yang umumnya memiliki tugas dan peran sebagai Dewan Pengawas di Universitas Stanford. McGill University misalnya, lembaga ini bisa berkembang karena semangat amal dari warganya. Dimulai dengan hibah James McGill yang menyumbangkan sebagian dari kekayaannya dalam bentuk 10.000 pound sterling uang dan 40 hektar tanah bersama dengan real estat di dalamnya, lembaga ini didirikan dan dikembangkan dengan terus mengumpulkan dana dari masyarakat sampai sekarang. Di McGill, semangat amal tidak hanya dalam hal materi, terutama dari filantropis dan jurnalis, tetapi juga perbuatan. Para dosen, karyawan, dan pemimpin McGill bersedia bekerja keras karena didasarkan pada semangat amal, semangat ibadah.
Semangat amal untuk membangun institusi pendidikan dalam tradisi keimanan umat Islam sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, bahkan umat Muslim telah menjadi pelopor (avant-garde) dalam komitmen mereka untuk mengembangkan institusi pendidikan melalui semangat amal. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana cara menghidupkan kembali semangat amal dalam mengembangkan pendidikan Islam? Pertama, ada lembaga seperti Dewan Pengawas atau Majlis Wali Amanah yang anggotanya berasal dari perwakilan masyarakat yang memiliki integritas tinggi dan komitmen terhadap pendidikan Islam. Kedua, perlu untuk menghidupkan kembali semangat juang (jihad), etos kerja semua komponen pemangku kepentingan internal sebagai bentuk amal nyata (amal). Ketiga, perlu menerapkan manajemen kualitas terintegrasi dalam administrasi pendidikan Islam.

Konsep Manajemen Berbasis Masjid

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, cikal bakal pendidikan Islam adalah masjid. Manajemen ini merupakn  manajemen yang dijiwai dengan nilai-nilai spiritual dan semangat berjamaah, semangat ihlas lillahi ta'ala (ihlas untuk Allah) dan semangat memberi yang hanya berharap pada nikmat Allah . Proses pembelajaran integratif dengan masjid memberikan nuansa religius yang kuat pada penanaman nilai-nilai agama dan praktik langsung pengalaman keagamaan. Mulai dari pembiasaan sholat dluha, sholat dluhur berjamaah dan sholat jamaah untuk sekolah sehari penuh
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar