Skip to main content

Macam-Macam Teori Sastra dan Perkembangannya


Kumpulanmakalah.com-Sastra, terutama sastra Indonesia, sering diidentikkan dengan seni dalam tulisan oleh orang awam. Ini tidak sepenuhnya salah, karena karya sastra itu bisa banyak aspek yang mendukung suatu seni. Bicara soal seni, tidak lepas dari estetika. Seni memang tidak dapat dipisahkan dari keindahan meskipun suatu seni belum tentu indah, tetapi setiap karya memiliki sedikit di mata sebagian orang. Kecantikan ada di mana-mana.
Macam-Macam Teori Sastra

Di setiap pemandangan alam ada keindahan. Bahkan setiap objek menyiratkan kecantikan yang sedikit banyak, meskipun sedikit keindahan dapat ditangkap oleh setiap indera manusia. Dengan indera ini, manusia menikmati setiap keindahan yang ada. Khususnya karya sastra, manusia dapat merasakan keindahan tulisan yang mencerminkan pemikiran penulis.

Pengertian Teori Sastra

Teori sastra dan sejarah sastra dalam penelitian ini semakin mendekati pendekatan sejarah sastra tradisional, prinsip-prinsip dasar sejarah sastra adalah beberapa faktor yang relevan dengan sejarah sastra, penulisan sejarah sastra, dan sejarah sastra Indonesia.
Teori sastra berasal dari kata theria (Latin). Teori etimologis berarti kontemplasi terhadap kosmos dan realitas. Pada tingkat yang lebih luas, dalam kaitannya dengan dunia ilmiah teori berarti alat pemahaman, konsep, proposisi yang memiliki korelasi, yang telah membuktikan kebenarannya. Secara umum, teori menentang praktik. Setelah sebuah ilmu telah berhasil mengabstraksi seluruh konsepnya dalam formula ilmiah yang dapat diuji kebenarannya, yaitu teori itu sendiri, maka teori itu harus secara praktis dioperasikan, sehingga cabang-cabang ilmu serupa dapat dipahami dengan cara yang lebih rinci dan mendalam.

Perkembangan Teori Sastra

Teori berfungsi untuk mengubah dan membangun pengetahuan menjadi sains. Menurut Fokkema dan Kumme-ibsch (1977: 175), penelitian tentang karya sastra umumnya didasarkan pada teori-teori yang ada. Tradisi seperti ini dianggap memiliki kelemahan sebagai akibat dari penyederhanaan, eklektisisme, dan inferensi yang salah. Keuntungan yang diperoleh jelas bahwa peneliti diberi kemudahan, peneliti hanya perlu memeriksa ulang dan menyesuaikannya dengan sifat-sifat objek. Kecenderungan ini disebabkan oleh beberapa fakta, sebagai berikut:
1. Teori-teori yang sudah ada diuji sendiri, melalui kritik sepanjang sejarah mereka
2. teori dianggap sebagai elemen yang sangat penting, lebih dari sekadar alat
3. belum menciptakan sikap percaya diri atas hasil temuannya sendiri, terutama di bidang teori.
Dalam genesis demikian dalam proses penelitian teoretis, diperoleh dua cara, yaitu:
1. Peneliti memanfaatkan teori sebelumnya, umumnya ada yang disebut sebagai teori formal, dengan pertimbangan bahwa teori tersebut sudah ada sebelumnya. Teori formal tampaknya deduktif dan apriori
2. Peneliti memanfaatkan teori yang ia temukan sendiri. Teori yang diperoleh melalui manfaat, sifat dan abstraksi dari data yang diteliti, umumnya disebut teori substantif karena diperoleh melalui substansi data.
Kedua jenis reori memiliki kelebihan dan kekurangan. Kerugiannya adalah tidak ada kegiatan untuk menemukan teori-teori baru, sehingga telah terjadi stagnasi di bidang teori. Kelemahan teori formal ini dipenuhi oleh upaya para peneliti yang mencoba menemukan teori-teori substantif.
Pemanfaatan teori formal, menurut Vredenbreght, memiliki kelebihan dalam kaitannya dengan upaya peneliti sepanjang sejarahnya, untuk terus memperbarui dan mengujinya melalui data yang berbeda sehingga, teori semakin sempurna. Teori sains, khususnya di bidang sastra diadopsi melalui pemikiran para sarjana Barat. Tradisi ini sering menyebabkan perdebatan di antara para sarjana Indonesia yang tidak setuju dengan mereka yang setuju. Kelompok pertama ingin perbendaharaan Indonesia dianalisis dengan menggunakan teori sastra Indonesia, dengan konsekuensi bahwa para sarjana Indonesia dapat menemukan teori sastra yang lahir melalui sastra Indonesia sebagai teori asli Indonesia, sedangkan yang kedua tidak membuat perbedaan di antara mereka, dengan pertimbangan sebagai berikut :
1. tradisi sains berkembang di Barat, demikian pula tradisi sastra
2. karya sastra serta lokal dan universal
3. Globalisasi, termasuk paradigma postmodernisme, menghilangkan perbedaan antara barat dan timur.
Suatu teori disebut baik jika memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. mudah disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan yang akan dianalisis
2. mudah diadaptasi dengan metode dan teori yang membuatnya pasti
3. dapat digunakan untuk menganalisis, baik ilmu yang serupa maupun berbeda
4. memiliki rumus sederhana tetapi menyiratkan jaringan analisis yang kompleks
5. memiliki prediksi yang dapat menjangkau objek yang jauh di masa depan
Teori dan metode memiliki fungsi untuk membantu menjelaskan hubungan dua gejala atau lebih, sambil memprediksi hubungan modol yang terjadi.
Teori dan metode selain membuatnya lebih mudah untuk memahami fenomena yang akan dipelajari, yang lebih penting adalah kemampuannya untuk memotivasi, untuk mengungsi, dan untuk memodifikasi pikiran peneliti. Artinya dengan memanfaatkan teori dan metode tertentu, pikiran peneliti akan muncul kemampuan untuk memahami fenomena sebelumnya yang belum terlihat sama sekali. Sebagai alat, teori berfungsi mengarahkan penelitian, sedangkan analisis langsung dilakukan melalui instrumen yang lebih konkret yaitu melalui metode dan teknik.
Berbeda dengan objek, aspek kebaruan teori dan metode adalah persyaratan dasar. Teori lama harus secara otomatis ditinggalkan, diganti dengan teori dan metode baru, dan seterusnya sehingga teori terakhir dianggap yang paling relevan
karya sastra sebagai objek penelitian, metode dan teori sebagai cara untuk meneliti, berkembang bersama dalam kondisi yang saling melengkapi. Dalam dunia sastra Indonesia, kegiatan penelitian dengan memanfaatkan teori intuitif intuitif dan metode telah dimulai sejak periode penyair baru. Pesatnya perkembangan teori sastra selama abad pertama dari awal abad ke-20 hingga awal abad ke-21 dipicu oleh beberapa indikator, sebagai berikut:
1. media utama sastra adalah bahasa, sedangkan dalam bahasa itu sendiri sudah ada masalah yang sangat luas
2. satra mencakup berbagai dimensi budaya, sedangkan dalam budaya itu sendiri sudah ada masalah yang sangat beragam
3. Teori-teori utama dalam sastra telah berkembang sejak zaman Plato dan Aristoteles, yang dengan sendirinya telah matang dengan berbagai disiplin ilmu, terutama filsafat
4. Kesulitan dalam memahami fenomena sastra memicu para ilmuwan untuk menemukan berbagai cara sebagai teori baru
5. Variasi sastra sangat banyak dan berkembang secara dinamis, kondisi sastra yang juga memerlukan cara pemahaman yang berbeda.

Macam-macam Teori Sastra

Berbicara tentang sastra, tentu akan berbicara tentang mendukung teori sastra di dalamnya. Karena pilar utamanya merupakan karya sastra, jelas kehadiran teori sastra menjadi bagian terpenting di dalamnya.
Dalam karya sastra yang menggunakan bahasa Inggris, sastra Inggris dan Amerika mematuhi teori yang sama dalam menggambarkan karya tersebut. Berikut ini akan membahas tiga teori sastra yang sering digunakan dalam belajar bahasa Inggris melalui karya sastra.

Teori Psikoanalisis

Teori ini menganggap bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia yang memiliki perilaku beragam dipengaruhi oleh kondisi psikologis seseorang yang akan memengaruhi hidupnya. Karya sastra langsung adalah produk jiwa dan pikiran penulis yang dalam kondisi setengah sadar. Para ahli psikologis terkenal dalam pendekatan teori ini adalah Jung, Adler, Freud, dan Brill membuat banyak kontribusi untuk teori ini.
Teori ini biasanya dibagi menjadi tiga aspek yaitu Id, Ego dan Superego. Id adalah naluri makhluk hidup untuk mempertahankan keberadaannya di bumi. Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani realitas (memuaskan keinginan Id dengan cara realitas). Superego adalah pengontrol Id dan Ego yang berasal bukan dari diri sendiri tetapi menyerap standar aturan dan institusi dari pendidikan orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Teori Struktural

Teori ini tidak memperlakukan karya sastra sebagai objek studi karena studi adalah sistem sastra itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari hubungan berbagai elemen dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut saling terkait satu sama lain secara utuh. Teori ini dapat dijelaskan secara terpisah dari pengarang atau realitas sosial.

Teori Feminisme

Teori ini merupakan cerminan dari realitas sosial patriarkal. Berawal dari kekacauan perempuan yang tertindas oleh sistem sosial patriarki, teori feminisme ini tidak berdiri dalam satu aliran. Feminisme terdiri dari beberapa aliran seperti liberal, Marxis, sosialis, eksistensialis, psikoanalitik, radikal, postmodern, dll.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar