Skip to main content

Pengertian Qurban, Sejarah, dan Ketentuan Hewan Qurban

Pengertian Qurban

Qurban yaitu menyembelih ternak pada hari Idul Adha dan Tasyirq pada 11,12,13 Dhul-Hijjah) untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam bahasa, Kurban adalah pendekatan diri kepada Allah .. Sementara menurut Shara ', Qurban menyembah untuk lebih dekat dengan Allah. Kata Qurban berasal dari bahasa Arab, "Qurban" (قربان) yang berarti dekat.
Pengorbanan berarti dekat atau dekat atau disebut Udhhiyah atau Dhahiyyah yang secara harfiah berarti penyembelihan hewan. Bagi umat Islam, pengorbanan dilakukan pada bulan ke 10 bulan Djulhijjah (hari nahar) dan 11, 12 dan 13 Djulhijjah (hari tasyrik) bertepatan dengan hari raya Idul Adha.
pengertian qurban

sejarah Qurban

Pada dasarnya ibadah qurban dilakukan ketika manusia pertama, Adam, hadir di dunia. Saat itu Allah memerintahkan kedua anak nabi Adam untuk melakukan ritual qurban. Salah satu anak dari nabi adam, habil, membuat persembahan terbaik untuk dikorbankan, sementara mobil membawa hasil pertaniannya yang rusak dan busuk, yang menunjukkan kurangnya ketulusan dalam melakukan ritual pengorbanan yang dipesan oleh Allah, yang menyebabkan pengorbanan yang tidak diterimanya, sedangkan yang diterimanya adalah ritual qurban yang dilakukan habil, dan apa yang dilakukan habil menunjukkan ketulusan dalam menjalankan perintah qurban yang menjadikan qurban diterima oleh Allah.

Baca Juga :Sejarah Lengkap Islam Nusantara

Tetapi pelaksanaan pengorbanan yang dilakukan oleh dua anak Nabi Adam bukanlah dasar untuk pelestarian pengorbanan hewan dalam Islam, tetapi fondasinya adalah sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim. Melalui mimpi, Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membantai putranya dari Hajar, Nabi Ismail. Peristiwa ini adalah gambaran dari cinta yang tulus dan kepatuhan yang tinggi dari seorang hamba kepada Rabb-nya untuk mengorbankan anaknya sendiri untuk dikorbankan untuk melaksanakan perintah Rabb-nya, karena dia sendiri yakin bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Penyayang dan Allah adalah Hanya supaya dia yakin bahwa Tuhan tidak akan menyakiti dan menghukum hamba-hamba-Nya.

Dan semua itu terbukti, ketika Nabi Ibrahim bersiap-siap untuk membantai putranya, seketika Allah mengirim qibas menggantikan Nabi Ismail. Kisah ini diceritakan dalam Al-Qur'an Ash-Shaaffaat ayat 102 - 109: 
Ketika mereka berdua menyerah dan Ibrahim meletakkan anaknya di pelipisnya, Kami memanggil dan memanggilnya: "Wahai Abraham, tentu saja kamu telah percaya pada mimpimu. Sungguh, Kami memberikan kembali kepada mereka yang berbuat baik. Ini benar-benar ujian sejati. Dan Kami menebus putra itu dengan pembantaian besar (kambing). Dan Kami mengabadikannya untuk Ibrahim (pujian yang baik) di antara mereka yang datang kemudian. Kemakmuran diberikan pada Ibrahim ". (Surat Ash-Shaaffaat, ayat 102-108)
hewan qurban

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah-perintah Allah tidak berarti tidak ada kendala. Musuh terbesar umat manusia, iblis dan iblis, selalu berusaha menggoda dia, tetapi dia tetap tabah dan sabar, kemudian dia melempar iblis dan iblis dengan kerikil, yang akhirnya masuk ke dalam rangkaian ziarah pada masa Idul Qurban , dikenal sebagai melempar jumroh.

Itulah cinta dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Rabb-nya sebagaimana dibuktikan dengan menjalankan perintah-perintah Allah meskipun perintahnya sangat berat dan harus mengorbankan seorang anak yang ia cintai. Itulah ujian yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menunjukkan kepada kita tentang kasih dan ketaatannya kepada Tuhan lebih dari kecintaannya pada materi dan duniawi, baik itu kekayaan, anak-anak atau istri.

Sebelumnya, Allah juga telah menguji Nabi Ibrahim, yang sudah tua tetapi belum dikaruniai seorang anak. Akhirnya istrinya, Sarah, menyarankan suaminya untuk menikah lagi. Kemudian Nabi Ibrahim menikahi Hajar, seorang wanita saleh yang dipilih oleh Sarah. Tidak lama kemudian hajarpun hamil, yang diikuti oleh kehamilan Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim. Saat-saat yang ditunggu oleh Nabi Ibrahim akhirnya disadari dengan kelahiran Nabi Ismail.

Tetapi ujian Allah terhadap hamba yang saleh dari Nabi Ibrahim tidak berhenti di situ. Setelah kelahiran Nabi Ismail Allah menguji Nabi Ibrahim dengan menginstruksikannya untuk meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil di daerah yang sangat gersang, lembah Baka (lembah air mata). Lembah itu adalah lembah yang terkenal karena kekeringannya dan tidak ada satu pohon pun yang tumbuh dan tidak ada air. Sehingga dikatakan bahwa setiap orang yang berada di lembah pasti akan menangis. Kemudian lembah itu disebut lembah baka, yang berarti lembah air mata.

Baca Juga :Hukum Merayakan Hari Valentine

Dalam sebuah sejarah dikatakan bahwa Hajar bertanya kepada Ibrahim tiga kali, tentang ditinggalkannya dia dan putranya di lembah. Hajar berkata, "Wahai suamiku, apa yang kamu lakukan ini adalah perintah Allah". Nabi Ibrahim menjawab, "Benar, ini adalah perintah Allah". Hajar menjawab dengan tegas tanpa ragu sedikit pun. "Jika ini adalah perintah Tuhan, tinggalkan kami. Karena Allah pasti akan menyelamatkan hamba-hamba-Nya dan tidak akan menderita dia".
Kemudian Berjalanlah Ibrahim meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Namun, kecintaan Ibrahim kepada mereka, menolak langkahnya seraya berdo dan bermunajat bagi Allah… sang khalik yang lebih menyukai hamba-Nya. Apakah ini diabadikan dalam Al Qur’an,

“Dan (ingatlah), kompilasi Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan diberikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di sana di hadapan Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku berikan kebebasan sementara, kemudian Aku dipaksa ia memperbaiki siksa neraka dan menjadi seburuk-tempat buruk kembali”. (Al-Baqarah: 126). Sementara tempat berdirinya Ibrahim menjadi maqom Ibrahim dekat Baitullah.

Setelah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail mulai menangis di bawah sinar matahari karena kehausan dan kepanasan. Hajar sebagai seorang ibu, berusaha untuk mencairkan udara bagi perempuan.Hajar kemudian lari-lari kecil antara dua bukit shafa dan marwah. Perjuangan Hajar ini diabadikan dalam prosesi sa'i. Prosesi merupakan simbol kasih sayang dan kecintaan seorang ibu terhadap pasangan.

Itulah kisah keluarga Nabi Ibrahim yang mendapatkan berbagai ujian dari Allah dan mereka mampu bersabar dalam ujian tersebut. Itulah kesholehan menyanyikan Nabi Ibrahim, yang kesholehan ini tidak hanya dimilik sendiri, tetapi juga dimiliki oleh anak dan diajarkan, sehingga kesabaran dalam pengerjaan ujian tidak hanya dihadapinya sendiri, tetapi dijalankan oleh sekeluarga. Dan ujian yang terberat adalah ujian penyembelihan Nabi Ismail yang acara ini diabadikan dengan ritual ibadah qurban yang dilakukan oleh segenap kaum muslimin diseluruh dunia
sejarah qurban

Ketentuan Hewan Qurban

Mengenai pemilihan hewan, para ulama sepakat bahwa semua ternak dapat digunakan untuk pengorbanan. Hanya saja ada perbedaan pendapat tentang mana yang lebih penting dari jenis hewan.

Imam Syafi'i mengatakan bahwa dua binatang yang paling penting untuk kurban adalah unta dan sapi, kemudian kambing. Sementara Imam Malik percaya, binatang yang paling penting yang digunakan sebagai korban adalah kambing atau domba, lalu sapi. Berikut Jenis dan Ketentuan untuk Hewan Pengorbanan yang Baik

1. Domba
Untuk pemilihan hewan ini harus mencapai usia minimal 1 tahun, atau dapat digunakan sebagai pengorbanan ketika telah berganti gigi (al-jadza '). Ini sesuai dengan saran Nabi Muhammad, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam hadits yang mengatakan, "Membantai jadza ', karena itu diperbolehkan."

2. Kambing
Beberapa ahli sepakat bahwa kambing yang digunakan sebagai korban harus mencapai usia minimal 2 tahun. Ini diterapkan agar daging kambing yang dikorbankan lebih dari umur satu tahun di bawah.

3. Sapi atau kerbau
Untuk dua ternak ini, beberapa sarjana telah memutuskan bahwa usia minimum untuk hewan adalah 2 tahun. Karena pada usia itu sapi dan kerbau telah mencapai usia remaja sehingga mereka memiliki lebih banyak daging dan lemak.

4. Unta
Tidak seperti domba, kambing, sapi atau kerbau, usia minimum unta sebenarnya jauh lebih lama, sekitar 5 tahun. Menurut beberapa cendekiawan, usia hewan yang hidup di gurun ini memiliki umur panjang dibandingkan hewan kurban lainnya. Pemuda unta juga panjang. Karena hal ini, para ulama memutuskan untuk mengorbankan unta ketika mereka berusia 5 tahun atau lebih.

Baca Juga :Prinsip-prinsip Pendidikan Islam

Selain usia, kondisi hewan yang dikorbankan juga harus sehat, tidak cacat. Berdasarkan perkataan Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh al-Barra bin Azib, ada empat jenis hewan yang secara hukum tidak dijadikan hewan kurban. 
1. Matanya buta
2. Sakit fisik
3. Kakinya pincang
4. Tubuhnya ramping dan tidak gemuk.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar