Skip to main content

Pengertian Ibadah, Tujuan, Pembagian, dan Ruang Lingkupnya


A. Pengertian Ibadah

Kata ibadah berasal dari bahasa Arab telah menjadi bahasa Melayu yang digunakan dan dipahami dengan baik oleh orang-orang yang menggunakan bahasa Melayu atau Indonesia. Menyembah dalam istilah Arab berarti berbakti, berbakti, tunduk, taat, gigih, dan rendah hati. Dalam istilah Indonesia itu berarti tindakan mengekspresikan pelayanan kepada Tuhan berdasarkan pada kepatuhan untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauh dari larangan-larangan-Nya. Itu juga berarti: semua upaya fisik dan spiritual sesuai dengan perintah Tuhan untuk memperoleh kebahagiaan dan keharmonisan dalam kehidupan, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan alam semesta.
Pengertian Ibadah

Shaikh Mahmud Syaltut dalam komentarnya mengemukakan rumusan singkat tentang makna ibadah, yaitu "ketundukan tanpa batas kepada pemilik keagungan tak terbatas juga".
Secara garis besar, ibadah dibagi menjadi dua, yaitu ibadah utama dalam kajian ushul fiqh yang termasuk dalam hukum wajib, baik kewajiban kifayah maupun wajib. Termasuk dalam kelompok ibadah utama adalah apa itu rukun Islam.

B. Pembagian Ibadah

Yusuf Musa percaya bahwa ibadah dibagi menjadi lima: doa, zakat, puasa, ziarah, dan jihad. Secara umum Wahban setuju dengan Yusuf Musa, hanya saja dia tidak memasukkan jihad dalam kelompok Ibadah mahdhah (Ibadah murni), dan sebaliknya dia memasukkan sumpah nadzar dan kafaraah. Kecenderungan Wahban untuk masuk sumpah dan nadzar sebagai ibadah murni dapat diterima, karena keduanya sangat individual dan tidak memiliki keraguan tentang pertanyaan.
Dari dua pendapat ini, dapat disimpulkan bahwa apa yang dimaksud dengan ibadah murni (mahdhah), adalah serangkaian kegiatan ibadah yang ditetapkan oleh Allah. Dan bentuk kegiatan telah dicontohkan oleh Rasul-Nya, dan apakah ditentukan atau tidak ditentukan oleh tingkat kesadaran teologis dari masing-masing individu. Bentuk ibadah mahdhoh meliputi: Thaharah, Salat, Zakat, Shaum, Nadzar dan Sumpah Kafarah.
Selain ibadah mahdhah, ada bentuk lain di luar ibadah mahdhah, yaitu ibadah Ghair al-Mahdhah, yaitu gerak tubuh, perilaku dan tindakan yang memiliki tiga tanda, yaitu: pertama, niat tulus sebagai titik awal, kedua kesenangan Allah sebagai titik tujuan, dan ketiga, amal saleh sebagai garis amal. Firman Tuhan dalam Surat Al-Bayyinah ayat 5:
"Meskipun mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan Tuhan dalam (menjalankan) agama yang benar ..."

C. Ruang lingkup ibadah

Islam begitu istimewa sehingga ia membuat semua aktivitas manusia beribadah ketika ia dengan tulus ikhlas karena Allah untuk mencapai kedamaian-Nya dan dilaksanakan dengan cara yang ditentukan oleh-Nya. Islam tidak membatasi ruang lingkup ibadah hanya pada sudut tertentu saja. Semua kehidupan manusia adalah bidang amal dan perbekalan bagi orang-orang percaya sebelum mereka kembali untuk bertemu Allah pada Hari Pengadilan. Islam memiliki hak istimewa untuk menjadikan semua aktivitas manusia sebagai 'ibadah jika itu dilakukan dengan sepenuh hati karena Allah untuk mencapai kelegaan-Nya dan dilaksanakan dengan cara yang ditentukan oleh-Nya. Islam tidak menganggap tindakan keagamaan tertentu 'ibadah' sebagai perbuatan baik, melainkan mencakup semua kegiatan lainnya.
Esensi ini ditegaskan oleh Allah dalam Alquran:
"Dia adalah orang yang telah menentukan takdir kematian dan kehidupan (kamu) untuk menguji dan membersihkan kondisi kamu: Siapakah di antara kamu yang lebih baik dalam kasih amal; dan Dia mahakuasa (membayar perbuatanmu), sekali lagi memaafkan, (untuk mereka yang bertobat)". (QS: Al-Mulk: 2)
Lingkup 'ibadah dalam Islam sangat luas. Itu mencakup setiap aktivitas kehidupan manusia. Setiap hal yang dilakukan apakah itu terkait dengan individu atau komunitas adalah 'ibadah menurut Islam sementara memenuhi kondisi tertentu.
Kondisi-kondisi ini adalah sebagai berikut:
1. Perbuatan yang dilakukan harus diakui oleh Islam, sesuai dengan hukum syariah 'dan tidak bertentangan dengan hukum tersebut. Adapun 'perbuatan' perbuatan yang ditolak oleh Islam dan terkait dengan yang melanggar hukum dan ma'siyah, itu tidak pernah dijadikan sebagai 'praktik' ibadah.
2. 'Praktek ini dilakukan dengan niat baik untuk tujuan menjaga harga diri, menyenangkan keluarganya, memberi manfaat kepada seluruh orang dan untuk menggabungkan bumi seperti yang direkomendasikan oleh Allah.
3. Praktik harus dilakukan dengan belokan yang indah untuk menjaga apa yang ditetapkan oleh Rasulullah yang memahami: "Bahwa Tuhan suka ketika seseorang dari Anda membuat sesuatu bekerja dengan membelokkan karyanya." (Muslim)
4. Ketika membuat 'praktik tersebut harus selalu sesuai dengan hukum syariah' dan ketentuan batasnya, jangan salahkan orang lain, jangan mengkhianati, jangan menipu dan jangan menindas atau merampas hak-hak orang-orang mereka.
5. Tidak menyesuaikan 'ibadah' ibadah tertentu seperti sholat, zakat dan sebagainya dalam melaksanakan 'ibadah' ibadah umum. Firman Tuhan yang mengerti:
Karena itu ruang lingkup ibadah dalam Islam sangat luas. Ini adalah masa hidup seorang Muslim dan kemampuan dan kekuatannya untuk melakukan amal apa pun yang ditawarkan oleh Allah pada waktu itu.

D. Tujuan Ibadah

Manusia, bahkan semua makhluk hidup dan makhluk hidup, adalah hamba Allah. Hamba sebagaimana disebutkan di atas adalah makhluk yang dimiliki. Kepemilikan Allah atas hamba-Nya adalah kepemilikan mutlak dan sempurna, oleh karena itu makhluk tidak dapat berdiri sendiri dalam kehidupan dan aktivitasnya kecuali dalam hal-hal yang Alah swt. Telah diberikan pada makhluk-Nya untuk memiliki kebebasan memilih meskipun kebebasan itu tidak mengurangi kepemilikan Tuhan. Atas dasar kepemilikan mutak Allah, lahirlah kewajiban untuk menerima semua ketentuannya, dan mematuhi semua perintah dan larangannya.
Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan hanya untuk hidup di dunia ini dan kemudian mati tanpa pertanggungjawaban, tetapi manusia diciptakan oleh Allah untuk disembah. Ini bisa dipahami dari firman Allah SWT. :

"Kalau begitu, apakah menurut Anda sebenarnya kami menciptakan Anda dengan main-main (hanya), dan Anda tidak akan dikembalikan kepada kami." (Surat al-Mu'minun: 115)

Karena Allah Maha Tahu tentang peristiwa manusia, sehingga manusia membangunkan hidup mereka, berbakti, diberi kewajiban beribadah. Tegasnya, manusia diberi kewajiban beribadah agar manusia mencapai taqwa.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar