Skip to main content

Pengertian Gangguan Mental dan Faktor Penyebabnya

Pengertian Gangguan Mental

Gangguan mental adalah penyakit yang melibatkan kelainan fungsi otak yang menyebabkan perubahan dalam proses berpikir, perasaan dan perilaku seseorang yang mengakibatkan gangguan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara normal.

Jenis-Jenis Gangguan Mental

Ada beberapa jenis gangguan mental, berikut ini delapan di antaranya:

Gangguan kecemasan

Orang dengan gangguan kecemasan (gangguan kecemasan) akan merespon benda atau situasi tertentu dengan ketakutan yang ekstrem, disertai dengan gejala panik seperti detak jantung yang cepat dan berkeringat.
Gangguan Mental

Anda mungkin mengalami panik selama ujian atau wawancara kerja, tetapi gangguan kecemasan berbeda dan gangguan mental, membuat penderitanya hidup dengan kecemasan, ketakutan, dan kecemasan yang berlebihan.

Gangguan mood

Beberapa contoh gangguan mood adalah gangguan bipolar, depresi jangka panjang, gangguan afektif musiman, perubahan suasana hati dan lekas marah yang terjadi selama fase pramenstruasi, dan depresi akibat penyakit fisik.

Gangguan psikotik

Gangguan psikotik melibatkan perhatian dan pemikiran yang menyimpang. Gejala gangguan psikotik yang paling umum adalah halusinasi, seperti mendengar suara dan delusi yang tidak bisa dilihat orang lain. Skizofrenia adalah contoh gangguan psikotik.

Gangguan Makan

Gangguan makan melibatkan emosi, sikap, dan perilaku ekstrem yang melibatkan berat badan dan makanan.
Gangguan yang paling umum adalah anoreksia (penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan akan kenaikan berat badan karena citra diri yang terdistorsi), bulimia (makan berlebihan dan kemudian mencoba memunculkan kembali apa yang telah mereka makan, seperti muntah), dan pesta makan berlebihan gangguan (makan dalam jumlah banyak dan sulit dihentikan).

Gangguan kontrol impuls dan kecanduan

Orang dengan gangguan kontrol impuls tidak bisa menahan diri untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.
Orang dengan gangguan kontrol impuls dan kecanduan memiliki keterlibatan yang sangat dalam dengan objek kecanduan mereka, sehingga mereka mulai mengabaikan tanggung jawab dan hubungan.

Gangguan obsesif-kompulsif

Orang yang memiliki gangguan obsesif-kompulsif (OCD) sering mengalami pikiran obsesif dan perilaku kompulsif. Pikiran, gambar, atau impuls yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan memasuki pikiran dan menyebabkan kecemasan, jijik atau ketidaksenangan.
Ada juga beberapa jenis paksaan atau perilaku berulang yang dilakukan untuk mengurangi perasaan tidak menyenangkan.
Misalnya, jika seseorang takut rumahnya dirampok, ia merasa perlu semua jendela dan pintu dikunci beberapa kali sebelum mereka dapat meninggalkan rumah. Contoh lain ketika seseorang mencuci tangan berulang kali karena takut kuman.
Orang dengan OCD akan terganggu oleh pikiran atau ketakutan yang terus-menerus yang menyebabkan mereka melakukan ritual atau rutinitas tertentu.

Gangguan stres pasca-trauma

Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang dapat berkembang setelah peristiwa traumatis, seperti pelecehan seksual, kekerasan, kecelakaan, bencana alam, atau kematian orang yang dicintai.
Penderita PTSD seringkali memiliki pikiran yang menakutkan dan ingatan yang langgeng ketika dihadapkan pada kondisi tertentu yang membuat mereka trauma.

Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian adalah jenis masalah kesehatan mental yang memengaruhi sikap, kepercayaan, dan perilaku. Dua jenis gangguan kepribadian termasuk gangguan kepribadian ambang, yang merupakan perubahan suasana hati yang intens, takut ditinggalkan, perilaku impulsif, dan menjadi tidak stabil.

Gangguan lain adalah gangguan kepribadian antisosial, ketika seseorang mengalami hal-hal seperti mengabaikan perasaan dan kebutuhan orang lain, memanipulasi orang lain untuk keuntungan diri sendiri, sulit mempertahankan hubungan, tidak merasa bersalah atas tindakan yang tidak menyenangkan yang diambil, dan perasaan mudah bosan atau agresif.

Faktor Penyebab Gangguan Mental

Para peneliti dari Institute for Clinical Evaluative Sciences (ICES) dan Ontario Public Heath di situs publichealthontario.ca menjelaskan bahwa rata-rata beban penyakit mental adalah 1,5 kali lebih berat daripada kanker dan tujuh kali lebih besar daripada penyakit menular. Ada beberapa faktor yang menyebabkan gangguan mental, termasuk:

1. Faktor genetik 

Dalam keluarga dengan riwayat penyakit mental risikonya lebih tinggi daripada populasi yang tidak memiliki riwayat penyakit mental.

2. Gangguan bahan kimia di otak

Jika bahan kimia di otak yang dikenali sebagai neurotransmitter tidak berfungsi dengan baik, gejala penyakit mental akan muncul. Sebagai contoh:
-Schizophrenia: Produksi dopamin yang berlebihan.
-Kekurangan: Serotonin terlalu rendah.
-Mania: Paritas serotonin telah meningkat terlalu banyak.
Saldo: ada gangguan dalam pengeluaran dan fungsi noradrenalin.

3. Serangan virus

Dalam penelitian ada penyakit virus yang telah dikaitkan dengan munculnya penyakit mental.

4. Riwayat hidup pahit

Misalnya, kehilangan orang tua saat masih anak-anak, terlalu banyak ejekan dari teman, diintimidasi secara berlebihan, dll.

5. Kondisi sosial ekonomi yang rendah

Jika di antara keluarga atau teman dekat Anda memiliki penyakit mental Anda tidak harus dijauhi, mereka harus diberi perhatian lebih. Selain itu, mereka juga diberi dukungan yang diperlukan agar mereka tidak merasa terpinggirkan dari masyarakat.
Selain itu, pikiran dan kebiasaan kita meskipun sering terabaikan, dapat memengaruhi suasana hati dan mengganggu kesehatan mental.
Sama seperti kesehatan tubuh, gangguan mental juga akan menimbulkan gejala yang pada akhirnya menghambat aktivitas sehari-hari jika tidak segera diobati.

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan mental:

1. Pesimistis

Orang yang pesimistis cenderung tidak memiliki harapan yang baik dan mudah putus asa. Karena itu, pesimisme tidak hanya memengaruhi cara memandang kehidupan, tetapi juga mengganggu kesehatan mental.
Kehilangan harapan dan keputusasaan, jika dibiarkan berlarut-larut, bisa menjadi salah satu gejala gangguan mood, yaitu depresi.
Jadi, belajarlah untuk berpikir positif. Ketahui kelemahan dan kekuatan Anda, dan fokus pada kekuatan itu. Jangan hanya memikirkan kelemahan atau situasi buruk yang sedang dihadapi.

2. Perfeksionis

Perfeksionisme cenderung membuat seseorang menginginkan segalanya sempurna, berjalan sesuai rencana, dan tanpa cacat.
Standar sempurna ini tidak jarang membuat seseorang kecewa dan sedih, terutama jika apa yang direncanakan tidak menjadi nyata. Jika tidak dikendalikan, seseorang menjadi rentan terhadap gangguan kecemasan (gangguan kecemasan).
Tetapkan tujuan yang realistis, lebih dapat dicapai, dan menghadapi kesalahan atau kegagalan sebagai bentuk pembelajaran. Jika Anda sudah mulai khawatir, tenangkan diri Anda dengan teknik relaksasi, misalnya mengambil napas dalam-dalam.

3. Pikiran obsesif

Obsesi adalah pikiran negatif yang muncul dan tidak dapat dikendalikan dan mengulangi peristiwa masa lalu atau saat ini.
Misalnya, kami terobsesi untuk selalu memeriksa ponsel atau media sosial, tidak ingin ketinggalan informasi sedikit pun.
Jangan memegang ponsel sesaat, pikiran negatif telah muncul seperti, "Bagaimana jika pasangan menelepon karena ada sesuatu. Ini akan membuat tubuh dan otak stres, membuat pernapasan dan detak jantung meningkat dengan cepat, dan tubuh akan melepaskan hormon stres adrenalin dan kortisol. Semua ini akan berdampak pada kesehatan fisik dan emosional.

4. Harga diri rendah

Orang-orang yang cenderung lebih rendah, menilai diri mereka kurang, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan menyalahkan diri sendiri terlalu sering akan mudah stres dan tertekan.
Lebih baik fokus pada apa yang kita miliki, memaksimalkan potensi kita, membuktikan kepada diri kita sendiri bahwa kita memiliki segudang kemampuan, dan tidak terlalu memikirkan komentar orang lain tentang kita.

5. Kurang tidur

Tidur adalah cara tubuh untuk beregenerasi. Karena itu, kurang tidur tidak hanya membuat kita mudah mengantuk, tetapi juga dapat mengganggu kinerja sistem tubuh.
Ini tentu akan mengganggu kesehatan mental. Sejumlah penelitian telah membuktikan hubungan antara kurang tidur dengan berbagai jenis gangguan mental seperti depresi, gangguan bipolar, dan ADHD.
Biasakan tidur 8 jam sehari. Atau jika Anda mengalami gangguan tidur, segera kunjungi dokter untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.

6. Gerakan malas

Studi yang dilakukan oleh para ahli dari University College London menemukan hubungan antara aktivitas fisik dan depresi. Studi tersebut menyatakan bahwa orang yang aktif cenderung tidak mengalami depresi, karena aktivitas fisik akan mengurangi risiko depresi.
Mulailah dengan aktivitas fisik sederhana. Misalnya berjalan keluar rumah, naik turun tangga, bersepeda, atau aktivitas apa pun yang bisa membuat tubuh dan pikiran selalu aktif.

7. Mengubur amarah

Jangan salah, menyimpan amarah juga bisa mengganggu kesehatan mental seseorang. Dalam jurnal Advances 2017, para ahli di Inggris menemukan bahwa orang yang tidak bisa melampiaskan kemarahan mereka dengan cara yang lebih sehat lebih rentan mengalami berbagai gejala depresi.

Karena itu, belajarlah untuk melampiaskan emosi dan mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, dan perasaan negatif lainnya dengan baik.

Jangan hanya dimakamkan sendiri, apalagi jika itu mengganggu kesehatan mental. Beri tahu orang yang Anda percayai atau tuangkan perasaan Anda dalam buku harian.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar