Skip to main content

Memahami Ilmu Kalam :Pengertian, Dasar, dan Pembahasannya

Ilmu Kalam adalah salah satu bentuk ilmu keislaman. Studi dalam ilmu kalam difokuskan pada aspek ilahi (devesivasinya) atau bentuk karena disebut teologi dialektik, dan rasional. Kata kalam secara harfiah berarti percakapan tetapi tidak dalam arti bicara sehari-hari (bicara) melainkan berbicara logis dan logis (alasan).

Pengertian Ilmu Kalam

Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membahas bagaimana membangun kepercayaan agama (agama Islam) dengan bukti yang pasti. Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membahas pertanyaan-pertanyaan tentang keimanan yang sering juga disebut Ilmu Aqaid atau Ilmu Usuluddin.

Beberapa sarjana memberikan pendapat yang berbeda sesuai dengan argumen mereka masing-masing tentang definisi Ilmu Kalam:
Ilmu Kalam

Menurut Al-‘iji Kalam adalah ilmu yang memberi kemampuan untuk menegakkan aqidah agama (Islam) dengan mengajukan argumen untuk menghilangkan keraguan.
Menurut Fu'at Al-Ahwani, Ilmu Kalam adalah untuk memperkuat aqidah agama dengan ajaran-ajaran rasional.

Secara etimologis, kalam berarti ucapan, yaitu ucapan yang beralasan menggunakan logika. Karena itu, karakteristik utama ilmu kalam adalah rasionalitas atau logika. Kata kalam sendiri pada awalnya dimaksudkan sebagai terjemahan dari logo yang diadopsi dari bahasa Yunani yang berarti percakapan. Dari kata ini muncul istilah logika dan logika yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan istilah mantiq. Jadi ilmu logika, terutama logika formal (silogisme) disebut Mantiq. Karena diadopsi dari bahasa Yunani, kerangka kerja dan isi pemikiran Yunani berkontribusi besar untuk memperkaya ilmu kalam. Kalam menurut bahasa adalah ilmu yang berbicara / membahas masalah Dewa / tauhid (mengakan Esakan), atau kalam menurut loghat yaitu bicara atau kata-kata.

Ilmu Kalam biasanya disebut dengan beberapa nama, termasuk ilmu Usuluddin, ilmu tauhid, Al-Fiqh Al-Akbar, dan teologi Islam. Disebut Usululuddin ilmu karena ilmu ini membahas poin-poin utama agama (usuluddin). Disebut monoteisme karena membahas keesaan Allah. Di dalamnya juga dipelajari asma '(nama) dan af'al (amal) Allah yang wajib, mustahil dan ja'iz, serta sifat-sifat yang wajib, tidak mungkin dan ja'iz bagi Utusan-Nya. Monoteisme sebenarnya adalah ilmu yang membahas keesaan Allah dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Secara obyektif, ilmu kalam sama dengan monoteisme, tetapi argumennya lebih terkonsentrasi pada penguasaan logika. Karena itu, beberapa teolog menganggap bahwa sains kalam berbeda dari tauhid.

Dasar Hukum Ilmu Kalam

Dasar studi sains kalam adalah sebagai berikut.

1. Al-Qur'an

Sebagai sumber pengetahuan kalam, Al-Qur'an menangani banyak hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan, termasuk:
لَـمْ يَـــلِدْ وَلَـمْ يُوْلَدْ - وَ لَـمْ يَــكُنْ لَهُ كُـــفُوًا أحَـــدٌ.
a. Q. Al-Ikhlas: 3-4
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan, dan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang sejajar dengan-Nya.
الَّذِى خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيـَّـامٍ ثُمَّ اسْــتَوَى عَللَىَ
b. Q. Al-Furqan: 59
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang naik takhta di atas "Arsy". Dia adalah Pencipta langit, bumi dan segala sesuatu di antara mereka.
إن الذين يبايعونك إنما يبايعون الله يد الله فوق أيديهم, فمن نكث فإنما ينكث على نفسه- ومن أميمان
c. Q. Al-Fath: 10
Ayat ini menunjukkan Tuhan memiliki "tangan" yang selalu di atas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh pada janji-janji Allah.
أن اقذفيه فى التابوت فاقذفيه فى اليم فليلقه اليم بالساحل يأخذه عدولى وعدوله, وألقيت عليك محب منصن
d. Q. Thaha: 39
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki "mata" yang selalu digunakan untuk memantau semua gerakan, termasuk gerakan hati makhluk-makhluk-Nya.
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوْالْجَلَالِ وَالْإِكْـرَامِ
e. Q. Ar-Rahman: 27
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki "wajah" yang tidak akan rusak selamanya.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِيْنًـا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبِعَ مِلَّةَ
f. Q. An-Nisa: 125
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mengungkapkan aturan dalam bentuk agama. Seseorang akan dikatakan telah menjalankan aturan agama jika dilakukan dengan tulus karena Tuhan.

Ayat-ayat di atas berhubungan dengan esensi, sifat, asma, perbuatan, tuntunan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keberadaan Tuhan. Namun, tidak ada penjelasan terperinci yang ditemukan. Oleh karena itu, para ahli tidak setuju dalam menafsirkan detail. Diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan adalah sistematis yang pada gilirannya menjadi ilmu yang dikenal sebagai ilmu kalam.

2. Hadis

Hadits Nabi. bahkan banyak membicarakan masalah ilmu yang dibahas kalam. Di antara ini adalah hadis Nabi yang menjelaskan sifat iman:
Berarti:
"Diceritakan dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Suatu hari, ketika Rasulullah SAW, sedang bersama orang-orang Muslim, seorang pria datang dan kemudian bertanya kepadanya," Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan iman? Rasul menjawab, Yaitu, Anda percaya kepada Tuhan, para malaikat, semua buku yang diungkapkan, hari pertemuannya dengan para rasul, dan hari kebangkitan. Pria itu bertanya lagi, wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan Islam? Nabi menjawab, Islam mengabdikan diri kepada Allah dan tidak mengaitkannya dengan hal-hal lain, mendirikan shalat yang telah fardhukan, mengeluarkan zakat yang diperlukan, dan puasa di bulan Ramadhan. Kemudian lelaki itu bertanya lagi, wahai Rasulullah! Apa itu ihsan? Rasulullah SAW. jawab, Engkau harus menyembah Tuhan seolah-olah kamu melihat Dia. Jika Anda tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia selalu memperhatikan Anda. Pria itu bertanya lagi. Ya Rasulullah, kapankah Hari Pembalasan akan terjadi? Nabi menjawab, saya tidak tahu lebih banyak dari Anda, tetapi saya akan memberi tahu Anda tentang tanda-tandanya. Jika seorang pelayan melahirkan majikannya, itu adalah bagian dari tanda itu. Jika orang miskin menjadi pemimpin komunitas, itu juga bagian dari tanda. Jika komunitas dari mana para penggembala kambing dapat bersaing dalam membangun gedung mereka, itu juga merupakan tanda kiamat. Hanya lima kasus itu yang merupakan bagian dari tanda-tanda yang saya ketahui. Selain itu, hanya Allah yang tahu. Kemudian Rasulullah SAW. membaca surat Luqman ayat 34. Sungguh, Allah lebih tahu kapan Hari Pembalasan akan terjadi, selain itu Dialah yang juga mengirim hujan dan tahu apa yang ada di dalam rahim seorang ibu hamil. Tidak ada yang tahu apa yang dia coba lakukan pada hari berikutnya, yang baik atau jahat, dan tidak ada yang tahu di mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi mencakup pengetahuan-Nya. Lalu pria itu pergi. Rasulullah SAW. terus berkata kepada temannya, 'panggil kembali orang itu.' Kemudian teman-teman mengejar pria itu dan memanggilnya kembali, tetapi pria itu menghilang. Rasulullah SAW. juga mengatakan, tadi Pria itu adalah Gabriel a.s. Kedatangannya adalah untuk mengajar manusia tentang agama mereka. "
Ada juga beberapa hadis yang kemudian dipahami oleh beberapa ulama sebagai ramalan nabi tentang munculnya berbagai kelompok dalam ilmu kalam, termasuk:
"Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. Dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda," Orang-orang Yahudi akan dibagi menjadi tujuh puluh dua kelompok; Dan rakyat saya akan dibagi menjadi tujuh puluh kelompok. "
"Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar. Dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda," Akan terjadi pada umatku apa yang terjadi pada Bani Israel. Bani Israel telah dibagi menjadi 72 kelompok dan umat saya akan dibagi menjadi 73 kelompok. Semua akan masuk neraka, kecuali satu faksi, "Siapa mereka wahai Rasulullah?" Tanya teman-teman. Rasulullah menjawab, 'merekalah yang mengikuti jejak saya dan teman-teman saya.'
Syekh Abdul Qadir berkomentar bahwa hadis yang berkaitan dengan masalah fraksi ummah ini, yang merupakan salah satu studi kalam, memiliki sangat banyak sanad. Di antara mereka yang datang kepada Nabi adalah mereka dari beberapa teman, seperti Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Ad-Darda, Jabir, Abu Said Al-Khudri, Abu Abi Kaab, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abu Ummah, Watsilah bin Al-Aqsa.

Keberadaan Hadis terkait dengan perpecahan umat sebagaimana disebutkan di atas, pada dasarnya adalah ramalan seorang nabi dengan melihat apa yang tersimpan di hati para sahabatnya. Karena itu, sering dikatakan bahwa hadits semacam itu dimaksudkan sebagai peringatan bagi para sahabat dan umat Nabi tentang bahaya perpecahan dan pentingnya persatuan.

3. Pemikiran Manusia

Pemikiran manusia dalam hal ini, baik dalam bentuk pemikiran umat Islam sendiri maupun pemikiran yang berasal dari luar komunitas Muslim.

Sebelum filsafat Yunani masuk dan berkembang di dunia Islam, umat Islam sendiri telah menggunakan pemikiran rasional mereka untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat Alquran, terutama yang maknanya tidak jelas (al-mutayabihat). Perlunya menggunakan rasio ternyata didasarkan pada beberapa ayat Al-Qur'an, termasuk:
أَفَلَا يَتَدَبَـرُوْنَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوْبٍ أَقْفَالُهَا (محمد: 24)
Berarti:
"Jadi, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an atau hati mereka terkunci?"
أَفَلَمْ يَنْظُرُوْا إِلَى السَّمَآءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَهَا وَزَيَّنَّهَا وَمَا لَهَا مَنْ فِوَْ وَالْأَرْضَ مَدَدْناَهَا وَأَلْقَيْنَــهَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَـا فِيْـهَا مِن ْ 
Berarti:
"Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana kita mengangkatnya dan menghiasinya dan langit tidak memiliki celah sedikit pun? Dan Kami menyebarkan bumi, dan Kami menempatkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuh di atasnya semua jenis tanaman yang indah di mata. "
Ayat serupa dapat ditemukan dalam An-Nahl: 68-69; Al-Jatsiyah: 12-13; Al-Isra ': 44; Al-An'am: 97-98; At-Taubah: 122; Athariq: 5-7; Al-Ghatsiyah: 7-20; Shad: 29; Muhammad: 24; Az-Zumar: 9; Adz-dzariyat: 47-49, dan banyak lainnya.

Dari ayat-ayat yang disebutkan di atas, ada kata tafakkar, tafaquh, nazhar, tadabbar, tadzakkar, fahima, aqala, ulul albab, ulu al-abshar, dan ulu an-nuha. Semua ayat-ayat ini secara langsung berkaitan dengan saran motivasi dan bahkan instruksi kepada manusia untuk menggunakan rasio. Dengan demikian, manusia dapat menjalankan fungsi utamanya, yaitu sebagai khalifah Allah SWT. untuk menguasai dunia. Dengan demikian, jika ditemukan bahwa seorang Muslim telah melakukan studi terhadap objek-objek tertentu dengan perbandingannya, secara teori bukan karena pengaruh luar, tetapi karena perintah langsung dari Al-Qur'an itu sendiri.

Bentuk konkret dari penggunaan pemikiran Islam sebagai sumber ilmu kalam adalah ijtihad yang dilakukan mutakallim pada isu-isu tertentu yang tidak dijelaskan dalam Alquran dan Hadits, misalnya masalah mazillah bain al-manzilatain (tengah posisi antara dua posisi) dalam pikiran Anda 'Tazilah; masalah ma'shum dan bada di kalangan Syiah; dan masalah Kasab di antara para Ash'arians.

Sumber ilmu kalam dalam bentuk pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat diklasifikasikan dalam dua kategori. Pertama, pemikiran non-Muslim yang telah menjadi peradaban dan kemudian ditransfer dan berasimilasi dengan pemikiran Muslim, dan kedua, dalam bentuk pemikiran non-Muslim yang bersifat akademis, seperti filsafat (terutama dari Yunani), sejarah dan sains .

4. Naluri

Secara naluriah, manusia selalu ingin menjadi dewa. Karena itu, kepercayaan akan keberadaan Tuhan telah berkembang sejak keberadaan manusia pertama. Karena itu, sangat wajar jika William L. Resee mengatakan bahwa pengetahuan yang berkaitan dengan keilahian, yang dikenal sebagai teologi, telah berkembang sejak lama. Dia bahkan mengatakan bahwa teologi muncul dari sebuah mitos (teologi pada awalnya dipandang berkaitan dengan mitos). Lebih jauh, teologi berkembang menjadi "teologi natural" (teologi natural) dan "teologi wahyu" (theology of revelation).

Obyek Pembahasan Ilmu Kalam

Sebagai ilmu, ilmu alam memiliki objek diskusi yang spesifik. Jadi layak disebut sebagai pengetahuan. Berdasarkan definisi bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membahas berbagai dalil keyakinan keyakinan dengan dalil-dalil rasional, serta kritik terhadap penyimpangan akidah Islam Bid'ah dari madzhab Salaf dan Ahus Sunnah, maka dapat disimpulkan bahwa apa yang menjadi objek pembahasan kalam adalah polemik pemikiran di antara para filsuf. seperti epicuarenisme freewill, dengan fatalisme stoisisme, antara filsuf dan mutakalimin, dan polemik teologis antara substansi dan kecelakaan antara orang Kristen dan mu'tazilah Abu Hudhayl, dan antara mutakalimin sendiri antara mu'tazilah dan jabariyah, antara jabariyah dan jabariyah yaitu antara asyariyah dan maturidiyah. Juga antara Ahlussunnah dan ibn Taimiyah dan para pengikutnya. 

Berikut ini adalah objek pembahasan dari ilmu kalam.
1. Masalah ilmu (al-ma'rifah) dan bagaimana cara mendapatkannya.
Diskusi ini bertujuan untuk memperkuat keyakinan tentang kepercayaan informatif (Al-ma'rifah al-khabariyah) terutama yang dibawa dari Rasul SAW. Tujuannya adalah untuk membantah pandangan thummamiyah dan safsata’iyyah yang menolak pengetahuan informatif.
2. Masalah pembaruan alam (huduts al-alam), yang bertujuan untuk membuktikan keberadaan Zat Pencipta. Ini adalah bantahan dari pandangan materialis, yang memegang keutamaan alam (qudum al-alam).
3. Masalah persatuan Tuhan sebagai sanggahan pandangan tsanawiyah yang meyakini keberadaan Dewa Cahaya (An-Nur) dan Dewa Kegelapan (Adz-Dhu'mah).
4. Masalah tanzih (pembersihan Allah) dan penolakan tasybih (kemiripan Allah dengan makhluk). Tujuannya adalah untuk membantah orang-orang Yahudi dan sejenisnya yang menambahkan kepada Allah karakteristik manusia.
5. Masalah sifat Allah dan hubungannya dengan substansi-Nya, apakah substansi-Nya sama dengan sifat-Nya, atau berbeda. Ini adalah bantahan terhadap mu'tazilah, yang dipengaruhi oleh perdebatan seputar atribut-atribut Tuhan sebagai akibat dari pengaruh filsafat Yunani. Ketika konsep farar (substansi) dan aradh (aksen) 173 (Lihat buku Al-Anshaf - Imam Al-Baqilani \ hlm. 16), serta aqnumiyyah (unsur-unsur dalam teologi Kristen) digunakan untuk membenarkan konsepsi teologi mereka. , di mana Tuhan adalah akumulasi 3 orang, yaitu ayah, anak dan roh suci 174 (Lihat Al-Irsyad Imam Al Juwaini hal. 24-26).
6. Masalah dengan Allah, baik qadim dan huduts. Ini dipengaruhi oleh pandangan Kristen tentang Kristus sebagai kalimat Allah. Menurut teologi Kristen, al-Masih adalah Tuhan, sedangkan dalam pandangan Islam, Al-Masih adalah kalimat Allah. Dari sini, Yuhana Ad-Dimsyaqi mencoba membuat sintesis pandangan Islam dan Kristen yang bertujuan membenarkan konsep-konsep teologis. Jika Al-Masih adalah Kalimatullah, dan Kalimah adalah qadim, maka Al-Masih adalah qadim. Jika Kristus adalah qadim, maka Kristus adalah Tuhan.
7. Masalah kenabian yang bertujuan untuk mengkonfirmasi keyakinan pada kenabian Nabi, dengan menyangkal sekte sabi'ah dan brahmana (hindu) yang menolak kebutuhan manusia nabi. Juga membatatah orang Yahudi dan Kristen yang menolak kenabian Nabi Muhammad.
8. Masalah infallibilitas para nabi yang bertujuan untuk menyangkal pandangan orang Yahudi, bahwa Nabi SAW memiliki kelemahan, dosa dan tidak bisa salah.
9- Masalah tempat kembali (Al-Mi'ad) yang menyangkal pandangan reinkarnasi (reinkarnasi) agama Buddha dan lainnya.
10. Masalah al-jabr wal ikhtiyar (paksaan dan kebebasan berkehendak), yang dipengaruhi oleh pandangan bebas dan fatalisme filsafat Yunani.

Dengan demikian dapat diringkas secara singkat, bahwa objek pengetahuan pengetahuan Kalam adalah argumentasi dan bantahan dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan bentuk, substansi, sifat dan perbuatan Allah, kebutuhan akan rasul, Hari Pengadilan, dan hadiah dan siksaan (Lihat Al-Firaq Shaykh Abdul Fattah halaman 13 14). Sedangkan untuk sifat benda berkenaan dengan klasifikasi dapat diklasifikasikan sebagai mahsus (terindra) dan ghair al-mahsus (tidak merasakan). 
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar