Skip to main content

Ilmu Pengetahuan : Definisi, Sumber, Karakteristik dan Cara Memperoleh

Ilmu Pengetahuan ditafsirkan oleh Charles Singer sebagai proses pembuatan pengetahuan. Definisi serupa dikemukakan oleh John Warfield yang menafsirkan ilmu pengetahuan sebagai serangkaian kegiatan investigasi.
Sedangkan pengetahuan menurut Zidi Gazalba adalah hasil kerja tahu yang merupakan hasil dari mengetahui, sadar, memahami dan pandai. Pengetahuan, menurutnya, adalah properti atau isi pikiran.
Sedangkan pengertian ilmu sebagai terjemahan ilmu, sebagaimana dikatakan oleh Endang Saefuddin Anshori adalah upaya untuk memahami manusia yang tersusun dalam sistem realitas, struktur, pembagian, bagian dan hukum tentang hal-hal yang diselidiki (alam, manusia, dan agama) sejauh dapat dicapai oleh kekuatan pikiran yang dibantu oleh penginderaan, yang kebenarannya diuji secara empiris, diteliti, dan eksperimental.

Definisi Ilmu Pengetahuan

Dalam etimologi Ilmu Pengetahuan terdiri dari dua kata yaitu Ilmu dan pengetahuan. Pengetahuan dalam bahasa Arab berasal dari kata Alama yang berarti memberi memberi tanda. Sedangkan pengetahuan berarti apa yang diketahui dalam artian mengetahui atau to know dan belajar atau to learning.
Ilmu Pengetahuan

Sementara itu, pengetahuan dalam Kamus Webster dinyatakan bahwa:
1. Pengetahuan yang membedakan dari ketidaktahuan atau kesalahpahaman pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran atau praktik
2. Bagian pengetahuan yang disusun secara sistematis sebagai salah satu objek kajian (teologi)
3. Pengetahuan yang mencakup kebenaran umum atau hukum operasional yang diperoleh dan diuji melalui metode ilmiah. Pengetahuan yang memperhatikan dunia fisik dan gejalanya (ilmu alam)
4. Sistem atau metode atau pengakuan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah.
Sedangkan pengetahuan adalah arti dari kata pengetahuan yang memiliki arti sebagai berikut:
1. Fakta atau keadaan mengetahui sesuatu yang diperoleh secara umum melalui pengalaman atau kebenaran secara umum
2. Realitas atau kondisi orang yang menyadari sesuatu
3. Realitas atau kondisi memiliki informasi yang sedang dipelajari
4. Beberapa pengetahuan, komposisi kepercayaan, informasi dan prinsip-prinsip yang diperoleh manusia.
Dari definisi ini kesimpulannya adalah bahwa Ilmu Pengetahuan adalah salah satu pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah yang sistematis. Sedangkan pengetahuan diperoleh dari kebiasaan atau pengalaman sehari-hari. Dengan demikian pengetahuan lebih sempit dari pengetahuan, atau Ilmu Pengetahuan adalah bagian dari pengetahuan.

Karakteristik Ilmu Pengetahuan

Gagasan itu tidak jauh berbeda dari definisi yang dikemukakan oleh terminologis. Dari definisi ini, karakteristik ilmu diperoleh:
1. Sistematis
Sistematis berarti bahwa Ilmu Pengetahuan terstruktur seperti sistem yang memiliki fakta-fakta penting yang saling terkait.
2. Umum
Generalitas adalah kualitas ilmu pengetahuan untuk merangkum sebuah fenomena yang selalu meluas dengan penentuan konsep-konsep yang semakin umum dalam pembahasan tujuannya.
3. Rasionalitas
Rasionalitas adalah sumber pemikiran rasional yang mematuhi aturan-aturan logika.
4. Verifibiality
Verifikasi dapat diverifikasi, diselidiki kembali atau diuji ulang oleh setiap anggota komunitas ilmiah.
5. Komunitas
Komunitas dapat diterima secara umum, setelah diverifikasi oleh para ilmuwan.
6. Objektivitas
Objektivitas Ilmu Pengetahuan sesuai dengan pandangan umum dan tidak spesifik berdasarkan pandangan seseorang.
Sedangkan objek Ilmu Pengetahuan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Benda material
Objek material adalah target dalam bentuk materi yang disajikan dalam pemikiran atau penelitian. Ini berisi objek material atau non-material. Bisa juga berupa benda, masalah, ide, konsep, dll.
2. Objek Fomal
Objek formal yang berarti sudut pandang sesuai dengan aspek objek yang diselidiki. Objek formal menunjukkan pentingnya makna, posisi, dan fungsi objek dalam Ilmu Pengetahuan. Misalnya pembahasan benda material "manusia". Pada manusia ada beberapa aspek, seperti: mental, emosional, individu dan juga sosial. Aspek ini adalah objek formal ilmu pengetahuan. Manusia dengan bentuk objeknya akan menghasilkan beberapa jenis pengetahuan, seperti biologi, fisikologi, sosiologi, antropologi, dll.
Dengan kata lain, pengetahuan adalah pengetahuan tentang objek yang diperoleh dengan metode ilmiah yang disusun secara sistematis sebagai suatu kebenaran.

Sumber Ilmu Pengetahuan

Sumber pengetahuan adalah asal dari pengetahuan yang diperoleh manusia. Ketika membahas masalah asli, pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan tidak dibedakan, karena ada juga sumber pengetahuan di ilmu pengetahuan.
Mulyadi Kartanegara mendefinisikan sumber pengetahuan adalah alat atau sesuatu dari mana manusia dapat memperoleh informasi tentang objek-objek Ilmu Pengetahuan yang memiliki sifat dasar yang berbeda. Karena sumber pengetahuan adalah alat, maka ia menyebut indera, pikiran dan hati sebagai sumber pengetahuan.
Amsal Bakhtiar percaya bahwa itu tidak jauh berbeda. Menurutnya, sumber pengetahuan adalah alat untuk memperoleh pengetahuan. Dengan istilah yang berbeda ia menyebutkan empat macam sumber pengetahuan, yaitu: emperisme, rasionalisme, intuisi dan wahyu.
Dari penjelasan di atas, kita lebih condong ke pendapat Mulyadi Kertanegara yang menyebut indera, pikiran dan hati sebagai sumber pengetahuan. Hanya saja ketiga sumber itu perlu ditambahkan dengan intuisi dan wahyu. Pengetahuan yang diperoleh dengan intuisi berbeda dari pengetahuan yang diperoleh oleh hati. Inti filosofi barat lebih dipahami sebagai pengembangan naluri yang dapat memperoleh pengetahuan secara langsung dan absolut.
Dengan demikian, sumber pengetahuan yang akan kita bahas adalah empirisme (indera), rasionalisme (akal), intuitionisme (intuisi), ilmunasionalisme (hati), dan wahyu.

1. Empirisme (Indera)

John Locke (1632-1704), mengemukakan teori tabula rasa yang menyatakan bahwa pada awalnya manusia tidak tahu apa-apa. Seperti kertas putih yang belum ternoda. Pengalaman inderanya mengisi buku harian jiwanya untuk menjadi pengetahuan sederhana yang begitu kompleks dan pengetahuan yang bermakna.
Selain John Locke, ada juga David Hume (1711-1776) yang mengatakan bahwa manusia sejak lahir belum membawa ilmu. Manusia memperoleh pengetahuan melalui pengamatan yang memberi dua hal, kesan (impression) dan pengertian atau gagasan (ideas). Tayangan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman. Seperti merasakan sakit tangan yang terbakar. Sedangkan idenya adalah gambaran pengamatan yang dihasilkan dengan merefleksikan kembali atau tercermin dalam kesan yang diterima dari pengalaman.
Fenomena alam, menurut aliran ini konkret, dapat diekspresikan dengan panca indera dan memiliki pola karakteristik keteraturan tentang suatu peristiwa. Seperti langit berawan yang biasanya diikuti oleh hujan, logam yang dipanaskan akan memanjang. Berdasarkan alasan teori ini hanya berfungsi sebagai manajer dari konsep ide-ide indera dengan menyusun konsep atau membaginya. Akal juga merupakan tempat berlindung yang secara pasif menerima hasil indra. Reason berfungsi untuk memastikan hubungan urutan kejadian.
Namun demikian, ternyata indra memiliki beberapa kelemahan, termasuk; pertama, keterbatasan sensorik. Seperti halnya case, semakin jauh objek, semakin kecil tampilannya. Kasing tidak menunjukkan bahwa objek kecil, atau kecil. Kedua, indera menipu. Penipuan dirasakan pada orang sakit. Sebagai contoh. Penderita malaria merasakan gula manis, pahit, dan udara panas terasa dingin. Ketiga, objek menipu, seperti ilusi dan fatamorgana. Keempat, objek dan indera yang menipu. Penglihatan kami pada kerbau, atau gajah. Jika kita melihat keduanya dari depan, yang kita lihat adalah kepala, sementara ekornya tidak terlihat. dan kedua binatang itu sendiri tidak dapat menunjukkan seluruh tubuh mereka. Kelemahan pengalaman indrawi sebagai sumber pengetahuan, maka sumber kedua lahir, yaitu Rasionalisme.

2. Rasionalisme (Akal)

Rene Descartes (1596-1650), dipandang sebagai bapak rasionalisme. Rasionalisme tidak menganggap pengalaman indera (empiris) sebagai sumber pengetahuan, tetapi nalar (rasio). Kelemahan dalam pengalaman empiris dapat diperbaiki jika alasan digunakan. Rasionalisme tidak menyangkal penggunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, tetapi indera hanya sebagai stimulan untuk alasan berpikir dan menemukan kebenaran / pengetahuan.
Pikiran mengatur data yang dikirim oleh indera, memprosesnya dan mengelolanya hingga menjadi pengetahuan sejati. Dalam pengaturan ini alasan menggunakan konsep rasional atau gagasan universal. Konsep memiliki bentuk di dunia nyata dan bersifat universal dan merupakan abstraksi dari objek konkret. 
Meskipun rasionalisme mengkritik emprisme dengan pengalaman indrawi, rasionalisme dengan kecerdasannya tidak bebas dari kritik. Kelemahan dalam pikiran. Alasan tidak bisa mengetahui secara menyeluruh (secara universal) objek yang dihadapinya. Pengetahuan akal adalah pengetahuan parsial, karena akal hanya dapat memahami suatu objek ketika ia memikirkannya dan akal hanya memahami bagian-bagian tertentu dari objek tersebut.

3. Intusionisme (Intuisi)

Kritik tajam terhadap empirisme dan rasionalisme dikemukakan oleh Hendry Bergson (1859-1941). Menurutnya bukan hanya indera terbatas, indera juga memiliki keterbatasan juga. Objek yang ditangkap oleh indra dan akal budi hanya dapat memahami suatu objek jika ia memusatkan pikirannya pada objek tersebut. Dengan memahami keterbatasan indera, akal, dan objek, Bergson mengembangkan kemampuan tingkat tinggi yang disebut intuisi. Kemampuan ini dapat memahami suatu objek secara keseluruhan, permanen dan komprehensif. Untuk mendapatkan intuisi tinggi, manusia harus berjuang melalui pikiran dan refleksi yang konsisten dengan suatu objek.
Lebih lanjut Bergson menyatakan bahwa pengetahuan intuitif adalah mutlak dan bukan pengetahuan relatif. Intuisi mengatasi sifat lahiriah dari pengetahuan simbolik. [29] Intuisi dan analisis dapat bekerja bersama dan saling membantu dalam menemukan kebenaran. Tetapi intuisi saja tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk mengatur pengetahuan.
Salah satu contohnya adalah diskusi tentang keadilan. Apakah itu adil? Pemahaman yang adil akan berbeda tergantung pada pikiran manusia yang mengerti. Adil bisa datang dari yang dikutuk, keluarga yang dihukum, hakim dan jaksa. Adil memiliki banyak definisi. Di sinilah intuisi berperan. Menurut aliran ini intuisi dapat mengetahui kebenaran sepenuhnya dan secara permanen.

4. Illuminationism (Hati)

Pemahaman ini mirip dengan intuisi tetapi memiliki perbedaan dalam metodologi. Intuisi diperoleh melalui kontemplasi dan pemikiran mendalam, tetapi dalam iluminasi diperoleh melalui hati. Secara lebih umum, iliminasi sering berkembang di kalangan umat beragama dan dalam Islam mereka dikenal sebagai teori Kasyf, yang merupakan teori bahwa orang yang memiliki hati yang bersih dapat menerima pengetahuan dari Tuhan. Kemampuan untuk menerima pengetahuan secara langsung, diperoleh melalui latihan spiritual yang dikenal sebagai suluk atau riyadhah. Lebih khusus lagi, metode ini diajarkan dalam Tariqat. Pengetahuan yang diperoleh melalui iluminasi melampaui pengetahuan dan akal akal. Bahkan dengan kemampuan melihat Tuhan, surga, neraka dan alam gaib lainnya.
Dalam ajaran tasawuf, ada pemahaman bahwa unsur Ilahi yang terkandung dalam manusia ditutupi (jilbab) oleh hal-hal materi dan hasrat mereka. Jika dua hal ini dapat dilepaskan, kemampuan Ilahi akan berkembang sehingga dapat menangkap benda-benda gaib.

5. Wahyu (Agama)

Wahyu sebagai sumber ilmu juga berkembang di kalangan tokoh agama. Wahyu adalah pengetahuan agama yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia melalui perantara para nabi yang memperoleh pengetahuan tanpa mengerjakannya. Pengetahuan ini terjadi karena kehendak Tuhan. Hanya para nabi yang mendapatkan wahyu.

Cara Memperoleh Pengetahuan

Lima sumber pengetahuan yang telah kami sebutkan di atas, fokus pada alasan untuk mendapatkan atau memperoleh pengetahuan. Secara empiris menggunakan alasan untuk membentuk ide / konsep dari objek. Terutama dalam aliran rasionalisme yang menekankan akal. Intuisi, iluminasi, dan wahyu juga diperoleh dari pikiran yang berpikir. Namun demikian pengetahuan yang dihasilkan dari sumber-sumber ini bervariasi.
Muhamad Al-Bahi membagikan ilmunya dalam hal sumbernya dibagi menjadi dua:
1. Pengetahuan yang berasal dari Tuhan
2. Ilmu yang berasal dari manusia
Al-Jurjani membagi ilmu menjadi dua jenis, yaitu pertama; Qadim dan ilmu kedua; Ilmu hadis. Ilmu Qadim adalah ilmu tentang Tuhan yang jelas sangat berbeda dengan ilmu hadits yang dimiliki manusia sebagai hamba-Nya.
Menurut Al-Gazali seperti dikutip oleh Dr. Amsal Bakhtiar berpendapat bahwa Ilmu Pengetahuan terbagi menjadi dua macam, yaitu syar'iyah Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan aqliyyah. Shar'iyyah adalah ilmu agama karena berkembang dalam peradaban yang memiliki shar'iyyah (hukum wahyu) sementara aqliyyah adalah ilmu yang berada di luar Shar'iyyah. Seperti ilmu alam, matematika, metafisika, ilmu politik dll.
Metode ilmiah adalah alat operasional positivisme yang dirinci dalam langkah-langkah logico-hypothico-verivicartif. Intinya adalah dengan membuktikan bahwa objek itu logis, kemudian mengusulkan hipotesis yang didasarkan pada logika, setelah itu lakukan pembuktian hipotesis dengan eksperimen untuk memverifikasi hipotesis yang diajukan. Dalam metode ilmiah praktis menjadi metode penelitian (research) untuk menemukan pengetahuan.
Secara garis besar, langkah-langkah metode ilmiah yang disebutkan menurut Jujun adalah sebagai berikut:
Sebuah. Perumusan masalah
Ini adalah pertanyaan tentang objek empiris yang batas-batasnya jelas dan datanya diidentifikasi oleh faktor-faktor yang terlibat di dalamnya.
b. Persiapan kerangka pikir
Dalam mengusulkan suatu hipotesis yaitu suatu argumen yang menjelaskan hubungan yang mungkin ada antara berbagai faktor yang saling terkait dan membentuk masalah.
c. Formulasi hipotesis
Terdapat jawaban yang sifatnya sementara dari rumusan masalah yang ingin dipecahkan. Jawaban tersebut merupakan hipotesis yang akan diuji kebenarannya.
d. Menarik kesimpulan
menarik kesimpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima. Jika fakta mendukung hipotesis, hipotesis diterima. Dan jika fakta tidak mendukung hipotesis ditolak. Hipotesis yang diterima adalah bagian dari ilmu pengetahuan karena telah memenuhi persyaratan pengetahuan ilmiah.
Hipotesis ditolak, membuat teori baru jika langkah-langkah ilmiah yang diambil telah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hasil penelitian tercermin dalam kesimpulan yang dibuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah temuan dari hasil interpretasi dan diskusi. Kesimpulannya adalah jawaban untuk masalah yang diajukan. Pengujian hipotesis mencoba membandingkan proposisi yang diajukan dengan data empiris yang telah ditentukan variabel dan indikatornya dalam bentuk data atau informasi. Seringkali data tersebut berupa data statistik dengan desain uji hipotesis yang tersedia. Diskusi dilakukan dengan menafsirkan data yang ditemukan dalam penelitian. Dalam diskusi kami mencocokkan dan merujuk pada kerangka berpikir dan hipotesis yang telah disiapkan. Jika ada kompatibilitas, hipotesisnya benar dan jika ada perbedaan / kontradiksi, maka perlu untuk menjelaskan lokasi perbedaan dan apa yang menyebabkannya.
Langkah-langkah metode ilmiah yang disajikan oleh Jujun telah ditambahkan ke pengumpulan data atau informasi kemudian melakukan penelitian dan diskusi tentang data atau informasi yang dikumpulkan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar