Sejarah Puasa Sebelum dan Setelah Datangnya Islam

Sejarah Puasa Sebelum dan Setelah Datangnya Islam

Peraturan puasa ini telah ada juga pada zaman-zaman dahulu, seperti puasa pada zaman Mesir Purbakala, puasa orang Yunani, puasa orang Romawi dan puasa orang Hindu dan banyak lagi puasa-puasa yang dilakukan oleh umat manusia. 
Sejarah Puasa

A. Puasa Sebelum Islam 

Di dalam Taurat, puasa itu hanya dipuji-puji dan dianjurkan, tetapi tidak ada ayat yang mewajibkan puasa tersebut. Hanya Nabi Musa pernah berpuasa selama 40 hari, hal mana memberikan pengengetahuan kepada kita, bahwa puasa itu termasuk ibadah yang pernah diperintahkan Allah kepada hamba-Nya di masa-masa dahulu. Di dalam kitab Taurat ada anjuran berpuasa siang dan malam, yaitu pada hari yang kesepuluh dari bulan Tamuz (bulan Juli), yang terkenal di dalam masyarakat Yunani dengan nama hari ’Asyura. 

Di dalam kitab Injil juga kita ketahui perintah khusus untuk melaksanakan puasa itu, dan ada pula perkabaran tentang puasa, memuji-muji kebaikan puasa, dan menganggap puasa itu sebagai ibadah yang tinggi mutunya. Dalam pada itu. orang-orang Yahudi yang puasa supaya meminyaki rambut dan mencuci muka agar jangan diketahui orang bahwa dia itu berpuasa (maksudnya supaya jangan riya'). 

Puasa kaum Nasrani yang dulu itu, ialah puasa besar yang berlaku sebelum hari Paskah. Hari itu dipuasakan oleh Nabi Musa, Nabi Isa, dan oleh Al Hawariyyin (murid-murid Nabi Isa). Kemudian pemuka-pemuka gereja mengadakan bermacam-macam jenis puasa, dan bermacam-macamnya puasa itu menurut pendeta-pendeta mereka masing-masing. Seperti ada puasa dari makan daging, ada puasa dari makan ikan, ada Puasa dari makan telur, ada puasa dari minum air susu, dan macam-macam puasa menurut adat dan pemuka agama yang dibuat mereka tanpa petunjuk dari Allah SWT. Umumnya puasa pada zaman dahulu itu, hannya sekali makan dan minum dalam sehari dan semalam. 

Kepada Nabi Zakaria dan Bunda Nabi Isa, Siti Maryam,  diperintahkan puasa dari makan, puasa dari minu’m, puasa dari seks, dan puasa dari bicara yaitu tidak mau berbicara dengan siapapun juga.

B. Puasa di dalam Agama Islam 


Adapun dasar diwajibkannya berpuasa dalam Islam yaitu berdasarkan Firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 183: 
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa". 

Puasa di dalam Agama Islam mulai diwajibkan kepada umat Islam ialah pada tahun kedua Hijriyah. Diwajibkan kepada orang-orang yang telah berakal dengan syarat-syarat salah satu yang bawah ini: 

1. Telah mengetahui awal Ramadhan
2. Mencukupkan bulan Sya'ban 30 hari, jika tidak melihat bulan
3. Penetapan awal bulan Ramadhan dengan rukyah oleh tim atau Panitia
4. Mendengar berita yang mutawatir, yaitu dari golong orang banyak yang telah menyatakan telah melihat bulan. 
5.Dengan hisab atau perhitungan ahli perbintangan, dan diberitahukan oleh pemerintah. Kalau di Indonesia yaitu Kementerian Agama.

Secara global puasa itu berarti menahan. Apa yang kita tahan? Ada tujuh Tahan, disingkat 7 -T: 
l. Tahan haus dan lapar mulai terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahai. 
2. Tahan nafsu birahi/tahan gairah seksual. 
3. Tahan mulut dari berbicara yang kotor dan menyakitkan hati. 
4. Tahan emosi, kendalikan diri, jangan marah yang membabi buta, melampiaskan kekesalan 
5. Tahan tangan dan kaki dari bergerak yang tidak berfaedah. 
6. Tahan mata, jangan melihat yang dilarang Allah. 
7. Tahan telinga, jangan mendengar cerita-cerita/omongan/gossip murahan. 

Setelah tiba waktunya berbuka, maka segeralah berbuka. Karena dalam sebuah hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata: Saya telah mendengar Nabi SAW bersabda: "Apabila malam telah datang dan siang telah lenyap, dan matahari telah terbenam, maka sesungguhnya telah datang waktu berbuka bagi orang yang berpuasa (berbukalah dengan segera, pen)." HR Bukhori dan Muslim.

Baca juga:

Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak