Skip to main content

Perbedaan Bacaan Basmalah Dalam Sholat

A. Pendapat Para Ulama Fiqih Tentang Bacaan Basmalah Dalam Sholat

1. Dibaca Pelan

Basmalah bukan termasuk ayat menurut surat al-Fatihah, sunnah dibaca secara sirr waktu membaca al-Fatihah  dalam shalat, baik shalat sirriyyah maupun jahriyyah. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad Imam Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri.

Menurut penuturan at-Tirmidzi, pendapat inilah yg menjadi pegangan kebanyakan pakar ilmu dari kalangan teman Nabi dan tabi’in misalnya Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Ibnu al-Mundzir menambahkan nama Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair dan ‘Ammar.  Pendapat ini juga dipegangi oleh al-Hakam, Hammad, al-Auza’i, Suyan ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak dan kelompok ulama ahl ra’y.

Ulama pada masa ini yg menguatkan pendapat ini di antaranya  Husain bin ‘Audah al-‘Awasyah pada kitabal-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fi Fiqh al-Kitab wa as-Sunnah al-Muthahharah.

Ibnu Katsir memberitahukan pada tafsirnya : 1/118 :

وذهب آخرون إلى أنه لا يجهر بالبسملة في الصلاة، وهذا هو الثابت عن الخلفاء الأربعة وعبد الله بن مغفل، وطوائف من سلف التابعين والخلف، وهو مذهب أبي حنيفة، والثوري، وأحمد بن حنبل.
Ulama lain berpendirian bahwasanya basmalah tidak dikeraskan dalam shalat, riwayat ini adalah yang tetap (meyakinkan) berdasarkan khalifah empat dan Abdullah bin Mughaffal dan sekelompok ulama salaf, tabi’in dan khalaf. Ini menjadi pilihan madzhab Abu Hanifah, ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal.

Basmalah sunnah dibaca secara sirr saat membaca al-Fatihah  dalam shalat. Pendapat yang dipegang sang Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri ini mengajukan beberapa dalil menurut as-Sunnah seperti :

Hadis Pertama :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  )صحيح البخاري - (3 / 186)
Dari Anas bin Malik, “ Bahwasanya Nabi SAW dan Abu Bakar, Umar radhiyallahu ‘anhuma mereka semua membuka (bacaan) shalat menggunakan alhamdulillahirabbil’alamin. ( Sahih al-Bukhari : tiga/186)

Hadis Kedua :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ الْقِرَاءَةَ بِ  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  سنن ابن ماجه - (tiga / 40)
Dari Aisyah ia mengungkapkan, “ Bahwasanya Rasulullah SAW membuka bacaan shalat denganalhamdulillahirabbil ‘alamin. ( Sunan Ibnu Majah : 3/40 )

Hadis ini disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Wa Dha’if Sunan Ibnu Majah : dua/384.

2. Dibaca Keras 

Basmalah termasuk ayat dalam surat al-Fatihah dan harus dibaca bersama al-Fatihah secara keras (jahr) pada shalat jahriyyah dan secara sirr dalam shalat sirriyyah. Pendapat ini sebagai pegangan Imam asy-Syafi’i dan pengikutnya.

Di kalangan penganut madzhab asy-Syafi’i masih ada kesepakatan, sebagaimana diterangkan an-Nawawi, bahwa basmalah termasuk pada Surat al-Fatihah tanpa terdapat perselisihan.

اما حكم المسألة فمذهبنا ان بسم الله الرحمن الرحيم آية كاملة من اول الفاتحة بلا خلاف ) المجموع شرح المهذب - (ج 3 / ص 333)
Adapun aturan kasus, maja madzhab kami bahwasanya basmalah itu satu ayat yang sempurna menurut awal surat al-Fatihah tanp terdapat perselisihan”. ( al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab : 3/333)

Menurut para qurra` Makah, sebagian Kufah dan Hijaz, basmalah termasuk satu ayat menurut surat al-Fatihah.

Ibnu Katsir menyebutkan siapa saja yang memegang pendapat ini pada tafsirnya 1/117 :

فذهب الشافعي، رحمه الله، إلى أنه يجهر بها مع الفاتحة والسورة، وهو مذهب طوائف من الصحابة والتابعين وأئمة المسلمين سلفًا وخلفًا  ، فجهر بها من الصحابة أبو هريرة، وابن عمر، وابن عباس، ومعاوية)... تفسير ابن كثير – (1 / 117)
Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwasanya basmalah dikeraskan bersama al-Fatihah dan surat(an), ini jua sebagai pendapat segolongan menurut kalangan teman dan tabi’in dan para imam kaum muslimin zaman dahulu dan kemudian. Yang mengeraskan basmalah menurut kalangan sahabat di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Mu’awiyah..

Imam an-Nawawi menandaskan bahwa dari madzhab kami (madzhab asy-Syafi’i), basmalah disunnahkan buat dibaca keras pada shalat jahriyah baik pada awal al-Fatihah maupun di awal surat. Lebih lanjut dia menjelaskan siapa saja yg beropini seperti ini, dengan menukil riwayat dari Abu Bakar al-Khathib, pada antaranya berdasarkan kalangan teman  terdapat khalifah yg empat.

Ammar bin Yasir, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Qatadah, Abu Sa’id, Qais bin Malik, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, Syadad bin Aus, Abdullah bin Ja’far, Husain bin Ali, Abdullah Ja’far, dan Mu’awiyah serta sejumlah teman dari Muhajirin dan Anshar. Dari kalangan tabi’in ada Sa’id bin al-Musayyab, Thawus, Atha`, Mujahid, Abu wail, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Ikrimah, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Salim bin Abdullah.....Dll.

Basmalah wajib  dibaca beserta al-Fatihah secara keras (jahr) pada shalatjahriyyah dan secara sirr dalam shalat sirriyyah. Imam asy-Syafi’i dan pengikutnya mengajukan sejumlah dalil berdasarkan as-Sunnah seperti :

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ  غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي الِاثْنَتَيْنِ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  سنن النسائي - (ج 3 / ص 459) ,سنن الدارقطني - (ج 3 / ص 291)
Dari Nu’aim al-Mujmir dia berkata, “Aku shalat pada belakang Abu Hurairah lalu dia membaca Bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) sampai beliau membaca :“Waladh-dhaallin”, beliau menyampaikan : “Aamiin”. Maka manusia menyampaikan (juga) : “Aamiin”. Dan dia berucap setiap kali sujud : “Allahu Akbar”, dan ketika bangkit menurut duduk raka’at ke 2 beliau mengatakan :“Allahu Akbar”. Dan bila beliau salam maka dia berkata : “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya akulah pada antara kalian yang paling serupa shalatnya dengan Rasulullah SAW.(Sunan an-Nasa`i : tiga/459, Sunan ad-Daruquthni : tiga/291)

3. Makruh Dibaca

Basmalah bukan termasuk ayat dari surat al-Fatihah maka hukumnya makruh dibaca beserta al-Fatihah pada shalat fardhu baik secara pelan juga keras, tetapi boleh dibaca dalam shalat sunat. Ini menjadi pegangan Imam Malik dan pengikutnya.

Di kalangan qurra`, yang berpendapat basmalah bukan termasuk surat al-Fatihah  menurut nukilan al-Baghawi adalah qurra` Madinah, Bashrah dan Kufah.

Ibnu Katsir mengungkapkan pada Tafsir Ibnu Katsir :1/118 :

وعند الإمام مالك: أنه لا يقرأ البسملة بالكلية، لا جهرًا ولا سرًا
Menurut Imam Malik : Basmalah tidak dibaca secara keseluruhan, baik dibaca keras juga pelan-pelan.

Sedang Imam Al-Qurthubi pada tafsirnya mengungkapkan 1/96:

وجملة مذهب مالك وأصحابه: أنها ليست عندهم آية من فاتحة الكتاب ولاغيرها، ولا يقرأ بها المصلي في المكتوبة ولافي غيرها سرا ولا جهرا، ويجوز أن يقرأها في النوافل. هذا هو المشهور من مذهبه عند أصحابه.
Kesimpulan madzhab Malik dan sahabatnya, bahwasanya basmalah bukan termasuk surat al-Fatihah dan pula surat selainnya, basmalah tidak dibaca pada shalat fardhu dan pula selainnya baik secara sirrmaupun jahr, namun boleh dibaca pada shalat sunat. Pendapat inilah yg masyhur berdasarkan Imam Malik menurut sahabat-sahabatnya.

Basmalah makruh dibaca bersama al-Fatihah dalam shalat fardhu baik secara pelan maupun keras, namun boleh dibaca dalam shalat sunat. Ini sebagai pegangan Imam Malik dan pengikutnya dan al-Auza’i. Untuk mendukung pendapatnya kelompok ini mengajukan dalil menjadi berikut :

عن أنس قال صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكر وعمر رضي الله عنهما فافتتحوا ب ( الحمد لله رب العالمين ) .)  صحيح وضعيف سنن النسائي -(3 / 47) تحقيق الألباني : صحيح
Dari Anas ia berkata, “ Aku shalat beserta Nabi SAW, Abu Bakar, Umar RA mereka membuka bacaan menggunakan al-hamdulillahirabbil ‘alamin. ( Sunana an-Nasa`i : tiga/47, menurut pentahqiqan al-Albani, hadis benar)

4. Boleh Dibaca Keras dan Pelan

Basmalah dapat dibaca sekali tempo secara keras dan sekali tempo secara pelan, walau secara sirrdianggap lebih acapkali dikerjakan Nabi SAW. Pendapat ini dimotori oleh Ibnu al-

Qayyim dalam kitabnyaZadul Ma’ad fi Hadyi Khair al-`Ibad : 1/119

وَكَانَ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللّهِ الرّحْمَنِ الرّحِيمِ تَارَةً وَيُخْفِيهَا أَكْثَرَ مِمّا يَجْهَرُ بِهَا دَائِمًا فِي كُلّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسَ مَرّاتٍ أَبَدًا حَضَرًا وَسَفَرًا وَيَخْفَى ذَلِكَ عَلَى خُلَفَائِهِ الرّاشِدِينَ وَعَلَى جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ وَأَهْلِ بَلَدِهِ فِي الْأَعْصَارِ الْفَاضِلَةِ هَذَا مِنْ أَمْحَلِ الْمُحَالِ حَتّى يَحْتَاجَ إلَى التّشَبّثِ فِيهِ بِأَلْفَاظٍ مُجْمَلَةٍ وَأَحَادِيثَ وَاهِيَةٍ فَصَحِيحُ تِلْكَ الْأَحَادِيثِ غَيْرُ صَرِيحٍ وَصَرِيحُهَا غَيْرُ صَحِيحٍ وَهَذَا مَوْضِعٌ يَسْتَدْعِي مُجَلّدًا ضَخْمًا .
Ibnul Qayyim mengungkapkan : Dahulu Rasulullah SAW. Kadang-kadang mengeraskan lafadz bismillahirrahmanirahim dan lebih acapkali tidak membacanya secara keras. Dengan demikian nir diragukan lagi bahwa beliau tidak selalu mengeraskan basmalah saat shalat 5 ketika dalam sehari semalam, baik waktu bermukim ataupun bepergian. Beliau memperlihatkan hal ini pada khulafa` rasyidin, pada para sahabatnya dan penduduk kota-kota besar . Ini merupakan hal yg paling mustahil sehingga harus dijelaskan lagi. Untuk membahas perkara ini rupanya membutuhkan ruang yg berjilid-jilid yg tebal.

Ada beberapa ulama yg berusaha mengkompromikan dua pendapat pada atas menggunakan dasar bahwa : Kadang Nabi menjaharkan basmalah dan kadang juga tidak. Dan ini juga yg menjadi pendapat Ibnul-Qayyim, walaupun beliau menyatakan bahwa nir dijaharkan adalah lebih banyak  Pendapat ini pula yg dikuatkan sang Syaikh Muqbil dan Syaikh Bin Baz (pada ta’liq dia terhadap Fathul-Bari).

Pendapat ini menggunakan thariqat al-jam’u wa at-taufiq ( metode mengumpul dan mengkompromikan) menurut beberapa dalil yang tidak selaras. Metode ini merupakan metode yg seyogyanya ditempuh pertama kali apabila menemukan dalil yang sepintas terindikasikan ta’arudh atau bertentangan.

Di mata ulama gerombolan  ini, riwayat yg menyebutkan bahwa Nabi SAW pernah mengeraskan bacaan basmalah diakui dan diamalkan, tetapi riwayat yg mensirrkan basmalah dianggap lebih kuat dan lebih tak jarang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat. Agar tidak terdapat sunnah yg diabaikan atau ditinggalkan, maka diamalkan saja keduanya.

5. Membaca Keras dan Pelan Sama Saja

Pendapat ini dikemukakan sang Ibnu Abi Laila dan al-Hakam dari penuturan al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari, bahwa basmalah mau dibaca keras atau pelan itu sama saja.

وَحَكَى الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى وَالْحَكَمِ أَنَّ الْجَهْرَ وَالْإِسْرَارَ بِهَا سَوَاءٌ.
Az-Zaila’i menukil, ulama yg berpendapat basmalah boleh dibaca pelan juga keras di antaranya Ishaq bin Rahawaih, dan Ibnu Hazm.

Pada dasarnya pendapat kelima ini alasan yang digunakan hampir sama dengan pendapat keempat. Kedua riwayat berdasarkan Nabi itu sama-sama diakui absah dari berdasarkan Nabi SAW maka berdasarkan itu keduanya sama saja buat diikuti dan diamalkan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar