Skip to main content

Teori Sains Tentang Penciptaan Manusia dan Alam Semesta

Teori Sains Tentang Penciptaan Manusia dan Alam Semesta

A. Pengertian Sains

Ilmu Pengetahuan dalam bahasa inggris dan prancis di sebut “Science”, sedangkan dalam bahasa jerman disebut “Wissenschaft”, dan dalam bahasa belanda di sebut “Wetenschap”. Science berasal dari kata “scio”, “Scire” (bahasa latin) yang berarti tahu, begitupun ilmu berasal dari kata ‘alima” (bahasa arab) yang juga berarti tahu. Jadi baik imu atau Science secara etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis, ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas.

Adapun menurut pandangan para ilmuan terkemuka tentang pengertian sains ini, dapat kami paparkan sebagai berikut :

a. Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag 
Science is empirical, rational, general, general ang cumulative; and it is  all four of onece. (Ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan keempat-empatnya serentak)

b. Karl Pearson (1857-1936), pengarang karya terkenal Grammar of Science 
Science is the complete and consistent description of the fact of experience in the simplest possible terms” (Ilmu pengetahuan ialah lukisan atauketerangan yang lengkap dan konsistententang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/ sesedikit mungkin)

c. Prof. Dr. A. Baiquni (guru besar pada Universitas Gajah Mada)
Science merupakan generasi consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist. Dari penjelasan diatas kita dapat merumuskan bahwa ilmu pengetahuan (science) adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu : sistematik, rasional, empiris, umum dan kumulatif (bersusun timbun). jadi ilmu pengetahuan itu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsistent mengenai hal-hal yang di studinya dalam ruang dan waktus sejauh jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia. Atau bisa pula dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang di susun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang di selidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu oleh penginderaan manusia, yang kebenarannya di uji secara empiris, riset dan eksperimental. Demikianlah yang dapat penulis rumuskan tentang sains menurut pandangan filsafat ilmu.

B. Teori Sains Tentang Penciptaan Manusia dan Alam Semesta

Untuk mengkaji dan membuktikan akan adanya Tuhan menurut Sains dan Agama maka penulis ingin membandingkan antara konsep sains dan konsep agama dalam masalah adanya Tuhan dan pembuktiannya.

Berbicara masalah adanya Tuhan, maka beberapa hal yg perlu kita kaji, baik dari segi pandangan sains maupun agama, begitupun keduanya :

1. Teori Sains Tentang Penciptaan Alam Semesta

Sains memandang bahwa peristiwa asal mula munculnya alam semesta ini ada dua pendapat diantara kalangan para ilmuan geologi, antara lain :

a. Teori Evolusi (kebetulan)

150 tahun yang lau, Charles Darwin (1809-1882) seorang ilmuan alam dari inggris, mengajukan sebuah teori yang berdasarkan pada berbagai pengamatan yang ia lakukan selama perjalanan hidupnya, yang di kenal dengan teori evolusi atau teori yang bersandarkan pada penelitian Darwin bahwa alam ini terbentuk dari sebuah kejadian secara kebetulan. Pada intinya teori evolusi Darwin terdiri atas beragam scenario, asumsi dan penyimpulan yang ditemukan olehnya dalam angan-angannya. Menurut teori evolusinya bahwasanya ala mini terbentuk dari zat-zat mati yang bersatu secara kebetulan untuk membangkitkan sel yang pertama. Dalam artian ala mini hanya terbentuk dari sel mati yang kamudian menyatu hingga terbentuklah sel hidup secara kebetulan(tanpa pengaturan yang berencana).

b. Teori Big-Bang

Pada tahun 1929, astronomer Amerika, Edwin Hubble yang bekerja di observatorium Mount Wilson California, membuat penemuan paling penting dalam sejarah astronomi, yang di sebut teori “Big-Bang”(lekadan besar). Teori ini membahas tentang kejadian alam yang dimulai dengan kejadian Big-Bang (ledakan besar) yang membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada. Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern. Para ilmuan modern dalam membuktikan teori ini, mereka mengadakan peluncuran satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big- Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.

c. Teori Al-Qur’an (Agama)

Dalam hal ini Al-Qur’an hampir sejalan dengan teori Big-Bang, dalam hal ini Al-Qur’an juga mengakui bahwa adanya alam semesta ini yang dulunya tiada kemudian diadakan oleh sang Pencipta Allah swt. Penemuan sains tersebut baru pada abad ke 20, sedangkan 114 abad yang silam Al-Qu’an sudah menyatakan hal ini, ini adalah salah satu bukti kemukjiatan Al-Qur’an, karena pada masa kelahiran Al-Qur’an mustahil dapat mengetahui kehebatan yang sangat luar biasa itu terjadi. Allah swt. Berfirman dalam QS Al-Anbiya’ ayat 30 :

Terjemahannya : “Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman.

Masih banyak lagi ayat Al-Qur’an (QS Al-An’am; 101, Al-Baqarah; 164, Al-Jaatsiyah; 36-37, Qaf; 6-8, dan seterusnya) yang menjelaskan tentang asal mula kejadian alam yang sesuai dengan penemuan para ilmuan sain pada abad mutakhir ini.

Namun permasalahan yang timbul sekarang adalah apakah hasil dari  sebuah ledakan besar dapat beraturan tanpa ada sang pengatur di balik semua ini?. Seumpama sebuah bom yang di ledakan di dalam sabuah gedung, maka apakah hasil ledakan bom yang menghacurkan gedung tersebut mampu hancur baleur secara beraturan?. Jawabannya, hal itu sangat mustahil jika tanpa ada campur tangan pengatur di balik semua ini. Argument inilah yang mematahkan teori big bang yang telah di gagas oleh ilmuan barat tersebut.

Telah penulis paparkan 3 teori yang telah mengkaji tentang asal mula penciptaan alam melalui kajian ilmiah, dua teori diantaranya adalah teori para ilmuan sains pada masa modern/masa keemasan. Sedang satu teori diantaranya adalah teori Al-Qur’an(agama). Teori yang pertama telah di patahkan oleh penemuan teori yang kedua pada abad ke 20. Sedangkan teori yang kedua di koreksi oleh teori yang ketiga. Sedangkan teori yang ketiga muncul jauh berabad-abad sebelum teori yang ke dua lahir. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an sejak turunnya telah mengungkap penemuan-penemuan oleh para ilmuan pada abad keemasan. Ini membuktikan bahwa adanya Tuhan(Allah) sebagai pencipta sekaligus pengatur alam semesta.

2. Teori Sains Tentang Penciptaan Manusia 


Dalam pembahasan ini penulis juga akan memberikan bandingan antara teori-teori yang di temukan oleh para ilmuan sains khususnya pada abad keemasan ini dengan teori Al-Qur’an(agama) dalam mengungkap kebenaran tentang adanya sang Pencipta dalam hal ini, Allah swt.

a. Teori Evolusi

Charles Robert Darwin (1809-1882), adalah penggagas teori ini, beliau adalah penganut faham marxisme (matrealisme), teori evolusi menyatakan bahwa makhluk-makhluk hidup beralihrupa ke spesies-spesies berbeda lewat cara mutasi dan seleksi alam, teori ini menyatakan bahwa manusia adalah bentuk peralihan dari spesies kera, yang kemudian beralihrupa menjadi manusia, dalam artian manusia berasal daari sepsies kera, teori ini dinyatakan oleh darwin melalui penemuan-penemuan fosil yang menjadi tolak ukur atas bukti teorinya. ini menandakan bahwa teori ini menganut faham bahwa alam ini terjadi secara kebetulan dan sama sekali tidak meyakini adanya sang Pencipta yaitu, Allah swt.

b. Teori Al-Qur’an (Agama)

Teori al-Qur’an (agama) ini, memandang bahwa manusia memiliki permulaan dan keberadaan manusia sama sekali bukan dari unsur kebetulan akan tetapi dari unsur perencenaan yang matang, manusia yang wujudnya dari tidak ada menjadi ada, manusia memiliki permulaan dan juga memiliki akhir. 114 abad yang silam Al-Qur’an telah mengungkap teori proses penciptaan manusia, mulai dari awal hinggal manusia itu kembali kehadapan Allah, manusia yang diciptakan dari sari pati tanah, yang kemudian menjadi sperma, dari sperma inilah, yang kemudian tersalur kedalam opum hingga terjadilah proses pembentukan sel-sel tubuh manusia, dari segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian terbentuk menjadi tulang belulang, hingga manusia itu di tiupkan roh atas izin Allah swt.

Hal ini telah di abadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an, QS Al-Mu’minun ayat 12-14 

Terjemahannya : ”Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. {12} kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). {13} kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. {14}”.

Proses penciptaan manusia yang telah di jelaskan oleh Al-Qur’an tadi, telah di benarkan oleh para ilmuan sains pada masa keemasan ini. Jadi sungguh tidak masuk akal apabila pernytaan bahwa Al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad saw. Karena hasil-hasil penelitian yang ada didalam Al-Qur’an sangat ilmiah dan terbukti kebenarannya, yang pada masa turunnya Al-Qur’an belum ada alat canggih apapun yang mampu meneliti hal tersebut.

c. Bantahan Terhadap Teori Evolusi

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan pada zaman keemasan ini, dan meningkatnya berbagai macam penemuan ilmiah yang di hasilkan oleh observasi-observasi ilmiah, maka dengan sendirinya teori evolosi ini daapat runtuh dan punah.

Dalam bidang sains sangat penting untuk memberikan “bukti”. Jika kamu membuat suatu pernyataan, dan jika kamu ingin orang lain mempercayainya, maka kamu harus menunjukkan bukti. Contohnya, kamu memperkenalkan dirimu kepada seseorang dan berkata, “Namaku Maryam.” Orang itu berkata, “Aku tidak percaya kalau namamu Maryam”. Kalau terjadi seperti ini kamu harus mempunyai bukti bahwa namamu benar-benar Maryam. Apa yang menjadi bukti bagimu? Kartu pelajarmu bisa menjadi bukti, atau akte kelahiranmu, paspormu, atau lain-lainnya. Jika kamu menunjukkan salah satu di antaranya kepada orang itu, dia tidak akan dapat menolak.

Sekarang mari kita ambil contoh yang ilmiah. Ada seorang ilmuwan bernama Newton yang hidup beberapa abad yang lalu dan menyatakan bahwa ada sesuatu yang disebut gravitasi di bumi. Dia memberi tahu siapa saja yang bertanya bagaimana dia mengetahui hal ini. Dia menjawab, “Ketika sebuah apel jatuh dari pohon, dia jatuh ke tanah. Apel itu tidak melayang di udara”. Artinya terdapat suatu kekuatan yang menarik apel ke tanah, dan dia menyebutnya “gravitasi”.

Jadi, para evolusionis harus menunjukkan bukti untuk membuat teorinya dapat dipercaya. Misalnya, teori evolusi menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Maka kita harus bertanya kepada mereka: Dari mana kamu mendapatkan gagasan ini dan apa buktinya?

Jika nenek moyang manusia adalah kera, kita seharusnya menemukan fosil-fosil dari makhluk separo manusia dan separo kera sebagai bukti. Namun, fosil seperti ini tidak pernah ditemukan sampai hari ini. Kita hanya menemukan fosil manusia dan fosil kera. Artinya, para evolusionis tidak mempunyai bukti apa-apa bahwa kera adalah nenek moyang manusia. Para evolusionis mencoba mengecoh manusia dengan tipuan mereka. Bagaimana caranya? Berbagai Tipuan Para Evolusionis: Para evolusionis menunjukkan fosil-fosil dari spesies   kera yang telah punah seakan-akan berasal dari makhluk separo manusia dan separo kera.

Setelah kami memaparkan 2 teori inti yang menanggapi tentang proses penciptaan manusia baik dari segi sains maupun dari segi agama, maka jelaslah bahwa penemuan yang dilakukan oleh para ilmuan sains abad 20 ini, sejalan dengan apa yang telah dipaparkan oleh Al-Qur’an 114 abad yang silam, hal ini membuktikan bahwa terjadinya alam semesta ini dan terciptanya manusia dari ketiadaan menjadi ada adalah bukti bahwa ada yang berperan penting dan campur tangan di balik semua ini, dan tentunya mustahil hal ini terjadi secara kebetulan, akan tetapi sebaliknya, Allah lah yang menjadi aktor di balik semua ini.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar