Skip to main content

Perkembangan Filsafat Islam di Dunia Timur

Perkembangan Filsafat Islam di Dunia Timur

A. Tentang Filsafat Islam

Sejatinya telaah yang disertai dengan mengambil misal & latihan dari sejarah adalah salah satu urusan yang paling bermanfaat untuk kaum Muslim. Muslim bisa memprediksi keserupaan peristiwa yang akan terjadi berdasar pada situasi & latar belakang yang sama. Sehingga Muslim bisa berinteraksi dengan segala peristiwa & kondisi dengan budiman & dapat memetik deviden sekaligus menghindarkan bahaya yang menghadang. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Seorang Mukmin tidak pantas disengat hewan (berbisa) sampai dua kali dari lubang yang sama.”

Salah satu episode sejarah umat Islam yang sangat berbahaya ialah era beragamnya kumpulan serta aliran pemikiran & kepercayaan (aqidah). Terdapat tidak sedikit faktor yang berkontribusi terhadap terbentuknya aliran-aliran pemikiran sesat tsb & salah satu yang sangat spesifikialah masuknya filsafat ke dalam dunia Islam & terpesonanya sekelompok kaum Muslim terhadapnya.

Gerakan penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab mulai dikembangkan di masa Khalifah al-Mansur di era Abbasiyah, yaitu pada pertengahan abad kedua Hijriyah. Gerakan ini lantas berkembang paling pesat di masa Khalifah al-Makmun, dengan diterjemahkannya buku-buku filsafat dalam volume yang besar, tergolong buku-buku ilmu logika, ilmu pengetahuan alam, pun apa yang dikenal sebagai ilmu maqadir. Hasil terjemahan yang dominan  paling merusak ialah yang berkata mengenai teologi (ilmu ketuhanan) & metafisika (alam gaib). Kondisi ini diperburuk dengan pelimpahan otoritas pemantauan penerjemahan kepadakumpulan Kristen dari kalangan ahl al-dzimmah, bukannya untuk kaum Muslim. Masuknya beragam paham filsafat tersebut menciptakan kalangan Muslim terpecah untuk tiga kumpulan sikap:

1. Kelompok yang secara total menerima filsafat
Kelompok ini memungut & mengajak untuk prinsip- prinsip filsafat. Kelompok ini terdiri dari kalangan filosof zindiq walau sebagian mereka berupaya untuk membalut pemikiran filsafat dengan ‘bungkus’ syariat. 

2. Kelompok yang mengupayakan untuk merevisi filsafat & menggabungkannya dengan syariat. 
Kalangan ini lantas menambahakan untuk filsafat fragmen-fragmen yang dikira akan mencuci kandungannya yang batil. Kelompok kedua ini terdiri dari para berpengalaman Kalam (mutakallimin). Tindakan mereka menjadi karena terjadinya tidak sedikit bidah dalam aqidah yang dampaknya masih terasa sampai saat ini.

3. Kelompok yang menampik filsafat secara keseluruhan
Khususnya yang sehubungan dengan masalah supranatural (gaib) & teologi (ilmu ketuhanan). Mereka mengerjakan jihad penolakan dengan lisan & pena. Di antara yang sangat menonjol dari kalangan ini ialah para imam: Ibnul Jauzi, Ibn Salah, Ibn Taimiyyah, al-Dzahabi, & Ibnul Qayyim semoga Allah merahmati mereka semua. Mereka menyatakan pelbagai aspek pelanggaran syariat dari fisafat secara terperinci, penyimpangannya terhadap aqidah tauhid, konsep ibadah, serta gambarannya yang salahtentang alam semesta. Termasuk kesalahan dalam memakai nash-nash & dalam menafsirkannya.

Meskipun ada upaya serius untuk menahan penyebaran filsafat di dunia Islam sejak ketika itu, yaitu di antaranya dengan gerakan pembakaran buku-buku filsafat, pelarangan terhadap penyebaran & pengajaran filsafat, isolasi terhadap tokoh-tokohnya, serta penegakan hukum terhadap mereka yang murtad dari agama sebab terpengaruh olehnya; tetapi pemikiran filsafat sudah terlanjur memberikan akibat yang besar dalam membentuk pelbagai kelompok pemikiran yang tersebar luas di tengah masyarakat. Dan akibat dari pengaruh tersebut masih dapat dialami oleh kaum Muslim sampai hari ini. Tidak bisa dibayangkan, bakal bagaimanasituasi umat ketika ini andai ulama salaf saat tersebut tidak berdiri mencegat & menangkal penyebaran filsafat.

Jika sidang pembaca memperhatikan gejala dewasa ini, anda akan bisa dengan mudah mengejar tanda-tanda penyebaran konsep & simbol-simbol filsafat jenis baru yang bahwasannya adalahsalah satu filsafat terkenalsangat kuno: filsafat Timur yang berasal dari Tiongkok & India,terutama dari Hinduisme, Budhisme & Taoisme . Meskipun pengaruh dari aliran-aliran filsafat di atas terhadap kelompok-kelompok pemikiran bidah dalam Islam secara umum bukan urusan baru, dampak proses terjemah di era Abbasiyah yang menjadikannya sumber utama pemikiran Sufi ekstrim yang digali dari buku Weda umat Hindu. Masuknya pemikiran filsafat ini,melewati paket-paket program yang dikemas modern, untuk komunitas masyarakat yang tumbuh dalam tradisi tauhid & cara Salaf, adalah sebuah gejala baru yang patut diamati bersama.

Setelah sebelumnya pengaruh filsafat Timur surut & lazimnya terbatasmelulu pada semua pengikutnya sampai sejumlah abad, sampai-sampai tidak dapat membentuk & menimbulkan sebuah aliran pemikiran; filsafat ini lantas dipromosikan kembali sesudah naskah-naskah unsur timur diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Fenomena ini lantas bertemu dengan minat yang tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari kalangan masyarakat di luar lingkungan akademik & studi ilmiah di Barat.

Arus imigrasi semua dukun (paranormal) agama-agama Timur ke negara-negara Barat, dibuntuti dengan keterlibatan mereka dalam acara-acara kebudayaan serta sejumlah hal sosial & geografis lainnya; seiring denganbertambahnya perhatian masyarakat Barat yang materialis terhadap spiritualisme Timur. Mengingat kalangan masyarakat Barat yang sekuler, penetrasi konsep filsafat Timur dilaksanakan dengan teknik menyajikannya dalam perspektif yang umum & dibalut dengan ‘bungkus’ ilmu pengetahuan. Hasilnya secara nyata terlihat melewati kemunculan pemikiran teosofi & New Mind &kesudahannya dalam gerakan New Age (era baru), yang menyerahkan lompatan kuantum dalam strategi penyebaran pemikiran batiniah (esoteris) Timur.

Realitas yang membetulkan hadis Nabi, “bahkan andai mereka menginjak lubang biawak, kalian bakal memasukinya juga”, ialah berpindahnya perhatian terhadap filsafat Timur dari dunia Barat ke dunia Islam & dengan cara yang sama dengan yang dipakai oleh gerakan New Age.  Penyebaran filsafat Timur dikampanyekan melaui tiga bidang utama:

1. Pengobatan (healing) & penyembuhan alternatif
2. Pengembangan diri & sumber daya manusia.
3. Wacana spiritualisme sufi

Satu segi yang sungguh-sungguh ganjal untuk penulis ialah kurangnya perhatian kalangan pelajar ilmu syariat terhadap software modern dari filsafat Timur tsb, dengan keengganan tidak sedikit dari mereka guna memperingatkan & menjelaskan kekeliruan fatal dalam bidang aqidah yang dikandungnya. Situasi yang barangkali terjadi sebab dua alasan:

1. Kurangnya akses terhadap software filsafat tersebut sendirisebab pada dasarnya memang jauh dari bidang ilmu syariat.
2. Minimnya pengetahuan tentang filsafat Timur yang berdampak ketidakmampuan menyaksikan hubungan antara software modern dengan filsafat asalnya. Kondisi yang bertolak belakang dengan filsafat Yunani yang adalahsalah satu pendekatan urgen dalam tidak sedikit bidang di perguruan tinggi.

Oleh karena tersebut penulis merasa perlu guna memberikan cerminan umum menganai filsafat Timur tersebut sendiri sebelum masuk berkata mengenai software kontemporernya. Doktrin dasar filsafat Timur berdasar pada lima pokok:

1. Doktrinpanteisme (wihdatul wujud; kesatuan eksistensi), & dari dasar ini prinsip yang beda bercabang.
2. Konsep unsurilahiyah atau ‘hakikat’ yang tersembunyi dalam tubuh manusia.
3. Penitisan & iluminasi yakni kesadaran terhadap realitas ‘hakikat’ & kesatuaneksistensi.
Kesatuanagama-agama.
4. Relativitas kebenaran & nilai.
5. Dua pokok yang terakhir identik & adalah hasil dari paham panteisme. Filsafat Timur pun mempunyai terminologi eksklusif dalam mengungkapkan doktrin-doktrin keyakinan masyarakatnya. Istilah-istilah itu antara lain: Tao, Brahmana, Yin Yang, Chakra, Karma, Nirwana, Yoga, dll.

Masuknya beragam terminologi tersebut, dengan definisi & kandungan konsep filosofis & latar budayanya, bahkan agama Timur, dalam pelbagai praktiknya meskipun pun berbahaya bukan permasalahan terbesar untuk pihak-pihak yang mempromosikannya. Persoalan terbesar malah pada bias epistimologi (sumber ilmu) & sumber pengetahuan empirik pada mayoritas fungsionarisnya. Epistimologi agama & ilmu gaib tidak lagi semata wahyu dengan disiplin ulama Salaf dalam mengetahui & menafsir, tetapi pun sumber yang menyusup tersebut di samping kasyf (tersingkapnya tabir gaib), inspirasi & dugaan. Adapun epistimologi sains, bukan lagi menurut pada cara ilmiah atauriset eksperimental yang valid atau uji laboratorium yang terverifikasi,namun semata didasarkan pada empiris pribadi, evaluasi subjektif & testimoni personal dengan variabel yang susah diukur.

Di antara permasalahan yang sangat menonjol pada keadaan bingung e[istimologi ini terlihat pada terminologi ‘energi’ (Qi, baca: chii; penerj.) yang umum dipakai dalam sejumlah tahun terakhir, dalam konteks studi nonformal (nonakademik), laksana pengobatan pilihan & cara pengembangan diri. Terminologi ini sesungguhnya paling longgar & berisi tidak sedikit makna, digunakan dalam versi canggih filsafat Timur untuk mencerminkan wujud universal & material semesta. Istilah ini lantas tersebar & diterima di kalangan masyarakat umum sebagaiterlihat ilmiah; & menutupi kandungan ajaran filsafat ateistik batiniah (esoterik) di dalamnya. Konsep ‘energi’ ini tidak dapatdiperlihatkan secara syariat maupun cara ilmiah. Namun sebab terminologi ini problematik, kontroversi terjadi ketika dicari ke akar aqidahnya/filosofinya. Energi’ mempunyai makna spesifik dalam ilmu fisika & ilmu-ilmu terapan seperti energi panas, atom, listrik, dll. Energi yang dimaksudkan inibisa dipersepsi, bisa diuji & diukur.

Terdapat ‘energi’ dalam makna bahasa yang berarti kekuatan/kemampuan, sebagaimana dalam firman Allah, “… janganlah Engkau pikulkan untuk kami apa yang tidak mampu kami memikulnya ….” (QS. al-Baqarah: 286).

Ada pun ‘energi’ yang dipakai sebagai metafora dalam pelbagai konteks,laksana energi cinta & energi ibadah, yang pada tidak sedikit kasus tidak lepas dari kritik baik secara ilmiah atau syariat.

Namun, ‘energi’ yang dimaksud dalam ajaran filsafat Timur bukanlah di antara dari yang telah dibicarakan di atas meskipun dipertukarkan &dibaur pada tidak sedikit kesempatan. Ia sebenarnya ialah energi spiritual metafisik yang tidak bisa diverifikasi melewati uji laboratorium maupun analogi. Ia ialah ‘energi’ yang hanya dapat diraih dengan empiris personal & olah batin. Ia ialah wujud mutlak yang merefleksi dalam wujud fisik; yang ka&g diistilahkan dengan kesadaran, atau ‘Tuhan’; & Tuhan dalam filsafat esoteris melulu dia. Konsep Tuhan (Rabb) yang terpisah dari makhluk, dengan ciri khas kesempurnaan keagungan ialah ajaran ‘primitif’ (!) yang diremehkan dalam filsafat Timur.

Manusia pada hakikatnya ialah ‘Tuhan,’ atau keberadaan universal untuk mereka yang menghindari istilah ketuhanan. Manusia dirasakan tidak sempurna & berpotensi sakit sebab telah meninggalkan tabiat aslinya. Kondisi berikut yang dinamakan sebagai ketidakseimbangan ‘energi.’ Bagi memulihkannya, insan harus pulang kepada suasana seimbang dengan tidak sedikit metode.

Kita bakal mendapatkan praktik penyembuhan penyakit berbasis ‘energi alam/kosmik’ yang berasal dari agama-agama & filsafat Timur, dengan mekanisme kerja pada ‘keseimbangan energi’ & penyerapannya dari alam semesta melewati ritual yang tidak berhubungan sama sekali dengan sains eksperimental. Tetapi lebih laksana olahraga & mantera-mantera sufisme yang bertujuan untuk menjangkau iluminasi & fana.

Banyak salah satu praktisi filsafat ini di Timur maupun di Barat yang secara terang-terangan mengakui bahwa destinasi praktik tersebut tidak saja untuk menambah kesehatan & mengobati penyakit, namun untukmenambah spiritualitas & bersatu dengan yang mutlak (Tuhan).

Seorang penemu dalam sistem diet makrobiotik yang menurut untuk filsafat Timur George Ohsawa, misalnya. Dalam bukunya Menuju Kesehatan & Kebahagiaan (Essential Ohsawa: From Food to Health, Happiness to Freedom) menulis, “Tujuan saya dalam mengeluarkan kitab kecil ini ialah menunjukkan teknik konsumsi & memilih makanan yang akan membawa pembaca pada akhirnya untuk kebenaran & kebahagiaan yang abadi.” (!) Dia menuliskan bahwa diet makrobiotik ialah “salah satu dari delapanteknik untuk menjangkau … nirwana” & “ini adalahprinsip dasar dari agama-agama Timur yang utama.”

B. Perkembangan Filsafat Islam di Dunia Timur

Aplikasi kontemporer filsafat Timur beda dalam penyembuhan & perawatan pasien ialah prana healing, yaitu penyembuhan dengan prana; reiki, ayurveda, penyembuhan dengan energi batu, warna, kartu poirot, fengshui (energi tempat), chi kung, dll. Dapat disalin bahwa praktik-praktik ini secara umum mempunyai kebenaran & manfaat, karena andai tidak, ia tidak bakal tersebar di kalangan masyarakat. Akan tetapi, dasar-dasarnya tidak disandarkan untuk sumber yang otentik baik secara syariat maupun sains eksperimental. Adapun program pengembangan diri, ini adalah gerbang kesatu untuk masuknya ide-ide Timur ke masyarakat selama nyaris lima belas tahun terakhir. Namun efek dari ajaran filsafatnya menjadi lebih nyata seiring dengan berlalunya waktu. Dampak itu bervariasi antara satu program dengan yang lainnya dengan tingkat yang beragam.

Deviasi dalam konsep program-program tsb. berawal dari pengagungan berlebih terhadap diri insan & penyandaran pada keterampilan diri semata. Dari sini lantas berkembang lebih jauh guna meraih kekuatan di luar batas manusiawi & keterampilan tanpa batas bahkan mukjizat. Kalangan ini menjadikan jiwa sebagai sarana guna meraih kesuksesan, sumber petunjuk, rezeki & kesembuhan; sebuah ajaran keyakinan yang kontradiktif dengan konsep tauhid (uluhiyah & rububiyah) dalam Islam. Hukum tarik-menarik (semesta mendukung, the law of attraction) & kekuatan benak bawah sadar ialah dua misal konsep yang sangat terkenal di bidang manajemen & pengembangan diri, yang membias dari doktrin Islam.

Hukum tarik-menarik internal (the internal law of attraction) yang dikamuflasekan dengan doktrin Islam dengan memakai hadits-haditsmengenai prasangka baik & sikap optimistik menurut konsep filsafat Timur tentang alam semesta & keberadaan mengatakan bahwa wujud mutlakialah kesadaran atau pikiran, bahwa dunia luar bahwasannya sematabayang-bayang & melulu ada dalam benak (filsafat idealisme). Alam lingkungan semata adalahrefleksi dari pemikiran. Karena dalil itu,evolusi di tataran “pemikiran” seseorang akan menciptakan perubahan padapengejawantahan eksternal & alam lingkungan orang tersebut. Denganteknik yang sama, insan dapat mewujudkan impiannya dengan semata menginginkannnya, & dalam perspektif berikut rezeki & nasib seseorang ditentukan. Kenyataannya, urusan ini tidak beda merupakan format barudoktrin qadariyah (fatalisme) dahulu. Bentuk ini bahkan lebih vulgar & buruk dari sebelumnya; suatu konsep yang berlawanan dengan Islam & akal sehat. Uraian mengenai ini disajikan dengan lebih terperinci dilokasi lain.

Serupa dengan hukum tarik-menarik ialah konsep benak bawah sadar dalamarti filosofis, bukan psikologis. ‘Pikiran bawah sadar’ laksana yang didefinisikan oleh Joseph Murphy, penulis kitab Kekuatan Pikiran Bawah Sadar kita (The Miracles of Your Mind), misalnya, ialah dalang dari kekuatan alam semesta yang dengan menyelam ke kedalaman dirinya, insan dapat bersangkutan dengan kekuatan tak terbatas ini dalam menilairezeki, kesehatan, kesuksesan & meraih pengetahuan mutlak. Pikiran bawah sadar dalam arti filosofis ini ialah sama dengan ‘energi’ atau ‘kesadaran’ atau ‘wujud universal,’ & adalahsalah satu format pendewaan diri yang adalahcabang dari filsafat Timur. Ironusnya, tidak sedikit dari program pengembangan diri dalam rangka pencapaian destinasi & penambahan kompetensi yang didasarkan pada dua konsep tersebut.

Adapun dalam bidang terakhir & yang paling riskan menurut keterangan dari penulis ialah ajaran spiritualisme murni. Konsep ini disajikan dalam format kursus atau program pelatihan spiritual Timur teoritis-normatif dengan tanpa penyamaran software praktis. Konsep-konsep tersebutlantas diberi legitimasi lewat upaya islamisasi & peminjaman terminologi syariat. Namun, hasil dari sinkretisme antara filsafat Timur & Islam ini menghasilkan, sebagaimana yang bisa ditebak, konsep rohani sufistik. Kesamaan antara tasawwuf & mistisisme Timur yang ‘diislamisasi’ berikut yang menyatakan kecenderungan ‘spiritualme baru’ terhadap peninggalan sufi-filosofis serta anjuran untuk memuliakan tokoh-tokohnya, sekaligus menghidupkan pulang warisan lamanya bahkan di lingkungan yang sejatinya jauh & bersih dari polusi pemikirannya.

Metode spiritualisme berkata mengenai konsep-konsep metafisika & teologis dari perspektif yang tidak cocok dengan syariat, menyerahkan interpretasi yang rapuh, & malah kontradiktif dengan redaksi tekstual syariat. Aliran pemikiran ini memakai terminologi & konsep Timur sebagai bingkai baru dalam melihat doktrin agama. Penganut aliran ini mengklaim diri mereka terbebas dari perspektif tradisional yang mereka anggap usang. Dan pasti saja, kalangan ini tidak ragu guna meremehkancara ulama Salaf sembari mencerminkan pengikut ulama Salaf sebagaikumpulan yang kaku & melulu mengambil dari ‘kitab kuning.’ Tujuannya,guna menjauhkan insan dari cara yang kokoh & mempromosikan kekacauan dalam mengetahui teks syariat & semata bersandar untuk sumber-sumber pengetahuan esoterik untuk mengetahui masalah-masalah gaib & spiritualisme.

Sayangnya, saya & anda bisa mendengar & menyimak mereka yangmembawa ciri-ciri penuntut ilmu syariat yang memakai istilah yang tidak jauh bertolak belakang dengan lontaran-lontaran Ibn Arabi, al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, serta semua penganut ateisme esoterik (batiniah). Kalangan ini tidak jarang mengutip ucapan-ucapan semua penganut atau penganjur filsafat Timur & meman&g mereka sebagai tokoh-tokoh pelopor & sudah menjadi korban pemikiran yang sempit. Penonjolan tokoh-tokoh membias tersebut dari khazanah peninggalan umat Islam bahwasannya bagian dari proyek promosi filsafat Timur dengan asumsi bahwa dia sejalan dengan agama Islam. Doktrin hulul (penitisan), ittihad (bersatunya makhluk dengan Khaliq) & wihdatul wujud (kesatuan makhluk dengan Pencipta) yang familiar di Timur paling jelas dalam ucapan-ucapan sufi ekstrim.

Dalam program-program tersebut, jenis kebatinan baru yang jelas berasal dari mistisisme Timur, dengan pemujaan terhadap semua tokohnya laksana Osho, Deepak Chopra, Eckhart Tolle & lain-lain dipasarkan. Terdapat program pelatihan pengembangan diri yang berkata mengenai konsep ego. Konsep ini menekankan penyangkalan terhadap keberadaan diri, lantas menyelam ke dalam hakikat kosmik (makrokosmos) cocok dengan filsafat Budhisme. Konsep lainnya berkata mengenai misteri alam semesta, takdir, & wujud alam, dengan kata lain anjuran untuk hidup selaras dengan alam & menyatu dengannya. Terdapat prinsip ‘di sini & sekarang (here and now),’ serta ‘kekuatan kekinian (the power of now)’ yang disebarluaskan di lingkungan masyarakat Muslim. Di dalamnya dibicarakan metode guna mempertajam intuisi, memperoleh ilham (dalam makna spiritual, pent.) & bagaimana estafet kepada sumber pengetahuan mutlak. Banyak lagi ajaran keyakinan & pemahaman yang dipungut dari buku Weda agama Hindu & doktrin Buddhisme.

Kasus penyelewengan dari aqidah Islam pada cara spiritualisme terlihat lebih vulgar dikomparasikan dengan praktik penyembuhan & pengembangan diri. Dalam praktik yang dinamakan terakhir, terdapat gabungan antara khayalan, mitos, & filsafat; sementara pada yang kesatu murnikepercayaan & filsafat. Hanya saja praktik itu menjadi jembatan untuk pihak-pihak yang tertipu mengarah ke ke taraf filsafat yang kesudahannya tidak lagi dapat mereka ingkari. Bahkan timbul dari masyarakat anda sendiri pribadi yang secara terus terang mengaku a&ya bagian ketuhanan (uluhiyah) dalam diri insan & tidak ada pengekor yang mengingkari kecuali sedikit. Memang syetan mempunyai langkah-langkah &cara yang halus guna menyesatkan manusia, dengan terlebih dahulu menawarkan untuk mereka apa yang tidak mereka ingkari sampai akhirnya mereka dapat keluar dari agama tanpa sadar.

Sebagai penutup, pengarang menegaskan pentingnya perhatian & usaha eksklusif kalangan penuntut ilmu syariat & ulama dalam menahan arus pergerakan batiniah (esoteris) canggih ini & didukung oleh sarjana-sarjana serius dari beragam disiplin ilmu pengetahuan, laksana kedokteran, fisika & semacamnya. Demi menangkal upaya masuknya orang-orang yang jahil terhadap ilmu syariat & mereka yang mencari santap lewat manipulasi terhadap ilmu pengetahuan modern.


Referensi

Dr. Haifa binti Nashir al-Rashid
(Diterjemahkan dari “Al-Tathbiqat al-Mu’ashirah li al-Falsafah al-Syarqiyyah.”)
http://muslimtoday.net/aplikasi-kontemporer-filsafat-oriental-kritik-terhadap-ajaran kebatinan-berkedok-modern/#comment-9

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar