Pengertian Taharah Menurut Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali

Pengertian Taharah Menurut Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali

 A. Pengertian Taharah

Secara generik, kata taharah menurut bahasa adalah bersuci berdasarkan sesuatu yg kotor, baik yg kotor itu bersifat hissiy (dapat dirasakan oleh alat), maupun maknawi (sebaliknya). Kotor yang bersifat maknawi ini diartikan sebagai dosa, sebagaimana hadist riwayat Ibnu ‘Abbas r.A, Bahwa baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sakit akan menjadi pembersih (thahurun) dalam bagimu insyaAllah”. Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya sakit itu adalah pencuci sebagian dosa”.

Taharah, secara istilah bila dikaji dari beberapa madzhab. Hadats merupakan suatu yg bersifat syar’i yang menempati dalam sebagian atau semua badan sehingga menghilangkan kesucian. Hadats diklaim jua najasah hukmiyyah, artinya oleh pembuat syariat menghukumi apabila seseorang berhadats maka beliau dianggap mempunyai najis & dilarang buat melakukan shalat sebagaimana jua dilarang waktu dia mempunyai najis yg dzahir. Sedangkan khabats, secara kata merupakan suatu jenis materi yang kotor dan menjijikkan yg diperintahkan oleh pemilik syariat buat dihilangkan dan dibersihkan.

B. Pengertian Taharah  Menurut Imam Maliki, Syafi'i dan Hanbali

1. Taharah menurut mazhab Maliki

Menurut madzhab Maliki, “taharah” ialah sifat hukmiyyah yang orang memilikinya dibolehkan shalat dengan pakaian yang dipakainya & tempat yg beliau gunakan buat shalat. Sifat hukmiyyah berarti sifat yg bersifat maknawi yg dipengaruhi oleh sang pemilik aturan sebagai kondisi sahnya shalat. Dari pemikiran madzhab ini dari Mahmud Syalthut, bahwa taharah adalah sesuatu yg bersifat bathiniy, yg lebih bersifat asumsi (Dzaniniyyah), bukan sesuatu yang dapat dirasakan sang indera (hissiy).

2. Taharah menurut mazhab Maliki Hanafi

Madzhab Hanafi mengartikan “taharah” merupakan higienis berdasarkan hadats atau khabas. Bersih disini maksudnya mungkin sengaja dibersihkan atau juga higienis dengan sendirinya, seperti terkena air yang poly sebagai akibatnya najisnya hilang

3. Taharah menurut mazhab Syafi'i

Madzhab Syafi’i, taharah dipakai buat 2 makna. Pertama; mengerjakan sesuatu yg dengannya diperbolehkan shalat, misalnya wudhu, tayammum dan menghilangkan najis, atau mengerjakan sesuatu yg semakna menggunakan wudhu dan tayamum, misalnya wudhu ketika masih keadaan berwudhu, tayamum sunnah & mandi sunnah. Singkatnya, taharah merupakan nama buat perbuatan seorang. Kedua; taharah berarti juga kudus dari semua najis. Mahmud menambahkannya menggunakan hadast,[6] hadast dapat dihilangkan dengan wudhu dan mandi besar  bila menanggung hadast akbar. Adapun najis dapat hilang dengan mencucinya. Inilah yg menjadi tujuan berdasarkan Taharah. Sehingga jika diucabkan, pengertiannya adalah hilangnya najis dan hadast sekaligus.

4. Taharah menurut mazhab Hanbali

Menurut Mazhab Hanbali, Taharah berdasarkan syara’ adalah hilangnya hadast atau yang semisalnya serta hilangnya najis atau huku hadast & najis itu sendiri. Adapun hilangnya hadast berarti hilangnya sifat yang menghalangi sholat dan yg searti dengannya.

Belum ada Komentar untuk "Pengertian Taharah Menurut Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel