Skip to main content

Kemajuan dan Keruntuhan Dinasti Bani Umayyah

Sejarah Dinasti Bani Umayyah
Kemajuan Dinasti Bani Umayyah yang terwujud adalah terciptanya kondisi kondusif di negara dan yang lainnya sehingga menjadi rumah bagi Islam. Hal ini terjangkau karena Muawiyah pada awal kepemimpinannya dapat menjalankan roda pemerintah dengan baik.

Kemajuan Dinasti Umayyah

Dinasti Bani Umayyah memerintah selama hampir satu abad, dengan 14 Khalifah. Ini bermula dari Muawiyah bin Abu Sofyan dan diakhiri oleh Marwan bin Muhammad. 
Pada masa pemerintahannya, Umayyah membawa konsekuensi dalam perkembangannya, selain ekspansi yang paling luas juga dipelopori oleh kemajuan di lapangan, termasuk:

1. Bidang Sastra

Secara umum, semua pemimpin sangat menyukai puisi dan kemegahan, sejauh mereka tumbuh dengan cepat pada saat itu. Hal ini dapat dilihat pada sejumlah aspek sebagai berikut:
a. Kontradiksi suku, yaitu, setiap Allah merasa megah dengan sukunya sampai titik datang semua penyair utama untuk membela dan menyanjung kabillah-nya.
b. Pencerai-beraian uang, yaitu semua Khalifah dan penghamburan para penyair ekslusif dengan gaji yang besar. Selain anggota, beberapa hadiah untuk para penyair yang ingin membela rezim mereka.
c. Fanatik Arab, yaitu untuk menghidupkan dan mengembangkan nilai sastra dalam bahasa Arab.
d. Gerakan Adab, yang merupakan hubungan antara umat Islam dan bangsa yang telah berkembang, sehingga bagi umat Islam secara aktif mengatur dan membangun sejarah Arab, seni bahasa dan kebijaksanaan.
Pada saat pelantikan Yazid sebagai Khalifah, seorang penyair yang memiliki nama miskin Al-darimi diminta untuk menulis dan membaca puisi di depan publik yang berpikiran politik ayat puisi. Bahkan pada masa pemerintahan Al-Walid, nama Hammad menerima hadiah 100 Dirham karena Hammad berhasil mengumpulkan puisi emas liris yang dikenal sebagai Mu'allaqat.
Sekolah puisi pada periode Umayyah dilakukan oleh Al-Farazdaq sekitar 640-728 H dan Jarir  wafat 729 H, dan sekolah puisi di ibukota kerajaan dilakukan oleh Al-Akhthal sekitar 640-710 H. Ketiganya merupakan salah satu penyair utama di hadapan mereka. Dengan puisi puitis, yang menjadi salah satu mata pencaharian bagi mereka, Semua penyair ini memiliki peran media seperti sekarang ini.

2. Bidang Ilmu Pengetahuan

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah sangat pesat. Pemerintahan Dinasti Umayyah dibangun atas dasar kekerasan dan pedang, dan jiwanya yang paling kental dengan filantropi-nya membuatnya memuliakan cendekiawan sebagai lokasi yang mengeluh. Mereka bahkan menghabiskan dana eksklusif untuk semua ulama dan phyosof. Penghormatan kepada para ulama didorong oleh motif keagamaan mereka.
Tidak ada pendidikan formal pada periode ini. Para putra Khalifah Umayyah sering bersekolah di Badiyah, gurun Suriah. Di sinilah Muawiyah membawa anaknya yang menjadi penggantinya yaitu Yazid.
Pada masa Khalifah Umar bin Abd Aziz, Semua da'i Islam dikirim ke banyak negara seperti India, Turki, Asia Tengah, Afrika, Andalusia dan sebagainya dengan tujuan utama sehingga mereka masuk Islam. Pada saat itu, dia mengatakan kepada semua warganya untuk berduyun-duyun belajar hukum Islam di setiap bangunan, terutama masjid, dalam rangka untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Kemudian ia mengirim sekelompok ulama Muslim untuk menerjemahkan banyak cabang ilmu pengetahuan yang dijelaskan dalam buku Yunani dan Latin ke bahasa Arab, sehingga ilmu pengetahuan dapat dimengerti oleh Ummah Islam. Pada masa Umar bin Abd Aziz, ia menginstruksikan untuk melaksanakan kitab hadits. Ilmu dari periode ini dibagi menjadi dua:
a. Al-Adaabul Hadisah yang terdiri dari dua bagian, yaitu:
1. Al-Ulumul Islamiyah, Ilmu Alquran, Al-hadits, Al-Fiqh, Al-Ulumul Lisaniyah, at-date dan Al-Jughari.
2. Al-Ulumul Dakhiliyah, yang merupakan ilmu yang dibutuhkan oleh peradaban Islam, serta filsafat, tentu saja dan ilmu Exsakta lainnya yang direkam dari bahasa Persia dan Romawi.
b. Al-Adaabul Qadimah, yaitu ilmu yang telah wujud pada zaman jahiliyah dan pada zaman khulafaurrasyidin, seperti ilmu Lughah, syair, Khitabah dan Amsaal.

3. Bidang Ekonomi

Dalam upaya untuk mengambil roda pemerintah, Al-mal dibentuk sebagai perbendaharaan keuangan. Semua hasil bumi dan pajak lain dimasukkan ke dalam kuil Al-mal yang dikoordinasikan oleh Diwan al-Kharaj. Hasil bumi yang dilakukan oleh masyarakat dibayar 5% kepada pemerintah, sedangkan pajak untuk setiap transaksi dibayar sebesar 10%. Barang khusus yang nilainya tidak cukup 200 Dirham tidak dikenakan pajak.
Sumber pendanaan lainnya untuk mengisi kembali Bait Al-mal adalah pajak kekayaan eksklusif yang ditujukan kepada non Muslim yang wilayahnya dikuasai oleh pemerintah Islam. Dana ini digunakan untuk pengembangan sektor penting, yaitu jalan tol dan sumur di sepanjang jalan dan pembangunan pabrik. Kesetaraan pembangunan tidak hanya di daerah, akan tetapi dilaksanakan upaya untuk membuang ke daerah cukup.
Kemudian intelijen strategis selama Dinasti Umayyah adalah sistem pencocokan keuangan. Hal ini terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik. Dia bekerja pada mata uang asing Byzantium dan Persia di daerah yang dikendalikan Islam. Untuk itu, ia mencetak uangnya sendiri pada 659 AD dengan menggunakan ucapan dan artikel Arab. Mata uang ini diciptakan dari emas dan perak sebagai sebuah lambing kemiripan kerajaan ini dengan Imperium yang sebelumnya ditemukan.

4. Bidang Administrasi

Administrasi pemerintahan Umayyah terlihat pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus. Muawiyah dikenal karena kepemimpinannya saat ia mengumpulkan sifat seorang politikus dan administrator. Pada periode ini, yang terakhir meluncurkan stempel yang sah untuk menyampaikan Memorandum yang berasal dari khalifah serta waktu posting untuk menginformasikan kejadian mendesak cepat.
Penambahan administrasi pemerintahan besar-besaran juga terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, ia bekerja pada administrasi negara dengan mengatakan kepada para pejabat negara untuk menggunakan bahasa Arab sebagai orang administratif yang sah dalam pemerintahan. Ini adalah yang pertama untuk diaplikasikan di Syria dan Iraq, kemudian di Mesir dan Persia.
Dalam melaksanakan pemerintahannya, Khalifah Bani Umayyah dibantu oleh sejumlah Al-Kuttab yang meliputi:
a. Katib Ar-rasail adalah Sekretaris yang bertugas untuk administrasi dan korespondensi dengan pemerintah setempat.
b. Katib Al-Kharraj adalah Sekretaris yang bertanggung jawab atas penerimaan dan pengeluaran negara.
c. Katib Al-Jund adalah Sekretaris yang bertugas mengatur perkara yang berkaitan dengan angkatan bersenjata.
d. Katib Asy-Syurthahk, seorang Sekretaris yang bertugas memelihara perdamaian dan ketertiban umum.
e. Katib Al-Qaadhi adalah seorang Sekretaris yang bertugas melakukan perintah Hakum melalui badan peradilan dan Magistrat setempat.
Justru itu, kemajuan yang dicapai oleh Dinasti Umayyah yang pastinya membawa suatu evolusi besar dalam perkembangan sejarah kemajuan Islam. Ini paling tidak selama Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), Abd Al-Malik bin Marwan (685-705 M), Al-Walid Ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar Ibn Abd Al-Aziz (717-720 M) dan Hasyim bin Abd Al-Malik (724-743 M).

Kemunduran Dinasti Umayyah

Aturan yang paling luas dari distrik Umayyah dalam waktu singkat tidak secara langsung sebanding dengan komunikasi yang baik, yang kadang kala menjadi daerah yang tenang dan peristiwa tidak segera diketahui oleh pusat. Selain itu, dekadensi Umayyah tidak dipisahkan dari pengaruh sikap kekhalifahan dan kecerdasan atau Gebernur Umayyad.
Faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Umayyah dapat dipecah menjadi dua bagian, Yaitui:

1. Faktor Internal

Faktor internal penyebab kemunduran dinasti umayyah terjadi dari dalam istana sendiri. Hal tersebut antara lain:

a. Perselisihan di Antara Keluarga Khalifah

Perselisiha kekhalifahan keluarga antar, yaitu semua putra mahkota yang membuat kekuatan Khalifah. Ketika orang yang memegang kekuasaan, ia berjuang untuk memisahkan yang berbeda dan menggantikannya dengan anaknya sendiri. Hal ini membawa keluar permusuhan dalam keluarga dan tidak terbatas pada tingkat Khalifah dan gebernur saja. Berdasarkan Deskripsi Philip K. Hitti, sistem Transisional Khalifah melalui silsilah adalah yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas, perpindahan khalifah tidak jelas. Kurangnya transisi ini menyebabkan persaingan menjadi tidak sehat di antara anggota keluarga istana.

b. Moralitas Khalifah Jauh Dari Konsep Islam

Kekayaan Umayyah didiskualifikasi oleh Khalifah atau Gebernur untuk hidup riotous, bersukacita dalam kemewahan, terutama pada saat Khalifah Yazid II naik takhta. Dia terpesona oleh dua biduahs, Sallamah dan Hababah dan suka minum minuman keras yang berlebihan. Tapi gelar peminum terbesar dipegang oleh putranya, Al-Walid II, yang keras kepala dan menyukai riotous-nya. Dia dilaporkan mandi di bendungan anggur, yang ia digunakan untuk minum air sampai kedalaman berkurang. Kemudian semua Wazir dan komandan tentara Umayyah mulai korup dan untuk mengoperasikan negara karena Khalifah sangat lemah.

2. faktor Ekstern

Adapun faktor eksternal penyebab kemunduran dinasti umayyah yaitu adanya pengaruh dari luar kekuasaan. Faktor tersebut antara lain: 

a. Perlawanan Khawarij

Sejak Dinasti Umayyah, Semua kekhalifahan tidak jarang menghadapi kendala kelompok Khawarij. Kelompok ini melihat bahwa Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah telah bekerja pada Dosan yang Agung. Perbedaan antara pandangan politik antara Khawarij, Syi'ah dan Muawiyah menjadikan Khawarij sebagai pemimpin tersendiri. Hal ini tentu menimbulkan stabilitas politik pada saat itu.

b. Perlawanan Syi'ah

Syi'ah tidak pernah mengamali pemerintahan Dinasti Umayyah dan tidak pernah mengampuni kekeliruan mereka terhadap Ali dan Husain menjadi semakin aktif dan mendapat dukungan umum. Di pihak mereka berkumpul orang yang tidak puas, baik dari segi politik, ekonomi dan sosial sampai pemerintahan Bani Umayyah.

c. Perlawanan Mawali

Asal-usul asli Mawali adalah budak tahanan perang yang telah dibebaskan sehingga istilah berevolusi di non-Arab Muslim. Secara teoritis, rakyat Mawali memiliki gelar yang sama dengan orang Arab. Namun, mereka tidak sepenuhnya terlihat dalam Dinasti Umayyah, dan mereka melihat kelompok Mawali sebagai masyarakat subordinat untuk membuka jurang sosial yang memisahkan. Meskipun Mawali terlibat dalam membela Islam dan masyarakat Umayyah, mereka adalah dasar infanteri yang melawan kaki di atas panas pasir, bukan pada unta atau kuda. Pangkalan militer ini bergabung dengan gerakan anti-pemerintah, yaitu Abbasiyah dan Syiah.

d. Konflik Etnis di Arab Utara dengan Arabia Selatan

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, oposisi etnis antara suku Arab Utara yaitu bani Qaisy dan Arab Selatan yaitu bani Qalb ada sejak zaman sebelum Islam semakin meruncing. Ketika Khalifah berasal atau lebih dekat ke Arab Selatan, Arab utara akan cemburu dan sebaliknya. Perselisihan ini menyebabkan para penguasa Umayyah dipaksa untuk mempromosikan persatuan dan kesatuan.

e. Perlawanan Abbasiyah

Keluarga Abbas, semua keturunan paman nabi mulai bergerak secara aktif dan menegaskan tuntutan mereka untuk menduduki pemerintahan. Dengan cerdik, mereka bergabung dengan pendukung Ali dan menekankan hak keluarga Hasyim. Dengan memanfaatkan kekecewaan publik dan menunjukkan diri mereka sebagai pembela sejati Islam, semua keturunan dari Abbas segera menjadi pemimpin gerakan anti-Umayyah.
Ini adalah faktor yang menyebabkan dekadensi yang membawa kehancuran kepada Bani Umayyah. Terutama selama tiga gerakan terbesar Abasiyah, Syi'ah dan Mawali bergabung dengan gerakan Koalisi untuk menggulingkan dominasi Dinasti Umayyah dan bertujuan untuk mendirikan Kerajaan baru yang ideal.
Olehnya itu, dominasi keturunan Bani Umayyah di Damaskus telah dipelopori oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan ditandai dengan pembunuhan Marwan bin Muhammad sebagai Khalifah Bani Umayyah.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar