Home » » Pengertian dan Macam-macam Sumber Hukum Islam

Pengertian dan Macam-macam Sumber Hukum Islam

Pengertian dan Macam-macam Sumber Hukum Islam

A. Pengertian Sumber Hukum Islam

Sumber Hukum Islam adalah segala sesuatu yang dijadikan pedoman atau yang menjadi sumber syari'at Islam yaitu Al-Quran & Hadis Nabi Muhammad (Sunnah Rasulullah SAW) .Sebagian besar pendapat ulama ilmu fiqih sepakat bahwa pada prinsipnya sumber utama hukum Islam adalah Al- Qur'an & Hadist.Disamping itu ada beberapa bi&g studi yang erat terkait dengan sumber hukum islam yaitu: ijma ', ijtihad, istishab, istislah, istihsun, maslahat mursalah, qiyas, ray'yu, &' urf.

B. Macam-macam Sumber Hukum Islam

1. Al-Qur'an sebagai sumber hukum Islam

Allah swt.menurunkan Al-Qur'an tidak lain supaya dijadikan dasar hukum & disampaikan kepada umat manusia untuk diamalkan segala perintah-Nya & meninggalkan segala larangan-Nya, sebagaimana firman Allah:

فاستمسك بالذي اوحي اليك. (الزخرف: 43)

"Lalu berpegang teguh pada Anda apa yang telah diungkapkan kepada Anda." (QS Az-Zukhruf / 43: 43)

يايها الرسول بلغ ما انزل اليك من ربك. (المائدة: 67)

"Wahai Rasulullah, sampaikan apa yang Tuhan telah nyatakan kepadamu." (QS al-Ma'ida / 5: 67)

وهذا كتب انزلنه مبرك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون. (الانعام: 155)

"& inilah Kitab yang telah Kami utus dengan berkat-berkat: ikutilah, & takutlah bahwa kamu dapat memperoleh belas kasihan." (QS Al-An'am / 6: 155)

Al-Qur'an diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai panduan & penalaran bagi seluruh umat manusia.Dalam menetapkan tatanan & larangan Al Qur'an selalu dipandu pada dua hal, yaitu:

1. Tidak membebani, seperti firman Tuhan
لا يكلف الله نفسا الا وسعها. (البقرة: 286)

"Tuhan tidak membebani seseorang tetapi menurut kemampuannya." (QS Al-Baqarah / 2: 286)

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر. (البقرة: 185)

"Tuhan menginginkan kenyamanan untuk Anda, & tidak ingin ada masalah bagi Anda." (QS Al-Baqarah / 2: 185)
Atas dasar itu, kita dibenarkan:

a. Mengqashar salat (dari empat hingga dua rak'ah) & peziarah (mengumpulkan dua doa), masing-masing dalam perjalanan sesuai dengan kondisi.
b. Mungkin tidak tepat untuk melakukan perjalanan jauh.
c. Dapat ditawarkan sebagai pengganti wudhu.
d. Makan makanan dilarang, jika Anda terpaksa.

2. Dalam mendefinisikan & mengubah hukum tidak dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap, seperti dalam larangan minum alkohol & perjudian, seperti firman Allah:

يسئلونك عن الخمر والميسر قل فيهما اثم كبير ومنافع للناس واثمهما اكبر من نفعهما. (البقره: 219)

"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang minuman yang memabukkan & tentang perjudian. Katakanlah olehmu, bahwa minuman yang memabukkan & perjudian itu dosa besar & ada manfaatnya bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya." (QS Al-Baqarah / 2: 219)

Setelah ayat di atas dinyatakan, maka fase kedua akan datang ketika Tuhan berkata:


يايها الذين امنوا لا تقربوا الصلوة وانتم سكارى. (النساء: 43)

"Hai kamu yang percaya, jangan mendekati doa saat kamu mabuk." (Surat an-Nisã / 4: 43)

Kemudian datang tahap ketiga menjelaskan larangan ketat pada anggur & perjudian. Larangan ini diterapkan karenasudah banyak orang yang meninggalkan kebiasaan minum minuman keras & berjudi, disisi lain yaitu, karena sebelumnya sudah pernah diturunkan ayat yang menunjukkan keharamannya, yaitu ayat yang pertama & kedua, sebagaimana firman AllahSWT.:

ياايها الذين امنوا انما الخمر والميسر والانصاب والازلام رجس من عمل الشيطن فاجتنبوه لعلكم تفلحون. (المائدة: 90)

"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkorban untuk) berhala, & mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji & termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS Al-Mã'idah / 5: 90)

Dengan demikian Allah membuat & menetapkan hukum secara bertahap & sebaliknya dalam pembentukan tahapan bertahap, seperti pengumuman perang & jihad pada masa awal Islam di kota Madinah. Misalnya firman Tuhan:

اذن للذين يقاتلون بانهم ظلموا وان الله على نصرهم لقدير. (الحج: 39)

"Itu diperbolehkan bagi mereka yang berperang, karena mereka dizalimi, & tentu saja Allah berkuasa atas mereka." (Al-Hajj / 22: 39)

Kemudian diperluas deskripsi tentang berbagai persoalan yang terkait dengan peperangan, seperti perintah persiapan dengan segala perbekalan, hukum-hukum orang yang di tawan & ghanimah (harta rampasan) serta lain-lain.

Antara perkataan Allah, yang menjelaskan ketentuan & peralatan perang, adalah sebagai berikut: واعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل. (الانفال: 60) "& bersiaplah dengan semua kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang Anda miliki & para penunggang kuda." (QS Al-Anfl / 8: 60) Sementara ayat yang menggambarkan tawanan perang, diatur menurut firman Allah, berikut ini ini: (الانفال: 67) "Tidaklah pantas, bagi seorang nabi memiliki tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi se&gkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)." (QS. Al-Anfal / 8: 67 |) Adapun ayat yang menjelaskan tentangghanimah (harta rampasan perang) &pembagiannya ditetapkan sebagaimana firman Allah: واعلموا انما غنمتم من شيء فان لله خمسه وللرسول ولذى القربى واليتمى والمسكين وابن السبيل. (الانفال: 41) "& ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin & ibnu sabil." (QS Al-Anfal / 8: 41) 

2. Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam

Sunah menurut bahasa artinya perjalanan, pekerjaan atau cara.Se&gkan sunah menurut istilah syara 'ialah perkataan Nabi Muhammad saw., Perbuatannya, & keterangannya yaitu sesuatu yang dikatakan atau diperbuat oleh sahabat & ditetapkan oleh nabi, serta nabi tidak menegurnya . Ini adalah bukti bahwa tindakan itu tidak dilarang. Pengecualian dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: 
1. Sunnah Qauliyah (kata-kata Nabi)
2 . Sunah fi'liyah (perbuatan Rasulullah saw)
3 .Sunah taqririyah (diamnya Rasulullah saw.terhadapsuatu ucapan atau perbuatan sahabat) .

1. Sunah Qauliyah
Sunah Qauliyah, kata-kata Nabi. yang menjelaskan hukum agama & tujuan isi Al-Qur'an & mengandung peradaban, kebijaksanaan, ilmu & juga mengatur karakter mulia. Qauliyah sunnah (ucapan) ini juga disebut Hadits Nabi. 

2. Sunnah Fi'liyah
Sunah Fi'liyah adalah tindakan Nabi. yang menjelaskan bagaimana melakukan ibadah, seperti metode wudhu, doa & sebagainya. fi'liyah dibagi sebagai berikut: a. Tindakan Nabi. yang bersifat gerakan jiwa, gerak hati, & gerakan tubuh, seperti: bernafas, duduk, berjalan & sebagainya. Perbuatan semacam ini tidak ada sangkut-pautnya dengan persoalan hukum, & tidak pula ada hubungannya dengan suatu perintah, larangan atau teladan.
b. Tindakan Nabi. yang biasa, seperti: cara makan, tidur & sebagainya. Bahkan tindakan semacam ini tidak ada hubungannya dengan perintah, larangan, & contoh; kecuali ada perintah atau saran dari nabi untuk mengikuti aturan-aturan ini. Tindakan Nabi. khusus untuknya, seperti menghubungkan puasa tanpa melanggar & memiliki lebih dari empat istri. Dalam hal ini, orang lain tidak bisa mengikutinya. Perbuatan Nabi saw.yang bersifat menjelaskan hukum yang mujmal (global), seperti: salat & hajinya yang mana keduanya dapat menjelaskan sab&ya: صلوا كما رايتموني اصلي. (رواه البخاري) "Doakan kamu seperti yang kamu lihat saya berdoa" (HR. Bukhari). & hadits: خذوا مناسككم. (رواه الدارمي) "Ambillah dariku hal-hal (perlakuan) ibadah hajimu." (HR Ad-Darimi) Hukum tindakan yang dilakukan oleh Nabi saw. adalah sama dengan un&g-un&g yang dijelaskan, baik dari segi wajib & mandub, sebagaimana dijelaskan dalam cara berdoa & haji 
c. Perbuatan Nabi saw.yang dilakukan terhadap orang lain sebagai suatu hukuman, seperti: menahan orang, atau mengusahakan milik orang lain. Di sini perlu mengetahui sebab-sebabnya, kalau terjadi orang yang dakwa-mendakwa, maka tentu terjadi sebagai hasil. 
d. Penciptaan Nabi. yang menunjukkan kemampuan, seperti: wudhu sekali, dua kali & tiga kali. 
3. Sunnah Taqririyah 
Sunah taqririyah diam dari Nabi. ketika melihat suatu perbuatan dari para sahabat, baik perbuatan tersebut mereka kerjakan di hadapan nabi atau tidak, akan tetapi berita tentang perbuatan tersebut sampai kepada nabi.Maka kata atau perbuatan yang didiamkan oleh nabi dianggap sama dengan perkataan & perbuatan Nabi sendiri, & dapat dijadikan sebagai hujjah bagi seluruh umat.Adapun syarat sahnya taqrir atau ketetapan nabi adalah orang tersebut benar-benar tunduk kepada aturan syara ', bukan orang kafir atau munafik.Contoh-contoh taqrir antara lain sebagai berikut: 1. Menggunakan uang yang dibuat oleh kafir. Gunakan aset yang mereka peroleh ketika mereka tidak percaya3. Membiarkan zikir dengan suara keras sesudah salat.Selain tiga macam sunah sebagaimana disebutkan di atas, sebagian besar ulama menambahkan satu lagi yaitu sunah hammiyah.Sunah hammiyah adalah sesuatu yang diinginkan Nabi (diinginkan) tetapi belum jadi dikerjakan.Misalnya ia ingin melakukan puasa pada tanggal 9 Muharram, tetapi belum dilakukan beliau telah wafat terlebih dahulu.Walaupun keinginan melaksanakan puasa pada tanggal 9 Muharram belum jadi dilaksanakan oleh nabi, namunsebagian besar ulama menganggap sunahnya berpuasa pada tanggal 9 Muharram.Sebagai hujjah hukum Islam, sunah itu memiliki dua fungsi: a ). Jelaskan arti dari ayat-ayat Al Qur'an; sebagai-mana firman Allah: وانزلنا اليك الذكر لتبين للناس ما نزل اليهم. (النحل: 44) "& Kami turunkan Az-Zikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (QS. An-Naœl / 16: 44) Sunah dapat menjadi hujjah karena sebagian besar hukum yang ter dapat di dalam ayat-ayat Al-Qur'an masih gersifat global.Dalam hal ini, penjelasan lebih lanjut tentang suatu hukum diperlukan a&ya keterangan dari nabi yang berupa hadis.Sebagai contoh, perintah shalat & zakat dalam Al-Qur 'anmasih merupakan memesan & menerbitkan pesanan secara umum, se&gkan prosedur pelaksanaan tidak disebutkan di sana. Jadi cara pelaksanaannya membutuhkan penjelasan tentang Rasulullah. b). Sunnah bisa berdiri sendiri dalam menentukan hukum. Hal ini dapat kita ketahui dari haramnya binatang yang berkuku tajam, padahal di dalam Al-Qur'an tidak kita dapati hukum yang demikian ini.Kedudukan hadis atau sunah dalam Kasusu seperti ini dapat dijadikan sebagai hukumsyara 'dengan sendirinya sebagaimana sabda Nabi saw. : الا واني اوتيت القران ومثله معه. (رواه ابو داود والترمذي) "Ingatlah bahwasanya saya sudah diberi Qur'an & disertai dengan yang sebangsanya (sunah) itu." (HR. Abu Dawud & At-Turmudzi) Selanjutnya firman AllahSWT.: وما اتكم الرسول فخذوه وما نهكم عنه فانتهوا. (الحشر: 7) "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. & apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr / 59: 7) Di ayat lain Allah swt.berfirman: من يطع الرسول فقد اطاع الله. (النساء: 80) "Barang siapa mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah." (QS. An-Nisa '/ 4: 80) Dengan demikian dapat kita ketahui, bahwa sunah adalah merupakan hujjah kedua sesudah Al-Qur'an yang dapat dijadikan sumber hukum.

3. Ijma 'Sebagai Sumber Hukum Islam

Ijma' menurut bahasa, artinyasepakat, setuju atau sependapat. Se&g menurut istilah ialah: اتفاق مجتهدي امة محمد صلى الله عليه وسلم بعد وفاته في عصر من الاعصار على امر من الامور. "Kebulatan pendapat semua anggota ijtihad umat Muham-mad, sesudah wafatnya pada suatu masa, tentang suatu hal (hukum)." Orang Ijma 'dapat dibagi menjadi dua yaitu: a. Ijma 'QauliIjma' qauli (ucapan); yaitu ijma 'di mana para ulama yang ahli ijtihad ijtihad menetapkan pendapatnya baik dengan lisan maupun tulisan yang menjelaskan persetujuannya atas pendapat mujtahid lain di masanya. Ijma 'juga disebut ijma' qath'i. b. Ijma 'SukutiIjma' sukuti (diam); adalah diamnya para mujtahid terhadap suatu persoalan, mereka tidak mengeluarkan pendapatnya atas mujtahid lain, & diamnya itu bukan karena takut atau malu.Ijma 'ini disebut juga ijma' dzanni.Sebagian ulama berpendapat, bahwa suatu hukum yang ditetapkan oleh hakim yang berwenang, & didiamkan oleh para ulama, belum dapat dijadikan sebagai hujjah.Akan tetapi suatu pendapat yang ditetapkan oleh seorang faqih, lalu didiamkan oleh para ulama yang lain, maka dapat dipan&g sebagai ijma'.Disamping ijma 'umat tersebut, masih ada macam-macam ijma' yang lain, yaitu (1) .Ijma 'sahabat, (2) .Ijma' ulama Madinah, (3) .Ijma ulama Kufah, (4) .Ijma 'khulafaur rasyidin yang empat, (5) .Ijma' Abu Bakar & Umar , (6) .Ijma Itrah, yakni ahli bait atau golongan Syi'ah.Ijma 'bisa menjadi hujjah (pegangan) dengan sendirinya di tempat yang tidak ditemukan dalil (nash), yakni Al-Qur'an & Al-Hadis.& ijma 'tidak akan terbentuk kecuali telah disetujui oleh semua ulama Islam, & selama tidak laki-laki yalahi nas yang qath'i (Al-Quran & hadis mutawatir) .Kebanyakan ulama berpendapat, bahwa nilai kehujjahan ijma 'adalah bersifat dzanni, bukan qath'i. Karena ijma 'adalah dalil yang bersifatdzanni, maka ia dapat dijadikan sebagai hujjah (pegangan) dalam urusan amal, bukan dalam urusan i'tikad. Sebab urusan iktikad (keyakinan) menuntut a&ya dalil yang qath'i.Adapun kehujjahan ijma 'itu didasarkan pada Al-Qur'an & hadis, sebagai berikut: Menurut Al-Qur'an: يايها الذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولى الامر منكم. (النساء: 59) "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah & taatilah Rasul (Muhammad), & ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu." (QS. An-Nisa '/ 4: 59) Yang dimaksud "Ulil amri" adalah pemerintah & para ulama.Menurut hadis: لا تجتمع امتي على الضلالة. (الحديث) "Orang-orang saya tidak setuju dengan kesalahan." 

4. Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam

Qiyas menurut bahasa artinya, mengukur sesuatu dengan yang lain & menyamakan nya.Menurut istilah, qiyas adalah menetapkan sesuatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya, berdasarkan suatu un&g-un&g yang sudah ditentukan oleh nas, disebabkan a&ya persamaan di antara keduanya.Qiyas menurut para ulama adalah hujjah syari'ah yang keempat setelah Al-Qur'an, Hadits & Ijma '. Mereka berpikir demikian karena alasan: a). Firman Allah: فاعتبروا يا اولى الابصار. (الحشر: 2) "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki pan&gan." (QS. Al-Hasyr / 59: 2) i'tibar juga diartikan dengan "Qiyasusy-syai'i bisy-syai'i." yang berarti membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. b). Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud & Turmudzi sebagai berikut: قوله صلى الله عليه وسلم لمعاذ رضي الله عنه لما بعثه الى اليمن: كيف تقضي اذا عرض لك قضاء? قال: اقضي بكتاب الله. قال: فان لم تجد في كتاب الله? قال: فبسنة رسول الله. قال: فان لم تجد في سنة رسول الله ولا في كتاب الله? قال: اجتهد رأيي ولا الوا. فضرب رسول الله صدره وقال: الحمد لله الذي وفق رسول رسول الله لما يرضاه رسول الله. (رواه احمد وابو داود والترمذي) "Sabda Nabi saw. Ketika beliau mengutus Mu'adz ra. Ke Yaman, Nabi saw. Bertanya kepa&ya, 'Dengan apa kamu mengatur hal yang datang kepadamu?' Kata Mu'adz, 'Saya memberi keputusan dengan Kitab Allah.'Nabi bersabda,' Kalau engkau tidak mendapatkan pada Kitab Allah? 'Mu'adz menjawab,' Dengan sunah rasul.'Nabi bertanya lagi, 'Kalau pada Kitab Allah & sunah rasul tidak kau temukan? 'Mu'adz menjawab,' saya berijtihad dengan pendapat saya & saya tidak akan kembali. 'Kemudian Rasulullah menepuk da&ya (bergirang hati) sambil bersabda:' Al-œamdu lillãhAllah telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sesuai dengan keridhaan Rasulullah ' . "(HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi yang mereka me-nyatakan, bahwa qiyas itu masuk ijtihad ra 'hiu juga).
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Macam-macam Sumber Hukum Islam

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 8/11/2018

0 komentar Pengertian dan Macam-macam Sumber Hukum Islam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak