Skip to main content

Konsep Pendidikan Karakter dan Penerapannya di Sekolah

Konsep Pendidikan Karakter dan  Penerapannya di Sekolah
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah meluncurkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan dari institusi dasar hingga perguruan tinggi. Gagasan program pendidikan karakter di dunia pendidikan di Indonesia dapat dipahami, karena selama ini dirasakan bahwa proses pendidikan belum berhasil membangun karakter masyarakat Indonesia. Banyak yang mengatakan bahwa pendidikan gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan cendekiawan yang pandai menjawab pertanyaan ujian, cerdas, tetapi mentalnya lemah, pemalu, dan memiliki perilaku buruk.

Urgensi Pendidikan Karakter

Pengembangan karakter perlu dilakukan oleh manusia. Sejalan dengan ini, Ellen G. White dalam Sarumpaet (2001: 12) berpendapat bahwa pembangunan karakter adalah upaya paling penting yang pernah diberikan kepada manusia. Pembangunan karakter adalah tujuan luar biasa dari sistem pendidikan sejati. Pendidikan rumah tangga dan pendidikan di sekolah, orang tua dan guru tetap sadar bahwa pengembangan karakter yang hebat adalah tugas mereka. Menurut Mochtar Buchori, pendidikan karakter harus membawa siswa pada pengenalan nilai-nilai kognitif, apresiasi nilai-nilai yang efektif, dan akhirnya pada praktik nilai-nilai nyata. Masalah pendidikan karakter yang telah ada di sekolah-sekolah perlu segera dipelajari dan dicari solusi alternatif dan perlu dikembangkan lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan.
Pendidik Karakter yang diterbitkan oleh Character Education Partnership menjelaskan bahwa Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St. Louis, menunjukkan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam mencapai prestasi akademik di sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. 
Kecerdasan emosional adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi masa depan, karena dengan itu seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku berjudul Kecerdasan Emosional dan Keberhasilan Sekolah oleh Joseph Zins mengumpulkan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak-anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dalam buku itu dikatakan bahwa ada serangkaian faktor risiko yang menyebabkan kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor risiko yang disebutkan tampaknya bukan pada kecerdasan otak tetapi dalam karakter, yaitu kepercayaan diri, kemampuan untuk bekerja sama, kemampuan untuk bergaul, kemampuan untuk berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan untuk berkomunikasi.
Berkaitan dengan hal di atas, Daniel Goleman menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang dalam masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosional dan hanya 20 persen yang ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang memiliki masalah dalam kecerdasan emosional akan mengalami kesulitan belajar, bersosialisasi dan tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Anak-anak yang memiliki masalah dapat dilihat sejak usia prasekolah dan jika tidak ditangani akan terbawa hingga dewasa. Sebaliknya, remaja yang ditandai dengan atau memiliki kecerdasan emosi tinggi akan menghindari masalah umum yang dihadapi remaja seperti kenakalan, perkelahian, narkoba, alkohol, seks bebas.

Pendidikan Karakter Lingkungan Sekolah

lingkungan sekolah adalah tempat bagi siswa untuk belajar dengan teman-teman mereka dalam arah untuk menerima transfer pengetahuan dari guru yang mencakup situasi di sekitar sekolah, suasana sekolah, hubungan siswa dengan dan teman sebaya, hubungan siswa dengan guru dan dengan staf sekolah, kualitas guru dan metode pengajaran, keadaan gedung, komunitas sekolah, ketertiban, fasilitas sekolah dan infrastruktur sekolah.
Pembangunan karakter melalui rekayasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi:
1. Teladan
2. Intervensi
3. Kebiasaan dilakukan secara konsisten
4. Penguatan

Dengan kata lain, pengembangan dan pembentukan karakter membutuhkan pengembangan model yang ditransmisikan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan berkelanjutan yang dilakukan secara konsisten dan diperkuat dan harus disertai dengan nilai-nilai luhur.

a. Pelatihan guru

Terkait dengan program pendidikan karakter di sekolah, cara menjalankan dan melaksanakan pendidikan karakter di sekolah, dan bagaimana mengatur program dan mengimplementasikannya, dari ide hingga tindakan. Program ini melengkapi dan memberi guru wawasan tentang psikologi anak-anak, cara mendidik anak-anak dengan memahami mekanisme pikiran anak dan 3 faktor utama untuk menciptakan anak yang sukses, serta tips praktis dalam memahami dan menangani anak-anak yang memiliki " masalah "dengan perilaku mereka

b. Program Bimbingan Mental

Program ini dibagi menjadi dua sesi program: Sesi Lokakarya Terapi, yang dirancang khusus untuk siswa berusia 12-18 tahun. Workshop ini bertujuan untuk mengubah dan membimbing mental remaja. Workshop ini berfungsi sebagai "mesin perubahan instan" yang berarti setelah mengikuti program ini siswa akan segera berubah menjadi anak yang lebih positif. Sesi Seminar Siswa Orangtua Khusus, membantu orang tua mengenali anak-anak mereka dan memperlakukan anak dengan lebih baik, sehingga anak-anak lebih sukses dalam hidup mereka. Dalam seminar ini orang tua akan belajar pengetahuan dasar yang sangat baik untuk mempelajari berbagai teori psikologis anak-anak dan keluarga. Pahami konsep penanganan anak di rumah dan sekolah, dan lebih mudah memahami dan memahami cara berpikir anak, pasangan dan lain-lain.

Pendidikan Karakter di Lingkungan Keluarga

Karakter akan terbentuk sebagai hasil dari pemahaman 3 hubungan yang harus dialami oleh setiap manusia (hubungan segitiga), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (spiritual). Setiap hasil hubungan akan memberikan makna / pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai-nilai dan kepercayaan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berdampak pada perlakuan negatif dan pemahaman positif akan memperlakukan dunia secara positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif tentang anak-anak sejak usia dini, salah satunya dengan memberikan kepercayaan kepada anak-anak untuk mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri, membantu anak-anak mengarahkan potensi mereka sehingga mereka lebih mampu mengeksplorasi sendiri, tidak mendesaknya secara langsung atau secara halus, dll.
Biasakan anak-anak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Ingat pilihan pada lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter. Seperti kata pepatah, bergaul dengan penjual parfum akan berbau harum, bergaul dengan penjual ikan akan mencurigakan. Seperti itu, lingkungan yang baik dan sehat akan menumbuhkan karakter yang sehat dan baik, dan sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Allah SWT dibangun melalui implementasi dan apresiasi ritual ibadah yang diimplementasikan dalam kehidupan sosial.

Nilai-nilai Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter bukan hanya tentang mendidik yang benar dan salah, tetapi proses pembiasaan perilaku yang baik sehingga siswa dapat memahami, merasakan dan ingin berperilaku baik sehingga terbentuk karakter yang baik.
Kembali ke Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun 2011, semua tingkat pendidikan di Indonesia harus memasukkan pendidikan karakter.
Berikut ini adalah 18 nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter nasional:

1. Agama
Sikap dan perilaku yang taat dalam menerapkan ajaran agama, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup harmonis dengan penganut agama lain.
Berdoalah sebelum dan sesudah pelajaran
Berikan kesempatan bagi semua siswa untuk melakukan ibadah

2. Jujurlah
Perilaku itu didasarkan pada upaya menjalankan dirinya sebagai pribadi yang selalu dapat dipercaya dalam kata-kata, tindakan, dan kerja.
Berikan fasilitas di mana barang yang hilang ditemukan
Tempatkan pengumuman temuan atau hilang
Transparansi laporan keuangan dan penilaian kelas reguler
Larangan curang

3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan dalam agama, etnis, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda darinya
Menyediakan layanan yang sama untuk semua anggota kelas tanpa memandang suku, agama, ras, kelas, dan status ekonomi
Memberikan layanan kepada anak-anak dengan kebutuhan khusus
Bekerja dalam kelompok yang berbeda

4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan mematuhi berbagai peraturan dan ketentuan.
Membiasakan diri tepat waktu
Membiasakan diri untuk mematuhi aturan
Menggunakan pakaian praktik sesuai dengan keahlian program studi (SMK)
Penyimpanan dan produksi alat dan bahan (sesuai dengan program keselamatan)

5. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas sebaik mungkin
Menciptakan suasana kompetisi yang sehat
Menciptakan kondisi etos kerja tidak sulit, dan saya terus belajar
Miliki pajangan slogan atau moto tentang kerja dan belajar keras

6. Jadilah kreatif
Pikirkan dan lakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang sudah Anda miliki
Menciptakan situasi belajar yang dapat menumbuhkan pemikiran dan bertindak secara kreatif
Memberikan tugas yang menantang munculnya karya baru yang otentik dan dimodifikasi

7. Cukup
Sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas
Ciptakan suasana kelas yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja secara mandiri

8. Demokratis
Cara berpikir, berperilaku, dan bertindak yang menghargai hak dan kewajiban dirinya sendiri dan orang lain.
Buat keputusan bersama melalui musyarwah dan konsensus
Pemilihan manajemen kelas secara terbuka
Semua produk kebijakan melalui musyawarah dan mufakat
Menerapkan model pembelajaran dialogis dan interaktif

9. Merasa penasaran
Sikap dan tindakan yang selalu berusaha untuk mencari tahu lebih dalam dan luas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar
Membuat pengaturan ruang kelas yang mengundang ras penasaran
Eksplorasi terprogram terhadap lingkungan
Media komunikasi atau informasi yang tersedia (media cetak atau elektronik)

10. Nasionalisme
Suatu cara berpikir, bertindak dan memiliki wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompok.
Berkolaborasi dengan teman sekelas yang berbeda etnis, etnis, status sosial ekonomi
Membahas hari libur nasional

11, Love the Motherland
Cara berpikir, berperilaku, dan melakukan itu menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan tinggi terhadap bahasa, lingkungan, fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan bangsa politik.
Menampilkan foto-foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, simbol nasional, peta Indonesia, gambar-gambar kehidupan masyarakat Indonesia
Menggunakan produk buatan dalam negeri.

12. Prestasi Menghargai
Sikap dan tindakan yang mendorongnya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, mengenali, dan menghargai kesuksesan orang lain.
Berikan penghargaan untuk karya siswa
Menampilkan tanda-tanda penghargaan prestasi
Menciptakan suasana belajar untuk memotivasi siswa untuk berprestasi

13. Ramah
Tindakan yang menunjukkan kesenangan dalam berbicara, bersosialisasi, dan berkolaborasi dengan orang lain.
Pengaturan kelas yang memfasilitasi interaksi siswa
Pembelajaran dialogis
Guru mendengarkan keluhan siswa
Dalam berkomunikasi, guru tidak menjaga jarak dari siswa

14. Kedamaian cinta
Sikap, kata-kata, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa bahagia dan aman di hadapan mereka
Menciptakan suasana kelas yang damai
Biasakan perilaku penghuni sekolah tanpa kekerasan
Pembelajaran yang tidak bias gender
Kekeluargaan di kelas itu penuh kasih sayang

15. Suka membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan baginya.
Daftar buku atau tulisan yang dibaca siswa
Frekuensi kunjungan perpustakaan
Pertukaran bacaan
Pembelajaran yang memotivasi anak untuk menggunakan referensi

16. Peduli terhadap lingkungan
Memelihara lingkungan kelas
Ada tempat pembuangan sampah di kelas
Habituasi hemat energi
Instal perintah stiker untuk mematikan lampu dan menutup keran air di setiap kamar saat digunakan (SMK)

17. Perawatan Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberikan bantuan kepada orang lain dan komunitas yang membutuhkan.
Berempati sesama teman sekelas
Ambil tindakan sosial
Membangun kerukunan warga kelas

18. Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang harus dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Lakukan tugas piket secara teratur
Partisipasi aktif dalam kegiatan sekolah
Usulkan pemecahan masalah

Peran Guru dalam Pendidikan Karakter

Membangun peradaban suatu bangsa pada dasarnya adalah pengembangan karakter manusia yang unggul dari aspek intelektual, spiritual, emosional dan fisik berdasarkan sifat kemanusiaan. Fitrah adalah titik awal kemuliaan manusia, baik sebagai bawaan seseorang atau sebagai hasil dari proses pendidikan. 
Terlepas dari masalah kuantitatif dan kualitatif ini, dalam konteks pengembangan sektor pendidikan, guru adalah pemegang peran yang sangat sentral dalam proses pendidikan. Upaya meningkatkan profesionalisme pendidik adalah suatu keharusan. Guru harus mendapatkan program pelatihan yang sistematis untuk mempertahankan profesionalisme tinggi dan siap untuk mengadopsi inovasi. Guru juga harus mendapatkan hadiah (reward), penghargaan dan kesejahteraan yang layak untuk layanan dan layanan, sehingga setiap inovasi dan pembaruan di bidang pendidikan dapat diterima dan dijalani dengan baik. Di sinilah karakteristik pendidikan guru memiliki kualitas ketika menyajikan bahan ajar kepada siswa. Kualitas seorang guru dapat diukur dari segi moralitas, kebijaksanaan, kesabaran dan penguasaan materi pelajaran saat beradaptasi dengan subjek siswa. Sejumlah faktor yang membuatnya mampu menghadapi masalah sulit, tidak mudah frustrasi, tertekan atau stres positif, dan tidak destruktif.
Dalam karakter pendidikan guru, penting untuk mengembangkan nilai-nilai etika dan estetika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukung seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan ketekunan sebagai dasar karakter yang baik. Guru harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter siswa berdasarkan nilai-nilai yang dimaksudkan dan mendefinisikan mereka dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Yang paling penting, semua komponen sekolah bertanggung jawab atas standar perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai inti.
Seseorang dapat dikatakan memiliki karakter jika ia telah berhasil menyerap nilai-nilai dan kepercayaan yang diinginkan masyarakat dan digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga, seorang pendidik dikatakan memiliki karakter, jika ia memiliki nilai-nilai dan keyakinan yang didasarkan pada sifat dan tujuan pendidikan dan digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Dengan demikian pendidik yang memiliki karakter, berarti mereka sudah memiliki kepribadian dalam hal titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, kepercayaan, contoh, atau ciri-ciri lain yang harus melekat pada pendidik. Pendidik yang memiliki karakter kuat tidak hanya memiliki kemampuan mengajar dalam arti sempit (transfer of knowledge / knowledge), tetapi juga harus memiliki kemampuan mendidik dalam arti luas (teladan sehari-hari).

Model Aplikasi untuk pendidikan Karakter

Untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah ada 4 penawaran model aplikasi, sebagai berikut:

a. Model Otonom

Model otonomi yang memposisikan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran terpisah membutuhkan perumusan yang jelas tentang standar konten, kompetensi dasar, silabus, rencana pembelajaran, bahan ajar, metodologi dan evaluasi pembelajaran. Jadwal pelajaran dan alokasi waktu adalah konsekuensi lain dari model ini. Sebagai mata pelajaran terpisah, pendidikan karakter akan lebih terstruktur dan terukur.
Guru memiliki otoritas luas dalam perencanaan dan berbagai program karena ada alokasi waktu yang disediakan untuk itu. Namun, model ini dengan pendekatan formal dan struktural pada kurikulum dikhawatirkan lebih menyentuh aspek kognitif siswa, bukan pada aspek afektif dan perilaku.
Model seperti ini biasanya menganggap bahwa tanggung jawab untuk pembentukan karakter hanya dengan guru di bidang studi sehingga keterlibatan guru lain sangat kecil. Pada akhirnya, pendidikan karakter akal gagal karena hanya mengisi intelektual siswa tentang konsep kebaikan, sementara emosi dan spiritual mereka tidak dipenuhi.

b. Model Integrasi

Dengan model ini, pendidikan karakter adalah tanggung jawab kolektif semua komponen sekolah. Sudah saatnya pendidikan karakter diterapkan kembali dalam pendidikan kita. Jika awalnya pendidikan karakter hanyalah anak tiri, maka sekarang itu harus menjadi poin utama. Artinya, pendidikan karakter tidak lagi terpisah dari bentuk pendidikan yang bersifat kognitif atau akademik.
Formatnya, jika pada level dasar pendidikan karakter tidak harus menjadi subjek tersendiri. Namun, itu sudah cukup menjadi semacam kurikulum tersembunyi (hiden kurikulum), yang dimasukkan dalam berbagai mata pelajaran.
Sebagai contoh, dalam biologi, siswa diundang untuk langsung menanam tanaman, diberi pemahaman tentang manfaatnya, terkait dengan kerusakan lingkungan dan sebagainya. Siswa juga harus diberikan pemahaman bahwa biologi tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait dengan hal-hal lain di luar disiplin ilmu.
Model ini dipandang lebih efektif daripada model pertama, tetapi membutuhkan kesiapan, wawasan moral dan contoh dari semua guru. Satu hal yang lebih sulit daripada mempelajari karakter itu sendiri. Di sisi lain model ini juga membutuhkan kreativitas dan keberanian para guru dalam menyusun dan mengembangkan silabus dan Rencana Implementasi Pembelajaran (RPP).

c. Model Tambahan

Model ketiga yang menawarkan implementasi pendidikan karakter melalui kegiatan di luar jam sekolah dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama, melalui kegiatan ekstrakurikuler yang dikelola oleh sekolah dengan penanggung jawab kedua, melalui kemitraan dengan lembaga lain yang memiliki kemampuan dalam pembangunan karakter.
Model ini memiliki kelebihan berupa pengalaman nyata yang dialami siswa dalam pembentukan karakter. Domain afektif dan perilaku siswa akan disentuh melalui berbagai kegiatan yang dirancang. Keterlibatan siswa dalam mengeksplorasi nilai-nilai kehidupan melalui kegiatan ini akan membuat pendidikan karakter memuaskan dan menyenangkan. Pada tahap ini sekolah menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat di sekitar sekolah.
Yang dimaksud oleh masyarakat adalah keluarga, siswa, organisasi, tetangga, dan kelompok atau individu yang mempengaruhi keberhasilan siswa di sekolah.
Ada 6 jenis kemitraan yang dapat dibangun oleh sekolah, yaitu:
Parenting atau parenting di mana orang tua mengkondisikan kondisi rumah untuk membantu siswa dalam belajar dan bermoral.
Berkomunikasi (komunikasi) untuk mengkomunikasikan program sekolah dan pengembangan siswa.
Sukarelawan mengundang keluarga dan masyarakat untuk menjadi sukarelawan dalam pengembangan dan program sekolah.
Belajar di rumah dengan melibatkan keluarga dalam kegiatan akademik, perencanaan tujuan, dan pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan, masyarakat memiliki keterlibatan besar dalam pengambilan keputusan di sekolah.
Berkolaborasi dengan komunitas. Pada tahap ini siswa, staf sekolah dan keluarga berkontribusi dalam membentuk masyarakat yang berpola. Model ini membutuhkan alokasi waktu yang besar, berbagai kegiatan yang muncul dari ide-ide kreatif manajer, wawasan pendidikan moral yang memadai, dan kekompakan guru pendamping.

d. Model Kolaboratif

Model akhir dalam bentuk kolaborasi semua model adalah upaya untuk mengoptimalkan kekuatan masing-masing model dan menutupi kekurangan masing-masing di sisi lain. Dengan kata lain, model ini merupakan sintesis dari model sebelumnya.
Dalam model ini selain diposisikan sebagai mata pelajaran otonom, pendidikan karakter dipahami sebagai tanggung jawab sekolah dan bukan hanya guru mata pelajaran. Karena itu adalah tanggung jawab sekolah, setiap kegiatan sekolah memiliki misi membangun karakter. Setiap subjek harus berkontribusi pada pembentukan karakter dan penciptaan pola pikir moral progresif.
Sekolah dipahami sebagai miniatur masyarakat sehingga semua komponen sekolah dan semua kegiatannya adalah media pendidikan media. Berbagai kegiatan diadakan untuk membawa siswa ke dalam pengalaman nyata menerapkan karakter, baik sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang diprogramkan dan kegiatan insidental sesuai dengan fenomena yang berkembang di masyarakat.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar