Home » » Pengertian dan Tujuan Pendidikan Karakter

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Karakter

A. Pengertian Pendidikan Karakter

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Karakter
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata didik, dengan diberi awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti “proses pengubahan sikap dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.” Sedangkan arti mendidik itu sendiri adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Istilah pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani paedagogie yang berarti “pendidikan” dan paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan orang yang tugasnya membimbing atau mendidik dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri disebut paedagogos. Berpijak dari istilah di atas, pendidikan bisa diartikan sebagai usaha yag dilakukan orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk membimbing/memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan. Atau dengan kata lain pendidikan ialah bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam pertumbuhannya baik jasmani maupun rohani agar berguna bagi diri sendiri dan masyarakatnya. 

Sedangkan pendidikan menurut John Dewey dalam Muslich (2011) adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. Tujuan pendidikan dalam hal ini agar generasi muda sebagai penerus generasi tua dapat menghayati, memahami, mengamalkan nilai-nilai atau norma-norma tersebut dengan cara mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang melatarbelakangi nilai-nilai dan norma-norma hidup dan kehidupan.

Dalam kamus Bahasa Indonesia (2008) disebutkan, bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak/budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Kata karakter berasal dari Yunani, charassein, yang berarti to engrave atau mengukir di atas batu permata atau permukaan besi yang keras. Karakter kemudian diartikan”…an individuals pattern of behavior…his moral constitution …”( Bohlin, 2001). Sedangkan di dalam Kebijakan Pembangunan Karakter Bangsa  2010-2025 (2010) disebutkan, bahwa karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas, baik yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa & bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang.

Menurut Simon Philips dalam buku Refleksi Karakter Bangsa (2008:235), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, siakp, dan perilaku yang ditampilkan. Sementara itu, Koesoema A (2007:80) dalam Muslich (2011:70) menyatakan bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai “ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.” Prof. Suyanto, Ph.D menyatakan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Dengan demikian karakter bangsa sebagai kondisi watak yang merupakan identitas bangsa.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi orang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil mengenai karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan penggerak serta membedakannya dengan yang lain. Dalam upaya membentuk karakter anak, harus disesuaikan dengan dunia anak tersebut, maksudnya adalah harus selaras atau seimbang dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.

B. Tujuan Pendidikan Karakter

Berdasarkan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa tujuan Pendidikan Kepribadian mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan terwujud dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan YME dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan agama, kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran, diarahkan pada perilaku yang mendukung upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan pendidikan diartikan sebagai seperangkat tindakan intelektual penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dapat dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang profesi tertentu. Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. 

Menurut Kabul Budiyono (2007) Pendidikan Kepribadian atau Pendidikan Karakater bertujuan untuk menghasilkan peserta didik dengan sikap dan perilaku, yaitu:

Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berperi- kemanusiaan yang adil dan beradap.
Mendukung persatuan bangsa.
Mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan individu dan golongan.
Mendukung upaya untuk mewujudkan suatu keadilan sosial dalam masyarakat. Melalui Pendidikan Kepribadian, warga Negara Republik Indonesia diharapkan mampu memahami, menganalisis dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat bangsanya secara berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.
Pengertian Pembentukan Karakter

Karakter merupakan akar kata dari bahasa latin yang berarti dipahat (Mark Rutland: 2009, 3). Kehidupan seperti balok besi, bila dipahat dengan penuh kehati- hatian akan menjadi sebuah karya besar yang mengagumkan. Sama halnya dengan karakter anak, apabila kita mengarahkan dan menbentuk karakter pada anak dengan penuh kehati-hatian dan dengan cara yang tepat maka akan dihasilkan karakter anak yang baik pula. Maka dari itu, karakter merupakan kualitas atas kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti seseorang yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan penggerak serta membedakannya dengan yang lain.

Dalam upaya mendidik karakter anak, maka harus disesuaikan dengan dunia anak tersebut. Selain itu juga harus disesuaikan sengan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. Melalui pendidikan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial anak bisa mengetahui dan mengembangkan karakter yang ia miliki. Sehingga, dalam hal ini ketiga lingkungan tersebut haruslah menjadi lingkungan yang baik dan positif, terutama lingkungan keluarga. Keluarga merupakan dunia pertama yang akan ditemui dan di alami anak. Maka dari itu, orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Pendidikan Agama merupakan pendidikan terpenting yang harus diajarkan dan ditanamkan kepada anak sejak dini. Karena agama sebagai unsur esensi dalam kepribadian manusia dapat memberikan peranan positif dalam perjalanan kehidupan manusia, selain kebenarannya masih dapat diyakini secara mutlak. Pendidikan agama berperan sebagai pengendali dan pengontrol tingkah laku atau perbuatan yang terlahir dari sebuah keinginan yang berdasarkan emosi. Jika pendidikan agama sudah terbiasa dijadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari dan sudah ditanamkannya sejak dini, maka tingkah lakunya akan lebih terkendali dan terkontrol.

DAFTAR PUSTAKA

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter “Menjawab Tantangan Krisis             Multidimensional”.     Jakarta: Bumi Aksara.
Budiyono, Kabul. 2007. Nilai-nilai Kepribadian dan Kejuangan Bangsa Indonesia. Bandung: Alfabeta.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Tujuan Pendidikan Karakter

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 3/24/2018

1 komentar : Pengertian dan Tujuan Pendidikan Karakter

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak