Home » » 6 Tahapan Pembentukan Karakter Pada Anak

6 Tahapan Pembentukan Karakter Pada Anak

   
6 Tahapan Pembentukan Karakter Pada Anak
Untuk membentuk karakter pada anak memerlukan waktu dan proses yang tepat, agar anak mampu memahami dan mengimplementasikan dengan tepat juga. Untuk membentuk karakter seseorang juga melalui proses yang panjang. Segala sesuatu memang memerlukan proses dan tata cara yang tepat dan benar. Anak-anak bukanlah komputer yang apabila kita klik dan kita perintah langsung mengikuti apa yang kita perintahkan. Anak-anak ibarat masakan yang apabila kita memasak dan mengolahnya dengan baik dan benar serta kita bisa mengukur kematangannya, masakan itu akan menjadi makanan yang enak dan lezat. 


Proses pembentukan karakter pada anak bukanlah suatu proses sehari dua hari, namun bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Misalnya, seorang anak asal Indonesia yang mempunyai karakter buruk tinggal di Malaysia menyusul orang tuanya selama tiga tahun dengan harapan apabila ia kembali pulang ke Indonesia karakternya berubah menjadi anak yang baik, tetapi ternyata setelah tiga tahun dan kembali ke Indonesia karakter buruknya belum berubah. Hal ini membuktikan bahwa untuk merubah atau membentuk karakter baik pada anak membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Berikut dijelaskan 6 Tahapan Pembentukan Karakter Pada Anak.

1. Pengenalan Karakter Pada Anak
Pengenalan merupakam tahap pertama dalam proses pembentukan karakter. Untuk seorang anak, dia mulai mengenal berbagai karakter yang baik melalui lingkungan keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar dan membentuk kepribadiannya sejak kecil. Apabila anggota keluarga memberi contoh yang baik, maka anak juga akan meniru perbuatan yang baik pula. Akan tetapi, apabila keluarga memberi contoh yang tidak baik maka anak juga akan meniru yang tidak baik pula. Misalnya, orang tua memberi contoh selalu disiplin dan tepat waktu dalam segala hal, maka secara tidak langsung si anak akan meniru dan melakukan hal yang sama seperti orang tuanya, selalu tepat waktu dan bersikap disiplin dalam segala hal. Akan tetapi apabila orang tua memberi contoh kepada anak untuk selalu menunda-nunda pekerjaan, maka anak juga akan selalu menunda-nunda apa yang akan ia kerjakan. Maka dari itu keluarga mempunyai peran penting dalam perkembangan kepribadian anak. Melalui tahap inilah seorang anak akan mengenal kebiasaan.

2. Pemahaman Karakter Pada Anak
Tahap pemahaman berlangsung setelah tahap pengenalan. Setelah anak mengenal dan melihat orang tuanya selalu disiplin dan tepat waktu, bangun pagi pukul lima, selalu sarapan setiap pagi, berangkat ke sekolah atau kerja tepat waktu, pulang sekolah atau kerja tepat waktu, dan shalat lima waktu sehari dengan waktu yang tepat dan sebagainya, maka anak akan mencoba berpikir dan bertanya, “Mengapa kita harus melakukan semuanya dengan baik dan tepat waktu?” Setelah anak bertanya mengenai kebiasaan orang tuanya, kemudian orang tuanya menjelaskan, “Apabila kita melakukan sesuatu dengan tepat waktu maka berarti kita menghargai waktu yang kita miliki, kita akan diberi kepercayaan oleh orang lain, dapat diandalkan, dan tidak akan mengecewakan orang lain. Misalnya kalau ayah biasanya pulang kerja pukul empat dan ayah sebelumnya sudah berjanji setelah ayah pulang kerja kita akan diajak jalan-jalan, tetapi pada saat itu ayah pulang kerja tidak seperti biasanya pukul empat melainkan pukul tujuh malam dan kita tidak jadi jalan-jalan bersama, perasaan adik bagaimana? Sedih dan kecewa kan! Maka dari itu kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu.” Dengan penjelasan yang baik dan pelan-pelan maka si anak akan berpikir apabila dia pulang sekolah terlambat akan membuat orang tuanya khawatir dan panik, sehingga ia akan berusaha tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan begitu pemahaman telah ia dapatkan melalui penjelasan orang tuanya.

3. Penerapan Karakter Pada Anak
Melalui pemahaman yang telah ia dapatkan dari orang tuanya maka si anak akan mencoba menerapkan dan mengimplementasikan hal-hal yang telah diajarkan oleh orang tuanya. Pada awalnya anak hanya sekedar melaksanakan dan meniru kebiasaan orang tuanya. Anak belum menyadari dan memahami bentuk karakter apa yang ia terapkan.

4. Pembiasaan Karakter Pada Anak
Didasari oleh pemahaman dan penerapan yang secara bertahap ia lakukan, maka secara tidak langsung si anak akan terbiasa dengan kedisiplinan yang diajarkan oleh orang tuanya..Setelah setiap hari dia melakukan hal tersebut hal itu akan menjadi kebiasaan yang sudah biasa ia lakukan bahkan sampai besar nanti. Pembiasaan ini juga harus diimbangi dengan konsistensi kebiasaan orang tua. Apabila orang tua tidak konsisten dalam mengajarkan pembiasaan, maka anak juga akan melakukannya dengan setengah-setengah. Apabila anak sudah tebiasa, maka hal apapun jika tidak ia lakukan dengan tepat waktu maka dalam hatinya ia akan merasakan kegelisahan.

5. Pembudayaan Karakter Pada Anak
Apabila kebiasaan baik dilakukan berulang-ulang setiap hari maka hal ini akan membudaya menjadi karakter. Terminologi pembudayaan menunjukkan ikut sertanya lingkungan dalam melakukan hal yang sama. Kedisiplinan seakan sudah menjadi kesepakatan yang hidup di lingkungan masyarakat, apalagi di lingkungan sekolah. Ada orang yang senantiasa mengingatkan apabila seseorang telah melanggar peraturan. Sama halnya dengan masalah kedisiplinan di dalam keluarga, apabila salah satu anggota keluarga tidak disiplin sesuai peraturan yang ditetapkan, maka anggota keluarga lain mengingatkan dan saling menegur. Tidak jauh berbeda di lingkungan sekolah, misalnya seorang siswa datang terlambat ketika guru sudah menerangkan pelajaran panjang lebar, kemudian siswa tersebut masuk kelas dengan keadaan gugup dan takut apabila dimarahi oleh gurunya, belum lagi disorakin oleh teman-temannya. Setelah itu gurunya mengingatkan dan memberi peringatan kepada siswa agar tidak datang terlambat lagi. Akhirnya dia akan berusaha agar ia tidak datang terlambat lagi.

6. Internalisasi Karakter Pada Anak
Tahap terakhir adalah internalisasi menjadi karakter. Sumber motivasi untuk melakukan respon adalah dari dalah hati nurani. Karakter ini akan semakin kuat apabila didukung oleh suatu ideology atau believe. Si anak percaya bahwa hal yang ia lakukan adalah baik. Apabila ia tidak disiplin maka ia akan menjadi anak yang tidak bisa menghargai waktu dan susah di komtrol.


Referensi:
Aat Syafaat dan Sohari Sahrani. 2008. Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam    Mencegah        Kenakalan Remaja. Serang: Rajawali Pers.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul 6 Tahapan Pembentukan Karakter Pada Anak

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 3/24/2018

0 komentar 6 Tahapan Pembentukan Karakter Pada Anak

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak