Home » » Tantangan Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multikultural

Tantangan Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multikultural

   
Tantangan Penyebaran Agama  Pada Masyarakat Multikultural

A. Pengertian Masyarakat Multikultural

Kata ”multikultural” terdiri dari  dua suku kata, yaitu ”Multi” berarti banyak, beragam, berbeda-beda, dan “cultural” berasal dari kata cultural yang berarti kebudayaan. Jadi multikultural berarti keanekaragaman budaya. 

Menurut M. Arfah Shiddiq, secara hakiki dalam kata multikultural terkandung pengakuan akan martabat manusia  yang hidup di tengah-tengah budaya, etnis dan kepercayaan yang berbeda. Dengan demikian setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui, merupakan akar dari ketimpangan-ketimpangan di dalam pengembangan wawasan multikultural.


Di era globalisasi masa kini, umat beragama dihadapkan pada serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya. Pluralisme agama, konflik internal, baik terhadap agama maupun terhadap budaya dan peradaban. Kesemuanya merupakan fenomena yang nyata di permukaan. Fenomena ini kelihatannya juga berlanjut sampai masa kini. Bahkan, Fenomena tersebut lahir dari ketidakmampuan para pemeluk agama memahami realitas kekinian. Akhirnya setiap agama tampil secara ekslusif dan tidak mampu memahami kemajemukan.

Disadari bahwa berbagai keinginan dan kepentingan (invidual/golongan) yang berbuntut konflik yang terjadi dalam masyarakat sulit untuk dihindari. Pergolakan tersebut akhirnya  mengarah pada konflik antara peradaban, dan  inilah yang sulit untuk dielakkan. Menurut Samuel P. Huntington yang mengemukakan berbagai alasan bahwa mengapa konflik antara peradaban sulit untuk dielakkan, di antara alasannya sebagai berikut: 

Pertama, perbedaan antara peradaban bukan hanya satu lamunan tetapi sesuatu yang nyata dan mendasar. Peradaban  telah berkembang dan berdiferensiasi dalam sejarah, bahasa, kebudayaan, tradisi, dan agama. Perbedaan peradaban melahirkan perbedaan  di dalam hubungan manusia dan Tuhan, individu dan kelompok, warga dan negara, hubungan keluarga, hak dan kewajiban, sistem kekuasaan dan sebagainya. Perbedaan tersebut telah terjadi di dalam kurung waktu berabad-abad dan oleh sebab itu tidak mungkin dihilangkan karena lebih berakar dari suatu sistem idiologis atau sistem politik.

Kedua, dunia semakin menyempit, oleh sebab itu perbedaan antara kebudayaan semakin menonjol dan kelihatan. Interaksi dalam dunia modern menimbulkan kesadaran dan rasa perbedaan peradaban antara manusia.

Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial dunia menyebabkan orang tercabut dari identitas lokalnya. seseorang kehilangan akar dalam kebudayaannya, memperlemah negara-negara (natio state) yang mula-mula merupakan identitas seseorang. Terjadinya kekosongan dalam kehidupan manusia dan kerap kali kekosongan tersebut diisi oleh gerakan-gerakan fundamentalisme. Yang terdapat didalam agama Kristen, Yahudi, Islam, hindu yang kerap kali menimbulkan teror dari pengikutnya.

Keempat, tumbuhnya kesadaran peradaban karena peran ganda dari negara-negara barat. Negara-negara barat berada pada puncak kekuatannya yang mengakibatkan rasa untuk kembali kedalam dunia sendiri, seperti penghargaan kembali terhadap nilai-nilai Asia. Gejala-gejala perasaan anti barat atau dominasi barat mulai muncul. Ini gejala yang disebut diwesternization dan pribumisasi (indigenisation) di banyak negara non barat. Kelima, sifat dan perbedaan di dalam bidang politik dan ekonomi, kita lihat misalnya di dalam perkembangan eks komunitas tetap mempertahankan budaya sendiri.

Tentu saja sikap yang berbeda seperti yang disebutkan di atas menimbulkan perbagai problematika serius dalam masyarakat, terutama munculnya klaim kebenaran. Artinya, kebenaran tidak lagi milik semua agama, budaya, suku, ras, dan peradaban melainkan dipersepsikan dan dibatasi oleh dan untuk kalangan tertentu saja.

B. Tantangan Penyebaran Agama  Pada Masyarakat Multikultural

Suatu hal yang harus disadari adalah bahwa bagi kalangan cendikiawan atau masyarakat terpelajar, masalah pluralitas, kemajemukan, keanekaragaman dengan berbagai eksesnya biasa saja diselesaikan tanpa masalah yang cukup berarti. Tapi bagi komunitas yang masih relatif tertutup, kearifan dalam menghadapi perbedaan agama dan etnis bukanlah persoalan mudah.

Konflik seringkali timbul akibat benturan keyakinan. Benturan itu akan lebih tampak di permukaan ketika keyakinan yang dimiliki suatu umat beragama berusaha ditransformasikan (disiarkan, diserukan) kepada umat (pemeluk agama) lain. Memang secara format sudah ada aturan main yakni keputusan Menteri Agama RI No. 70 Tahun 1978  tentang Pedoman Penyiaran Agama. Namun mengapa konflik masih sering terjadi. Sebabnya adalah bukan semata-mata karena umat beragama tidak menaati peraturan itu, tetapi lebih dari itu karena mereka sering kali mengekspresikan keyakinan agamanya secara ekslusif dan berusaha mentransformasikan secara monolitik.

Apa  yang terjadi di atas merupakan sebuah tantangan terhadap masyarakat (agama) yang plural, dan tidak menutup kemungkinan dapat pula dijumpai tantangan dan permasalahan  seperti itu kepada masyarakat multikultural. 

Dengan demikian, selain tantangan yang telah disebutkan juga terdapat tantangan lainnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh H.A.R. Tilaar bahwa terdapat tiga tantangan multikulturalisme dewasa ini, yaitu:

Pertama, adanya hegemoni barat dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan ilmu pengetahuan. Komunitas, terutama Negara-negara berkembang perlu mempelajari sebab-sebab dari hegemoni barat dalam bidang-bidang tersebut dan mengambil langkah-langkah seperlunya untuk mengatasinya sehingga dapat berdiri sama tegak dengan dunia barat.

Kedua, esensialisasi budaya. Dalam hal ini multikulturalisme  berupaya untuk mencari esensi budaya itu sendiri tanpa jatuh ke dalam pandangan yang xenophobia dan etnosentrisme. Multikulturalisme dapat melahirkan tribalisme yang sempit yang pada akhirnya merugikan komunitas di dalam era globalisasi. 

Ketiga,  proses globalisasi. Globalisasi dapat berupa monokulturalisme karena gelombang dahsyat globalisasi yang menggelinding menghancurkan bentuk-bentuk kehidupan bersama dan budaya tradisional. Memang tidak ada budaya yang statis namun masyarakat yang kehilangan akar budayanya akan kehilangan tempat berpijak dan dia akan disapu bersih oleh gelombang dahsyat globalisasi.

Berkenaan dengan tantangan multikultural yang telah diuraikan, kemudian dikorelasikan dengan penyebaran agama, maka disadari bahwa agama harus mampu memainkan perannya di tengah-tengah keragaman budaya tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa  setiap agama memiliki agresivitas ajaran untuk disiarkan. Namun agresivitas ajaran tidak harus ditafsirkan secara monolitik dengan serta merta, atau bahkan semena-mena menganggap umat yang lain keluar dari “jalan yang lurus”. Kiranya tentang agresivitas ajaran agama ini urgen untuk didiskusikan. Sebab setiap agama meniscayakan pemeluknya untuk menyiarkan kebenaran dan keimanannya kepada orang lain, yang dalam prakteknya sering melahirkan keretakan dan konflik antar umat beragama. Bagaimana menyiarkan kebenaran keimanan tersebut dalam terminology Islam disebut dakwah.

Setiap pemeluk agama memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan dakwah, kapan dan dimanapun ia berada. Namun yang menjadi masalah adalah bahwa dalam berbagai kasus, perilaku umat beragama tampak tidak bersesuaian dengan anjuran suci agama-agama. Suasana paradoks sering mengiringi kehidupan umat. Lebih-lebih bagi mereka yang merasa dengan melakukan “pelarangan” atau “penghalangan” terhadap sesama pemeluk agama adalah sebuah investasi pahala. Perbuatan menghalangi atau melarang adalah jihad yang didorong oleh justifikasi agama. Suasana semacam ini akhirnya membawa pada keterbelakangan kehidupan agama.

Dalam konteks seperti di atas, bagaimana wacana agama biasa kita hadirkan kembali sebagai wacana yang tidak seram dan mencekan penganut agama-agama, agaknya perlu dipikirkan bersama. Pemegang otoritas dominan atas tafsir teks suci agama barangkali perlu dikonstruksi kembali, dan bahkan kalau perlu didekonstruksi sehingga sehingga tidak membelenggu wacana agama itu sendiri.

Tugas berat menghadang para penganut agama-agama yang berkemauan untuk beragama secara saleh, mendamaikan dan menabur kesalamatan demi kepentingan semua umat manusia. Menempatkan wacana agama sebagai wacana yang berdimensi sosial-kemasyarakatan sehingga memunculkan wacana keagamaan yang adil dalam prilaku ekonomi, politik, hukum, dan aktivitas kemanusiaan.

Referensi

Shihab, Alwi,  Islam Inklusif; Menuju Sikap Tebuka dalam Beragama Cet. IV; Bandung : Mizan, 1998
Sutanto, Astrid S. – Sunaryo, Globalisasi dan Komunikasi, Cet. II; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995
Suseno, Franz Magnis, Pluralisme Keberagamaan Sebuah Tanggung Jawab Bersama, dalam Panitia Penulisan Buku 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA Reaktualisasi Ajaran Islam  Cet. I; Jakarta : Paramadina, 1995
Syahrin, Harahap, , Islam; Konsep dan Implementasi Pemberdayaan  Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1991
Tim Penulis Paramadina, Figh Lintas Agama; Membangun Masyarakat Inklusi Pluralis  Jakarta : Paramadina, 2004
Tobroni dan Syamsul Arifin,  Islam Pluralisme Budaya dan Politik : Refleksi Teologis Untuk Aksi Keberagamaan dan Pendidikan Yogyakarya : Sipress, 1994
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Tantangan Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multikultural

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 1/06/2018

0 komentar Tantangan Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multikultural

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak