Home » » Sekte-sekte dan Tokoh Dalam Aliran Jabariah dan Qadariah

Sekte-sekte dan Tokoh Dalam Aliran Jabariah dan Qadariah

Sekte-sekte dan Tokoh Dalam Aliran Jabariah dan Qadariah

A. Sekte-sekte dalam Aliran Jabariyah dan Qadariyah

1. Doktrin Aliran Jabariah dan Sektenya
Dalam aliran Jabariah ajarannya dibedakan menjadi dua aliran, yaitu: Jabariyah ekstrim dan moderat.

a. aliran ekstrim
Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan pendapatnya, bahwa manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. 


Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan, dan melihat Tuhan di akherat. Surga dan neraka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah. Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati, dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar, dan melihat, dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak. Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah.

Ja'ad bin Dirham, menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Al-quran dan Al-quran merupakan makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat dan mendengar. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal.

Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia lemah, tidak berdaya, terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan, tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimiliki oleh paham Qadariyah. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari skenario dan kehendak Allah. Segala akibat, baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah.

b. Jabariyah Moderat 
Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Manusia juga tidak dipaksa, tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-najar menyatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan. Sedangkan adh-Dhirar (tokoh jabariayah moderat lainnya) berpendapat:

1. Satu perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan manusia tidak hanya ditimbukan oleh Tuhan tetapi juga oleh manusia itu sendiri.

2. Mengenai ru’yat Tuhan di akhirat Dhirar mengatakan Tuhan dapat dilihat melalui indra keenam, ia juga brpendapat bahwa hujjah yang dapat diterima setelah nabi adalah ijtihad.

2.  Doktrin Aliran Qadariyah 

Segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatannya. Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat, itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri, bukan akhir Tuhan. Sungguh tidak pantas, manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.

Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai bangsa Arab ketika itu, yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatan-perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya. Dalam faham Qadariyah, takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya, sejak azali, yaitu hukum yang dalam istilah Al-quran adalah sunatullah.

Secara alamiah, sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berubah lain, kecuali mengikuti hukum alam. Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip atau ikan yang mampu berenang dilautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan. Seperti gajah yang mampu membawa barang beratus kilogram, akan tetapi manusia ditakdirkan mempunyai daya pikir yang kreatif.

Demikian pula anggota tubuh lainnya yang dapat berlatih sehingga dapat tampil membuat sesuatu, dengan daya pikir yang kreatif dan anggota tubuh yang dapat dilatih terampil. Manusia dapat meniru apa yang dimiliki ikan. Sehingga ia juga dapat berenang di laut lepas. Demikian juga manusia yang dapat membuat benda lain yang bisa membantunya membawa barang seberat barang yang dibawa gajah. Bahkan lebih dari itu, disinilah terlihat semakin besar wilayah kebebasan yang dimiliki manusia.

B. Tokoh-tokoh Aliran Jabariah dan Qadariah

1. Tokoh-tokoh aliran jabariah 

a. Tokoh-tokoh yang ekstrem
a. Jahm ibn Shufwan
Ia dikenal sebagai seorang budak yang telah dimerdekakan dari Khurasan dan bermukim di Kuffah ( Irak ). Jahm terkenal sebagai seorang yang pintar berbicara sehingga pendapatnya mudah diterima oleh orang lain. Perlu dicatat bahwa Jahm juga mempunyai hubungan kerja dengan al-Harits ibn Suriah yakni sebagai sekretaris yang menentang kepemimpinan Bani Umayyah di Khurasan . Perlawanan Harits dapat dipatahkan dan akhirnya ia dijatuhi hukuman mati pada tahun 128 H / 745 M. Sementara Jahm diperlakukan sebagai tawanan  yang pada akhirnya juga dibunuh. Pembunuhannya kurang lebih dua tahun setelah kematian Harits yakni pada tahun747 M yang pada saat itu memerintah adalah khalifah Marwan ibn Muhammad ( 744-750 M ).

Pendapat beliau mengenai teologi, yakni :

1)  Manusia tidak mampu berbuat apa-apa
2)  Surga dan neraka tidak kekal
3)  Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati
4)  Kalam Tuhan adalah makhluk

b.  Ja’ad ibn Dirham
Doktrin pokok Ja’ad secara umum sama dengan pikiran Jahm,  Al-Ghuraby menjelaskannya sebagai berikut:

1)  Al-Quran itu adalah makhluk.
2)  Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk.
3)  Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.

b.  Tokoh-tokoh yang moderat
a.  An-Najjar
Di antara pendapatnya, yaitu :

1) Tuhan menciptakan segala segala perbuatan manusia, tetapi manusia bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.
2) Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.

b. Adh-Dhirrar
Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan An-Najjar. Mengenai rukyat Tuhan di akhirat, Dirrar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera keenam.

2. Tokoh-tokoh Aliran Qadariyah

1. Ma’bad Al-Juhani
Ia merupakan tokoh yang pertama kali memunculkan paham Qadariyah dalam islam bersama temannya Ghailan Al-Dimasyqi . Ma’bad Al-Juhani adalah seorang tabi’in yang pernah belajar kepada Washil bin Atha’, pendiri Mu’tazilah. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa sebenarnya yang mengembangkan ajaran itu bukan Ma’bad Al-Juhani. Ada  seorang penduduk negeri Irak yang mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam. Setelah itu, ia kembali ke Kristen lagi . Dari orang inilah Ma’bad Al-Juhani dan Ghailan Al-Dimasyqi  mengambil pemikirannya.

2. Ghailan ibn Muslim Al-Dimasyqi
Pada masa muda, ia pernah menjadi pengikut al-Haris ibn Sa’id yang dikenal sebagai pendusta. Ia pernah taubat terhadap pengertian pahamnya dihadapan khalifah Umar bin Abdul Aziz,namun  setelah khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat, ia kembali lagi terang-terangan dengan madzhabnya.

Ghailan merupakan penduduk kota Damaskus yang menyebarkan ajarannya secara terang-terangan pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Dia mengirim sebuah pernyataan tentang taqdir kepada khalifah dan sewaktu dihadapkan kepada khalifah, ia dengan nada menantang meminta khalifah mendatangkan ahli debat. jika ia kalah maka ia siap dibunuh, kemudian khalifah mengirim Al-Auza’iy. Karena ia tidak dapat menjawab tiga pertanyaan yang dilontarkan oleh Al-Auza’iy , jadi ia dibunuh oleh Hisyam bin Abdul Malik.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Sekte-sekte dan Tokoh Dalam Aliran Jabariah dan Qadariah

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 1/07/2018

0 komentar Sekte-sekte dan Tokoh Dalam Aliran Jabariah dan Qadariah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak