Home » » Perkembangan Politik Pada Masa Pemerintahan Muawiyah Bin Abi Sufyan

Perkembangan Politik Pada Masa Pemerintahan Muawiyah Bin Abi Sufyan

   
Perkembangan Politik Pada Masa Pemerintahan Muawiyah Bin Abi Sufyan
Muawiyah telah menjadikan negeri Syam ketika dia masih menjadi gubernur disana pada zaman Khalifah Rasyidin sebagai wilayah terkaya dibanding wilayah lainnya. Ekonominya paling bagus dan maju. Ketika ibukota berpusat di Damaskus, negeri ini terkenal akan kemakmurannya karena menyimpan sumber daya alam yang berlimpah. Dari kota inilah, yang menjadi pusat pemerintahan Khalifah Muawiyah berlangsung kemudian diteruskan oleh khalifah-khalifah dari Bani Umayyah lainnya.


Disamping pengembangan daerah dari segi ekonomi, Muawiyah  juga berperan penting dalam perkembangan politik. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan dapat dibagi dalam dua hal:

1. Kebijakan politik dalam negeri

Salah satu kebijakannya adalah dalam hal ketentaraan, ia mengatur tentara dengan cara baru yang dia tiru dari aturan yang diterapkan oleh tentara Byzantium, yaitu dengan meninggalkan aturan yang didasarkan atas kesatuan kabilah. Ia bersikeras agar gaji tenntara diberikan secara teratur sehingga Muawiyah sangat disenangi oleh tentaranya. Disamping ia menetapkan aturan kiriman pos yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain, ia juga yang membangun armada pertama dalam sejarah Islam.

Kebijakan yang lain adalah toleransi keberagamaan yang sangat tinggi antar penganut Islam dengan Nasrani yang ada di daerahnya. Muawiyah memperlakukan mereka dengan sangat baik. Ini dibuktikan dengan menikahi seorang diantaranya, yaitu Masyun ibn Yazid. Pembantunya dan Dokternya juga beragama Nasrani. Bahkan ia mengangkat orang-orang Syiria Nasrani menjadi tentara dan melibatkan mereka dalam urusan negara.

2. Kebijakan politik keluar

Setelah mengukuhkan kedudukannya di dalam negeri. Muawiyah menganut kebijakan luar negeri yang kuat. Perluasan kekuasaan muslim yang besar terjadi di  bawah kepemimpinannya. Berbagai ekspansi dilancarkan. Muawiyah dan bala tentaranya dalam memperluas wilayah Islam. Ekspansi-ekspansi yang tercatat dalam sejarah antara lain:

a. Ekspansi daerah-daerah di Timur

Kemajuan besar di peroleh di daerah ini. Orang-orang dari Herat memberontak dan mereka ditindas pada tahun 661 M. Dua tahun kemudian Kabul juga diserbu. Operasi-operasi yang sama dilancarkan terhadap Ghazna, balkh dan kandahar serta benteng-benteng lainnya. Pada tahun 676 M Bukhara direbut dan dua tahun kemudian Samarkand dan Tirmid juga diduduki. Ditimur jauh, tentara  muslim lainnya dibawah pimpinan Mahallib, anak Abu Sufra, maju sampai ketepi sungai Indus. Demikianlah, muawiyah menggabungkan seluruh wilayah Asia Tengah sampai daerah-daerah pinggiran Anak Benua Indo-Pakistan ke dalam kekuasaannya. 

b. Ekspansi daerah-daerah di Afrika

Ekspansi pertama ke Afrika Utara dilakukan pada masa kekhalifahan Umar. Pada masa ini, khalifah Umar dengan bantuan Amr bin Ash dapat menaklukkan negeri Mesir yang terkenal dengan kesuburan tanahnya. Kemudian, penyerangan dilanjutkan ke beberapa daerah lain, yang berdekatan dengan Mesir, dilanjutkan oleh Khalifah sesudahnya. Barulah pada masa Muawiyah beliau melakukan ekspansi di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi untuk menyerang Ifrikia (Tunisia) pada tahun 670 M. Kemudian Uqbah mendirikan kota militer yang termashur, Kairowan di sebelah Selatan Tunis untuk tempat mengendalikan bangsa Barbar yang tidak mau tunduk dan juga untuk menjaga terhadap serangan-serangan bangsa Romawi dari laut. Berkat perjuangan Uqbah yang cemerlang untuk menghancurkan bangsa Romawi dan bangsa Barbar, sehingga negeri itu aman selama beberapa tahun.  

c. Ekspansi ke daerah Eropa

Daerah Eropa yang dimaksud disini adalah Konstantinopel, ibukota dari Byzantium yang merupakan basis kekuatan kerajaan Romawi. Sebelum menyerang Konstantinopel, armada Muawiyah dengan kekuatan 1700 kapal perang pulau-pulau Yunani, Diantara Rhodes. Kemudian, pada tahun 688 M, armada laut-nya mengepung kota Konstantinopel di bawah pimpinan Yazid, anaknya yang berlayar menuju Dardanela dan berlabuh di sana. Selama enam tahun, tentara Islam mengepung kota itu dan selama itu pula bangsa Romawi dapat mempertahankan bentengnya dengan gigih. Akhirnya, karena adanya tekanan dari mana-mana Muawiyah memerintahkan untuk menarik mundur pasukannya dari daerah tersebut, yang menyebabkan kegagalan Muawiyah menaklukkan Kota Konstantinopel.

Khalifah Muawiyah mendirikan suatu pemerintahan yang  terorganisasi dengan baik. Dasar yang sebenarnya dari pemerintahannya terdapat dalam Angkatan Darat-Nya yang kuat dan efisien. Dia dapat mengandalkan pasukan orang-orang Syiria yang taat dan setia, yang tetap berdiri disampingnya dalam keadaan berbahaya sekalipun Muawiyah merupakan orang-pertama dalam Islam yang mendirikan suatu departemen pencatatan (Diwan al-Kahatam). Setiap peraturan yang dikeluarkanoleh khalifah harus disalin di dalam suatu register, kemudian yang asli harus disegel dan dikirimkan ke alamat yang dituju. Sebelum yang dikirimkan adalah perintah-perintah yang terbuka.   

Pelayanan pos (Diwan al-Barid) kabarnya telah diperkenalkan oleh Muawiyah, Barid (kepala Pos) memberi tahu pemerintah pusat tentang apa yang sedang terjadi dalam pemerintahan provinsi. Dengan cara ini Muawiyah melaksanakan kekuasaan pemerintah pusat. Muawiiyah membentuk dua sekretariat yaitu sekretariat imperium (pusat) yang medianya berbahasa Arab dan sekretariat provinsi yang menggunakan bahasa Yunani dan Persia. Sebagai seorang administrator yang berpandangan jauh, Muawiyah memisahkan urusan keuangan dari urusan pemerintahan.

Muawiyah meninggal dunia dalam bulan April tahun 680 M. Secara keseluruhan, setelah memerintah imperium Islam selama kira-kira 20 tahun, masa pemerintahan Muawiyah merupakan masa kemakmuran dan perdamaian di dalam negeri serta keberhasilan di luar negeri. Jabatan digantikan oleh anaknya, Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan.  

REFERENSI


Mahmudunnasir, Syed, Islam: its Concept and History, (Islam: Konsepsi dan Sejarahnnya), alih bahasa oleh Drs. Adang  Affandi, (Cet. IV; Bandung Remaja Rosdakarya, 1994)
Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997)
Nasution, Harun, Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Cet. V; Jakarta UI Press 1986)
______, Islam di Tinjau Dari Berbagai Aspeknya., Jilid I (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang 1974)
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Cet. XV; Jakarta: Raja Grafindo 2003)
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Perkembangan Politik Pada Masa Pemerintahan Muawiyah Bin Abi Sufyan

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 1/06/2018

0 komentar Perkembangan Politik Pada Masa Pemerintahan Muawiyah Bin Abi Sufyan

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak