Home » » Model dan Strategi Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multukultural

Model dan Strategi Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multukultural

Model dan Strategi Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multukultural

A. Model Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multikultural

Sedikitnya terdapat dua kelompok atau mazhab pemikiran yang dominan dalam menentukan arah perspektif pluralisme.

Pertama, adalah mereka yang berpandangan bahwa pluralisme merupakan cetak biru (blue print) dari Tuhan, dan karena itu harus diterima bukan saja sebagai hukum kehidupan, tetapi juga sebagai cermin keteraturan masyarakat. Tidak ada makhluk Tuhan yang berdiri sendiri dan terlepas dari kaitannya dengan yang lain. Ajaran-ajaran luhur tentang adanya titik temu agama dan perlunya sikap lapang dada menghadapi perbedaan selalu menyertai artikulasi dan ajakan dari paham ini. Ajaran yang dikembangkan paham ini ialah tercapainya kerukunan antar umat beragama dan tertib sosial yang harmonis, sehingga dengan demikian energi masyarakat bisa diarahkan untuk kerja yang lebih produktif.


Kedua, mereka yang berpandangan bahwa pluralisme agama merupakan “energi sosial” (secara positif, tetapi sekaligus bisa menjadi “komoditas politik” (secara negatif). Agama di dalam masyarakat yang bersifat pluralistis secara horizontal dilihat sebagai elemen yang sejajar belakang dengan realitas sosial lainnya seperti suku, ras dan golongan, yang dalam konstruksi negara kita sebut SARA.

Pluralisme menjadi energi sosial jika diarahkan untuk memberdayakan masyarakat dalam rangka demokratisasi dan perubahan sosial. Caranya adalah melalui apa yang oleh Peter Berger dan Richard Neuhauss disebut  mediating structures, di mana institusi-institusi medias dimanfaatkan untuk meraih tujuan bersama, bukan tujuan salah satu kelompok saja. Dalam konteks pluralisme agama, mediasi agama dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat bukan dalam rangka missionaries misalnya, melainkan untuk tujuan yang lebih universal, seperti penegakan HAM, keadilan sosial, atau demokratisasi. Karena itu, kelompok-kelompok cendikiawan agama, organisasi-organisasi sosial keagamaan, dan sebagainya, bisa dimanfaatkan untuk itu.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangka membangun komunikasi dengan pihak lain  terutama dalam penyebaran agama dan  hubungannya dengan mengembangkan wawasan  multikultural paling tidak, ada tiga model,yaitu: 

1. Model sosial psiklologik (social phisihologikal model)
Model sosial psiklologik (social phisihologikal model) yang menitik beratkan interaksi pengaruh antara individu, memilih proses pembentukan persepsi yang telah menjadi pemandu bagi prilakunya. Analisis model ini menitik beratkan pengaruh dari lingkungan budaya maupun politik yang telah mempengaruhi seseorang, dan bagaimana interaksi sikap terjadi dalam proses pengaruh mempengaruhi;

2. Model rasional (rationale model) 
Model rasional (rationale model) yang meneliti bagaimana manusia dan lingkungan/organisasi melaksanakan tugas-tugasnya dalam rangka peran-peran resminya, proses pembentukan struktur serta bagaimana insentif terhadap hasil kerja sama. Model ini menitik beratkan proses perubahan yang agak besar dalam lingkungan yang belum dikenal dan mungkin bermusuhan. Model ini menitik beratkan pada tindakan-tindakan dan kebutuhan tertentu;

3. Model humanistic (humanism model)  
Model humanistic (humanism model)  yang menitik beratkan pada bagaimana proses nilai berubah dalam suatu masyarakat. Apabila proses model menganggap sebagai pelaku dapat memberi reaksi yang sama terhadap situasi dan kondisi yang sama maka model humanistik  menggaris bawahi kemungkinan mencapai suatu alternatif  arah dan tujuan yang lain bagi tindakannya.

Untuk mendukung hal tersebut, maka salah satu pendekatan yang relevan dalam hal ini adalah mendemonstrasikan bahasa dakwah Islam dalam menerjemahkan kegiatan pembangunan dalam berbagai aspeknya. Artinya apa yang dilakukan dalam pembangunan itu diupayakan merupakan pelaksanaan dari pesan Alqur`an, sehingga berdasarkan motivasi agama masyarakat dalam berbagai latar belakang agama, sosial, etnik dan budaya dapat menyumbangkan partisipasinya dan sekaligus mengembangkan diri secara maksimal.

B. Strategi Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multikultural

Menurut Dr. Franz Margin Suseno, untuk menjalankan misi penyiaran agama yang tidak rawan konflik, maka dapat dilakukan sebagai berikut :

Pertama, segala usaha penjelekan agama lain atau penganut agama lain tidak dapat dibenarkan. Tentu saja kita dapat menjelaskan kepada umat kita sendiri apa keberatan agama kita terhadap agama-agama lain. Akan tetapi dengan cara menjelek-jelekkan agama lain, apalagi menceritakan hal-hal yang tidak benar.

Kedua, misi itu bukan usaha merekrut penganut semata, melainkan maklumat pesan ilahi. Jadi misi sebuah agama jangan mirip dengan usaha partai politik mencari penganut, bahkan menghitung. Misalnya, menghitung orang yang dibaptis, yang secara relegius tidak relevan. Kebenaran dan “sukses” sebuah agama tidak tergantung dari jumlah pengikutnya.

Ketiga, segala cara yang bersifat membujuk, penawaran imbalan material (orang masuk agama demi kepentingan duniawi), tekanan, apalagi paksaan, manipulasi dan sebagainya harus dibuang jauh karena mengotori tugas suci mempermaklumkan kebenaran ilahi. Maklumat itu harus benar-benar menghormati kebebasan sasaran dakwahnya. Artinya, orang yang sudah mendengar pesan itu tidak boleh tertekan dalam hati, sehingga ia bebas mendengarkan apa yang dibisikkan Tuhan kepadanya.

Dalam konteks keindonesiaan, mengingat masyarakat kita yang majemuk, maka dakwah atau penyiaran agama di Indonesia seyogyanya dilakukan dengan beberapa mekanisme yang sesuai dengan kemajemukannya. Mekanisme-mekanisme yang dimaksud antara lain.

Pertama, dakwah dilakukan dengan menafikan unsur-unsur kebencian. Ayat-ayat Tuhan dan risalah kenabian harus didakwahkan sesuai dengan fungsinya, yakni untuk menasehati dan meluruskan yang kurang atau tidak lurus, dan membenarkan yang kurang benar, serta bukan untuk memasuki yang salah atau melegetimasi kebenciaan terhadap orang lain atau umat agama lain.

Kedua, jika dakwah dilakukan secara lisan, maka dakwah seyogyanya disampaikan dengan tutur kata yang santun, tidak menyinggung perasaan atau menyindir keyakinan umat lain, apalagi mencaci makinya. Kekerasan ucapan dalam aktivitas dakwah bukan saja akan merusak keharmonisan hubungan antar umat beragama, tetapi juga sangat tidak diperkenankan dalam Islam. 

Ketiga, dakwah seyogyanya dilakukan secara persuasif, karena sikap memaksa hanya membuat orang enggan untuk mengikuti apa yang didakwakan. Keempat, dakwah sekali-kali tidak boleh dilakukan dengan jalan menjelek-jelekkan agama atau bahkan dengan menghina Tuhan yang menjadi keyakinan umat agama lain.

Disamping itu, uraian di atas dapat pula dilengkapi dengan  pendekatan multikultural yang dibangun dalam filsafat ilmu sosial menurut Fay Pendekatan ini mencoba mendamaikan berbagai perbedaan pandangan dalam ilmu sosial dengan cara yang lebih mendalam, plural, inklusif, tanpa sekat dan subjektif.

Dalam filsafat ilmu sosial terdapat pola yang bersifat dualistis yang mendominasi, pola itu terkait dengan pertanyaan: ”apakah satu pilihan atau pilihan lainnya dan kemudian salah satu di antaranya dianggap pilihan yang benar?”. Fay berusaha mengindari dualisme buruk dan berpikir secara dialektis. Sebagaimana yang disarankan oleh Fay, kita tidak boleh terjebak pada kategori-kategori yang saling bertolak belakang. Pertama, Kategori-kategori atau dikotomi-dikotomi itu harus disikapi secara terbuka dan dipikirkan secara dialektis; kedua, tidak menganggap orang lain sebagai” yang lain”. Sebenarnya  semua identitas pribadi pada hakikatnya menurut Fay bersifat diologis.  Tidak ada pemahaman diri tanpa pemahaman orang lain, dan jangkauan kesadaran diri kita dibatasi oleh pengetahuan orang lain; ketiga, mentransendensikan kesalahan memilih antara universalisme dan partikularisme, asimilasi dan pemisahan. Hendaknya kita memanfaatkan perbedaan, dengan mengambil hikmah, pembelajaran dan saling menguntungkan; Keempat, berpikir secara proses, dengan pengertian kata kerja (proses) bukan kata benda (produk).

Pendekatan dan mekanisme di atas hanyalah beberapa mekanisme yang bisa diterapkan, dan masih terdapat sejumlah mekanisme dan pendekatan yang dapat dilakukan sesuai dengan kreativitas umat dan kebutuhan situasionalnya. Yang penting adalah bagaimana setiap umat beragama bisa membangun kesamaan pandangan. Dalam hal penyiaran kebenaran dan keimanan, saya yakin bahwa setiap agama yang diturunkan Tuhan pasti melarang pertentangan dalam kebersamaan dan kemajemukan seperti realitas yang ada di Indonesia.

Realisasi dakwah pada hakikatnya merupakan upaya perbaikan kondisi, baik diri sendiri, pribadi orang lain, lingkungan atau bahkan segala fenomena kesemestaan ini yang berjalan tidak sesuai dengan prinsip keselarasan hidup dan tujuan penciptaannya. Di antara tujuan penciptaan inilah yang harus senantiasa menyertai manusia selama hidupnya, agar tetap menjaga kedamaian, keselarasan, kebersamaan, dan saling menghormati satu sama lain, bukan saja sesama manusia, tetapi juga dengan alam lingkungannya. Kita harus yakin dan sadar bahwa dakwah sebagai seruan atau ajakan menuju kebenaran harus dijalankan secara benar pula. Dan, kebenaran yang bersumber dari kemurniaan ajaran Tuhan harus senantiasa ditafsirkan secara inklusif dan diartikulasikan dalam kerangka kebersamaan yang harmonis, adil dan toleran.

Jika umat beragama atau pemukla agama memiliki wawsan multikultural atau menggunakan pendekatan multikultural di atas dalam berinteraksi, maka keberadaan agama dan perbedaan yang ada di antara agama-agama tidak akan menimbulkan pertentangan dan konflik yang membahayakan.

REFERENSI

Abdullah, M. Amin, Pendidikan Agama Era Multikultural Multireligius Cet. I; Jakarta : Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah, 2005.
Andito (ed),  Atas Nama Agama : Wacana  dalam Dialog Bebas Konflik Cet. I; Bandung Pustaka Hidayah, 1998
Azis, Amir, Neo Modernisme Islam di Indonesia; Gagasan Sentral Nurcholis Madjid dan KH. Abdurrahkan Wahid Jakarta : Rineka Cipta, 1999
Echol,John M. dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Cet. XXIV; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000
Fay, Brian.  Contemporary Philosophy of Social Science, Oxford: Black Well Publisher, 1996).
al-Faruqi,Isma`il, The Hijrah The Neccessity of Its Igamat or Vargegenwarting, diterjemahkan oleh Badril Saleh dengan judul Hakikat Hijrah; Strategi Dakwah Islam Membangun Tatatanan Dunia Baru Cet. II; Bandung: Mizan, 1991.
Gaus, Ahmad,  dialog Agama, dalam Andito (ed), Andito (ed), atas Nama Agama ; Wacana Agama dalam Dialog Bebas Konflik Cet. I; Bandung : Pustaka Hidayah, 1998.
Ghazali, Abd. Rahim, Agama dan Kearifan Dakwah dalam Masyarakat Majemuk, dalam Andito Ied)., Andito (ed), Atas Nama Agama; Wacana Agama dalam Dialog Bebas Konflik. Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya 1997.
Samuel P. Huntington, “The Clash of Civilisation.”  Foreign Affairs, 2003
Harahap, Syahrin, Islam Dinamis; Menegaskan Nilai-Nilai Ajaran Alqur`an dalam Kehidupan Modern di Indonesia Cet. I; Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997
H.A.R.Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, Cet. I; Jakarta: PT. Grasindo, 2004
Madjid, Nurcholis,  “Meninggalkan Kemutlakan Jalan Menuju Kedamaian,  dalam Prisma, No. 9 Tahun 1986
Terimakasih telah membca artikel berjudul Model dan Strategi Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multukultural

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 1/06/2018

0 komentar Model dan Strategi Penyebaran Agama Pada Masyarakat Multukultural

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak