Home » » Pengertian, Hukum, Syarat, dan Rukun Nikah

Pengertian, Hukum, Syarat, dan Rukun Nikah

Pengertian, Hukum, Syarat, dan Rukun Nikah

A. Pengertian Nikah

Nikah menurut bahasa berasal berdasarkan kata nakaha yankihu nikahan yg berarti kawin. Dalam istilah nikah berarti ikatan suami istri yang sah yg mengakibatkan dampak hukum & hak dan kewajiban bagi suami isteri. Dalam buku fiqih perempuan   yg dimaksud Nikah atau perkawinan merupakan Sunnatullah pada hamba-hamba-Nya. Dengan pernikahan Allah menghendaki agar mereka mengemudikan perahu kehidupan.

Sunnatullah yang berupa perkawinan ini tidak hanya berlaku dikalangan manusia saja, akan tetapi pula didunia binatang. Allah Ta’ala berfirman:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat akan kebersamaan Allah.”

Namun demikian, Allah SWT tidak menghendaki perkembangan dunia berjalan sekehendaknya.Oleh sebab itu diatur-Nya lah insting apapun yg ada dalam insan dan dibuatkan untuknya prinsip-prinsip & undang-undang, sehingga humanisme manusia permanen utuh, bahkan semakin baik, suci dan higienis. Demikianlah, bahwa segala sesuatu yg terdapat pada jiwa insan sebenarnya tidak pernah terlepasdari didikan Allah.

Menurut pengertian sebagian fukaha, perkawinan adalah aqad yg mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan kelamin dengan lafadz nikah atau ziwaj atau semakna keduanya. Pengertian ini dibentuk hanya melihat berdasarkan satu segi saja adalah kebolehan hukum, pada interaksi antara seseorang laki-laki  dan seseorang wanita yg semula dilarang sebagai dibolehkan. Perkawinan mengandung aspek akibat aturan melangsungkan perkawinan ialah saling menerima hak dan kewajiban serta bertujuan mengadakan interaksi pergaulan yg dilandasi tolong-menolong. Karena perkawinan termasuk pelaksanaan agama, maka di dalamnya terkandung adanya tujuan/maksud mengharapkan keridhaan Allah SWT. Perkawinan merupakan suatu aqad atau perikatan buat membentuk hubungan kelamin antara laki-laki  dan wanita dalam rangka mewujudkan kebahagian hayati berkeluarga yang meliputi rasa ketenteraman serta kasih sayang menggunakan cara yang diridhai Allah SWT.

B. Hukum Nikah

1. Jaiz, (diperbolehkan) ini asal hukumnya
2. Sunnat, bagi orang yg berkehendak dan sanggup memberi nafkah
3. Wajib, bagi orang yang sanggup memberi nafkah dan beliau takut akan tergoda pada kejahatan (zina)
4. Makruh, bagi orang yg nir bisa memberi nafkah
5. Haram, bagi orang yang berniat kan menyakiti perempuan   yang dinikahinya.

Bagi orang yg sudah sanggup kawin, beristeri itu wajib  hukumnya.Karena dengan beristeri itu hati lebih terpelihara dan lebih bersih dari desakan  nafsu. Al-Qurthubi berkata: “Bagi orang yang bisa kawin, sedang beliau khawatir dirinya terjerumus kedalam dosa sehingga agamanya tidak terpelihara akibat membujang, yg rasanyahal itu hanya sanggup disembuhkan dengan perkawinan, maka tidak terdapat disparitas pendapat tentang wajibnya perkawinan dalam keadaan misalnya ini.

C. Syarat-syarat Nikah

1. Syarat dua mempelai
Adapun kondisi 2 memiliki merupakan: 

a. Syarat pengantin laki-laki 
Syari'at islam memilih beberapa kondisi yg harus dipenuhi sang calon suami berdasarkan ijtihad para ulama, ialah:
1. Calon suami beragama islam
2. Terang bahwa calon suami itu betul pria
3. Orangnya diketahui & tertentu
4. Calon mempelai laki-laki  itu jelas halal kawin dengan calon istri
5. Calon mempelai laki-laki  tahu/kenal dalam calon istri serta memahami benar  calon istrinya halal baginya.
6. Calon suami ridha (nir dipaksa) untuk melakukan perkawinan itu
7. Tidak sedang melakukan ihram
8. Tidak mempunyai istri yang haram dimadu menggunakan calon istri.
9. Tidak sedang memiliki istri empat.

b. Syarat calon pengantin wanita
Syari'at islam memilih beberapa kondisi yg wajib  dipenuhi oleh calon suami menurut ijtihad para ulama, adalah:
1. Calon suami beragama islam
2. Terang bahwa dia perempuan bukan Khuntsa.
3. Wanita itu eksklusif orangnya.
4. Halal bagi calon suami.
5. Wanita nir dalam ikatan perkawinan & tidak masih pada 'iddah.
6. Tidak dipaksa/ikhtiyar
7. Tidak dalam keadaan ihram haji atau umrah.

2. Syarat wali nikah
Perkawinan dilangsungkan sang wali pihak mempelai perempuan   atau wakilnya menggunakan calon suami atau wakilnya.

Wali hendaklah seorang lelaki, muslim, baligh, berakal & adil, adalah nir fasik. Lantaran itu perkawinan tanpa wali dianggap nir sah. Hal ini dilandaskan dalam hadits Nabi SAW:

لا نكاح إلا بولى.(رواه الخمسة إلا أنسائى)
"Tidak ada perkawinan tanpa wali." (HR. Al Khomsah kecuali An Nasaiy)

Hanafi Tidak mensyaratkan wali dalam perkawinan. Perempuan yang sudah baligh & berakal, boleh mengawinkan dirinya sendiri, tanpa wajib  dihadiri sang 2 orang saksi, sedang Malik beropini, wali adalah syarat buat mengawinkan wanita bangsawan, bukan buat mengawinkan perempuan   umum .[6]

Wali dan saksi bertanggung jawab atas sahnya akad nikah oleh karena itu, tidak semua orang bisa diterima sebagai saksi atau wali.Tetapi hendaklah orang-orang yg mempunyai beberapa sifat sebagai berikut :
1. Islam. Orang yang nir beragama islam nir sah menjdi wali atau saksi.
2. Balig. (sudah berumur 15 tahun)
3. Berakal
4. Merdeka
5. Laki-laki
6. Adil

Yang dianggap absah sebagai wali mempelai perempuan   artinya dari susunan yang akan diuraikan dibawah ini :
1. Bapaknya
2. Kakeknya (bapak dari bapak mempelai perempuan)
3. Saudara laki-laki  yang seibu sebapak dengannya.
4. Saudara pria yang sebapak saja dengannya.
5. Anak pria dari saudara laki-laki  yg seibu sebapak dengannya.
6. Anak pria menurut saudara pria yang sebapak saja dengannya.
7. Saudara bapak yg laki-laki  (paman menurut pihak bapak)
8. Anak pria pamanya dari pihak bapaknya
9. Hakim

3. Syarat saksi nikah
Saksi yang menghadiri akad nikah haruslah dua orang, lelaki, muslim, baligh, berakal, melihat & mendengar serta mengerti (faham) akan maksud akad nikah. Namun berdasarkan Hanafi dan Hambali, boleh pula saksi itu lelaki dan 2 orang wanita. Dan berdasarkan Hanafi, boleh 2 orang buta atau dua orang fasik (nir adil). 

Selanjutnya orang tuli, orang tidur & orang mabuk tidak boleh sebagai saksi.Sebagian besar  ulama beropini saksi merupakan kondisi (rukun) perkawinan. Karena itu perkawinan (akad nikah) tanpa 2 orang saksi tidak absah. Inilah pendapat Syafi'i, Hanafi & Hambali.

1. Bersifat adil
Menurut imam Hanafi buat sebagai saksi dalam perkawinan tidak di syaratkan wajib  orang yg adil, jadi perkawinan yg di saksikan sang dua orang fasik hukumnya sah.
Golongan Syafi’I berpendapat saksi itu harus orang yang adil, sebagaimana tadi dalam hadis :’’ Tidak sah nikah tanpa wali dan 2 orang saksi yang adil’’. Menurut mereka ini apabila perkawinan pada saksikan oleh dua orang yg belum di kenal adil tidaknya, maka terdapat dua pendapat namun dari Syafi’I  kawin dengan saksi-saksi yang belum pada kenal adil tidaknya, hukumnya absah.

2. Saksi harus laki-laki
Golongan Syafi’I & Hambali mensyaratkan saksi haruslah laki-laki .Akad nikah menggunakan saksi seorang laki-laki  dan dua perempuan, nir absah, namun golongan Hanafi nir mengharuskan syarat ini.Mereka beropini bahwa kesaksian dua orang laki-laki  atau seorang laki-laki  dan 2 perempuan   telah sah.

3. Harus Orang Merdeka
Abu Hanifah & Syafi’I mensyaratkan orang yg sebagai saksi wajib  orang-orang yang merdeka, namun Ahmad pula mengharuskan kondisi ini.Dia berpendapat akad nikah yang di saksikan dua orang budak, hukumnya sah sebagaimana sahnya kesaksian mereka pada masalah-kasus lain, dan karena pada al Qur’an juga hadist tidak ada warta yang menolak seseorang budak buat menjadi saksi dan selama dia amanah dan jujur, kesaksiannya tidak boleh di tolak.

4. Harus Orang Islam
Para pakar fiqih tidak sinkron pendapat tentang kondisi-syarat sebagai saksi dalam perkawinan bilamana pasangannya terdiri berdasarkan laki-laki  dan wanita muslim,apakah saksinya wajib  beragama islam? Juga mereka berbeda pendapat apabila yang laki-lakinya beragama islam, apakah yang menjadi saksi boleh orang yg bukan islam? Menurut Ahmad, Syafi’I dan Muhammad bin Al-Hasan perkawinannya nir sah, bila saksi-saksinya bukan islam, lantaran yg kawin merupakan orang islam, sedang kesaksian bukan orang islam terhadap orang islam tidak bisa pada terima.

Tetapi Abu Hanifah & Abi Yusuf beropini jika perkawinan itu antara pria muslim & perempuan   pakar Kitab maka kesaksian dua orang Ahli Kitab boleh pada terima. Dan pendapat ini di ikuti sang undang-undang perkawinan mesir.

4. Syarat ijab qabul
Perkawinan harus dilakukan menggunakan ijab kabul menggunakan verbal. Inilah yang dinamakan 'aqad nikah (ikatan atau perjanjian perkawinan). Bagi orang bisu sah perkawinannya menggunakan isyarat tangan atau kepala yg mampu dipahami. 

Ijab dilakukan sang pihak wali mempelai wanita atau wakilnya, sedang kabul dilakukan oleh mempelai pria atau wakilnya. 

Menurut pendapat Hanafi, boleh juga ijab oleh pihak mempelai lelaki atau wakilnya & kabul dan pihak wanita (wali atau wakilnya) jika perempuan   itu sudah baligh & berakal, dan boleh kebalikannya. 

Ijab dan kabul adalah kondisi perkawinan
Ijab kabul ini dilakukan di pada satu majelis dan nir boleh ada jeda yang usang antara ijab dan kabul yg Mengganggu kesatuan akad dan kelangsungan akad, dan masing-masing ijab dan kabul dapat didengar dengan baik oleh ke 2 belah pihak dan 2 orang saksi. 

Hanafi membolehkan ada jeda antara ijab dan kabul asal masih di dalam satu majelis & tiada hal-hal yg menerangkan keliru satu pihak berpaling dari maksud akad itu. 

Lafadz yg dipakai buat akad nikah merupakan lafadz nikah atau tazwij, yg terjemahannya merupakan kawin dan nikah. Sebab kalimat-kalimat itu terdapat di pada Sunnah & Kitabullah. Demikian Asy-Syafi'i & Hambali. Sedang Hanafi membolehkan dengan kalimat lain yang nir berdasarkan Al-Qur'an, misalnya menggunakan majaz yang biasa digunakan dalam bahasa sastra atau biasa yang adalah perkawinan. 

Akad nikah itu harus dihindari oleh 2 orang saksi lelaki, muslim, baligh, berakal, melihat (tidak buta), mendengar (nir tuli) dan mengerti mengenai maksud akad nikah, dan juga adil. Saksi merupakan syarat sah perkawinan. 

Menurut Hanafi & Hambali saksi itu boleh seorang lelaki dan boleh orang wanita, sedang dari Hanafi boleh saksi itu 2 orang buta atau 2 orang fasik (tidak adil).[8] buat terjadinya akad yang mempunyai akibat-akibat hokum pada suami istri haruslah memenuhi syarat-kondisi sebagai berikut:

1.Kedua belah pihak harus tamyiz
Jika galat satu pihak ada yg gila atau masih kecil & belum tamyiz ( membedakan benar dan salah ), maka pernikahannya nir absah.
2. Ijab qobulnya pada satu majlis, yaitu waktu mengucapkan ijab qobul nir boleh di selingi menggunakan kata-kata lain, atau menurut istiadat di anggap terdapat penyelingan yang menghalangi peristiwa ijab & qobul.

Tetapi pada ijab dan qobul tak ada syarat wajib  pribadi.Bilamana majlisnya berjalan lama & antara ijab dan qobul ada tenggang waktu, namun tanpa menghalangi upacara ijab qobul, maka pada anggap satu majlis.Sama menggunakan ini pendapat golongan hanafi & hambali.

Dalam kitab   mughni disebutkan: jika ada tenggang ketika antara ijab qobul, maka hukumnya permanen absah, selagi pada satu majlis pula tidak di selingi sesuatu yang mengganggu. Lantaran di pandang satu majlis selama terjadinya upacara akad nikah, dengan alasan sama menggunakan penerimaan tunai bagi barang yang pada syaratkan di terima tunai, sedangkan bagi barang yg nir di syaratkan tunai penerimaannya, barulah disana pada benarkannya hak khiyar ( tetap jadi membeli atau membatalkan).

Bilamana sebelum di lakukan qobul sudah berpisah, maka ijabnya batal.Lantaran makna ijab disini sudah hilang.Sebab, menghalangi mampu dilakukan sang pihak pria menggunakan jalan berpisah diri, sebagai akibatnya menggunakan demikian nir terealisasi qobulnya.Begitu juga kalau kedua-duanya sibuk menggunakan sesuatu yg menyebabkan terputusnya ijab qobul, maka ijabnya batal lantaran upacara qobulnya jadi terhalang.

Sedangkan golongan syafi’I mensyaratkan cara tersebut boleh berasal segera. Mereka ( pakar fiqih) menyampaikan bilamana ijab qabul di selingi sang khutbah si wali, umpamanya: bismillah, Alhamdulillah, washshalatu wassalamu’ala rasulillah, saya terima akad nikahnya. Dalam hal ini ada dua pendapat.

Pertama: syaich Abu Hamid Asfara Yini berpendapat absah. Karena khutbah dan akad nikah pada perintahkan agama.Dan perbuatan ini nir adalah halangan sahnya akad nikah, seperti halnya orang yang bertayamum antara dua shalat yang pada jama’.

Kedua: nir absah, karena memisahkan acara ijab qabul , sebagaimana halnya bila antara ijab qabul itu pada sisihkan sang hal-hal lain di luar khutbah. Dalam hal ini tidak sama menggunakan hokum tayamum di antara 2 shalat yg di jama’ itu memang ada pada perintahkan agama, sedangkan khutbah nikah di perintahkan sebelum ijab qabul.

3. Hendaklah ucapan qabul nir menyalahi ucapan ijab, kecuali bila lebih baik berdasarkan ucapan ijabnya sendiri yg memperlihatkan pernyataan persetujuannya lebih tegas. Jika pengijab mengungkapkan: aku  kawinkan kamu menggunakan anak perempuanku anu, dengan mahar Rp 100 umpamanya, kemudian qabul menyebut : aku  menerima nikahnya  dengan Rp 200 maka nikahnya absah, karena qabulnya memuat hal yang lebih baik ( lebih tinggi nilainya) menurut yg di nyatakan pengijab.

D. Rukun Nikah

1. Dua orang yang saling melakukan aqad perkawinan, yaitu mempelai laki-laki  & mempelai wanita.
2. Adanya wali.
3. Adanya 2 orang saksi 
4. Dilakukan dengan shighat(akad) tertentu. Sighat (akad) yaitu perkataan berdasarkan pihak perempuan   seperti istilah wali. Tidak absah nikah kecuali menggunakan lafadz  nikah.

DAFTAR PUSTAKA

Darajdat,Zakiah.Ilmu Fiqih.Yogyakarta:PT Dana Bhakti Wakaf.
Na’im,Abdul Haris.Fiqih Munakahat. Kudus:Stain Kudus.
Rasjid, Sulaiman.Fiqh Islam.Bandung:Sinar Baru Algesindo.
Supiana-Karman Muhammad.Materi Pendidikan Agama Islam.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Sabiq,sayyid,fiqih sunnah 6.Bandung:PT Alma’arif,1980
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian, Hukum, Syarat, dan Rukun Nikah

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 11/16/2017

0 komentar Pengertian, Hukum, Syarat, dan Rukun Nikah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak