Home » » Pengertian dan Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia

Pengertian dan Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia

Pengertian dan Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia

A. Pengertian Kebudayaan Islam

Kebudayaan Islam merupakan penjelmaan iman dan al-a’malussalihat dari seseorang muslim atau segolongan kaum muslimin atau kebudayaan Islam ialah manifestasi keimanan dan kebaktian menurut penganut Islam sejati. Sedangkan dari sarjana dan pengarang Islam, Sidi Gazalba mendinisikan kebudayaan Islam adalah cara berpikir dan cara merasa Islam yang menyatakan diri dalam semua segi kehidupan berdasarkan segolongan manusia yang membangun kesatuan sosial pada suatu ruang & suatu ketika. Dasar dari kebudayaan Islam merupakan buku Allah (Al-qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya. Apabila terdapat segala hasil, corak dan ragam kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran kepercayaan  Allah & ajaran Rasul-Nya, bukanlah kebudayaan Islam namanya, sekalipun yg menciptakannya mereka-mereka yg menamakan dirinya orang Islam.

B. Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia

Agama Islam ada dalam Abad ke-6 M lalu masuk ke Indonesia dalam abad ke-7 M & mulai berkembang dalam abad ke-13 M. Perkembangan Islam pada Indonesia hampir pada semua Kepulauan Indonesia. Bertolak menurut fenomena tersebut, Islam banyak membentuk peninggalan sejarah yang bercorak Islam di Indonesia yg sangat beraneka ragam. Peninggalan-peninggalan itu diantaranya menjadi berikut:

1. Kaligrafi
Kaligrafi merupakan keliru satu karya kesenian Islam yang paling penting. Kaligrafi Islam yg timbul di dunia Arab merupakan perkembangan seni menulis indah pada alfabet  Arab yang disebut khat. Seni kaligrafi yg bernafaskan Islam adalah rangkaian dari ayat-ayat suci Al-qur’an. Tulisan tadi dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk gambar, contohnya hewan, daun-daunan, bunga atau sulur, tokoh wayang dan sebagainya. Contoh kaligrafi antara lain yaitu kaligrafi dalam batu nisan, kaligrafi bentuk wayang menurut Cirebon & kaligrafi bentuk hiasan.

2. Kraton
Kraton atau istana & terkadang juga disebut puri, adalah badari kota atau sentra kota pada pembangunan. Kraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan & sebagai tempat tinggal raja bersama keluarganya. Pada zaman kekuasaan Islam, didirikan cukup banyak kraton sinkron menggunakan perkembangan kerajaan Islam. Beberapa contoh kraton yaitu kraton Cirebon (didirikan oleh Fatahillah atau Syarif Hidayatullah tahun 1636), Istana Raja Gowa (Sulawesi Selatan), Istana Kraton Surakarta, Kraton Yogyakarta, dan Istana Mangkunegaran.

3. Batu Nisan
Batu nisan berfungsi menjadi tanda kubur. Tanda kubur yang terbuat berdasarkan batu bentuknya bermacam-macam. Pada bangunan batu nisan umumnya dihiasi ukir-tabrakan dan kaligrafi. Kebudayaan batu nisan diduga berasal dari Perancis dan Gujarat. Di Indonesia, kebudayaan tersebut berakulturasi menggunakan kebudayaan setempat (India). Beberapa batu nisan peninggalan sejarah pada Indonesia antara lain menjadi berikut:

a. Batu Nisan Malik as-Saleh
Batu nisan ini dibangun pada atas makam Sultan Malik as-Saleh di Lhokseumawe, Aceh Utara. Sultan Malik as-Saleh merupakan raja pertama berdasarkan kerajaan Samudra Pasai.

b. Batu Nisan Ratu Nahrasiyah
Batu nisan ini dibangun di atas makam ratu Samudra Pasai bernama Nahrasiyah. Ia mati pada tahun 1428. Nisan itu dihiasi kaligrafi yang memuat kutipan Surat Yasin & Ayat Kursi.

c. Batu Nisan Fatimah binti Maimun
Batu nisan ini dibuat sebagai indikasi makam seseorang wanita Islam yang bernama Fatimah binti Maimun. Batu nisan ini terdapat pada Leran, Gresik, Jawa Timur.

d. Batu Nisan Sultan Hasanuddin
Batu nisan ini dibangun di atas makam raja Makasar. Makam Sultan Hasanuddin berada pada satu kompleks menggunakan pemakaman raja-raja Gowa & Tallo. Pada makam tersebut, dibuat cungkup berbentuk kijing. Cungkup itu terbuat menurut batu berbentuk prisma. Kemudian batu itu disusun berbentuk limas. Bangunan limas terpasang dengan alas berbentuk kubus dan di dalamnya masih ada ruangan. Pada ruangan inilah terdapat makam beserta batu nisan.

4. Bentuk Mesjid
Mesjid merupakan satu peninggalan kebudayaan Islam. Sejak masuk & berkembangnya kepercayaan  Islam di Indonesia poly mesjid didirikan & termasuk mesjid antik, di antaranya mesjid Demak, mesjid Kudus, mesjid Banten, mesjid Cirebon, mesjid Ternate, mesjid Angke, dan sebagainya.

a. Mesjid Angke
Mesjid ini terletak pada Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat yang dibangun pada abad ke-18. Mesjid ini beratap tumpang dua. Mesjid Angke adalah mesjid tua yg masih terlihat kekunoannya. Mesjid ini mempunyai gaya arsitektur dan hiasan yg anggun, adalah formasi antara gaya Jawa, Cina, Arab, dan Eropa. Mesjid ini dibangun dalam tahun 1761. Pengaruh agama Islam menyebabkan loka ibadah yg namanya bermacam-macam. Tempat ibadah berukuran mini   disebut langgar, yang ukuran sedang dianggap mesjid, dan yang ukuran besar  diklaim mesjid agung atau mesjid Jami. Mesjid adalah loka peribadatan kepercayaan  Islam (loka orang melakukan salat). Mesjid jua berperan menjadi tempat penggemblengan jiwa & eksklusif-langsung Islam yg hidup pada tengah-tengah masyarakat.

b. Mesjid Demak
Mesjid Demak didirikan pada masa pemerintahan Raden Patah. Bangunan mesjid terletak di Kadilangu, Demak. Mesjid ini beratap tumpang yg mirip menggunakan bentuk pura Hindu. Mesjid Demak didirikan menggunakan bantuan para wali (walisongo). Pembangunan mesjid dipimpin eksklusif oleh Sunan Kalijaga. Keunikan mesjid ini terletak dalam galat satu tiang utamanya, yakni terbuat dari bahan pecahan-pecahan kayu yang disebut tatal (soko tatal).

c. Mesjid Kudus
Mesjid Kudus didirikan oleh Sunan Kudus. Bentuk bangunan masjid ini mempunyai ciri khusus. Bagian menaranya menyerupai candi Hindu.

d. Mesjid Banten
Mesjid Banten didirikan dalam abad ke-16. Bangunannya mempunyai atap tumpang sebanyak lima tingkat. Kemungkinan model bangunan seperti ini buat menggambarkan derajat yg bisa diraih seseorang pada Islam. Menara mesjid Banten dibangun oleh arsitektur Belanda bernama Cardel. Itulah sebabnya, menara tadi bergaya Eropa menyerupai mercusuar.

e. Mesjid Cirebon
Mesjid Cirebon didirikan dalam abad ke-16 M, saat Kerajaan Cirebon berkuasa. Bentuk atap mesjid Cirebon pula berupa atap tumpang, terdiri atas 2 tingkat.

5. Seni Pahat
Seni pahat seiring dengan kaligrafi. Seni pahat atau seni ukir asal dari Jepara, kota awal berkembangnya kepercayaan  Islam pada Jawa yang sangat terkenal. Di dinding depan mesjid Mantingan (Jepara) masih ada seni pahat yang sepintas kemudian merupakan pahatan tumbuhan yg dalam bahasa seninya disebut gaya arabesk, tetapi jika diteliiti dengan saksama   di dalamnya masih ada pahatan simpanse. Di Cirebon malahan terdapat pahatan harimau. Dengan demikian, bisa dimengerti bahwa seni pahat pada kedua daerah tadi (Jepara dan Cirebon), merupakan akulturasi antara budaya Hindu menggunakan budaya Islam.

6. Seni Pertunjukan
Di antara seni pertunjukan yg merupakan seni Islam adalah seni bunyi dan seni tari. Seni bunyi adalah seni pertunjukan yang berisi salawat Nabi menggunakan iringan rebana. Dalam pergelarannya para peserta terdiri atas kaum pria duduk di lantai menggunakan membawakan lagu-lagu berisi pujian untuk Nabi Muhammad Saw. Yg dibawakan secara lunak, namun iringan rebananya terasa mayoritas. Peserta mengenakan pakaian model Indonesia yang sejalan dengan ajaran Islam, misalnya peci, baju tutup, & sarung.

7. Tradisi atau Upacara
Tradisi atau upacara yg adalah peninggalan Islam di antaranya artinya Gerebeg Maulud. Perayaan Gerebeg, dipandang berdasarkan tujuan dan waktunya adalah budaya Islam. Akan tetapi, adanya gunungan ( tumpeng akbar) dan iring-iringan gamelan memperlihatkan budaya sebelumnya (Hindu Buddha). Kenduri Sultan tadi dikeramatkan oleh penduduk yang yakin bahwa berkahnya sangat akbar, yang menerangkan bahwa animisme-dinamisme masih ada. Hal ini dikuatkan lagi menggunakan adanya upacara pembersihan barang-barang pusaka keraton misalnya senjata (tombak & keris) dan kereta. Upacara semacam ini masih kita dapatkan di bekas-bekas kerajaan Islam, misalnya pada Keraton Cirebon dan Keraton Surakarta.

8. Karya Sastra
Peninggalan Kebudayaan Islam yang terakhir merupakan karya sastra. Pengaruh Islam dalam sastra Melayu nir langsung dari Arab, namun melalui Persia & India yang dibawa sang orang-orang Gujarat. Dengan demikian, sastra Islam yg masuk ke Indonesia sudah menerima pangaruh berdasarkan Persia dan India. Karya sastra masa Islam poly sekali macamnya, diantaranya menjadi berikut:

a. Babad
Babad ialah cerita berlatar belakang sejarah yg lebih poly pada bumbui dengan dongeng. Contohnya: Babad Tanah Jawi, Babad Demak, Babad Giyanti, dan sebagainya.

b. Hikayat
Hikayat ialah karya sastra yang berupa cerita atau dongeng yg dibuat menjadi sarana pelipur lara atau pembangkit semangat juang. Contoh, Hikayat Sri Rama, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Amir Hamzah dan sebagainya.

c. Syair
Syair merupakan puisi usang yg tiap-tiap bait terdiri atas empat baris yg berakhir dengan bunyi yg sama. Contoh: Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambuhan, dan Gurindam Dua Belas.

d. Suluk
Suluk merupakan kitab  -kitab   yg berisi ajaran Tasawuf, sifatnya pantheistis, yaitu insan menyatu menggunakan Tuhan. Tasawuf pula sering dihubungkan dengan pengertian suluk yang adalah perjalanan. Alasannya, lantaran para sufi tak jarang mengembara menurut satu loka ke loka lain. Di Indonesia, suluk sang para pakar tasawuf dipakai pada arti karangan prosa maupun puisi. Istilah suluk kadang-kadang dihubungkan menggunakan tindakan zikir & tirakat. Suluk yang populer, pada antaranya: Suluk Sukarsah, Suluk Wijil, Suluk Malang Semirang.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 11/26/2017

0 komentar Pengertian dan Peninggalan Kebudayaan Islam di Indonesia

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak