Home » » Pengertian dan Hakekat Hati Manusia

Pengertian dan Hakekat Hati Manusia

Pengertian dan Hakekat Hati Manusia

A. Pengertian Hati

Hati atau al-qalb terbentuk dari akar istilah qalaba (pada bentuk kata kerja lampau) yang barmakna membalik, lantaran  ia sering kali berbolak-pulang, sekali bahagia dan susah, sekali putusan bulat sekali menolak. Al-qalb amat berpotensi tidak konsisten. Menurut Abi Husain Ibn Faris istilah al-qalb mempunyai makna pokok khalis syai’ wa syarafuhu (inti berdasarkan segala sesuatu dan yang paling utama). Lantaran dia akhlash syai fihi wa arfa’uhu (dia adalah suatu yang paling inti pada diri manusia & yg paling mulia).

Menurut al-Ghazali bahwa hati itu dikatakan secara generik menggunakan 2 arti, yaitu : Hati menggunakan arti daging, yg berbentuk sanubari yang diletakkan sebelah kiri menurut dada yaitu daging yg spesifik, & di dalamnya terdapat lobang, dan di pada lobang itu ada darah hitam yang sebagai asal ruh dan tambangnya. Hati dengan arti sesuatu yg halus, rabbaniyah (ketuhanan), ruhaniyah (kerohaniahan). Dia memiliki kaitan dengan hati jasmaniah. Hati yg halus itulah hakekat insan. Dialah yg mengetahui, yg mengerti, yg  mengenal berdasarkan manusia. Dialah yg diajak bicara, yg disiksa, yg tercela & dituntut. Dan hati yang halus itu memiliki kaitan menggunakan hati yang jasmani, dan akal kebanyakan makhluk bingung dalam mengetahui segi kaitannya. Sesungguhnya kaitannya dengan hati yg jasmani itu menyerupai kaitannya sifat-sifat terpuji dengan tubuh, dan sifat-sifat dengan yang disifati atau kaitannya orang yang menggunakan alat menggunakan alatnya atau kaitannya orang yg bertempat dengan tempatnya.

Jika ada seorang yang bertanya, ’Apakah hati itu’? Dimanakah terletak fakultas hati?”  Biasanya orang-orang menjawab bahwa hati itu terdapat di dada. Jawaban seperti itu sahih. Ada pusat syaraf pada dalam dada insan yang begitu sensitive terhadap perasaan-perasaan, sebagai akibatnya selalu dianggap menjadi hati. Bilamana seseorang merasakan kenikmatan hebat, kenikmatan itu berada di pusat syaraf tadi. Dia mencicipi sesuatu bersinar pada dalam dadanya, dan melalui cahaya  pusat tadi semua wujudnya tampak bersinar, beliau merasa seperti terbang. Dan bila seorang dilanda depresi atau putus harapan dalam hidupnya, perasaan tadi akan menghipnotis sentra syaraf tadi. Seseorang akan mencicipi tenggorokannya seperti tercekik, dan nafasnya sesak seperti tertindis.

Perasaan adalah getaran, dan hati merupakan kendaraannya, dan aspek terpenting dari pikiran adalah perasaan. Apabila fakultas ini nir terbuka, maka bagaimana pun pandai  & bijaknya seseorang, ia tidaklah sempurna, beliau tidak hayati. Pikiran hayati ketika perasaan dalam diri seseorang terjaga. Banyak orang memakai istilah perasaan, tetapi sedikit berdasarkan mereka yg mengetahui hakekat perasaan.  Dan semakin manusia mengetahuinya, maka akan semakin sedikit beliau berbicara tentangnya. Wilayah perasaan sangatlah luas, sebagai akibatnya indikasi-indikasi mengenai Tuhan pun akan kita temukan dalam perasaan.

Tetapi hati bukan hanya itu. Untuk mengerti hati, seseorang wajib  menggambar sebuah cermin pada depan hatinya, cermin itu diarahkan dalam hati sebagai akibatnya setiap hal & setiap perasaan terpantul pada bagian atas cermin itu, yg berada dalam wujud fisik manusia. Sebagaimana manusia tidak mengerti jiwanya, beliau pun nir mengetahui di mana letak hatinya, di mana letak sentra tersebut, di mana perasaan-perasaannya tereflesikan. Telah menjadi kabar yang diketahui ilmuwan bahwa saat seseorang anak dibentuk, pembetukannya dimulai dari hati. Tetapi konsep ahli gaib mengungkapkan bahwa hati , selain adalah permulaan pembentukan, juga adalah ruh yang menciptakan insan sebagai pribadi. Kedalaman ruh itulah yg dalam realita kita sebut  hati. Melalui hal ini kita mengerti bahwa terdapat suatu hal seperti hati, yang merupakan relung terdalam berdasarkan keberadaan insan.

Banyak orang percaya bahwa melalui bantuan akal, manusia akan bertindak berdasarkan baku moral tertentu. Tetapi sebenarnya bukan nalar yg membuat orang menjadi baik, dan bahkan apabila mereka tampak baik dan taat, kebaikan dan ketaatan itu dilakukan dengan dibentuk-untuk. Seorang narapidana dipenjara dapat nampak berlaku sopan santun. Tetapi ketaatan alami bisa ditemukan pada loka lain, yaitu pada pancaran hati yang darinya kehidupan muncul, & setiap tetes dari pancaran ini adalah kebajikan hidup. Ini membuktikan bahwa kebaikan itu bukanlah buatan manusia.

Sebagaimana firman Allah yang berbunyi/terjemahannya :
’”Maka apakah mereka nir berjalan pada muka bumi, kemudian mereka memiliki hati yg menggunakan itu mereka dapat tahu atau memiliki telinga yg dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, adalah hati yang pada pada dada.” Q.S. 22 Surah Al Hajj. Ayat 46.

Berdasarkan ayat tersebut di atas maka jelaslah bahwa seorang yg melakukan prilaku tercela bukanlah karena panca alat yang nir berfungsi namun hati orang yang bersangkutan yang tertutup pada melakukan kebajikan-kebajikan. Dan bukanlah logika yang menciptakan orang sebagai baik, namun ada suatu hal, yakni hati, yang adalah relung terdalam dari keberadaan insan yang sanggup menuntun manusia melakukan kebajikan..

B. Hakekat Hati Manusia

Suara hati: suara insan  itulah suatu dilemma yang semu, karena suara hati adalah kedua-duanya bersama-sama: suara hati adalah bunyi insan dan bunyi Allah, pada suatu pengalaman penting di mana insan menghayati bagaimana keakuannya yg diintensifkan, sejauh dia berkelakuan sebagai suatu makhluk yang bersifat ’ekssentris’, artinya yg pusatnya berada di luar batas-batas kodratnya, tetapi sekaligus pada dalam dirinya dalam bentuk suatu panggilan buat selalu melampaui batas-batas itu ke arah Allah. Itulah ’dinamisme spiritual’ sejati. Itulah signifikan kongkret menurut pernyataan mengenai manusia sebagai : imago Dei, gambaran Allah sendiri.

Manusia dalam hakikatnya memiliki bunyi hati yg sama, dan  dianggap God-spot atau fitrah. Sebagaimana pada dalam al-Qur`an disebutkan bahwa sebelum bumi & insan diciptakan, ruh manusia telah mangadakan perjanjian dengan Allah, Allah bertanya kepada jiwa insan: “Bukankah Aku Tuhanmu?” Lalu ruh manusia menjawab: “Ya, kami bersaksi…!” (baca : surah al-A`raf ; 127). Bukti adanya perjanjian ini menurut Muhammad Abduh merupakan adanya fitrah iman didalam jiwa manusia. Menurut Prof. Dr. N. Dryarkara, S.J. Adalah adanya bunyi hati manusia. Suara hati itu adalah bunyi Tuhan yang terekam di dalam jiwa manusia.

Karena itu jika manusia hendak berbuat buruk, maka niscaya akan tidak boleh oleh suara hati  nuraninya. Sebab yang kuasa nir mau jika manusia berbuat tidak baik. Kalau manusia permanen mengerjakan perbuatan yg jelek itu maka bunyi hatinya akan bernasehat. Dan kalau terselesaikan niscaya akan menyesal. Mac Scheler menyampaikan bahwa penyesalan adalah  pertanda balik  kepada Tuhan. Tetapi adakalanya suara hati itu tertutup, buta. Manusia acapkali mengabaikan pengakuan ini, yang justru menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam kejahatan, kecurangan, kekerasan, kerusakan, kehancuran (non-fitrah) & lain hal yang terdapat dalam akhirnya menyebabkan kegagalan atau nir efektif, dan tidak maksimalnya suatu bisnis.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Hakekat Hati Manusia

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 11/27/2017

0 komentar Pengertian dan Hakekat Hati Manusia

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak