Home » » 5 Pelajaran dari Kehidupan Lebah

5 Pelajaran dari Kehidupan Lebah

5 Pelajaran dari Kehidupan Lebah

Pelajaran hidup dari Lebah

Dalam surat An-Nahl yg adalah lebah, menaruh inspirasi pada kita buat bisa menegakkan pilar-pilar kehidupan yg penuh menggunakan ketenangan. Setidaknya ada lima pilar yang tercermin pada surat tadi buat menuju dalam kenyamanan hidup.

1. Kemandirian

Lebah dalam menciptakan sarangnya, dia pergi ke gunung-gunung, bukit, pohon-pohon atau tempat lain yang nyaman buat melakukan produktifitas madu & sejenisnya. Seperti pada firman Allah QS An-Nahl : 68 : “Dan Tuhanmu mewahyukan pada lebah: "Buatlah sarang-sarang pada bukit-bukit, pada pohon-pohon kayu, dan pada tempat-tempat yang dibikin insan"

Keluarga muslim bisa belajar bagaimana lebah ini membentuk kemandiriannya dalam keluarga, pada memilih arah dan kebijakan buat meraih tujuan. Kemandirian ekonomi, kemandirian nilai dan kemandirian pada menghadapi aneka macam goncangan hayati merupakan harga meninggal yang harus dimiliki sang keluarga muslim.

Keluarga muslim berarti memiliki kemandirian manakala mampu istiqamah berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dalam menjalani kehidupan meskipun berhadapan dengan hambatan yg berat & lingkungan yg nir Islami. Dan dalam kehidupan sekarang yg imbas era globalisasi sedemikian akbar, mempunyai kemandirian nilai menjadi masalah yang amat krusial, lantaran sesama anggota famili memang tidak mampu saling mengawasi setiap saat, bahkan tingkat kesibukan yg tinggi membuat anggota keluarga sulit berkomunikasi meskipun indera-indera komunikasi sudah semakin sophisticated.

2. Selalu Makan yang Halal

Lebah hanya merogoh kuliner berdasarkan loka yg manis, yang halal dan thayyib. 
Allah berfirman dalam QS An-Nahl : 69 : 
“Kemudian makanlah berdasarkan tiap-tiap (macam) buah-buahan & tempuhlah jalan Tuhanmu yg sudah dimudahkan (bagimu). Berdasarkan perut lebah itu ke luar minuman (madu) yg bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya dalam yg demikian itu benar-benar terdapat indikasi (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yg memikirkan.”

Maka jadikanlah keluarga anda sebagai famili islami yang hayati menurut barang-barang yang halal dan jauh menurut ketidak jelasan. Halal dalam mencarinya & halal dalam membelanjakannya. Bila syariat sudah melarang kita memberi makan famili berdasarkan asal nafkah yg haram, maka telah menjadi kewajiban suami supaya hanya memberikan nafkah berdasarkan asal yang halal, sebagai akibatnya meskipun sedikit nafkah yang bisa diberikan suami tetapi menerima barokah Allah, insya Allah. 

Allah SWT berfirman pada QS. Al-Baqarah ayat 172,
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah pada antara rezki yg baik-baik yang Kami berikan kepadamu & bersyukurlah kepada Allah, apabila benar-benar pada-Nya engkau  menyembah.”

Seorang istri harus mengingatkan suaminya supaya nir mencari nafkah pada pekerjaan yang tidak boleh Allah dan tidak mengambil harta orang lain dengan jalan yang batil. Ia sudah semestinya mengungkapkan pada suaminya, Takutlah kamu dari bisnis yang haram karena kami masih bisa bersabar di atas kelaparan, tetapi tidak bisa bersabar di atas api neraka.

3. Banyak Manfaatnya

Dari input yg baik, maka menghasilkan hasil yang baik juga. Sebagaimana lebah, famili muslim berorentasi dalam memberi bukan menunggu anugerah, atau menanti penerimaan berdasarkan orang lain. Allah berfirman : “Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya” (An Nahl 69) Dan Rasulullah juga bersabda : Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi insan lainnya. Sebaik-baik keluarga adalah famili yang selalu memberi manfaat pada orang lain. Kebahagiaan bukan hanya kerana bisa memenuhi keperluan diri dan famili, tetapi pula sanggup memberi kebahagiaan pada orang lain.

4. Mampu Bersosialisasi dengan Baik

Lebah dapat hinggap diranting yang mini   tanpa mematahkannya.Rasulullah saw bersabda: “Seorang mukmin yg bergaul menggunakan poly orang dan sabar atas tindakan tidak baik mereka itu lebih baik daripada seorang mukmin yang nir pernah berteman dan nir tabah atas tindakan buruk mereka” Maka profil keluarga muslim mestinya mempunyai semangat human relation yangbaik, buat menciptakan interaksi & jaringan sosial di tengah warga . 

Keluarga adalah faktor primer pada pembentukan ciri atau kepribadian individu atau anak pada kehidupan bermayarakat. Kunci sukses hayati bermasyarakat merupakan kemampuan buat menjalin hubungan pertemanan. Dan bila keluarga mengharapkan anaknya mampu bergaul dengan baik & sahih dalam masyarakat, maka usahakan dilakukan pengenalan terhadap anak sejak dini. Namun, mengajarkan anak senang bergaul atau bergaul didalam lingkungan sosial atau lingkungan masyarakat tidaklah gampang. Khususnya bagi anak yg memang senang menyendiri  atau nir senang berteman.

Sosialisasi perlu dilakukan terhadap anak, karena apabila anak tidak dibekali aturan-aturan sosial dan nilai-nilai Islam maka waktu anak berkecimpung remaja atau dewasa dan mulai berteman dengan poly orang, anak akan mendapat benturan berdasarkan lingkungan sosial atau lingkungan masyarakatnya. Bentuk dari benturan-benturan ini mampu beragam, anak yg tidak dibekali sang anggaran-anggaran sosial dan nilai Islam tetapi memiliki rasa percaya diri yg kuat, maka anak sanggup dipercaya aneh oleh masyarakat. Proses sosialisasi yang dilakukan sang orang tua juga ditentukan oleh profesi atau pekerjaan orang tua, status orang tua dilingkungan mayarakat dan kemampuan ekonomi serta faktor yg lainnya. Berbagai profesi atau pekerjaan yang dimiliki sang orang tua mempunyai imbas yg sangat penting mengenai bagaimana cara orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

5.Ketulusan yang Paripurna

Lebah menggunakan lapang dada berperan membantu penyerbukan bunga.Ketulusan ini adalah inspirasi mulia, bahwa memberi itu lebih mulia daripada menadahkan tangan buat menerima, apalagi meminta-minta. Dalam memberikan apapun  tidak perlu hitung-hitungan lantaran Allah pun akan menghitung.

“Bersedekahlah dan jangan engkau  menghitung-hitung sebagai akibatnya Allah jua akan memakai hitungan-hitungan terhadapmu” (HR Ahmad)

Bukan saja pada kasus finansial, tetapi juga pada cinta & kasih saying. “Sebagaimana engkau  memperlakukan, begitu pula engkau  akan diperlakukan” (HR Ibn ‘Ady). Semangat memberi rasa cinta inilah yg akan melanggengkan bangunan famili. Karena cinta akan menjadi perekat yg selalu aktual menghadapi prahara. Lantaran orang yang berorientasi buat memberi tentu akan selalu berusaha buat menggali & mencari mutiara dalam famili. Kehidupan rumah tangga Rasulullah penuh dengan ketulusan menaruh rasa cinta. Itu sebabnya dakwah Islam mengalami kesuksesan.

Maka setiap muslim dianjurkan untuk selalu lapang dada menaruh cintanya pada pasangannya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ’alahi wasallam secara tulus mengekspresikan cinta pada para istrinya. Beliau pernah memanggil ’Aisyah dengan sebutan humaira, yang berarti pipi kemerahan. Tentu saja ekspresi cinta berupa kebanggaan ini melambungkan hati ’Aisyah. Rasulullah pun nir memalukan memberikan ikhlas cinta dalam ’Aisyah saat terdapat seorang sahabat yang bertanya tentang siapa yang dicintai oleh Nabi. Dari golongan pria Rasulullah menjawab Abu Bakar, sedangkan menurut golongan perempuan   adalah ’Aisyah.
Terimakasih telah membca artikel berjudul 5 Pelajaran dari Kehidupan Lebah

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 11/10/2017

0 komentar 5 Pelajaran dari Kehidupan Lebah

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak