Skip to main content

Sejarah Terbentunya Dinasti Aghlabiyah

Sejarah Terbentunya Dinasti Aghlabiyah

A. Pembentukan Dinasti Aghlabiyah

Luasnya wilayah kekuasaan Islam dalam masa pemerintahan dinasti Abbasiyah mengakibatkan kontrol pemerintahan pusat terhadap pemerintahan wilayah mengalami kelemahan. Meskipun pemerintahan sentra pada Baghdad telah mengambil kebijaksanaan menggunakan mengirim para gubernurnya untuk berkuasa di wilayah itu, tampaknya duduk perkara tadi tidak dapat teratasi. Sehingga terjadilah proses disintegrasi daerah, dimana daerah-daerah tadi tidak lagi tunduk pada pemerintah pusat, namun mereka berusaha melepaskan diri menurut kekuasaan pusat. Situasi itu diperparah saat pemerintah pusat mengalami kesulitan ekonomi dan kekacauan politik. 

Di antara wilayah yang memisahkan diri dari kekuasaan Abbasiyah merupakan Ifriqiyyah, sekarang merupakan daerah pada sekitar Tunisia. Di daerah tadi berdiri sebuah dinasti yaitu dinasti Aghlabiyah.

Dinasti Aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim ibn Aghlab pada tahun 800. Ia dari dari Khurasan, Persia. Secara formal, dinasti ini masih terikat kepada pusat kekhalifahan Abbasiyah, namun dalam hakikatnya beliau sudah sebagai pemerintahan yg merdeka. Kemunculan dinasti ini diawali menggunakan pemberian  swatantra sang khalifah Harun al-Rasyid kepada Ibrahim ibn Aghlab atas wilayah yg diperintahnya, menggunakan harapan bisa Mengganggu meluasnya kekuasaan Rustamiyah dan Idrisiyah. Untuk tujuan tersebut, maka khalifah menaruh kekuasaan penuh kepada Ibrahim buat mengatur segala sesuatunya. Meskipun demikian tetap berada pada bawah kekuasaan Abbasiyah. Karena jauhnya wilayah Aghlab berdasarkan sentra Abbasiyah maka kekuatannya bertambah besar  sehingga nir terkontrol lagi pemerintah sentra.

Dinasti ini bertahan sampai satu abad (800-909) dan dipimpin oleh 11 orang raja yang bergelar Amir. Kesebelas Amir tadi yaitu: Ibrahim ibn Aghlab (184/800), Abdullah I (179/812), Ziyadatullah I (201/817), Abu Iqbal al-Aghlab (223/832), Muhammad I ( 226/841), Ahmad (242/856), Ziyadatullah II (249/863), Abdul Gharaniq/Muhammad II (250/863), Ibrahim II (261/875), Abdullah II (289/902), dan Ziyadatullah III (290/903).

B. Kemajuan yang Dicapai Dinasti Aghlabiyah


Tunisia adalah sebuah sentra natural bagi rezim dan rakyat Arab Muslim, waktu rakyat Timur Tengah yg dalam berabad-abad telah mengalami naik-turunnya beberapa imperium, di Charthaginian dan pada beberapa daerah Romawi hanya Tunis yang telah berbagi infrastruktur perkotaan, pertanian, dan perdagangan yang sangat dibutuhkan bagi keberadaan sebuah pemerintahan yang memusat. Berdasarkan basis ini dinasti Aghlabiyah mengangkat gubernur-gubernur Arab buat daerah Tripolitania, Tunisia dan daerah Timur Aljazair menurut tahun 800-909. Organisasi pemerintah Aghlabiyah pada dasarnya asal dari preseden Tunisia, Praktik bangsa Arab Timur Tengah, teknik moneter Bizantium, dan orang-orang yang semula menjadi pegawai Bizantium. Elit Aghlabiyah bukan semata berdasarkan keturunan invader Arab, menurut Barbar yg sudah menjadi Islam dan diarabkan, dan berdasarkan tentara budak yg berkulit hitam. Staf administratif Aghlabi terdiri menurut klien (Mawalli) yg berlindung kepada orang-orang Arab dan kalangan migran Persia, rakyat pribumi yg memiliki dua bahasa, dan sebagian dari penganut Kristen dan Yahudi.

Selama masa pemerintahan dinasti ini, peradaban Muslim berkembang pesat di Tunisia dan Aljazair menggunakan pusat kotanya pada Qairuwan. Setelah menaklukkan dan menguasai kepulauan Sicilia dari kekuasaan Bizantum, Dinasti Aghlabiyah menyatukan kepulauan ini sebagai daerah kekuasaannya dalam tahun 832. Malta diserbu dan dijadikan sebagai daerah kekuasaannya pada tahun 868.

C. Kemunduran Dinasti Aghlabiyah


Proses kejatuhan Dinasti Aghlabaiyah terjadi selesainya wafatnya Ziyadatullah I (Amir III berdasarkan dinasti Abbasiyah :817). Penguasa sepeninggal Ziyadatullah I mulai larut dengan kemewahan sebagai akibatnya kendali pemerintahan sulit dijalankan dengan baik seperti dalam masa jayanya. Hal tersebut lambat laun makin melemahkan dinasti ini.

Tunisia yang adalah basis bagi pemerintahan Aghlabiyah diguncang sang gerakan Fathimiyah dan oleh migrasi bangsa Arab Hilali secara terus menerus. Pada tahun 909 dinasti ini akhirnya ditaklukkan oleh dinasti Fathimiyah. Amir yg terakhir menurut dinasti Aghlabiyah merupakan Abu Mudhar Ziyadatullah.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar