Home » » Sejarah Kebudayaan Indonesia dan Pandangan Masyarakat Terhadap Budaya

Sejarah Kebudayaan Indonesia dan Pandangan Masyarakat Terhadap Budaya

   
Sejarah Kebudayaan Indonesia dan Pandangan Masyarakat Terhadap Budaya

A. Sejarah Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan Indonesia meski beraneka ragam, namun dalam dasarnya terbentuk dan ditentukan sang kebudayaan akbar lainnya contohnya kebudayaan Tionghoa (menurut keterangan dari cina), kebudayaan India dan kebudayaan Arab. 

Kebudayaan India khususnya masuk dari penyebaran agama Hindu dan Budhha pada Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. 


Kerajaan Hindu dan Budha sempat menguasasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi. 

Kebudayaan Tionghoa masuk dan mensugesti kebudayaan Indonesia lantaran hubungan perniagaan yg intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Di samping itu, poly pula yang masuk bareng perantau-perantau Tionghoa yang mendarat menurut wilayah selatan Tiongkok dan menetap pada Nusantara. 

Mereka menetap & menikahi warga lokal membuat barisan kebudayaan Tionghoa dan lokal yg unik. Kebudayaan laksana inilah yg kemudian sebagai keliru satu akar daripada kebudayaan lokal terkini pada Indonesia seperti kebudayaan Jawa dan Betawi.

Kebudayaan Arab masuk beserta penyebaran agama Islam sang pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam bepergian mereka mengarah ke Tiongkok.

Penetrasi kebudayaan bisa terjadi memakai 2 cara:
a. Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya suatu kebudayaan dengan jalan tenang. Misalnya, masuknya impak kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan ke 2 macam kebudayaan tadi tidak mengakibatkan pertarungan, namun memperkaya khasanah kebiasaan masyarakat setempat. Pengaruh ke 2 kebudayaan ini juga tidak menyebabkan hilangnya unsur-unsur orisinil kebiasaan masyarakat. Penyebaran kebudayaan secara tenang bakal menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalahbersatunya 2 kebudayaan sebagai akibatnya membina kebudayaan baru tanpa menghilangkan bagian kebudayaan orisinil. Contohnya, format bangunan Candi Borobudur yg merupakan kelompok antara kebudayaan pribumi Indonesia & kebudayaan India. Asimilasi adalahbercampurnya dua kebudayaan sebagai akibatnya menyusun kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis ialah bercampurnya 2 kebudayaan yang menyebabkan pada terbentuknya suatu kebudayaan baru yg paling tidak sinkron dengan kebudayaan orisinil.

b. Penetrasi Kekerasan (penetration violante)
Masuknya suatu kebudayaan dengan teknik memaksa & Mengganggu. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai memakai kekerasan sehingga memunculkan goncangan-goncangan yang menghambat keseimbangan dalam masyarakat. Wujud kebiasaan dunia barat antara beda merupakan kebiasaan menurut Belanda yg menjajah sekitar 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat pada Indonesia antara beda dalam sistem pemerintahan Indonesia.

B. Cara Pandang Masyarakat terhadap Kebudayaan

1. Kebudayaan Sebagai Peradaban
Saat ini, banyak sekali orang tahu usulan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 & mula abad ke-19. Gagasan mengenai “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yg dijajahnya. Mereka mengasumsikan ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” menjadi versus kata dari “alam”. Menurut teknik pikir ini, kebudayaan satu memakai kebudayaan beda dapat diperbandingkan; salah  satu kebudayaan tentu lebih tinggi menurut kebudayaan lainnya.

Pada prakteknya, istilah kebudayaan merujuk dalam benda-benda & pekerjaan yang “elit” contohnya misalnya menggunakan baju yg berkelas, fine art, atau memperhatikan musik klasik, ad interim istilah berkebudayaan dipakai buat mencerminkan orang yang mengetahui, & merogoh bagian, menurut kegiatan-aktivitas di atas. Sebagai contoh, bilamana seorang berpendendapat bahwa musik klasik adalahmusik yg “berkelas”, elit, & bercita rasa seni, sedangkan musik tradisional dirasakan menjadi musik yg kampungan dan ketinggalan zaman, maka hadir asumsi bahwa dia adalahorang yang sudah “berkebudayaan”.

Orang yg menggunakan kata “kebudayaan” menggunakan teknik ini tidak percaya terdapat kebudayaan beda yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan melulu ada satu & sebagai tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut teknik pandang ini, seorang yang memiliki kelaziman yang bertolak belakang dengan mereka yg “berkebudayaan” dinamakan sebagai orang yang “nir berkebudayaan”; bukan menjadi orang “dari kebudayaan yg lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” disebutkan lebih “alam,” dan semua pengamat sering menjaga elemen menurut keterangan dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) buat mengurangi pemikiran “insan alami” (human nature)

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menampik buat memperbandingkan antara kebudayaan memakai alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka mengasumsikan bahwa kebudayaan yang sebelumnya diandalkan  “tidak elit” & “kebudayaan elit” ialah sama – setiap masyarakat memiliki kebudayaan yg tidak bisa diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan sejumlah kebudayaan menjadi kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau pekerjaan yang diproduksi & dikonsumsi sang tidak sedikit orang.

2. Kebudayaan menjadi “sudut pandang generik”
Selama Era Romantis, semua cendekiawan di Jerman, terutama mereka yg peduli terhadap gerakan nasionalisme – laksana contohnya perjuangan nasionalis buat membulatkan Jerman, & perjuangan nasionalis menurut etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria – menyebarkan sebuah usulan kebudayaan pada “sudut pandang generik”. Pemikiran ini memandang suatu kebiasaan dengan kebiasaan lainnya mempunyai perbedaan & kekhasan masing-masing. Karenanya, kebiasaan tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, usulan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “nir berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”

Pada akhir abad ke-19, semua pakar antropologi telah memakai istilah kebudayaan dengan pengertian yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka menduga bahwa setiap manusia tumbuh & berevolusi beserta, & dari perubahan itulah terbuat kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan – grup memakai konduite yg tidak banyak tidak sama menurut kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek riset sang semua pakar sosiologi. Pada abad ini juga, terjadi popularisasi pandangan baru kebudayaan perusahaan – perbedaan dan talenta dalam konteks pekerja organisasi atau loka bekerja.

3. Kebudayaan menjadi Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang terdapat ketika ini mengasumsikan bahwa (suatu) kebudayaan adalahsebuah produk menurut keterangan dari stabilisasi yang melekat pada tekanan perubahan menuju kebersamaan & kesadaran bareng dalam sebuah rakyat, atau biasa dirasakan menggunakan tribalisme.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Sejarah Kebudayaan Indonesia dan Pandangan Masyarakat Terhadap Budaya

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/19/2017

0 komentar Sejarah Kebudayaan Indonesia dan Pandangan Masyarakat Terhadap Budaya

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak