Home » » Prinsip-prinsip dan Tujuan Hukum Islam

Prinsip-prinsip dan Tujuan Hukum Islam

Prinsip-prinsip dan Tujuan Hukum Islam

A. Prinsip-Prinsip Hukum Islam

Adapun prinsip-prinsip hukum islam diuraikan secara singkat berikut ini.
1. Hukum Islam Meniadakan kepicikan dan tidak Memberatkan 
Tabiat insan tidak menyenangi beban yang memberi batas kemerdekaannya dan insan senantiasa menyimak beban hukum dengan paling hati-hati. Manusia tidak bergerak mengekor perintah kecuali bila perintah-perintah tersebut dapat menawan hatinya. Mempunyai daya dinamika, kecuali perintah yang digarap dengan keterpaksaan. Syari’at Islam bisa menarik insan dengan amat cepat dan mereka bisa menerimanya dengan sarat ketetapan hati. Hal ini ialah karena Islam menghadapkan pembicaraannya untuk akal dan mendesak insan bergerak dan berjuang serta mengisi kehendak fitrah yang sejahtera. Hukum Islam mernuju untuk toleransi, persamaan, kemerdekaan, mengajak yang ma’ruf dan menangkal yang mungkar.

Nabi menjelaskan dalam hadistnya.
Artinya:
tidak boleh memudharatkan orang dan jangan dimudharatkan orang (HR.al-Thabrani)
Artinya :
Agama tersebut mudah, maka mudahkanlah dan tidak boleh kamu menyukarkan (HR.Bukhari dan Nusai).

Hukum Islam senantiasa memberikan fasilitas dan menjauhi kesulitan, seluruh hukumnya dapat dilakukan oleh umat manusia. Karena tersebut dalam hukum Islam dikenal istilah rukhsah (peringanan hukum). Contoh dari rukhsah ialah kebolehan berbuka untuk musafir yang merasa tidak powerful berpuasa. Dalam hukum Islam pun dikenal istilah dharurah (hukum yang berlaku pada ketika keterpaksaan). Contoh; dharurah ialah kebolehan memakan makanan yang diharamkan bilamana terpaksa. Penetapan ini didasarkan pada kaidah fiqh.
الضرورات تبيح المحصورات
Artinya :
 Keadaan darurat menjadikan apa yang semula terlarang dibolehkan.

Ayat-ayat al-Qur’an yang mengindikasikan bahwa beban kewajiban untuk manusia tidak pernah mempunyai sifat memberatkan.
Adalah inilah ini :
 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا…
Terjemahnya :
Allah tidak memberi beban pada manusia, tetapi sesuai dengan kesanggupannya. (al-Baqarah 286)
… يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ …
Terjemahnya :
Allah menghendaki fasilitas bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (al-Baqarah 185)

2.  Hukum Islam Menyedikitkan Beban

Nabi tidak mengizinkan para sahabatnya menggandakan pertanyaan mengenai hukum yang belum ada, yang nantinya bakal memberatkan mereka sendiri, Nabi SAW, malah menganjurkan supaya mereka memetik kaidah-kaidah umum. Kita ingat bahwa ayat-ayat al-Qur’an mengenai hukum melulu sedikit. Yang tidak banyak tersebut malah memberikan lapangan yang luas untuk manusia guna berijtihad. Dengan demikian hukum Islam tidak kaku, keras dan berat untuk umat manusia.

Sangkaan-sangkaan jangan dijadikan dasar penetapan hukum. Allah berfirman :
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Terjemahaannya :
Hai orang-orang yang beriman janganlah anda bertanya-tanya mengenai sesuatu yang belum dijelaskan kepadamu bakal menyusahkanmu, namun nkalau anda tanyakan (tentang ayat-ayat itu) padfa masa-masa turunannya, akan dijelaskan kepadamu; Allah memaafkan anda dan Allah Maha Pengasih lagi penyabar. ( Al- Maidah.101)

Ini semua mengindikasikan bahwa Islam mengajarkan umatnya supaya bersifat realistis. Ketika Nabi ditanya apakah keharusan haji tersebut tiap tahun, Nabi membalas : “ Kalau pertanyaan tersebut saya jawab “ya”, maka bakal menjadi keharusan bagiku; (karena itu), biarkan saja sekitar aku meninggalkanmu; sungguh sudah rusak sejumlah (kaum) yang sebelum anda ini sebab terlalu membanyakkan pertanyaan dan perselisihan tentang Nabi-nabi mereka”.
Allah SWT berfirman :
 يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Terjemahannya :
Allah berkeinginan meninggalkan (keberatan) dari anda karena manusia dibuat lemah. (An-Nisa, 28)

3.  Hukum Islam Ditetapkan secara bertahap

Tiap-tiap masyarakat tentu memiliki adat kelaziman atau tradisi, baik tradisi itu adalahtradisi yang baik maupun tradisi yang membahayakan mereka sendiri. Tradisi itu ada yang berakat secara mendalam dalam darah daging mereka dan terdapat yang sifatnya melulu dangkal.
Bangsa arab, saat Islam datang, memiliki tradisi dan kesukaan yang sulit dihilangkan dalam sekejap saja. Apabila dihilangkan sekaligus, akan memunculkan konflik, kendala dan ketegangan batin.

Dalam sosiologi Ibnu Khaldun ditetapkan bahwa “suatu masyarakat (tradisional atau yang tingkat intelektualnya masih rendah) bakal menentang bilamana ada sesuatu yang baru atau sesuatu yang datang lantas dalam kehidupannya, lebih-lebih bilamana sesuatu yang baru itu berlawanan dengan tradisi yang ada”. Masyarakat bakal senantiasa menyerahkan respon bilamana timbul sesuatu ditengah-tengah mereka.

Dengan mengingat hal tradisi dan ketidaksenangan insan untuk menghadapi eksodus sekaligus dari suatu suasana kepada suasana yang beda yang tidak jarang sama sekali untuk mereka. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, surah demi surah dan ayat demi ayat cocok dengan peristiwa, situasi dan kondisi yang terjadi. Dengan teknik demikian, hukum yang diturunkannya lebih disenangi oleh jiwa dan lebih mendorong ke arah mentaatinya, serta bersiap-siap meninggalkan peraturan lama dan menerima peraturan baru.

Karena perjudian dan menuman keras sudah berurat dan berakar dalam tradisi arab, bahkan menjadi kehormatan hati sehingga diungkapkan dalam syair-syairnya. Maka dalam menghapusnya Islam tidak berlaku ceroboh. Hukum Islam mengharamkan minuman keras dengan berangsur-angsur. 

Mula-mula diturunkan firman Allah SWT yang berbunyi :
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا
Terjemahannya :
“Mereka bertanya kepadamu mengenai khamar dan judi. Katakanlah ; pada dua-duanya terapat dosa yang besar dan sejumlah manfaat untuk manusia, namun dosa keduanyalebih besar dari manfaatnya”( Al- Baqarah,219 )

Ayat ini belum menyerahkan suatu larangan yang tugas untuk peminum khamar, namun baru mengabarkan bahwa kerugiannya lebih banyak dripada manfaatnya. Kemudian sesudah jiwa mereka bisa mempertimbangkan untung ruginya minuman dan khamar, maka turun lagi firman Allah SWT yang berbunyi :

Terjemahannya :
Hai orang-orang yang beriman, tidak boleh kamu shalat, sedang anda dalam suasana mabuk, sehingga anda menerti apa yang anda ucapkan. (An-Nisa, 43)

Baru sesudah turun kedua ayat itu Allah  menurunkan ayat yang dengan tegas mengharamkan minuman keras. Allah berfirman :
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Terjemahannya :
Hai orang-orang yang beriman, bahwasannya (minuman) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, ialah perbuatan keji yang termasuk tindakan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu supaya kamu mendapat tuah (Al-Maidah, 90)

4. Hukum Islam Memperhatikan Kemaslahatan Manusia

hubungan sesama insan adalahmanifestasi dari hubungan dengan pencipta, andai baik hubungan dengan insan lain, maka baik pula hubungan penciptanya. Karena tersebut hukum Islam paling menekankan kamanusiaan.
Ayat-ayat yang bersangkutan dengan penetapan hukum tidak pernah meninggalkan masyarakat sebagai bahan pertimbangan. Oleh karna dalam penetapan hukum senantiasa didasarkan pada tiga sendi pokok, yakni :
a. Hukum - hukum  diputuskan  setelah  masyarakat memerlukan  hukum -hukum itu.
b. Hukum-hukum diputuskan oleh sesuatu dominasi yang berhak memutuskan hukum dan menundukkan masyarakat kebawah ketetapannya.
c. Hukum-hukum diputuskan menurut keterangan dari kadar keperluan masyarakat.

Dalam kaidah ushul fiqh, ditetapkan :
 الحكم يدور مع عاته وجودا وعدما
Artinya :
Ada dan tidaknya hukum tersebut bergantung untuk sebab (illatnya)
 لاينكرتغير الاحكابتغيرالازمان
Artinya :
 Tidak diingkari adanya evolusi hukum diakibatkan oleh perubahannya masa.

Namun demikian, terbentuknya hukum Islam disamping didorong oleh kebutuhan-kebutuhan praktis, ia juga ditelusuri dari kata hati untuk memahami yang dibolehkan dan yang dilarang.

5. Hukum Islam Mewujudkan Keadaan yang Merata

Berdasarkan keterangan dari syari’at Islam, seluruh orang sama. Tidak ada keunggulan seorang insan dari yang beda dihadapan hukum orang kaya dan orang berpangkat tidak terlindungi oleh harta dan pangkat saat yang terkaitberhadapan dengan pengadilan. Dalam khutbah haji wada’ yang pengikutnya nyaris seluruhnya orang berkebangsaan Arab, Rasulullah bersabda, “Tidak terdapat perbedaan antara orang Arab dan ajam”. Firman Allah Swt. mengaku :
 وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
Terjemahannya :
Dan janganlah kebencianmu terhadap sebuah kaum, mendorong anda berlaku tidak adil. Berlaku adillah, sebab berlaku adil tersebut lebih dekat untuk takwa (Al-Maidah, 8)
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا

Terjemahannya :
Hai orang-orang yang beriman, jadilah anda orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi sebab Allah biarpun terhadap dirimu atau ibu bapakmu dan kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya (An-Nisa, 135)

Pada sebuah ketika, orang-orang Quraisy disibukkan oleh peristiwa seorang perempuan yang berkeinginan dieksekusi potong tangan sebab mencuri. Orang quraisy bercita-cita untuk melepaskan hukuman untuk wanita tersebut. mereka mengucapkan maksud tersebut melewati orang terdekat Rasulullah yakni Usamah bin zaid. Ketika mendengar pengaduan 

Usamah, Nabi SAW menjadi marah dan bersabda :
 يااسامة لااراك تشفع في حدود من حدود الله عزوجل انما هلك من كان من قبلكم بانه اذا سرق فيهم الشريق تركوه واذا سرق فيهم الضعيف فعلوه والذي نفسي بيده لو كانت فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها
Artinya :
Hai usamah, apakah anda memberi syafa’at (dispensasi) terhadap seseorang dalam menjalankan sesuatu had dari had Allah ? bahwasannya telah binasa orang-orang sebelum anda lantaran mereka suka menculik diantara mereka orang yang berpangkat, mereka biarkan (tidak dihukum), dan andai yang mencuri tersebut orang rendah mereka laksanakan had itu. Demi Allah, misalkan Fatimah Puteri Muhammad mencuri, tentulah Muhammad mencukur tangannya.

Kaidah-kaidah umum yang mesti diacuhkan dalam memutuskan humum ialah :
a. Mewujudkan Keadilan.
Kebanyakan filosot memandang bahwa keadilan adalahtujuan tertinggi dari penetapan hukum. Hukum tanpa keadilan dan moralitas bukanlah hukum dan tidak bertahan lama. Sistem hukum yang tidak punya akar subtansi pada keadilan dan moralitas bakal terpental.
b. Mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat
c. Menetapkan hukum yang bersesuaiaan dengan suasana darurat. Apa yang tidak dibolehkan dalam suasana normal jangan dalam suasana darurat.
d. Pembalasan mesti cocok dengan dosa yang dilakukan
e. Tiap-tiap orang memikul dosanya sendiri

Jadi untuk membuat kedamaian dan kesejahteraan dalam masyarakat, maka mesti dimulai dari penegakan hukum dan keadilan yang merata untuk seluruh anggota masyarakat. Karena tanpa keadilan, maka kedamaian dan kesejahteraan tidak bakal tercapai.

B. Tujuan Hukum Islam

Dari segi bahasa Megashid Al-Syari’at berarti maksud atau destinasi di syariatkan hukum Islam sebab itu, yang menjadi kupasan utama didalamnya ialah mengenai masalah hikmat dan Illat ditetapkannya sebuah hukum. Pembahasan mengenai tujuan ditetapkannya hukum dalam Islam adalahkajian yang unik dalam bidan Ushul fiqh. Dalam pertumbuhan selanjutnya, kajian ini adalahkajian utama dalam filsafat hukum Islam. Sehingga dapat disebutkan bahwa istilah Magashid Al-syariat identik dengan istilah filsafat hukum Islam. Istilah yang dilafalkan terakhir ini melibatkan pertanyaan-prtanyaan kritis mengenai tujuan diputuskan suatu hukum.

Tujuan hukum mesti diketahui oleh mujtahid dalam rangka mengembangkan pemikiran hukum dalam Islam secara umum dan membalas persoalan-persoalan hukum kontemporer yang kasusnya tidak ditata secara ekplisit oleh Al-Qur’an dan Hadits. Lebih dari tersebut tujuan hukum mesti diketahui dalam rangka mengetahui, apakah suatu permasalahan masih dapat diputuskan menurut satu peraturan hukum, sebab adanya evolusi struktur sosial, hukum itu tidak bisa diterapkan. Dengan demikian “pengetahuan mengenai magashid al-syariat menjadi kunci untuk keberhasilan mujtahid dalam ijtihadnya”. 3 pasti yang dimaksud dengan permasalahan hukum-hukum di sini ialah hukum yang mencantol bidang mu’amalat.

Diakui bahwa pada dasarnya bidang mu’amalat dalam ilmu fiqih bisa diketahui arti dan rahasianya oleh insan (ma’qullatu al-ma’na). Sepanjang masalah tersebut “reasonable” maka pencarian terhadap masalah-masalah mu’amalah menjadi penting. Dalam urusan ini mujtahid dapat, bahkan mesti, mempertanyakan kenapa Allah SWT dan Rasulnya memutuskan hukum tertentu dalam bidang mu’amalah. Pernyataan semacam ini lazim diajukan dalam filsafat hukum Islam. Pengaruh lebih jauh dari pengakuan tersebut merupakan, apakah sebuah aturan hukum tertentu masih bisa diterapkan dalam permasalahan hukum tertentu.

Dalam menghadapi persoalan-persoalan kontemporer, perlu dianalisis lebih dahulu esensi dari masalah tersebut. riset terhadap permasalahan yang akan diputuskan hukumnya sama pentingnya dengan riset terhadap sumber yang bakal dijadikan dalilnya. Artinya, bahwa dalam memutuskan nash terhadap satu permasalahan yang baru, kandungan nash mesti dianalisis dengan cermat, termasuk menganalisis tujuan disyari’at hukum tersebut, setelah tersebut perlu dilaksanakan “studi kelaikan” (tanqih al-manath), apakah ayat atau hadits tertentu pantas untuk diterapkan pada permasalahan yang baru itu. Boleh jadi ada permasalahan hukum baru yang serupa dengan permasalahan hukum yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Padahal setelah diselenggarakan penelitian yang seksama, ternyata kasus tersebut tidak sama. Konsekwensinya, permasalahan tersebut tidak dapat disamakan hukumnya dengan permasalahan yang terdapat pada kedua sumber hukum yang utama itu. Disinilah letak pentingnya pengetahuan mengenai tujuan umum disyari’atkan hukum dalam Islam.

Tujuan Allah SWT mensyari’atkan hukumnya ialah untuk merawat kemaslahatan manusia, sekaligus guna menghindari masfadat, baik di dunia maupun di akhirat. Tujuan itu hendak dijangkau melaluai taklif, yang pelaksanaannya tergantung pada pemahaman sumber hukum yang utama, Al-Qur’an dan Hadits. Dalam rangka mewujudkan kemaslahatan di dunia dan akhirat, menurut riset para berpengalaman ushul fiqih, terdapat lima bagian pokok yang mesti dipelihara dan diwujudkan, kelima pokok tersebut ialah agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Seorang mukallaf akan mendapat  kemaslahatan, kebalikannya ia akan menikmati adanya mafsadat, manakala ia tidak dapat merawat kelima bagian dengan baik.

Berdasarkan keterangan dari Al-Syatibi, penetapan kelima pokok di atas didasarkan atas dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits. Dalil-dalil tersebut bermanfaat sebagai al-qawaid al-kuliyyat dalam memutuskan al-kuliyyat al-khams. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dasar pada umumnya ialah ayat-ayat makiyah, yang tidak naskh dan ayat-ayat Madaniyah yang mengukuhkan ayat-ayat Makkiyah. Diantara ayat-ayat itu ialah yang bersangkutan dengan keharusan shalat, larangan membunuh jiwa, larangan meminum minuman yang  memabukkan, larangan berzina dan larangan memakan harta orang beda dengan teknik tidak benar.4Ia setelah menyelenggarakan penelitian dengan seksama, berkesimpulan bahwa oleh sebab dalil-dalil yang dipakai untuk memutuskan al-kuliyyat al-khams tergolong dalil qath’i. Maka ia pun dapat dikelompokkan sebagai qath’i.5 Agaknya yang dimaksud dengan istilah qath’I oleh Al-Syatibi ialah bahwa al-kuliyyat al-khams, dari sisi landasan hukum, bisa dipertanggung jawabkan, dan oleh karena tersebut ia bisa dijadikan sebagai dasar menetap hukum.

Guna kepentingan memutuskan hukum, kelima bagian di atas dipisahkan menjadi tiga peringkat, daruriyyat,hajiyyat dan tahsiniyyat. Pengelompokan ini didasarkan pada tingkat keperluan dan skala prioritasnya. Urutan peringkat ini bakal terlihat kepentingannya, manakala kemaslahatan yang terdapat pada setiap peringkat satu sama beda bertentangan. Dalam urusan ini peringkat daruriyyat menduduki urutan kesatu, disusul oleh hajiyyat, lantas disusul oleh tahsiniyyat. Namun disisi beda dapat disaksikan bahwa peringkat ketiga melengkapi peringkat kedua, dan peringkat kedua melengkapi peringkat kesatu.

Yang dimaksud dengan memelihara kumpulan daruriyyat ialah memelihara kebutuhan-kebutuhan yang mempunyai sifat esensial untuk kehidupan manusia. Kebutuhan yang esensial itu ialah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta, dalam batas tidak boleh sampai keberadaan kelima pokok tersebut terancam. Tidak terpenuhinya atau tidak terpeliharanya kebutuhan-kebutuhan tersebut akan berdampak terancamnya keberadaan kelima pokok di atas. Berbeda dengan kumpulan daruriyyat, keperluan dalam kumpulan hajiyyat, tidak termasuk keperluan yang esensial, melainkan keperluan yang bisa menghindarkan insan dari kendala dalam hidupnya.Tidak terpeliharanya kumpulan ini tidak mengancam keberadaan kelima kumpulan di atas, tetapi melulu akan memunculkan kesulitan untuk mukallaf. Kelompok ini erat kaitannya dengan rukhsah atau keringanan dalam ilmu fiqih. Sedangkan keperluan dalam kumpulan tahsiniyyat ialah kebutuhan yang menunjang penambahan martabat seseorang dalam masyarakat dan dihadapan Tuhannya, cocok dengan kepatutan.

Pada hakikatnya, baik kumpulan daruriyyat, hajiyyat,maupun tahsiniyyat, dimaksudkan merawat ataupun mewujudkan kelima pokok laksana yang dilafalkan di atas. Hanya saja peringkat kepentingannya bertolak belakang satu sama lain. keperluan dalam kumpulan kesatu dapat disebutkan sebagai keperluan primer, yang bila kelima pokok itu dilalaikan maka akan berdampak terancamnya keberadaan kelima pokok itu. Kebutuhan dalam kumpulan kedua dapat disebutkan kebutuha sekunder. Artinya kalu kumpulan diabaikan, maka tidak akan menakut-nakuti eksistensinya, tetapi akan mempersulit dan mempersempit kehidupan manusia. Sedangkan keperluan dalam kumpulan ketiga erat kaitannya dengan upaya untuk mengawal etiket cocok dengan kepatutan, dan tidak bakal mempersulit, lagipula mengancam keberadaan kelima pokok itu. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa keperluan dalam kumpulan ketiga lebih mempunyai sifat komplementer, pelengkap.
Guna memperoleh cerminan yang utuh mengenai teori maqashid al-Syari’at, sebagai berikut akan diterangkan kelima pokok kemaslahatan dengan peringkatnya masing-masing.10 Uraian ini bertitik tolak dari kelima pokok kemaslahatan, yakni : agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Kemudian setiap dari kelima pokok tersebut akan disaksikan menurut kepentingan dan kebutuhannya.

1. Memelihara Agama (Hifzh al-Din)
menjaga atau merawat agama, menurut kepentingannya, dapat dipisahkan menjadi tiga peringkat :

a. Memelihara agama dalam peringkat daruriyyat, yaitu merawat dan melaksanakan keharusan keagamaan yang masuk peringkat primer, seperti mengemban shalat lima waktu. Kalau shalat tersebut diabaikan, maka terancamlah keberadaan agama.
b. Meme lihara agama  dalam  peringkat hajiyyat, yakni melaksanakan peraturan agama, dengan maksud menghindari kesulitan, laksana shalat jamak dan shalat qashar untuk orang yang sedang bepergian. Kalu peraturan ini tidak dilakukan maka tidak bakal mengancam keberadaan agama, melainkan melulu akan mempersulit untuk orang yang melakukannya.
c. Memelihara  agama  dalam  peringkat  tahsiniyyat, yaitu mengekor petunjuk agama untuk menjunjung tinggi martabat manusia, sekaligus melengkapi pelaksanaan keharusan terhadap Tuhan. Misalnya memblokir aurat, baik didalam maupun diluar shalat, mencuci badan, pakaian dan tempat. Kegiatan ini erat kaitannya dengan akhlak yang terpuji. Kalau urusan ini tidak barangkali untuk dilakukan, maka urusan ini tidak bakal mengancam keberadaan agama dan tidak pula mempersulit untuk orang yang melakukannya. Artinya, bila tidak terdapat penutup aurat, seseorang boleh shalat, tidak boleh sampai meningglkan shalat yang termasuk kumpulan daruriyyat. Kelihatannya memblokir aurat ini tidak bisa dikategorikan sebagai pelengkap (tahsiniyyat), sebab keberadaannya paling diperlukan untuk kepentingan manusia. Setidaknya kepentingan ini dimasukkan dalam kelompok hajiyyat atau daruriyyat. Namun, bila mengikuti pengelompokan di atas, tidak berarti sesuatu yang tergolong tahsiniyyat itu dirasakan tidak penting, sebab kelompok ini bakal menguatkan kumpulan hajiyyat dan daruriyyat.

2. Memelihara Jiwa (Hifzh al-Nafs)
Memelihara jiwa, menurut tingkat kepentingannya, dapat dipisahkan menjadi tiga peringkat :
a. Memelihara  jiwa  dalam   peringkat  daruriyyat, laksana memenuhi keperluan pokok berupa makanan untuk menjaga hidup. Kalau keperluan pokok ini diabaikan, maka akan berdampak terancamnya keberadaan jiwa manusia.
b. Memelihara  jiwa,  dalam  peringkat hajiyyat, seperti diizinkan berburu hewan untuk merasakan makanan yang lezat dan halal. Kalau pekerjaan ini diabaikan, maka tidak bakal mengancam keberadaan manusia, melainkan melulu akan mempersulit hidupnya.
c. Memelihara jiwa dalam peringkat tahsiniyyat, laksana ditetapkannya tata teknik makan dan minum. Kegiatan ini hanya bersangkutan dengan kesopanan dan etika, sama sekali tidak bakal mengancam keberadaan jiwa manusia, ataupun mempersulit kehidupan seseorang.

3.  Memelihara Akal (Hifzh al-‘Aql)
 Memelihara akal, dilihat dari sisi kepentingannya, dapat dipisahkan menjadi tiga peringkat :
a. Memelihara akal dalam peringkat daruriyyat, laksana diharamkan meminum minuman keras. Jika peraturan ini tedak diindahkan, maka akan berdampak terancamnya keberadaan akal.
b. Memelihara  akal  dalam peringkat hajiyyat, laksana dianjurkannya menurut keterangan dari ilmu pengetahuan. Sekiranya urusan tersebut dilakukan, maka tidak bakal merusak akal, dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
c. Memelihara  akal  dalam  peringkat tahsiniyyat. Seperti menghindarkan diri dari menghayal atau memperhatikan sesuatu yang tidak berfaedah. Hal ini erat kaitannya dengan etiket, tidak bakal mengancam keberadaan akal secara langsung.

4. Memelihara Keturunan (Hifzh al-Nasl)
Memelihara keturunan, ditinjau dari sisi tingakat kebutuhannya, dapat dipisahkan menjadi tiga peringkat :
a. Memelihara   keturunan dalam peringkat daruriyyat,seperti disyari’atkan nikah dan dilarang berzina. Kalau pekerjaan ini diabaikan, maka keberadaan keturunan bakal terancam.
b. Memelihara  keturunan dalam peringkat hajiyyat, laksana ditetapkannya peraturan menuliskan mahar untuk suami pada masa-masa akad nikah dan diserahkan hak talak padanya. Jika mahar tersebut tidak dilafalkan pada masa-masa akad, maka suami akan merasakan kesulitan, sebab ia akan menunaikan mahar misl. Sedangkan dalam permasalahan talak, suami akan merasakan kesulitan, andai ia tidak memakai hak talaknya, sebenarnya situasi lokasi tinggal tangganya tidak harmonis.
c. Memelihara keturunan  dalam peringkat tahsiniyyat, laksana disyaria’atkan khitbah atau walimat dalam perkawinan. Hal ini dilaksanakan dalam rangka melengkapi pekerjaan perkawinan. Jika urusan ini diabaikan, maka tidak bakal mengancam keberadaan keturunan, dan tidak pula mempersulit orang yang mengerjakan perkawinan.

5. Memelihara Harta (Hifl al-Mal)
Dilihat dari sisi kepentingannya, merawat harta dapat dipisahkan menjadi tiga peringkat :
a. Memelihara  harta dalam peringkat daruriyyat, laksana syariat mengenai cara-cara pemilikan harta dan larangan memungut harta orang beda dengan teknik yang tidak sah. Apabila aturan tersebut dilanggar, maka berdampak terancamnya keberadaan harta.
b. Memelihara harta dalam peringkat hajiyyat,seperti syari’at mengenai jual beli dengan teknik salam. Apabila teknik ini tidak dipakai, maka tidak bakal mengancam keberadaan harta, tetapi akan mempersulit orang yang membutuhkan modal.
c. Memelihara harta dalam peringkat tahsiniyyat, seprti peraturan tentang menghindarkan diri dari pengecohan atau penipuan. Hal ini erat kaitannya dengan etika bermu’amalah atau etika bisnis. Hal ini pun akan dominan kepada sah tidaknya jual beli itu, karena peringkat yang ketiga ini pun adalahsyarat adanya peringkat yang kedua dan kesatu.

Dalam masing-masing peringkat, laksana telah diterangkan di atas, terhadap hal-hal atau pekerjaan yang mempunyai sifat menyempurnakan terhadap pelaksanaan destinasi syari’at Islam. Dalam peringkat daruriyyat, contohnya ditentukan batas paling tidak minimum yang memabukan dalam rangka merawat akal, atau diputuskan adanya pertimbangan (tamasul) dalam hukum qishas,untuk merawat jiwa. Dalam peringkat hajiyyat, misalnya diputuskan khiyar dalam jual-beli untuk merawat harta, atau diputuskan kafa’at dalam perkawinan, untuk merawat keturunan. Sedangkan dalam peringkat tahsiniyyat, misalnya diputuskan tata teknik thaharat dalam rangka pengamalan shalat, untuk merawat agama.

Mengetahui urutan peringkat maslahat di atas menjadi urgen artinya, bilamana dihubungkan dengan skala prioritas penetapannya, saat kemaslahatan yang satu berbenturan dengan kemaslahatan yang lain. dalam urusan ini pasti peringkat kesatu, daruriyyat, mesti didahulukan dari pada peringkat kedua, hajiyyat, dan peringkat ketiga, tahsiniyyat. Ketentuan ini menunjukkan, bahwa dibetulkan mengabaikan hal-hal yang tergolong dalam peringkat yang kedua dan ketiga, manakala kemaslahatan yang masuk peringkat kesatu dalam bahaya eksistensinya. Misalnya seseorang diharuskan untuk memenuhi keperluan pokok pangan guna memelihara keberadaan jiwanya. Makanan yang dimaksud mesti makanan halal. Manakala pada suatu ketika ia tidak menemukan makanan yang halal, sebenarnya ia bakal mati bila tidak makan, maka makanan dalam situasi tersebut ia dibolehkan memakan makanan yang diharamkan, demi menjaga keberadaan jiwanya. Makan, dalam urusan ini termasuk mengawal jiwa dalam peringkat daruriyyat; sementara makanan yang halal termasuk merawat jiwa dalam peringkat hajiyyat. Jadi mesti didahulukan merawat jiwa dalam peringkat daruruyyat dari pada peringkat hajiyyat. Begitu pula halnya manakala peringkat tahsiniyyat berbenturan dengan peringkat hajiyyat, maka peringkat hajiyyat mesti didahulukan dari pada peringkat tahsiniyyat. Misalnya mengemban shalat berjama’ah tergolong peringkat hajiyyat, sementara persyaratan adanya imam yang shalh, tidak fasik, tergolong peringkat tahsiniyyat. Jika dalam satu kumpulan umat Islam tidak ada imam yang mengisi persyaratan tersebut, maka dibetulkan beriman pada imam yang fasik, demi mengawal shalat berjam’at yang mempunyai sifat hajiyyat.

Keadaan di atas melulu terbatas pada yang bertolak belakang peringkat. Adapun dalam permasalahan yang peringkatnya sama, laksana peringkat daruriyyah, dengan peringkat daruriyyat, dan seterusnya, maka kemumngkinan penyelesaiaannya inilah ini :
1)  Jika perbenturan tersebut terjadi dalam urutan yang bertolak belakang dari lima pokok kemaslahatan tersebut, maka skala prioritas didasarkan pada urutan yang telah baku, yaitu agama mesti didahulukan dari pada jiwa, dan jiwa mesti didahulukan dari pada akal, dan begitu seterusnya. Dengan kata beda urutan kelima pokok kemaslahatan tersebut sudah dirasakan baku dan sudah memiliki pengaruh atau dampak tersendiri. Agaknya pembekuan urutan itu melulu didasarkan pada riset yang diajukan oleh pencetus teori ini. Namun, bilamana dicermati, diantara kelima unsur tersebut maka merawat jiwa itu format adalahunsur yang sentral dalam kaitannya dengan kemaslahatan yang mempunyai sifat duniawi.12 Karena tersebut dalam permasalahan tertentu merawat jiwa bisa didahulukan dari pada merawat keyakinan.

Berikut ini dikemukakan sejumlah contoh dari skala prioritas urutan itu, menurut urutan yang telah dirasakan baku :
a) Jihad di jalan Allah tergolong dharuriyyat, bila dihubungkan dengan memelihara keberadaan agama. dalam batas dalam bahaya eksistensinya, merawat agama ialah dharuriyyat,dan untuk tersebut disyari’atkan jihad yang tidak jarang membawa korban manusia. Dalam urusan ini, merawat agama dengan jihad mesti didahului dari pada merawat jiwa.
b) Seseorang dibetulkan meminum minuman keras, yang pada dasarnya merusak akal, bilamana ia dalam bahaya jiwanya sebab tidak meminum minuman itu. Dalam urusan ini, ia mesti didahulukan merawat jiwa dari pada merawat akal.
2. Jika perbenturan terjadi dalam peringkat dan urutan yang sama, laksana sama-sama mengawal harta atau mengawal jiwa didalam peringkat dharuriyyat, maka mujtahid berkewajiban untuk menganalisis dari segi jangkauan kemaslahatan tersebut sendiri atau adanya hal lain yang menguatkan di antara kemaslahatan yang mesti didahulukan. Misalnya pemakaian tempat tertentu guna kepantingan orang banyak, laksana untuk jalan atau pengairan, kadang-kadang berbenturan dengan kepunyaan seseorang yang mesti dilepaskan, demi kepentingan orang banyak. Dalam urusan ini kepentingan orang tidak sedikit harus didahulukan dari pada kepentingan perorangan. Kedua kemaslahatan ini berada pada peringkat hajiyyat, dalam rangka merawat harta.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Prinsip-prinsip dan Tujuan Hukum Islam

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/02/2017

0 komentar Prinsip-prinsip dan Tujuan Hukum Islam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak