Home » » Pengertian, Syarat, dan Pembagian Hadis Shahih

Pengertian, Syarat, dan Pembagian Hadis Shahih

Pengertian, Syarat, dan Pembagian Hadis Shahih

A. Pengertian Hadis Shahih

Pengertian Hadis shahih yaitu  hadis yg sanadnya bersambungan melalui periwayatan orang yang adil lagi dhabit menurut orang yg adil lagi dhabit juga, sampai ujungnya, tidak syaz dan nir mu’allal.  Pengertian tersebut dijelaskan oleh Ibnu shalah. Sementara itu, Ajjaj al-Khatib memberikan definisi hadis shahih, yaitu: “Hadis yg bersambungan sanadnya melalui periwayatan perawi tsiqah menurut perawi lain yg tsiqah juga sejak awal sampai ujungnya (rasulullah saw) tanpa syuzuz tanpa illat”

B. Syarat-syarat Hadis Sahih

Dengan demikian Ajjaj al-Khatib mengemukakan kondisi-syarat terhadap sebuah hadis buat dapat disebut sebagai hadis shahih, yaitu: 
a. Muttashil sanadnya
b. Perawi-perawinya adil 
c. Perawi-perawinya dhabit 
d. Yang diriwayatkan nir syaz
e. Yang diriwayatkan terhindar dari illat qadihah (illat yang mencacatkannya).

Shubhi Shalih jua memberikan rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam melihat keshahihan sebuah hadis, yaitu:
a. Hadis tersebut shahih musnad, yakni sanadnya bersambung hingga yg teratas.
b. Hadis shahih bukanlah hadis yang syaz yaitu rawi yang meriwayatkan memang terpercaya , akan namun beliau menyalahi rawi-rawi yang lain yang lebih tinggi.
c. Hadis shahih bukan hadis yg terkena ‘illat. Illat adalah: sifat tersembunyi yang menyebabkan hadis tadi stigma dalam penerimaannya, kendati secara zahirnya terhindar menurut illat.
d. Seluruh tokoh sanad hadis shahih itu adil dan cermat

Definisi-definisi dan rambu-rambu yang diutarakan oleh muhaddisin mengenai hadis shahih diatas, menggunakan kalimat yg tidak sama, tetapi nir menunjukkan adanya disparitas pada pemahaman karakteristik hadis shahih. Dengan istilah lain, bahwa sebuah hadis dikatakan shahih, bila hadis tersebut mempunyai sanad yg bersambung (muttashil) sampai ke rasulullah saw. Dinukil berdasarkan dan sang orang yang adil lagi dhabit tanpa adanya unsur syaz juga mu’allal (terkena illat).

Dengan demikian jika ada hadis yg sanadnya munqathi’, mu’dal dan muallaq dan sebagainya, maka hadis tersebut tidak bisa dikatakan menjadi hadis shahih. Demikian halnya menggunakan illat sebuat hadis, apabila sebuah hadis memiliki illat juga syaz, maka nir bisa diklaim hadis shahih. Meskipun definisi dan rambu-rambu yg dikemukakan sang muhaddisin mengenai hadis shahih diatas nir masih ada disparitas dalam pemahaman ciri-ciri hadis shahih, tetapi pada penerapan masing-masing persyaratan kadang-kadang tidak sama, misalnya pada hal persambungan sanad, ada yang mengatakan bahwa yg dimaksud menggunakan kontiniu sanadnya merupakan apabila periwayat satu menggunakan periwayat thabaqah berikutnya wajib  benar -betul “serah terima” hadis, insiden serah terima ini bisa dilihat berdasarkan redaksi jadi tidak relatif hanya menggunakan   karena   tidaklah menjamin bahwa proses cukup hanya dengan pemindahan itu secara langsung.

C. Pembagian Hadis Shahih

Adapun pembagian hadis shahih yaitu:
a. Shahih li Dzatihi 
Shahih li Dzatihi yaitu hadis yg mencakup seluruh syarat-syarat atau sifat-sifat hadis maqbul secara paripurna, dinamakan “shahih li Dzatihi” karena telah memenuhi  semua kondisi shahih,& tidak butuh menggunakan riwayat yg lain buat sampai dalam puncak  keshahihan, keshahihannya telah tercapai menggunakan sendirinya. Untuk lebih jelasnya, berikut penulis kemukakan contoh hadis yg diriwayatkan oleh al-Bukhari:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي ؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ    ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوك  

Hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah diatas, merupakan salah  satu hadis shahih yg tidak masih ada ke-syaz-an juga illat.

b. Shahih li ghairihi
Shahih li ghairihi yaitu hadis hasan li dzatihi (tidak memenuhi secara sempurna syarat-syarat tertinggi hadis maqbul),yg diriwayatkan melalui sanad yang lain yang sama atau lebih bertenaga darinya, dinamakan hadis shahih li ghairihi karena predikat keshahihannya diraih melalui sanad pendukung yg lain. Berikut contoh hadis shahih li ghairihi yang diriwayatkan sang at-Tirmidzi :

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاة.  ٍ

Hadis tersebut dinilai sang muhaddisin sebagai hadis shahih li ghairihi sebagaimana dijelaskan diatas. Pada sanad hadis tersebut, terdapat Muhammad bin ‘Amr yg dikenal orang amanah, akan namun kedhabitannya kurang sempurna, sehingga hadis riwayatnya hanya sampai ke tingkat hasan. Namun keshahihan hadis tadi didukung oleh adanya hadis lain, yang lebih tinggi derajatnya sebagaimana hadis yg diriwayatkan oleh al-Bukhari berdasarkan A’raj menurut Abu Hurairah (pada contoh hadis shahih li dzatihi).

Dari sini dapat kita ketahui bahwa prestise hadis shahih ini tergantung kepada ke-dhabit-an dan ke-adil-an para perawinya. Semakin dhabit & semakin adil si perawi, makin tinggi pula strata kualitas hadis yang diriwayatkannya.Yg diistilah oleh para muhaddisin sebagai ashahhul asanid.

Ashahhul Asanid, yaitu rangkaian sanad yg paling tinggi derajatnya, al-Khatib mengemukakan, bahwa dikalangan ulama terdapat disparitas pendapat mengenai ashahhul asanid, terdapat yang menyampaikan:
1. Riwayat Ibn Syihab az-Zuhry menurut Salim Ibn Abdillah ibn Umar menurut Ibn Umar.
2. Sebagian lagi menyampaikan: ashahhul asanid adalah riwayat Sulaiman al-A’masy dari Ibrahim an-Nakha’iy menurut Alqamah Ibn Qais dari Abdullah ibn Mas’ud.
3. Imam Bukhari & yg lain menyampaikan, ashahhul asanid adalah riwayat imam Malik ibn Anas menurut Nafi’ maula Ibn Umar dari ibn Umar. Dan lantaran imam Syafi’i adalah orang yg paling utama yang meriwayatkan hadis dari Imam Malik dan Imam Ahmad merupakan orang yg paling utama yg meriwayatkan berdasarkan Imam Syafi’i, maka sebagian ulama muta’akhirin cenderung menilai bahwa ashahhul asanid merupakan riwayat Imam Ahmad berdasarkan Imam Syafi’i menurut Imam Malik dari Nafi’ dari Ibn Umar r.A. Inilah yg dianggap silsilah ad-dzahab (mata rantai emas).

DAFTAR PUSTAKA

Rahman, Fathur Ikhtishar,  Mushthalah Hadis, Bandung: al-Ma’arif ,1991
Fattah, Ibrahim Abdul, Alqaul al-Hasif Fi Bayani al-hadis ad-Dhaif , Kairo: Dar    Thiba’ah al-Muhammadiyah, 1992
Hasby as-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, Jakarta: PT.Bulan Bintang,1987)
al-Khatib, Muhammad Ajjaj, Ushul Hadis Ulumuhu wamusthalahatuhu, Beirut: Dar          al-Fikr, 1975
Yuslem, Nawir, Ulumul hadis,[t.T], Mutiara sumber Widya, 2001
al-Qatthan , Manna’ Khalil, Mabahits Fi ‘Ulum al-Hadis diterjemahkan sang Mifdol          Abdurrahman pada judul Pengantar ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka al-Kautsar       cet.II, 2006
Sayyidi ,Taufiq Umar, Manhaj ad-Dirayah wa Mizan ar-Riwayah, [t.D]
Shalih, Subhi, Ulumul Hadis Wamustalahatuhu, Beirut; Dar al‘Ilm, 1988.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian, Syarat, dan Pembagian Hadis Shahih

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/23/2017

0 komentar Pengertian, Syarat, dan Pembagian Hadis Shahih

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak