Home » » Pengertian dan Tata Cara Pelaksanaan Sujud Sahwi

Pengertian dan Tata Cara Pelaksanaan Sujud Sahwi

Pengertian dan Tata Cara Pelaksanaan Sujud Sahwi

A. Pengertian Sujud Sahwi

Sahwi secara bahasa bermakna tak sempat atau lalai. Sujud sahwi secara istilah ialah sujud yang dilaksanakan di akhir shalat atau sesudah shalat guna menutupi cacat dalam shalat sebab meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau menggarap sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.

B. Pelaksanaan Sujud Sahwi Sebelum atau Sesudah Salam

Shidiq Hasan Khon rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tegas yang menjelaskan tentang sujud sahwi kadang melafalkan bahwa sujud sahwi terletak sebelum salam dan kadang pula setelah salam. Hal ini mengindikasikan bahwa boleh mengerjakan sujud sahwi sebelum ataukah setelah salam. Akan namun lebih bagus andai sujud sahwi ini mengikuti teknik yang telah diberikan contoh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Jika ada alasan yang menyatakan bahwa sujud sahwi ketika tersebut sebelum salam, maka hendaklah dilaksanakan sebelum salam. Begitu pula andai ada dalil.

yang menyatakan bahwa sujud sahwi ketika tersebut sesudah salam, maka hendaklah dilaksanakan sesudah salam. Di samping hal ini, maka di situ terdapat pilihan. Akan tetapi, memilih sujud sahwi sebelum atau setelah salam itu melulu sunnah (tidak hingga wajib, pen).”[1]

Intinya, andai shalatnya butuh ditambal sebab ada kekurangan, maka hendaklah sujud sahwi dilaksanakan sebelum salam. Sedangkan andai shalatnya telah pas atau berlebih, maka hendaklah sujud sahwi dilaksanakan sesudah salam dengan destinasi untuk menghinakan setan.

Adapun penjelasan tentang letak sujud sahwi  sebelum ataukah setelah salam dapat disaksikan pada rincian berikut.

Jika terdapat kelemahan pada shalat-seperti kelemahan tasyahud awwal-, ini berarti kelemahan tadi perlu ditambal, maka menutupinya pasti saja dengan sujud sahwi sebelum salam guna menyempurnakan shalat. Karena andai seseorang sudah menyampaikan salam, berarti ia sudah berlalu dari shalat.

Jika terdapat keunggulan dalam shalat seperti terdapat peningkatan satu raka’aat-, maka hendaklah sujud sahwi dilaksanakan sesudah salam. Karena sujud sahwi ketika tersebut untuk menghinakan setan.

Jika seseorang terlanjur salam, tetapi ternyata masih memiliki kelemahan raka’at, maka hendaklah ia menyempurnakan kelemahan raka’at tadi. Pada ketika ini, sujud sahwinya ialah sesudah salam dengan destinasi untuk menghinakan setan.

Jika ada keragu-raguan dalam shalat, kemudian ia mengingatnya dan dapat memilih yang yakin, maka hendaklah ia sujud sahwi setelah salam guna menghinakan setan.

Jika ada keragu-raguan dalam shalat, kemudian tidak nampak baginya suasana yang yakin. Semisal ia ragu apakah shalatnya empat atau lima raka’at. Jika ternyata shalatnya benar lima raka’at, maka ekstra sujud tadi guna menggenapkan shalatnya tersebut. Jadi seolah-olah ia shalat enam raka’at, bukan lima raka’at. Pada ketika ini sujud sahwinya ialah sebelum salam sebab shalatnya ketika tersebut seakan-akan butuh ditambal diakibatkan masih terdapat yang tidak cukup yaitu yang belum ia yakini.

C. Tata Cara Sujud Sahwi

Sebagaimana telah diterangkan dalam sejumlah hadits bahwa sujud sahwi dilaksanakan dengan dua kali sujud di akhir shalat sebelum atau setelah salam Ketika hendak sujud disyariatkan untuk menyampaikan takbir “Allahu akbar” demikian pula ketika hendak bangkit dari sujud disyariatkan guna bertakbir.

Contoh teknik melakukan sujud sahwi sebelum salam diterangkan dalam hadits ‘Abdullah bin Buhainah,
فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ
“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika tersebut beliau bertakbir pada masing-masing akan sujud dalam posisi duduk. Beliau kerjakan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Contoh teknik melakukan sujud sahwi setelah salam diterangkan dalam hadits Abu Hurairah,
فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ
“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah tersebut beliau bertakbir, kemudian bersujud. Kemudian bertakbir lagi, kemudian beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, kemudian beliau sujud kedua kalinya. Sesudah tersebut bertakbir, kemudian beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)
Sujud sahwi setelah salam ini diblokir lagi dengan salam sebagaimana diterangkan dalam hadits ‘Imron bin Hushain,
فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.
“Kemudian beliau juga shalat satu rakaat (menambah raka’at yang tidak cukup tadi). Lalu beliau salam. Setelah tersebut beliau mengerjakan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574)
Apakah terdapat takbiratul ihrom sebelum sujud sahwi?

Sujud sahwi setelah salam tidak perlu dimulai dengan takbiratul ihrom, lumayan dengan takbir guna sujud saja. Pendapat ini ialah pendapat beberapa besar ulama. Landasan tentang hal ini ialah hadits-hadits tentang sujud sahwi yang sudah lewat.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Para ulama berselisih pendapat tentang sujud sahwi setelah salam apakah disyaratkan takbiratul ihram ataukah lumayan dengan takbir guna sujud? Mayoritas ulama mengatakan lumayan dengan takbir guna sujud. Inilah pendapat yang nampak powerful dari sekian banyak  dalil.”[2]

D. Tasyahud sesudah sujud kedua dari sujud sahwi

Pendapat yang terkuat salah satu pendapat ulama yang ada, tidak perlu guna tasyahud lagi sesudah sujud kedua dari sujud sahwi sebab tidak ada alasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan hal ini. Adapun alasan yang biasa jadi pegangan untuk yang berasumsi adanya, dalilnya ialah dalil-dalil yang lemah.

Jadi lumayan ketika mengerjakan sujud sahwi, bertakbir guna sujud kesatu, kemudian sujud. Kemudian bertakbir lagi guna bangkit dari sujud kesatu dan duduk sebagaimana duduk antara dua sujud (duduk iftirosy). Setelah tersebut bertakbir dan sujud kembali. Lalu bertakbir kembali, lantas duduk tawaruk. Setelah tersebut salam, tanpa tasyahud lagi sebelumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada alasan sama sekali yang menyokong pendapat ulama yang menyuruh untuk tasyahud sesudah sujud kedua dari sujud sahwi. Tidak terdapat satu juga hadits shahih yang merundingkan hal ini. Jika memang urusan ini disyariatkan, maka pasti saja urusan ini bakal dihafal dan dikuasai oleh semua sahabat yang merundingkan tentang sujud sahwi. Karena kadar lamanya tasyahud itu nyaris sama lamanya dua sujud bahkan dapat lebih. Jika memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan tasyahud saat itu, maka tentu semua sahabat bakal lebih mengetahuinya daripada memahami perkara salam, takbir saat akan sujud dan saat akan bangkit dalam sujud sahwi. Semua-semua ini perkara enteng dibanding tasyahud.”[3]

E. Do’a Ketika Sujud Sahwi

Sebagian ulama menyarankan do’a ini saat sujud sahwi,
سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو
“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak barangkali tidur dan lupa).[4]

Namun dzikir sujud sahwi di atas cuma ajakan saja dari beberapa ulama dan tanpa didukung oleh dalil. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,
قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .
“Perkataan beliau, “Aku sudah mendengar beberapa ulama yang mengisahkan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” saat sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak menemukan asalnya sama sekali.”[5]
Sehingga yang tepat tentang bacaan saat sujud sahwi ialah seperti bacaan sujud biasa saat shalat. Bacaannya yang dapat dipraktekkan seperti,
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
“Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi][6]
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau  Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku][7]

Dalam Mughnil Muhtaj salah satu buku fiqih Syafi’iyah- disebutkan, “Tata teknik sujud sahwi sama laksana sujud saat shalat dalam perbuatann mesti dan sunnahnya, seperti menempatkan dahi, thuma’ninah (bersikap tenang), menyangga sujud, menundukkan kepala, mengerjakan duduk iftirosy[8] saat duduk antara dua sujud sahwi, duduk tawarruk[9] saat selesai dari mengerjakan sujud sahwi, dan dzikir yang dibaca pada kedua sujud tersebut ialah seperti dzikir sujud dalam shalat.”

Sebagaimana pula dijelaskan dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah (komisi fatwa di Saudi Arabia) saat ditanya, “Bagaimanakah kami mengerjakan sujud sahwi?”

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah menjawab, “Sujud sahwi dilaksanakan dengan dua kali sujud sesudah tasyahud akhir sebelum salam, dilaksanakan sebagaimana sujud dalam shalat. Dzikir dan do’a yang dibaca saat itu ialah seperti saat dalam shalat. Kecuali andai sujud sahwinya terdapat kelemahan satu raka’at atau lebih, maka saat itu, sujud sahwinya setelah salam. Demikian pula andai orang yang shalat memilih keraguan yang ia yakin lebih kuat,maka yang afdhol baginya ialah sujud sahwi setelah salam. Hal ini berlandaskan sekian banyak  hadits shahih yang merundingkan sujud sahwi. Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.”[10]


[1] Ar Roudhotun Nadiyyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, Shidiq Hasan Khon, 1/182, Darul ‘Aqidah, cetakan kesatu, 1422 H.
[2] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 3/99, Darul Ma’rifah, 1379.
[3] Dialihbahasakan secara bebas dari Majmu’ Al Fatawa, 23/49.
[4] Bacaan sujud sahwi semacam ini di antaranya dilafalkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam Roudhotuth Tholibiin, 1/116, Mawqi’ Al Waroq.
[5] At Talkhis Al Habiir, Ibnu Hajar Al Asqolani, 2/6, Al Madinah Al Munawwaroh, 1384.
[6] HR. Muslim no. 772
[7] HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484
[8] Duduk iftirosy ialah keadaan duduk seperti saat tasyahud awwal, yakni kaki kanan ditegakkan, sementara kaki kiri diduduki pantat.
[9] Duduk tawaruk ialah duduk laksana tasyahud akhir, yakni kaki kanan ditegakkan sementara kaki kiri sedang di bawah kaki kanan.
[10] Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua; Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua; dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud sebagai anggota. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ soal ketujuh, fatwa no. 8540, 7/129.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Tata Cara Pelaksanaan Sujud Sahwi

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/05/2017

0 komentar Pengertian dan Tata Cara Pelaksanaan Sujud Sahwi

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak