Home » » Pengertian dan Ruang Lingkup Strategi Internalisasi Nilai

Pengertian dan Ruang Lingkup Strategi Internalisasi Nilai

   
Pengertian dan Ruang Lingkup Strategi Internalisasi Nilai

A. Pengertian Strategi Internalisasi Nilai

Yang dimaksud Internalisasi nilai merupakan pendalaman atau penghayatan nilai-nilai akhlak yg dilakukan sang seseorang murid. Dengan internalisasi nilai ini dibutuhkan murid terbiasa dengan segala aktifitas positif yang pada berikan oleh pengajar maupun orang Tua di rumah.

B. Ruang Lingkup Strategi Internalisasi Nilai

Proses internalisasi pendidikan karakter pada suatu lembaga pendidikan nir dapat dilakukan secara instan, tetapi secara bertahap sedikit-sedikit & dilakukan secara terus-menerus atau secara berkelanjutan. Dalam mengiternalisasi nilai yg efektif bisa dilakukan banyak sekali cara, tergantung berdasarkan lembaga tadi dalam mengemasnya.

Dalam upaya menumbuhkembangkan potensi nilai akhlak siswa, terdapat beberapa taktik ataupun metode yang bisa dilakukan oleh seorang pendidik. Strategi internalisasi nilai-nilai akhlak yang berlaku pada sebuah forum bertujuan agar murid mempunyai kepribadian yang mantap dan mempunyai akhlak yang mulia (akhlak al-karimah). Strategi internalisasi nilai merupakan:

1. Strategi keteladanan  (modelling)
Keteladanan merupakan perilaku yg terdapat pada pendidikan Islam & telah dipraktekkan sejak zaman Rasulullah saw. Keteladanan ini memiliki nilai yg krusial pada pendidikan Islam, lantaran memperkenalkan konduite yang baik melalui keteladanan, sama halnya memahami sistem nilai pada bentuk konkret. Strategi dengan keteladanan adalah internalisasi dengan cara memberi contoh-model kongkrit pada siswa. Dalam pendidikan pemberian  model-model ini sangat ditekankan karena tingkah laku  seseorang pendidik mendapatkan pengamatan spesifik dari para murid. Seperti perumpamaan yg berkata “Guru makan berjalan, murid makan berlari, disini bisa diartikan bahwa setiap konduite yang di tunjukkan sang guru selalu mendapat sorotan dan ditiru sang anak didiknya. Oleh karenanya guru harus senantiasa memberi contoh yg baik bagi anak didiknya, khususnya pada ibadah-ibadah ritual, dan kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad merupakan model atau teladan sosok insan yang mempunyai ketaqwaan luar biasa yang patut buat diteladani.
Ada juga melalui kisah para tokoh teladan, taktik keteladanan bisa dilakukan menggunakan memutarkan film-film tokoh. Misalnya keteladanan tentang kegigihan seorang penulis melalui film freedom writers. Atau kisah-kisah modern misalnya film ”Laskar Pelangi”. Dari kisah-kisah yg disajikan melalui film tadi mahasiswa bisa memetik suatu hikmah yang berguna buat dirinya. Kejujuran, keikhlasan, tanggungjawab, kepolosan, kegigihan, kerja keras, & masih banyak lagi nilai-nilai moral yang dapat diteladani melalui cerita film yang ditayangkan, sebagai akibatnya murid bisa menganalisis dan mendiskusikan cerita film yang ditayangkan tadi, sebagai akibatnya suasana pembelajaranpun akan menjadi lebih menarik.

Melalui strategi keteladanan ini, memang seorang pendidik nir secara eksklusif memasukan hal-hal terkait dengan keteladanan itu pada planning pembelajaran. Artinya, nilai-nilai moral religius misalnya ketaqwaan, kejujuran, keikhlasan, dan tanggungjawab yang ditanamkan kepada anak didik adalah sesuatu yg sifatnya hidden curriculum. Melalui cerita para tokoh penting dan pemutaran film seorang pendidik yg diteladani menggunakan asa nilai-nilai yg terkandung  pada dalamnya bisa sebagai sesuatu yg menarik dan dapat ditiru atau diteladani sang peserta didik.

2. Latihan dan pembiasaan
Ahmad Amin seperti dikutip Humaidi Tatapa ngarsa mengemukakan bahwa kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga menjadi mudah buat dikerjakan.[8] Mendidik menggunakan latihan & pembiasaan merupakan mendidik menggunakan cara menaruh latihan-latihan dan membiasakan buat dilakukan setiap hari.

Misalnya membiasakan salam bila bertemu sesama kawan atau guru. Apabila hal ini telah menjadi kebiasaan, maka anak didik akan permanen melaksanakannya walaupun dia sudah tidak lagi terdapat pada sebuah forum pendidikan. Dari sini terlihat bahwasanya norma yang baik yang di lakukan oleh seorang pendidik akan membawa dampak yg baik juga pada diri anak didiknya.

Strategi pembiasan ini sangat afektif buat diajarkan kepada siswa yg masih puber, karena mereka belum  terpengaruh oleh budaya-budaya yang negatif dan arus globalisasi yang rusak. Apabila siswa dibiasakan menggunakan akhlak yg baik maka akan tercermin pada kehidupan sehari-hari dengan pergaulan yg islami pula, jika mereka tinggal di lingkungan yg baik maka sangat gampang berintraksi dengan pembiasaan lingkungan yang mencerminkan nilai-nilai agama.

3. Strategi merogoh pelajaran
Mengambil pelajaran yang dimaksud disini adalah merogoh pelajaran berdasarkan beberapa kisah-kisah teladan, kenyataan, insiden-insiden yang terjadi, baik masa lampau maupun sekarang. Dari sini diperlukan murid dapat mengambil hikmah yang terjadi pada suatu insiden, baik yang berupa musibah atau pengalaman. Pelaksanaan taktik ini umumnya disertai menggunakan pemberian  nasehat. Sang guru nir cukup mengantarkan anak didik pada pemahaman inti suatu peristiwa, melainkan jua menasehati & mengarahkan muridnya ke arah yg dimaksud.

Abd Al-Rahman Al-Nahlawi, mendefinisikan ibrah (mengambil Pelajaran) dengan kondisi psikis yang mengungkapkan manusia buat mengetahui intisari suatu masalah yg disaksikan, diperhatikan, diinduksikan, ditimbang-timbang, diukur & diputuskan secara akal, sehingga kesimpulannya bisa menghipnotis hati sebagai tunduk kepadanya, lalu mendorongnya kepada perilaku berfikir sosial yang sinkron.

Tujuan pedagogis menurut pengambilan pelajaran adalah mengantarkan insan pada kepuasan pikir mengenai masalah kepercayaan  yang bias menggerakkan, mendidik atau menambah perasaan keagamaan.

4. Strategi anugerah nasehat
Rasyid Ridha seperti dikutip Burhanudin mengartikan nasehat (mauidzah) menjadi peringatan atas kebaikan dan kebenaran, menggunakan jalan apa saja yang dapat menyentuh hati dan membangkitkannya untuk mengamalkan”. Metode mauidzah wajib  mengandung 3 unsur, yakni 1) uraian mengenai kebaikan & kebenaran yang wajib  dilakukan sang seseorang, contohnya: tentang sopan santun, dua) motivasi buat melakukan kebaikan, 3) peringatan mengenai dosa yang ada berdasarkan adanya embargo, bagi dirinya & orang lain.

5. Pemberian janji & ancaman (targhib wa tarhib)
Targhib merupakan janji yg disertai menggunakan bujukan dan menciptakan bahagia terhadap sesuatu maslahat, kenikmatan, atau kesenangan akhirat yg pasti & baik, dan bersih berdasarkan segala kotoran yang lalu diteruskan menggunakan melakukan amal shaleh dan menjauhi kenikmatan selintas yg mengandung bahaya atau perbuatan yg tidak baik. Hal itu dilakukan semata-mata demi mencapai keridlaan Allah, dan hal itu adalah rahmat berdasarkan Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sedangkan tarhib merupakan ancaman menggunakan siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dihentikan oleh Allah, atau akibat lengah pada menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah, menggunakan istilah lain tarhib adalah ancaman berdasarkan Allah yang dimaksudkan buat menumbuhkan rasa takut pada para hamba-Nya dan memberitahuakn sifat-sifat kebesaran dan keagungan Ilahiyah, agar mereka selalu berhati-hati dalam bertindak serta melakukan kesalahan & kedurhakaan. Hal misalnya itu tersurat dalam firman Allah SWT:

“ Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi artinya orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri & keluarganya dalam hari kiamat". Ingatlah yang demikian itu merupakan kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka & pada bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah pada-Ku Hai hamba-hamba-Ku. (QS. Az-Zumar: 15-16).

Keistimewaan metode janji-janji & ancaman antara lain:
a. Dapat menumbuhkan sifat jujur dan hati-hati terhadap ajaran kepercayaan ,   lantaran konfiden akan adanya janji dan ancaman Allah swt.
b. Motivasi berbuat baik & menghindari yang buruk tanpa wajib  diawasi sang  guru atau dibujuk dengan hibah & ancaman.
c. Membangkitkan dan mendidik perasaan rabbaniyah.

6.  Strategi kedisiplinan
Pendidikan menggunakan kedisiplinan memerlukan ketegasan & kebijaksanaan. Ketegasan maksudnya seseorang pendidik harus memberikan sangsi pada setiap pelanggaran yg dilakukan sang murid, sedangkan kebijaksanaan mengharuskan seseorang pengajar memberikan sangsi sinkron menggunakan jenis pelanggaran tanpa dihinggapi emosi atau dorongan-dorongan lain. 

REFERENSI

Slamet, Belajar & Faktor-Faktor  yang Mempengaruhinya, (Rineka Cipta, Jakarta, 2003), h. Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Dalam Pendidikan Mental, (Jakarta, Bulan Bintang, 1982), h, 194
Muhammad Ali, Pengajar pada Proses Belajar Mengajar, (Bandung, Sinar Baru Algasindo, Cet. X, 2000), h, 67
Abu Ahmad, Metodik Pengajaran, (Bandung: pustaka Setia, 1985), h, 185
Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer., (Surabaya: Arkola,
1994), h. 267
Harimurti Kridalaksana, dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1995), Edisi II, cet. IX, h. 690.
Syafi’i Ma’arif, Pemikiran Tentang Pembaharuan Islam di Indonesia, (Yogyakarta :
Tiara Wacana, 1991), hlm. 59.
Humaidi Tatapangarsa, Pengantar Kuliah Akhlak, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), h, 67
Tamyiz Burhanudin, Akhlak Pesantren Solusi bagi Kerusakan Akhlak, (Yogyakarta: ITTAQA Press, 2001), h, 56
Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Pent. Dahlan & Sulaiman, (Bandung: CV.Diponegoro, 1992), h, 390.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Pengertian dan Ruang Lingkup Strategi Internalisasi Nilai

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/09/2017

0 komentar Pengertian dan Ruang Lingkup Strategi Internalisasi Nilai

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak