Home » » Pengertian dan Pandangan Al Qur'an Tentang Kesetaraan Gender

Pengertian dan Pandangan Al Qur'an Tentang Kesetaraan Gender

Pengertian dan Pandangan Al Qur'an Tentang Kesetaraan Gender

A. Pengertian Gender

Secara fundamental, gender berbeda menurut jenis kelamin biologis. Jenis kelamin Biologis adalah hadiah, kita dilahirkan sebagai seseorang laki-laki  atau seorang wanita. Namun, jalan yang membuahkan kita maskulin atau feminine adalah campuran blok-blok bangunan biologis dasar dan interpretasi biologis sang kultur kita. Setiap masyarakat memiliki aneka macam naskah buat diikuti sang anggotanya misalnya mereka belajar memainkan kiprah feminine atau maskulim, sebagaimana halnya setiap rakyat memiliki bahasanya sendiri.
Sejak kita menjadi bayi kecil hingga mencapai usia tua, kita memeriksa & mempraktikkan cara-cara spesifik yang telah ditentukan oleh warga  bagi kita buat menjadi laki-laki  & wanita. Gender adalah seperangkat kiprah yang misalnya halnya pakaian & topeng pada teater membicarakan kepada orang lain bahwa kita adalah feminine atau maskulin. Perangkat perilaku spesifik ini yg mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam & pada luar tempat tinggal   tangga, seksualitas, tanggung jawab famili & sebagainya secara bersama-sama memoles kiprah gender kita.

Begitu lahir, kita mulai menyelidiki kiprah gender kita. Dalam satu studi laboratory mengenai gender, kaum bunda diundang buat bermain dengan bayi orang lain yg didandani menjadi anak perempuan atau laki-laki. Tidak hanya gender berdasarkan bayi itu yang menimbulkan beragam tanggapan menurut kaum wanita, namun konduite serupa berdasarkan seorang bayi ditanggapi secara tidak selaras, tergantung pada bagaimana ia didandani. Ketika si bayi didandani menjadi pria, kaum perempuan tersebut menanggapi inisiatif si bayi menggunakan aksi fisik dan permainan. Namun saat bayi yang sama tampak misalnya perempuan dan melakukan hal yg sama tampak misalnya perempuan   & melakukan hal yg sama, kaum wanita itu menenangkan dan menghiburnya. Dengan istilah lain, sejak usia enam bulan anak-anak sudah direspon menurut stereotype gender.

Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender menggunakan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin adalah pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang dipengaruhi secara biologis yang inheren dalam jenis kelamin eksklusif. Sedangkan konsep lainnya merupakan konsep gender yakni suatu sifat yg inheren pada kaum pria juga wanita yang konstruksi secara sosial maupun cultural.

B. Kesetaraan Gender Dalam Al-Qur’an

Al Qur’an secara umum dan dalam poly ayatnya sudah mengungkapkan relasi gender, hubungan antara laki- laki & perempuan, hak- hak mereka pada konsepsi yang rapi, latif dan bersifat adil. Al Qur’an yg diturunkan menjadi petunjuk insan, tentunya pembicaraannya tidaklah terlalu jauh menggunakan keadaan dan kondisi lingkungan & masyrakat dalam saat itu. Seperti apa yg disebutkan di pada QS. Al-Nisa, yg memandang wanita sebagai makhluk yang  mulia & harus pada hormati, yg pada satu saat rakyat Arab sangat nir menghiraukan nasib mereka.

Sebelum diturunkan surat Al- Nisa ini, telah turun dua surat yg sama-sama mengungkapkan wanita, yaitu surat Al-Mumtahanah & surat Al-Ahzab. Namun pembahasannya belum final, hingga diturunkan surat al-Nisa’ ini. Oleh karena itu, surat ini disebut dengan surat Al-Nisa’ al-Kubro, sedang surat lain yang membicarakan perempuan  juga, misalnya surat al-Tholak, diklaim surat al-Nisa’ al Sughro. Surat Al Nisa’ ini benar-sahih memperhatikan kaum lemah, yang di wakili oleh anak- anak yatim, orang-orang yang lemah akalnya, & kaum wanita.

Maka, dalam ayat pertama surat al-Nisa’ kita dapatkan, bahwa Allah sudah menyamakan kedudukan pria & perempuan   menjadi hamba dan makhluk Allah, yang masing- masing jika beramal sholeh, niscaya akan di beri pahala sesuai dengan amalnya. Kedua-duanya tercipta menurut jiwa yg satu  (nafsun wahidah), yang mengisyaratkan bahwa nir terdapat perbedaan antara keduanya.Semuanya pada bawah supervisi Allah serta mempunyai kewajiban buat bertaqwa kepada-Nya (ittaqu robbakum).

Kesetaraan yang telah di akui oleh Al Qur’an tersebut, bukan berarti harus sama antara laki-laki & wanita dalam segala hal (Kesesuaian Gender).Untuk menjaga kesimbangan alam (sunnatu tadafu’), sine qua non sesuatu yang tidak sinkron yang masing-masing mempunyai fungsi & tugas tersendiri. Tanpa itu, global, bahkan alam ini akan berhenti dan musnah. Oleh karena itu, sebgai pesan tersirat dari Allah buat membangun 2 pasang manusia yg tidak selaras, bukan hanya pada bentuk & postur tubuh dan jenis kelaminnya saja, akan tetapi juga pada emosional &  komposisi kimia dalam tubuh.

Hal ini dampak membawa pengaruh pada perbedaan dalam tugas ,kewajiban & hak. Dan hal ini sangatlah masuk akal & sangat logis. Ini bukan sesuatu yang di dramatisir sehingga merendahkan perempuan, sebagaimana asumsi kalangan feminis & ilmuan Marxis. Namun adalah bentuk sebuah keseimbangan hidup dan kehidupan, sebagiamana anggota tubuh manusia yg tidak selaras- beda tapi menuju pada persatuan dan saling melengkapi. Oleh karenanya, suatu yg sangat kurang bijak, jikalau terdapat beberapa gerombolan  yg ingin memperjuangkan kesetaraan antara dua jenis insan ini dalam seluruh bidang.  

Al Qur’an telah meletakkan batas yg jelas & tegas di pada perkara ini, keliru satunya adalah ayat-ayat yang terdapatdi pada surat al Nisa. Terutama yg menyinggung konsep pernikahan poligami, hak waris & pada menentukan tanggungjawab di dalam rakyat dan famili.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Pandangan Al Qur'an Tentang Kesetaraan Gender

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/07/2017

0 komentar Pengertian dan Pandangan Al Qur'an Tentang Kesetaraan Gender

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak