Home » » Pengertian dan Masalah Kesehatan Jiwa Pada Masyarakat

Pengertian dan Masalah Kesehatan Jiwa Pada Masyarakat

Pengertian dan Masalah Kesehatan Jiwa Pada Masyarakat

A. Pengertian Kesehatan Jiwa

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai “keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata suasana tanpa penyakit atau kelemahan.” Definisi ini menekankan kesehatan sebagai suatu suasana sejahtera yang positif, bukan sekedar suasana tanpa penyakit. Orang yang mempunyai kesejahteraan emosional, fisik, dan sosial dapat mengisi tanggung jawab kehidupan, bermanfaat dengan efektif dalam kehidupan sehari-hari, dan puas dengan hubungan interpersonal dan diri mereka sendiri. 

Tidak terdapat satupun pengertian universal kesehatan jiwa, tetapi saya dan anda bisa menyimpulkan kesehatan jiwa seseorang dari perilakunya. Karena perilaku seseorang dapat disaksikan atau ditafsirkan bertolak belakang oleh orang lain, yang bergantung untuk nilai dan keyakinan, maka penentuan pengertian kesehatan jiwa menjadi sulit.        Kesehatan jiwa ialah suatu situasi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang tampak dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional. 

B. Masalah Kesehatan Jiwa Pada Masyarakat

Berbagai situasi psikososial yang menjadi indikator taraf kesehatan jiwa masyarakat, terutama yang sehubungan dengan ciri khas kehidupan di perkotaan (urban mental health) meliputi: kekerasan dalam lokasi tinggal tangga (KDRT), permasalahan perceraian, anak remaja putus sekolah, permasalahan kriminalitas anak remaja, masalah anak jalanan, promiskuitas, penyalahgunaan Napza dan akibat nya (hepatitis C,HIV/AIDS dll), gelandangan psikotik serta permasalahan bunuh diri.

1. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)            
Kekerasan dalam lokasi tinggal tangga ialah tiap tindakan terhadap seseorang yang berdampak timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis dan/atau penelantaran lokasi tinggal tangga tergolong ancaman untuk mengerjakan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kebebasan secara melawan hukum dalam lingkup lokasi tinggal tangga (definisi dalam UU No.23 tahun 2004 mengenai penghapusan KDRT). Lingkup lokasi tinggal tangga ialah suami, istri dan anak, termasuk pun orang-orang yang memiliki hubungan keluarga sebab hubungan darah, perkawinan, pengasuhan, perwalian dengan suami maupun istri yang menetap bareng dalam lokasi tinggal tangga. Dampak kekerasan dalam lokasi tinggal tangga mencakup gangguan kesehatan jasmani non-reproduksi (luka fisik, kecacatan), gangguan kesehatan reproduksi (penularan penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak dikehendaki), gangguan kesehatan jiwa (trauma mental), kematian atau bunuh diri. Kekerasan lokasi tinggal tangga pun dapat menjadi di antara atau kontributor meningkatnya permasalahan perceraian, permasalahan penelantaran anak, permasalahan kriminalitas anak remaja serta pun penyalahgunaan Napza.

2. Anak Putus Sekolah                        
Berdasarkan data direktorat edukasi kesetaraan depdiknas tahun 2005 kemudian di Indonesia terdaftar jumlah pelajar SLTP yang putus sekolah ialah sebanyak 1.000.746 siswa/siswi, sementara pelajar SLTA yang putus sekolah ialah sebanyak 151.976. jumlah alumni SLTA yang tidak melanjutkan edukasi keperguruan tinggi pada tahun itu tercatat sejumlah 691.361 siswa/ siswi. Laporan Organisai Buruh Internasional (ILO) tahun 2005 mengaku bahwa sejumlah 4,18 juta anak umur sekolah di Indonesia tidak bersekolah dan sebagainya menjadi “pekerja anak” perwakilan ILO di Indonesia mengaku bahwa banyaknya anak putus sekolah dan menjadi pekerja anak diakibatkan karena ongkos pendidikan di Indonesia masih dirasakan terlalu mahal dan tak tercapai oleh beberapa kalangan masyarakat. Angka partisipasi kasar (APK) program mesti belajar 9 tahun yang diluncurkan Depdiknas menunjukan baru menjangkau 88,68% dari target 95% partisipasi anak umur sekolah yang diharapkan.

3.  Masalah Anak Jalanan                        
Masalah anak jalan di Indonesia laksana kekerasan pada anak, masalah anak jalanan, penelantaran anak dan sebagainya masih lumayan tinggi. Berdasarkan data dari Departemen Sosial tahun 2005, jumlah anak jalanan di Indonesia ialah sekitar 30.000 anak dan beberapa besarnya sedang di jalan-jalan di DKI Jakarta. Selain tersebut baru ada 12 wilayah di Indonesia yang mempunyai perda mengenai anak jalanan. Padahal semua anak-anak jalanan itu jelas rentan terhadap sekian banyak  tindak kekerasan, pembiasan perlakuan, pelecehan seksual bahkan dilibatkan dalam sekian banyak  tindak kriminal oleh orang dewasa yang menguasainya.

4. Kasus Kriminalitas Anak Remaja                        
Data Direktorat Jenderal Kemasyarakatan Dephukham dan komnas pelindungan anak (PA) menujukan bahwa pada tahun 2005 di Indonesia ada 2.179 tahanan anak dan 802 narapidana anak, 7 diantaranya anak perempuan. Tahun 2006 angkanya menjadi 4.130 tahanan anak serta 1.325 narapidana anak, dimana 34 diantaranya ialah anak perempuan. Berdasarkan keterangan dari survey Komnas PA penyebab anak masuk LP Anak ialah 40% sebab terlibat permasalahan Narkoba (Napza), 20% sebab perjudian sementara sisanya sebab kasus lain-lain. Kira-kira 20% tindak kekerasan seksual pada tahun 2006 pelakunya ialah anak remaja, 72% anak remaja pelaku kekerasan seksual menyatakan terinspirasi Tayangan TV, setelah menyimak media cetak porno dan nonton film porno. Laporan Komnas PA mengaku bahwa 50-70% anak tercebur dalam tindak pidana kriminalitas kemudian di vonis penjara dan masuk LP Anak malah perilakunya menjadi lebih jelek dan menjadi residivis dikemudian hari.

5. Masalah Narkoba, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) serta dampaknya (Hepatitis C, HIV/AIDS, dll)                        
Narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) termasuk dalam zat psikoaktif yang bekerja memprovokasi kerja sistem penghantar sinyal saraf (neuro-transmiter) sel-sel rangkaian saraf pusat (otak) sampai-sampai meyebabkan terganggunya faedah kognitif (pikiran), persepsi, daya nilai (judgment) dan perilaku serta bisa menyebabakan efek ketergantungan, baik jasmani maupun psikis. Penyalahgunaan Napza di Indonesia kini sudah adalahancaman yang serius untuk kehidupan bangsa dan negara. Pengungkapan kasusnya di Indonesia bertambah rata-rata 28,9 % per tahun. Tahun 2005 pabrik extasi terbesar ke 3 di dunia terbongkar di Tangerang, Banten. Di Indonesia ditebak ada sekitar 1.365.000 penyalahgunaan Napza aktif dan data perkiraan perkiraan terakhir melafalkan bahwa pemakai Napza di Indonesia menjangkau 5.000.000 jiwa. Mengikuti laju perkembangan permasalahan tersebut dijumpai pula penambahan epidemi penyakit hati lever hepatitis tipe-c dan permasalahan HIV (Human Immunodeficiency Virus) AIDS (Acquired Immune-Deficiency Syndrome) yang modus penularan melewati pemakaian jarum yang tidak steril secara bergantian pada “pemakai Napza suntik (Penasus/injecting drug user/ IDU).Pola epidemik HIV/AIDS di Indonesia tak jauh bertolak belakang dengan negara-negara lain, pada fase mula penyebarannya melalui kumpulan homoseksual, lantas tersebar melewati perilaku seksual berisiko tinggi laksana pada pekerja seks komersial, namun sejumlah tahun belakangan ini dijumpai kecenderungan penambahan secara cepat penyebaran penyakit ini diantara semua pemakai Napza suntik. Berbagai sember memperkirakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia sudah mencapai tidak cukup lebih 120.000 orang dan selama 80% dari jumlah itu terinfeksi sebab pengunaan jarum yang tidak steril secara bergantian pada semua pemakai Napza suntik, jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun 2000 hingga 2005 bertambah dengan cepat menjadi 4 kali lipat atau 40%. Data pada akhir tahun 2005 mengaku bahwa prevalensi penularan HIV AIDS pada “penasun” ialah 80- 90% dengan kata lain , menjangkau 90% dari total penasun dijamin terinfeksi HIV/AIDS.

6. Gangguan Psikotik Dan Gangguan Jiwa Skizofrenia                        
Ganguan jiwa berat ini merupakan format gangguan dalam faedah alam benak berupa disorganisasi (kekacauan) dalam isi benak yang ditandai antara beda oleh fenomena gangguan pemahaman (delusi waham) gangguan persepsi berupa halusinasi atau ilusi serta dijumpai daya nilai realitas yan terganggu yang ditunjukan dengan perilaku-perilaku mengherankan (bizzare). Gangguan ini dijumpai rata-rata 1-2% dari jumlah seluruh warga di sebuah wilayah pada masing-masing waktu dan terbanyak mulai timbul (onset) nya pada umur 15-35 tahun. Bila angkanya 1 dari 1.000 warga saja yang menderita gangguan tersebut, di Indonesia dapat mencapai 200-250 ribu orang penderita dari jumlah itu bila 10% nya membutuhkan rawat inap di lokasi tinggal sakit jiwa berarti diperlukan paling tidak 20-25 ribu lokasi tidur (hospital bed) Rumah sakit jiwa yang ada ketika ini hanya lumayan merawat penderita gangguan jiwa tidak lebih dari 8.000 orang. 

Jadi perlu dilaksanakan upaya diantaranya porgram intervensi dan terapi yang implentasinya bukan di lokasi tinggal sakit namun dilingkungan masyarakat (community based psyciatric services) peningkatan jumlah lokasi tinggal sakit jwa tidak lagi adalahprioritas utama sebab paradigma ketika ini ialah pengembangan program kesehatan jiwa masyarakat (deinstitutionalization). Terlebih ketika ini telah tidak sedikit ditemukan obat-obatan psikofarmaka yang efektif yang dapat mengendalikan fenomena ganggun penderitanya. Artinya dengan pemberian obat yang tepat dan mencukupi penderita gangguan jiwa berat lumayan berobat jalan. 

Sebenarnya situasi di tidak sedikit negara berkembang tergolong Indonesia lebih menguntungkan dikomparasikan negara maju, karena sokongan keluarga (primary support groups) yang dibutuhkan dalam penggobatan gangguan jiwa berat ini lebih baik dikomparasikan di negara maju. Stigma terhadap gangguan jiwa berat ini tidak melulu menimbulkan konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi untuk juga anggota keluarga, mencakup sikap-sikap penolakan, penyangkalan, disisihkan, dan diisolasi. Penderita gangguan jiwa memiliki risiko tinggi terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

7.  Kasus Bunuh Diri                        
Data WHO mengindikasikan bahwa rata-rata selama 800.000 orang di semua dunia mengerjakan tindakan bunuh diri masing-masing tahunnya. Laporan di India dan Sri Langka mengindikasikan angka sebesar 11-37 per 100 ribu orang, barangkali di Indonesia angkanya tidak jauh dari itu. Berdasarkan keterangan dari Dr. Benedetto Saraceno dari departemen kesehatan jiwa WHO, lebih dari 90% permasalahan bunuh diri bersangkutan dengan masalah gangguan jiwa laksana depresi, psikotik dan dampak ketergantungan zat (Napza). 

Yang mengkhawatirkan ialah dijumpainya pergeseran umur orang yang mengerjakan tindak bunuh diri. Kalau dahulu paling jarang anak yang usianya tidak cukup dari 12 tahun mengerjakan tindak bunuh diri, tetapi kini bunuh diri pada anak usia tidak cukup dari 12 tahun semakin tidak jarang ditemukan. Ini mengindikasikan kegagalan orang tua di rumah, guru di sekolah dan figur panutan di asyarakat membekali kemampuan hidup (life skill) untuk menanggulangi tantangan maupun kendala hidupnya. Kasus bunuh diri telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius khususnya bila dikaitkan dengan akibat kehidupan moderen. Oleh karena tersebut WHO memandang bunuh diri sebagai peyebab utama kematian dini yang bisa dicegah.

Kondisi beda yang butuh mendapat perhatian ialah altruistic suicide atau bunuh diri sebab loyalitas berlebihan yang antara lain format “bom bunuh diri”. Banyak berpengalaman mengaitkan urusan itu sebagi pengejawantahan dari akumulasi kekecewaan, perlakuan tidak adil atau tersisihkan. Mengatasi altruistic suicide tidak gampang dan membutuhkan pendekatan multi disiplin antara sekian banyak  pihak bersangkutan laksana aspek kesehatan jiwa, pendekatan agama, penegakan hukum dan sosial.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Masalah Kesehatan Jiwa Pada Masyarakat

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/06/2017

0 komentar Pengertian dan Masalah Kesehatan Jiwa Pada Masyarakat

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak