Home » » Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan Islam

Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan Islam

Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan Islam

A. Pengertian Kepemimpinan Islam

Karakteristik Kepemimpinan IslamKepemimpinan Islam ialah konsep kepemimpinan  yang tertera dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah, yang mencakup kehidupan insan mulai dari pribadi, berdua, family bahkan hingga umat insan atau kelompok. Konsep ini merangkum baik cara-cara memimpin maupun dipimpin demi terlaksananya doktrin Islam untuk memastikan kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat sebagai tujuannya. Kepemimpinan Islam ialah suatu proses atau keterampilan orang beda untuk menunjukkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, serta terdapat usaha kerja sama cocok dengan Al-Qur'an dan Al-hadist untuk menjangkau tujuan yang diharapkan bersama

B. Karakteristik Kepemimpinan Islam

Pemimpin ideal menurut keterangan dari Islam erat kaitannya dengan tokoh Rasulullah SAW. Beliau ialah pemimpin agama dan pun pemimpin negara. Rasulullah adalahsuri tauladan untuk setiap orang, termasuk semua pemimpin sebab dalam diri beliau melulu ada kebaikan, kebajikan dan kebaikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
Sesungguhnya sudah ada pada (diri) Rasulullah tersebut suri teladan yang baik bagimu (yaitu) untuk orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia tidak sedikit menyebut Allah. (QS Al-Ahzab:21)

Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq berarti jujur dalam ucapan dan perbuatan, amanah berarti dapat diandalkan  dalam mengawal tanggung jawab, Tablig berarti mengucapkan segala macam kebajikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.

1. Sidiq/Jujur
Kejujuran ialah lawan dari dusta dan iamemiliki makna kecocokan sesuatusebagaimana dengan fakta. Di antaranya yakni kata “rajulun shaduq (sangatjujur)”, yang lebih mendalammaknanya daripada shadiq (jujur).Al-mushaddiqyakni orang yang membetulkan setiapucapanmu, sedang ash-shiddiq merupakan orangyang terus menerus membenar-kan perkataan orang, danbisa pun orang yang selalumembuktikan ucapannya dengan perbuatan.Di dalam al-Qur’an dilafalkan (tentangibu Nabi Isa), “Dan ibunya ialah seorang”shiddiqah.” (Al-Maidah: 75).Maksudnya merupakan orang yang selalu melakukan jujur.

Kejujuran adalahsyarat utama untuk seorang pemimpin. Masyarakat akan membubuhkan respek untuk pemimpin bilamana dia diketahui dan pun terbukti mempunyai kwalitas kejujuran yang tinggi. Pemimpin yang mempunyai prinsip kejujuran bakal menjadi andalan harapan semua pengikutnya. Mereka paling sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh dirinya memperoleh keyakinan dari pengikutnya. Seorang pemimpin yang sidiq atau bahasa lainnya honest akan gampang diterima di hati masyarakat, kebalikannya pemimpin yang tidak jujur atau khianat bakal dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dinilai dari perkaataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur ialah manifestasi dari perkaatannya, dan perkatannya merupakan gambaran dari hatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini sudah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam pun disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala(Setelah pelayan tersebut berjumpa dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya.” (QS.Yusuf: 46)

Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pun mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua mengindikasikan hawa kejujuran adalahsalah satuperilaku kehidupan terpenting semua rasul dan pengekor mereka.Dan kedudukantertinggi sifat jujur ialah “ash-shiddiqiyah” Yakni tunduk terhadap rasulsecara utuh (lahir batin) dan diiringi kesediaan secara sempurna kepadaPengutus Allah.

Imam Ibnu Katsir berkata, “Jujur adalahkarakter yang paling terpuji, oleh karena tersebut sebagian besar kawan tidak pernah coba-coba melakukan kebohongan baik pada masa jahiliyah maupun sesudah masuk Islam. Kejujuran adalahcirrikeimanan, sebagaimana pula dusta ialah ciri kemunafikan, maka barang siapajujur dia bakal beruntung.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

Dalam Al-Qur’an surat At-taubah ayat 119, Allah SWT mengisyaratkan untuk muslimin guna senantiasa bareng orang-orang yang jujur.
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah untuk Allah, dan hendaklah kamu bareng orang-orang yang benar.( QS. At-Taubah:119)

Rasulullah SAW bersabda tentang pentingnya kejujuran.
“Jauhilah dusta sebab dusta bakal membawa untuk dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berbicara jujur sebab jujur bakal membawamu kepada kebaikan dan kebaikan membawamu ke surga” (HR Bukhari dan Muslim)

2. Amanah/Terpercaya
Muhammad SAW bahkan sebelum diusung menjadi rasul telah mengindikasikan kualitas pribadinya yang dinyatakan oleh masyarakat Quraish. Beliau dikenal dengan gelar Al-Amien, yang terpercaya. Oleh karena tersebut ketika terjadi peristiwa sengketa antara semua pemuka Quraish tentang siapa yang akan menempatkan kembali hajar aswad sesudah renovasi Ka’bah, meraka dengan senang hati menerima Muhammad sebagai arbitrer, sebenarnya waktu tersebut Muhammad belum tergolong pembesar.

Amanah adalahkualitas mesti yang mesti dipunyai seorang pemimpin. Dengan mempunyai sifat amanah, pemimpin bakal senantiasa menjaga keyakinan masyarakat yang telah di berikan di atas pundaknya. Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan untuk pemimpin supaya dikelola dengan baik dan guna kemaslahatan bersama.
Mengenai nilai amanah, Daniel Goleman mencatat sejumlah ciri orang yang mempunyai sifat tersebut.

Dia beraksi menurut etika dan tidak pernah mempermalukan orang Membangun keyakinan diri lewat keandalan diri dan autentisitas (kemurnia/kejujuran) Berani mengakui kekeliruan sendiri dan berani menegur tindakan tidka etis ornag lain Berpegang untuk prinsip secara teguh, walaupun resikonya tidak digemari serta mempunyai komitmen dan menepati janji Bertangung jawab sendiri guna memperjuangkan destinasi serta terorganisir dan seksama dalam bekerja. 

Amanah erat kaitanya dengan janggung jawab. Pemimpin yang amanah ialah pemimpin yang bertangggung jawab. Dalam perspektif Islam pemimpin bukanlah raja yang mesti tidak jarang kali dilayani dan dibuntuti segala macam keinginannya, akan namun pemimpin ialah khadim. Sebagaimana pepatah Arab menuliskan “sayyidulqaumi khodimuhum”, pemimpin suatu masyarakat ialah pelayan mereka.

Sebagai seorang pembantu, pemimpin mesti merelakan waktu. Tenaga dan benak untuk melayani rakyatnya. Pemimpin dituntut untuk mencungkil sifat individualis yang melulu mementingkan diri sendiri. Ketika menjadi pemimpin maka dia ialah kaki-tangan rakyat yang senantiasa mesti mengerjakan segala macam kegiatan untuk kemakmuran dan ketenteraman rakyatnya.

Dalam kitab The 21 Indispensable Quality of Leader, John C. Maxwell menekankan bahwa tanggung jawab bukan sekedar mengemban tugas, tetapi pemimpin yang bertanggung jawab mesti mengemban tugas dengan lebih, berorienatsi untuk ketuntasan dan kesempurnaan. “Kualitas tertinggi dari seseorang yang bertangging jawab ialah kemampuannya guna menyelesaikan”.

3. Tablig/Komunikatif
Kemampuan berkomunikasi adalahkualitas ketiga yang mesti dipunyai oleh utopis sejati. Pemimpin bukan berhadapan dengan benda mati yang dapat digerakkan dan dipindah-pindah cocok dengan kemauannya sendiri, namun pemimpin berhadapan dengan rakyat insan yang memiliki pelbagai kecenderungan. Oleh karena tersebut komunikasi adalahkunci terjainnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat.

Pemimpin dituntut guna membuka diri untuk rakyatnya, sampai-sampai mendapat simpati dan pun rasa cinta. Keterbukaan pemimpin untuk rakyatnya bukan berarti pemimpin mesti tidak jarang curhat tentang segala tantangan yang sedang dihadapinya, akan namun pemimpin mesti dapat membangun keyakinan rakyatnya untuk mengerjakan komunikasi dengannya. Sebagai contoh, Rasulullah SAW pernah ditemui oleh seorang wanita hamil yang menyatakan telah melakukan zina. Si perempuan mengucapkan penyesalannya untuk Rasul dan bercita-cita diberikan sanksi berupa hukum rajam. Hal ini terjadi sebab sebagai seorang pemimpin Rasulullah membuka diri terhadap umatnya.

Salah satu ciri kekuatan komunikasi seorang pemimpin ialah keberaniannya mengaku kebenaran meskipun konsekwensinya berat. Dalam istilah Arab dikenal ungkapan, “kul al-haq meski kaana murran”, katakanlah atau sampaikanlah kebenaran meskipun pahit rasanya.
Tablig pun dapat ditafsirkan sebagai akuntabel, atau tersingkap untuk dinilai. Akuntabilitas sehubungan dengan sikap keterbukaan (transparansi) dala kaitannya dengan teknik kita mempertanggungkawabkan sesuatu di hadapan orang lain. Sehingga, akuntabilitas adalahbagian melekat dari kredibilitas. Bertambah baik dan benar akuntabilitas yang anda miliki, meningkat besar simpanan kredibilitas sebagai hasil dari setoran keyakinan orang-orang untuk kita.

4. Fathonah/Cerdas
Seorang pemimpin mesti memiliki kepintaran di atas rata-rata masyarakatnya sehinga memiliki keyakinan diri. Kecerdasan pemimpin akan menolong dia dalam memecahkan segala macam permasalahan yang terjadi di masyarakat. Pemimpin yang cerdas tidak mudah putus asa menghadapai problema, sebab dengan kecerdasannya dia akan dapat mencari solusi. Pemimpin yang cerdas tidak akan tidak mempedulikan masalah dilangsungkan lama, sebab dia tidak jarang kali tertantang untuk menuntaskan masalah tepat waktu.

Contoh kepintaran luar biasa yang dipunyai oleh khalifah kedua Sayyidina Umar ibn Khattab ialah ketika beliau menerima kabar bahwa pasukan Islam yang dipimpin oleh Abu Ubaidah ibnu Jarrah yang sednag bertugas di Syria terpapar wabah mematikan. Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, Umar ibn Khattab segera berangkat dari Madinah mengarah ke Syria guna melihat suasana pasukan muslim yang sedang ditimpa musibah tersebut. Ketika beliau hingga di perbatasan, terdapat kabar yang mengaku bahwa suasana di lokasi pasukan mulimin paling gawat. Semua orang yang masuk ke wilayah itu akan tertular virus yang mematikan. Mendengar urusan tersebut, Umar ibn Khattab segera memungut tindakan untuk memindahkan perjalanan. Ketika ditanya mengenai sikapnya yang tidak konsisten dan dirasakan telah lari dari takdir Allah, Umar bin Khattab menjawab, “Saya berplaing dari satu takdir Allah mengarah ke takdir Allah yang lain”.

Kecerdasan pemimpin pastinya ditopang dengan keilmuan yang mumpuni. Ilmu untuk pemimpin yang cerdas adalahbahan bakar guna terus melaju di atas roda kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas tidak jarang kali haus bakal ilmu, sebab baginya melulu dengan keimanan dan keilmuan dia bakal mempunyai derajat tinggi di mata insan dan pun pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang beriman bilamana kamu disebutkan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah bakal memberi kelapangan untukmu. dan bilamana dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan menyanjung orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sejumlah derajat. dan Allah Maha memahami apa yang anda kerjakan. (QS.Al Mujadalah:11)
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan Islam

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/03/2017

0 komentar Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan Islam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak