Home » » Pengertian dan Ikhtilaf Dalam Mazhab Fiqhi

Pengertian dan Ikhtilaf Dalam Mazhab Fiqhi

A. Pengertian Mazhab

Diantara ulama Fiqhi Islam yang terkenal, secara berurutan dari sejarahnya ialah Imam abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Sebenarnya masih poly ulama beda yang lebih alim dan lebih senior pada masalah Fiqhi ini (misalnya Imam Atha’ bin abi Rabah di Makkah, Hasan al-Bashriy pada Bashrah, Muhammad bin Sirin di Syam, dll.), namun keempat ulama yg dilafalkan kesatu itulah yang memiliki paling poly siswa dan pengikutnya, disamping pula lantaran ulasan Fiqhi mereka yang utuh & lengkap terhadap seluruh persoalan dalam Fiqhi Islam. Sehingga dikenallah dalam khazanah Fiqhi Islam sebagai al-madzahibul arba’ah dan mereka adalahrujukan primer pada pemungutan aturan, tidak saja dalam skala khusus dan penduduk  namun jua pada skala daulah Islamiyyah al-Alamiyyah.


Adapun Madzhab secara bahasa merupakan loka berlangsung (dari fi’il/istilah kerja : dzahaba-yadzhabu), dalam makna syariah adalahjalan yang menolong seorang buat mengetahui al-Qur’an & as-Sunnah dg tepat, contohnya madzhab Syafi’i dengan kata lain cara bagaimana anda tahu al-Qur’an dan as-Sunnah dan melaksanakannya menurut keterangan dari Imam Syafi’i. Dalam Islam tidak terdapat keharusan buat mengekor suatu madzhab khusus sebagaimana pula tdk terdapat larangan guna memegang madzhab eksklusif. Yg dihentikan ialah jika terjadi ta’ashub (sikap fanatisme) thd sebuah madzhab khusus dan menyalahkan madzhab lainnya.

B. Ikhtilaf Dalam Mazhab Fiqhi

Para imam madzhab itupun asalnya tidak langsung membuat madzhab tetapi ikut dulu belajar pada imam lainnya, imam Syafi’i sekitar 15 th belajar pada Imam Malik, demikian jua Imam Ahmad belajar dulu dalam Imam Syafi’i. Sebagaimana seseorang yang inginkan ke Bogor menurut Jakarta harus mengekor dulu rute jalan/madzhab yg telah terdapat, baru nanti bilamana beliau sudah menguasai sepenuhnya, maka ia dapat menciptakan madzhabnya sendiri memakai jalan2 tembus khusus sehingga barangkali lebih cepat. Madzhab yang dibuatnya tersebut sanggup saja lebih modern menurut madzhab sebelumnya dan dia akan dibuntuti oleh semua pengikut madzhabnya tsb, demikian gambarannya.

Oleh karena tersebut bila terdapat orang mengucapkan : Kita nir butuh bermadzhab. Maka lihat dulu siapa yg bicara tsb, bila dia seorang ulama/mujtahid maka perkataannya benar, sebab seseorang mujtahid tdk boleh/haram bikin bermadzhab. Tetapi bilamana beliau seorang yg belum atau tidak menguasai ilmu syari’ah maka perkataannya tersebut wajib  dikoreksi, lantaran inginkan tdk inginkan dia niscaya mesti  bermadzhab, baik madzhab salaf atau beliau bermadzhab dengan mengekor orang kini (khalaf). Diantara ulama-ulama Khalaf yg termashur ialah Hasan Asy’ari, Abdul Qodir Al-Baghdadi, Abu Ma’aali Juwaini & Fakhruddin Ar-Razi. Kesemua tersebut juga dalam Fiqhi dianggap madzhab juga, sebab merumuskan cara-cara tertentu dalam tahu alasan syariat.

Hanya bila seorang telah bermadzhab (baik memakai madzhab salaf maupun khalaf) hendaknya dia berjuang mencari dalil-dalil menurut keterangan dari madzhabnya itu dan berjuang semampunya buat menganalisis sandaran ayat & haditsnya, serta inginkan menerima andai ada pendapat menurut madzhab beda yang lebih kuat. Karena urusan tadi nir berarti dia terbit menurut madzhabnya sebab seluruh madzhab bermuara pada Nabi SAW. Dan tdk butuh seorang itu ekstrem thd madzhab, lantaran seluruh merogoh menurut Nabi SAW, jadi apa yg inginkan difanatikkan.

Dalam syariah Islam terdapat perkara-masalah yg mempunyai sifat prinsip (ushul), tetap (tsawabit), disepakati (mujma’ ‘alaih); namun ada pula kasus-masalah yang mempunyai sifat cabang (furu’), nir tetap (mutaghayyirat) dan diperselisihkan (mukhtalaf fihi). Masalah-perkara furu’ & mutaghayyirat ialah sesuatu yang nir barangkali disepakati sang semua ulama sepanjang zaman, sampai-sampai terjadilah ikhtilaf (disparitas pendapat).

Al-Ikhtilaf tentang sebuah perkara telah terdapat sejak masa Nabi SAW, & dia SAW juga tidak menyalahkan pada salah  satu pihak, bahkan membubuhkan kebebasan untuk mereka bikin berikhtilaf sesuai memakai pendapat & pemikirannya setiap sepanjang masih berada pada koridor syar’iyyah. Dalam masalah ikhtilaf ini terkadang mesti  dipungut keputusan dimana seluruh grup mesti mendapat, dan perkara-masalah laksana ini biasanya ialah masalah teknis yang nir dilafalkan dalam nash al-Qur’an & as-Sunnah. Sehingga disinilah dibutuhkan syura’ dan terdapat seseorang pemimpin yang menyimpulkan istilah akhir menurut syura’ tadi. Hal laksana ini pernah terjadi saat semua sahabat berselisih pada menilai keputusan berperang melawan Quraisy, apakah mereka mesti bertahan di Madinah atau mesti  terbit ke Uhud. Dan akhirnya ditetapkan dari suara beberapa besar buat pergi ke Uhud walaupun Nabi SAW ingin buat bertahan di Madinah.


Ikhtilaf lainnya ialah yang berhubungan dengan pemahaman terhadap nash al-Qur’an & as-Sunnah. Setelah perang Uhud ini Nabi SAW menyuruh dalam semua sahabatnya supaya : “ Janganlah kalian shalat Ashar kecuali pd perkampungan bani Quraizhah (La tushalliyannal ‘ashra illa fi bani quraizhah)! ” Maka seluruh sahabatpun mengemban perintah tsb, tetapi saat ditengah jalan saat Ashar nyaris habis, sampai-sampai mereka perlu memutuskan apakah mengemban perintah nabi SAW atau mengerjakan shalat. Maka beberapa menurut keterangan dari mereka permanen berpegang pada zhahir (tekstual) pesan Nabi SAW & tdk mengerjakan shalat tetapi sesudah hingga ke bani Quraizhah, sedangkan sebagian yang lain berjuang memahami ucapan nabi SAW tsb secara kontekstual sampai-sampai mereka mengerjakan shalat dg cepat kemudian menyusul ke perkampungan bani Quraizhah. Ketika mereka seluruh melaporkan untuk Nabi SAW urusan tsb, maka Nabi SAW nir menyalahkan untuk salah  satu gerombolan .
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Ikhtilaf Dalam Mazhab Fiqhi

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/14/2017

0 komentar Pengertian dan Ikhtilaf Dalam Mazhab Fiqhi

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak