Home » » Pengertian dan Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Pengertian dan Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

A. Pengertian Filsafat Pendidikan 

Filsafat Pendidikan tidak identik dengan filsafat umum atau filsafat murni, sebab filsafat dalam sekian banyak  cabangnya terdiri atas macam. Ada yang dinamakan filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat moral, filsafat sosial, filsafat logika, filsafat seni, dan filsafat pendidikan.

Definisi, filsafat pada umumnya ialah metode berfikir secara bebas, kritis, dan reflektif. Metode atau teknik berfikir laksana ini, pun diterapkan dalam filsafat pendidikan. Tetapi eksklusif dalam filsafat edukasi Islam, kerangka, cara berfikir yang dilakukan ialah berdasar pada norma-norma filsafat Islam tersebut sendiri sebagai mana yang telah dilaksanakan para filosof muslim, yaitu berfikir secara mendalam (radikal), terus menerus (sistematis), dan lengkap (konprehensif) guna mendapatkan kebenaran.

Berkenaan cara berfikir filsafat, maka dalam sistem filsafat pendidi-kan, ditemukan aliran-aliran dalam filsafat pendidikan, dan aliran-aliran filsafat tersebut, relavan pun dengan aliran-aliran dalam filsafat Islam. Terkait dengan ini, Dra. Zuhairini dkk, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam mengurai secara jelas mengenai aliran-aliran dalam filsafat edukasi yang telah dilafalkan di atas.

B. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan 

Dalam kitab Filsafat Pendidikan  karya Zuhairini dkk, dilafalkan dan diuraikan bahwa aliran-aliran dalam filsafat edukasi terdiri atas lima, yaitu ; aliran progressivisme, aliran esensialisme, aliran perennialisme, aliran rekontruksionalisme, dan aliran eksistensialisme.

1. Aliran Progressivisme
Aliran progressivisme ialah aliran filsafat yang berkata tentang esensi manusia, dan inti ajarannya ialah tentang minat dan kemerdekaan dalam teori pengetahuan. Aliran ini sangat dominan dalam abad ke-20. Pengaruhnya paling terasa di semua dunia, khususnya di Amerika Serikat.

Aliran progressivisme terdapat yang mempunyai sifat negatif dan terdapat pula yang positif. Sifat negatif dalam arti, progressivisme menampik otoritarsisme dan absolutisme dalam segala bentuk. Sedangkan sifat positif dalam arti, progressivisme menaruh keyakinan terhadap kekuatan alamiah pada diri manusia. Istilah filsafat yang seringkali dipakai untuk mencerminkan pandangan hidup yang demikian dinamakan pragmatisme, dan dalam lapangan edukasi lebih lazim digunakan istilah “intsrumentalisme” dan “experintalisme”.

Berdasarkan keterangan dari teori aliran progressivisme bahwa insan sanggup guna mengendalikan hubungannya dengan alam. Akan namun di samping keyakinan-keyakinan ini ada pun kesangsian. Dapatkah insan menggunakan kecakapan-nya dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam, pun dalam ilmu pengetahuan sosial ?. Jawabnya merupakan, bahwa pragmatisme dan atau progressivisme yaitu bahwa insan mempunyai kesanggupan itu, bakal tetapi insan dalam memperguna-kan kesanggupannya tersebut sedikit terdapat kesangsian. Meskipun demikian, paham progressivisme tetap bersikap optimis, tetap percaya bahwa insan dapat menguasai semua lingkungan alam dan sosialnya.

Dengan demikian, tugas edukasi menurut keterangan dari progressivisme ialah meneliti dan menguji sejelas-jelasnya sekian banyak  kesanggupan manusia, oleh sebab pendidikan menurut keterangan dari aliran ini ialah alat kebudayaan yang sangat baik.

Alur pertumbuhan pragmatisme-progressivisme bahwasannya telah ada semenjak zaman Yunani Purba, yaitu di zaman Heraclitus (+ 544 - + 484), lantas berlanjut ke zaman Socrates (469-399, Pitagoras (480-410), dan aristoteles. Seterusnya pada abad ke-16, Francis Bacon, John Locke, Rosseu, Kant dan Hegel menyambangkan pikiran-pikiran terhadap pragmatisme-progressivisme, dan menginjak abad ke-19 dan-20 hadir lagi tokoh-tokoh aliran pragmatisme-progressivisme khususnya di Amerika Serikat, contohnya Thomas Paine dan Thomas Jefferson.

Pragmatisme sebagai filsafat dan progressivisme sebagai edukasi erat sekali hubungannya dengan keyakinan dalam edukasi yang bertujuan untuk membuat warga masyarakat yang demokratis. Untuk menjangkau tujuan itu maka isi edukasi lebih mengkhususkan bidang-bidang studi laksana IPA, sejarah keterampilan, serta hal-hal yang bermanfaat atau langsung dialami oleh masyarakat.

2. Aliran Esensialisme
Aliran esensialisme ialah aliran filsafat yang berasumsi bahwa hal-hal yang esensial dari pengalaman insan yang mempunyai nilai guna dibimbing. Semua insan dapat mengenal hal-hal yang esensial, bilamana ia berpendidikan. Jadi aliran esensialisme memandang bahwa edukasi harus berpijak pada dasar nilai-nilai yang mempunyai kejelasan dan tahan lama, sehingga menyerahkan kestabilan dan arah yang jelas. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang adalahreaksi terhadap hidup yang megarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik, pun diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham pengikut aliran idealisme dan realisme.
Tokoh utama aliran esensialisme merupakan;
1.    Desiderius Ersamus (abad ke-15 dan mula abad ke-16) yang berusaha supaya kurikulum sekolah mempunyai sifat humanistis dan mempunyai sifat internasional, sehingga dapat mencakup lapisan menenah dan kaum aristokrat.
2.    Johann Amos Comenius (1592-1670) yang berasumsi bahwa pendidikan memiliki peranan menyusun anak cocok dengan kehendak Tuhan.
3.    John Locke (1632-1704) yang berasumsi bahwa edukasi selalu dekat dengan kondisi dan kondisi
4.    Johann Henric Pestalozzi (1746-1827) yang paling percaya bahwa pada diri insan ada kemampuan-kemampuan sewajarnya, dan ia berkeyakinan bahwa manusia pun mempunyai hubungan transendental dengan Tuhan
5.    Johann Friederich Frobel (1782-1852) yang berpandangan bahwa insan tunduk dan mengekor ketentuan-ketentuan hukum alam. Dia pun memandang bahwa anak ialah makhluk yang berekspresi dan kreatif yang tingkah lakunya bakal nampak adanya kualitas metafisis. Tugas edukasi menurut-nya ialah memimpin anak didik ke arah kesadaran diri sendiri, cocok dengan fitrah kejadiannya.
6.    Johann Friederic Herbert (1776-1841) yang berasumsi bahwa destinasi pendidikan ialah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebaikan dari yang mutlak dan berikut yang dinamakan proses pencapai destinasi pendidikan. Sebagai pengajaran yang mendidik.
7.    William T. Harris (1835-1909) yang bepandangan bahwa tugas pendidikan ialah terbukanya realitas menurut sususunan yang pastu menurut spiritual, dan status sekolah ialah sebagai lembaga yang merawat nilai-nilai yang sudah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri untuk masyarakat.

Tokoh esensialisme dalam menjaga pendapat dan pahamnya, mereka menegakkan suatu organisasi yang mempunyai nama Essentialist Committee for the Advancement of Education pada tahun 19930, dan melewati organisasi ini, pandangan-pandangan esensialisme dikembangkan ke dalam dunia pendidikan. Adapun destinasi umum aliran esensialisme ialah membentuk individu bahagia di dunia dan akhirat.

3. Aliran Perennialisme
Aliran perennialisme dalam aliran filsafat, berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang mempunyai sifat kekal abadi. Aliran ini memandang bahwa alangkah pentingnya edukasi dalam proses mengembalikan suasana manusia zaman canggih ini untuk kebudayaan masa lampau, sebab pendidikan dianggap lumayan ideal dan sudah teruji ketangguhannya.
Asas yang dianut perennialisme bersumber pada filsafat kebudayaan yang berkiblat dua aspek. Pertama, teologis yang bernaung pada doktrin agama, dan kedua ialah sekuler yang berpegang pada gagasan dan cita filosofis Plato dan cita filosofis Aristoteles. Kedua figur ini, dan tergolong Thomas Aquinas mempunyai pengaruh terhadap aliran perennialisme.
Berdasarkan keterangan dari Plato :

Manusia secara kodrati mempunyai tiga potensi, yakni nafsu, kemauan, dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada potensi tersebut dan untuk masyarakat, supaya kebutuhan yang terdapat pada tiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi. Ide-ide Plato tersebut, dikembangkan oleh Aristotelss dengan lebih men-dekatkan untuk dunia kenyataan. Berdasarkan keterangan dari Aristoteles :

Tujuan pendidikan ialah “kebahagiaan”. Untuk menjangkau tujuan edukasi itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelek mesti dikembangkan secara seimbang.
Selanjutnya, menurut keterangan dari Thomas Aquines :

Pendidikan ialah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang terdapat dalam individu supaya menjadi aktualitas aktif dan nyata. Dalam urusan ini, peranan guru ialah mengajar, memberi bantaun pada anak diri guna mengembangkan potensi-potensi yang terdapat padanya.

Prinsip-prinsip edukasi aliran perennialisme yang sudah diuraikan, sepertinya telah memprovokasi sistem edukasi modern, laksana pembagian kurikulm guna sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi dan edukasi orang dewasa.

4. Aliran Rekonstruksionalisme
Aliran rekonstruksionalisme dalam aliran filsafat berjuang membina sebuah konsensus yang sangat luas dan paling barangkali tentang destinasi utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Untuk menjangkau tujuan tersebut, aliran rekonstruksionalisme berjuang mencari kesepakatan seluruh orang tentang tujuan utama yang dapat menata tata kehidupan insan dalam sebuah tatanan baru semua lingkungannya. Karena itu, melewati lembaga dan proses pendidikan, rekonstruksionalisme hendak “merombak tata rangkaian lama, dan membina tata rangkaian hidup kebudayaan yang sama sekali baru.

Para pengikut aliran rekonstruksionalisme berkeyakinan bahwa bangsa-bangsa di dunia memiliki hasrat yang sama untuk membuat satu dunia baru, dengan satu kebudayaan bari di bawah satu kedaulatan dunia, dalam pengawasan beberapa besar umat manusia. Pikiran-pikiran rekonstruksionalisme berikut yang lantas menjiwai pandangan pemuka-pemuka dunia dalam upaya membuat kelestarian dunia, dan dalam rangka mengatasi kesenjangan yang melanda kehidupan umat insan dewasa ini.

5. Aliran Eksistesialisme
Eksistensialisme ialah filsafat yang memandang segala fenomena dengan berpangkal untuk eksistensi. Dengan demikian, eksistensialisme pada hakikat-nya bertujuan mengembalikan eksistensi umat insan sesuai dengan suasana hidup asasi yang dipunyai dan dihadapinya.
Paham eksistensialisme tidak saja satu, tetapi terdiri atas sekian banyak  pandangan yang berbeda-beda. Berdasarkan keterangan dari Kierjegaard eksistensialisme ialah suatu penolakan terhadap sebuah pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Jadi eksistensialisme menurutnya ialah segala format kemutlakan rasional. Dari sini dicerna bahwa aliran ini berkeinginan memadukan hidup yang dipunyai dengan pengalaman, dan kondisi sejarah yang ia alami, dan tidak mau terbelenggu oleh hal-hal yang sifatnya abstrak.
Mengenai pandangannya mengenai pendidikan, diputuskan bahwa aliran eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan edukasi dalam bentuk. Oleh karena itu, eksistensialisme dalam urusan ini menampik bentuk-bentuk  edukasi sebagaimana yang terdapat sekarang. Berdasar pada pandangan aliran eksistensialisme tersebut, maka tidak sedikit kalangan berpengalaman pendidikan yang tidak setuju terhadaonya, sampai-sampai aliran eksistensialisme tidak tidak sedikit dibicarakan dalam filsafat pendidikan.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Pengertian dan Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/03/2017

0 komentar Pengertian dan Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak