Skip to main content

Pengertian Asuransi :Macam-macam dan Hukumnya Dalam Islam

Pengertian, Macam-macam dan Hukum Asuransi Dalam Islam
Asuransi dalam bahasa Arab yaitu biaya pertanggungan yang biasa dikenal sebagai at-ta'min, penanggung dianggap mu'ammin dan  tertanggung disebut musta'min. At-ta'min diambil menurut amanah yang memberikan perlindungan, kenyamanan, keamanan, dan kebebasan berdasarkan rasa takut. Pengertian at-ta'min adalah seseorang yang membayar atau menyerahkan angsuran sehingga dia tahu ahli waris mendapatkan jumlah uang yang disepakati atau untuk mendapatkan kompensasi atas harta yang hilang.

A. Pengertian Asuransi

Pengertian Asuransi berdasarkan Fikih Kontemporer Wahbah Az-Zuhaili  yaitu sesuai dengan distribusinya. Ia membagi asuransi dalam dua bentuk, yaitu at-ta'min at-ta'awuni dan at-ta'min bi qist sabit. At-ta'min at-ta'awuni atau asuransi kontribusi adalah: "Konvensi sejumlah orang untuk membayar sejumlah uang menjadi kompensasi ketika salah satu dari mereka menerima kerugian." At-ta'min bi qist sabit atau asuransi dengan saham tetap adalah: "kontrak yang mengharuskan seseorang untuk membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri dari beberapa pemegang saham menggunakan perjanjian jika peserta asuransi menerima kecelakaan maka diberikan kompensasi."

B. Macam-macam Asuransi

Berdasarkan manfaatnya, asuransi dibagi menjadi dua bagian utama yaitu asuransi kecelakaan dan asuransi jiwa.

a. Asuransi kecelakaan 

Yakni pertanggungan asuransi yang mencakup kecelakaan yang menimpa harta benda tertanggung. Tujuannya adalah untuk memperbarui kerugian yang diderita oleh tertanggung karena kecelakaan yang menimpa dirinya. Asuransi ini dibagi menjadi dua jenis.
1. Asuransi barang 
Asuransi barang  yaitu jaminan kompensasi untuk barang-barang milik tertanggung. Bentuk asuransi bervariasi, misalnya, kontribusi perlindungan kebakaran, asuransi pencurian, atau kontribusi terhadap kematian hewan peliharaan.
2. Asuransi pertanggungjawaban 
Asuransi pertanggungjawaban yaitu jaminan untuk tertanggung jika ada klaim kerugian berdasarkan pihak lain karena kecelakaan yang harus dia tanggung. Bentuk pertanggungan yang paling umum menurut jenis ini termasuk asuransi kecelakaan lalu lintas atau asuransi kecelakaan kerja.

b. Asuransi jiwa

Asuransi jiwa yaitu asuransi yang mencakup semua jenis jaminan yang berkaitan dengan tertanggung sendiri. Artinya, tertanggung akan diberikan sejumlah uang jika kecelakaan tertentu terjadi pada tubuhnya atau mengancam keselamatan. Jumlah uang yang diserahkan telah disepakati sebelumnya antara tertanggung menggunakan penjamin.

C. Hukum Asuransi Dalam Islam

Ada dua jenis asuransi yaitu pertanggungan ta'awun dan asuransi konvensional. Mengenai biaya cakupan ta'awun, tidak ada perbedaan pendapat tentang kemampuannya. 

1. Hukum Asuransi Ta'awun

Asuransi Ta'awun  sangat direkomendasikan oleh Syariah. Setiap pelanggan, pada dasarnya, menyerahkan kekayaannya menjadi kebaikan (tabarru ') untuk seluruh perusahaan kemudian menggunakan pelanggan (asuransi) yang perlu sesuai dengan ketentuan yang disepakati bersama. Dengan demikian, asuransi ta'awun termasuk dalam kategori akadtabarru (hadiah atau sedekah). Dalam transaksi ini elemen yang lebih terlihat melakukan kebaikan (tabarru ') berdasarkan pada elemen laba-rugi. Orang yang bergabung dalam asuransi ini tidak mengejar untung. Satu-satunya tujuan mereka adalah untuk saling membantu dan meringankan beban. Tetapi, dalam zhahir, jenis tabarru 'kontrak dalam bentuk yang berbeda, tidak sama dengan menggunakan jenis-jenis lain dari kontrak tabarru' yang telah dikenal sebelumnya dalam literatur fiqh Islam.

2. Hukum Asuransi Konvensional

Asuransi sendiri (baik ta'awun dan konvensional) adalah jenis transaksi yang baru ditemukan setelah abad ke-14 Masehi. Ibn Abidin, dia adalah cendekiawan Muslim abad ke-13, yang menjelaskan fatwa asuransi syariah pertama. Ibn Abidin dalam bukunya Hasyir Ibn'abidin (Radd Al-Mukhtar). Fatwa ini terkait dengan jaminan (asuransi) bagi para pedagang di maritim. Pedagang adalah pihak yang diasuransikan, sedangkan penjamin (penjamin) adalah perwakilan militer. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengklaim jika terjadi bencana yang menimpa kargo di kapal kargo. Perwakilan militer harus menyerahkan kompensasi kepada pedagang untuk barang-barang yang hilang di kapal dengan imbalan jumlah uang (asuransi) yang diserahkan pedagang kepada mereka.
Ibn Abidin mengeluarkan fatwa haram terhadap transaksi ini. Ini karena sebab-sebab berikut.
a. Transaksi ini membutuhkan sesuatu yang tidak perlu. Ini dibolehkan karena tidak ada penyebab syar'i yang membutuhkan jaminan. 
b. Perjanjian jaminan ini tidak termasuk sebagai jaminan untuk setoran jika setoran dikutip.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar