Home » » Metode Mempelajari Ilmu Fiqhi

Metode Mempelajari Ilmu Fiqhi

Metode Mempelajari Ilmu Fiqhi

Metode Mempelajari Ilmu Fiqih

Kajian Epistemologi dalam teori pengetahuan  membicarakan mengenai bagaimana teknik menerima pengetahuan menurut obyek yg hendak diketahui/dipikirkan. Para fuqoha dalam upayanya buat mengetahui hakikat syari’at Islam dan memutuskan aturan-hukum syari’at secara terang, telah merumuskan sebuah sistem beranggapan yg  khas, sebagaimana yang masih terdapat dalam ilmu Ushul Fiqih. Selanjutnya mereka mengaku bahwa Fiqhi dengan sistem ijtihadnya yang dirasakan Ushul Fiqhi tersebut ialah bentuk mula dari filsafat Islam yg murni (Omar Amin Husein, Filsafat Islam). Berikut cara-cara yg dilaksanakan para ulama Fiqih dalam mengerjakan istinbat. Istinbath dari Muhammad bin ‘Ali al Fayyumi adalah upaya unik aturan menurut al-Qur'an atau as-Sunnah dengan jalan Ijtihad. Ijtihad ditafsirkan menjadi pengerahan semua keterampilan pada upaya mengejar hukum-aturan syara’ (Al Baidawi).  

Istinbath aturan syariah dipungut dari sumber & alasan yg bisa dijadikan acuan penetapan aturan. Sumber atau alasan syariah terbagi sebagai 2, yakni :
1. Sumber & alasan yang disepakati, yakni al-Qur'an, as-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. (Abd. Al Majid Muhammad Al Khafawi, Mesir)
2. Dalil yang tidak disepakati yaitu; istihsan, mashalih al-mursalah, ‘urf (norma adat), Istishab, syar’u man Qoblana, mazhab sahabat, dan sad al-zari’ah.

Dalil di samping Al-Quran & As-Sunnah sebenarnya ialah hanya adalahdalil penyokong yang sebagai alat tolong buat menggapai aturan-hukum yang dikandung pada Al Quran & As sunnah. Bagi selanjutnya alasan misalnya; Ijma’,  Qiyas, istihsan, mashalih al-mursalah, ‘urf (adat norma), Istishab, syar’u man Qoblana, mazhab teman, dan sad al-zari’ah oleh beberapa ulama dinamakan dengan cara istinbat. Ayat Al Quran pada menjelaskan pengertiannya memakai ragam macam cara, terdapat yg tegas & terdapat yg nir tegas, ada yang melalui makna bahasanya & terdapat pun yg melewati maksud hukumnya. Disamping tersebut ada pula 2 alasan yang seolah berbenturan sebagai akibatnya membutuhkan penyelesaian. Ada sekian banyak  cara menurut tidak sedikit sekali aspek bikin menimba pesan-pesan yg terdapat dalam Al Quran & Sunnah Rasulullah.  

Secara garis besar  ada tiga macam cara (cara) istinbat, yaitu:

1. Metode menurut keterangan dari segi kebahasaan

Untuk mengetahui 2 asal yang berbahasa Arab pasti memerlukan kemampuan tersendiri. Sehingga semua ulama merangkai semacam “semantik” yg akan digunakan pada praktik penalaran Fiqih. Ada sejumlah katagori lafal atau redaksi, diantaranya ialah perkara;
a. Amar, Nahi dan Takhyir
Amar (perintah); lazimnya ayat ini menggunakan kata  “amara”  atau kata beda yang berarti perintah (bentuk kata kerja). Kaidah yang diputuskan diantaranya ialah meskipun perintah dapat menunjukkan tidak sedikit sekali pengertian, tetapi dalam dasarnya mengindikasikan wajib  dilakukan kecuali ada alasan yang memalingkannya. Begitu pun dengan kata “Nahy” sebagai sebaliknya yg menunjukkan hokum haram. Contoh surat: An Nahl : 90
Takhyir (memberi pilihan); boleh mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu yang dalam urusan ini menunjuk dalam aturan halal atau mubah. Contoh surat: Al Baqarah: 187
b. Ada pula katagori lafal Umum  (‘Am) dan Khusus (Khas) bila diamati dari cakupannya.
c. Mutlaq ialah ayat yg nir diberi batas secara harfiah oleh suatu peraturan sehingga mesti dicerna secara mutlaq. Sebaliknya ayat Muqoyyad mesti dilaksanakan sinkron dengan batasan (kaitannya).
d. Mantuq ialah memberi definisi harfiah secara tegas pada ayat atau hadits Rasulullah sementara Mafhum adalahpengertian tersirat dari lafal atau definisi kebalikan menurut keterangan dari lafal.
e. Katagori berikutnya adalahlafal yang kentara (nash), Zhahir (dugaan keras), & Mujmal ialah tidak jelas & bikin tahu mesti dengan keterangan menurut luar (bayan).
f. Lafal menurut segi pemakaiannya terdapat hakikat dengan kata lain lafal yang dipakai sesuai dengan maksud penciptaanya dan lafal  majaz ialah menggunakan lafal pada selain definisi aslinya.
g. Takwil memalingkan sebuah lafal dari arti yang zahir untuk makna lain.

2. Metode Maqasid syari’ah.

Ayat-ayat dan hadits aturan secara kuantitaif terbatas jumlahnya bakal dapat berkembang memakai metode ini. Pengembangan cara ini memakai istinbat memakai qiyas (analogi), istihsan, istishab (menetapkan berlakunya sebuah hukum yang telah ada sebelumnya atau meniadakan aturan yang memang tiada sampai ada bukti yg mengubahnya) , maslahah mursalah, dan ‘urf (tata teknik kebiasaan)

3. Metode Ta’arud dan Tarjih

Suatu alasan terkesan menghendaki tidak sinkron dengan hukum yang dikehendaki oleh alasan lain. Meskipun  sebetulnya nir ada pertentangan diantara Kalam Allah dan Rasul-Nya. Mungkin melulu ada pada pandangan Mujtahid sebagai akibatnya butuh ada upaya keras buat menggali jalan keluar. Seperti ; menganalisis lebih dulu turunnya, menganalisis yg lebih bertenaga, atau mengkompromikan, dll.
 
Umat Islam menurut disiplin ilmu Fiqhi Islam dikelompokkan sebagai tiga golongan; grup kesatu yakni gerombolan  semua ulama yg dapat berijtihad, gerombolan  ke 2 yakni pencari ilmu dan semua pelajar ilmu syari’ah dan grup ketiga merupakan kumpulan rakyat umum .
a. Bagi kumpulan ulama maka mereka mempunyai keharusan berijtihad & tdk ada kewajiban (bahkan dilarang) mengekor suatu pendapat menurut keterangan dari ulama yg lain.
b. Bagi kumpulan pelajar ilmu syariah disarankan sanggup memahami & menguasai alasan pendapat yg ia ikuti (mazhabnya) sembari disarankan buat terus mendongkrak ilmunya sebagai akibatnya dapat menjangkau derajat mujtahid.
c. Sedangkan untuk grup awam, keharusan mereka ialah bertanya dan mengekor pendapat ulama (taqlid) thd permasalahan sehari-hari yang mereka hadapi..
Terimakasih telah membca artikel berjudul Metode Mempelajari Ilmu Fiqhi

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/14/2017

0 komentar Metode Mempelajari Ilmu Fiqhi

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak