Skip to main content

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Lansia

Semakin bertambahnya umur seseorang semakin rentan terkena berbagai penyakit yang akan mempengaruhi kesehatan mereka. Masalah kesehatan pada lansia disebabkan oleh banyak faktor. Pada tulisan kali ini, menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan lansia.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Lansia

Berikut diuraikan beberapa faktor yang menyebabkan kesehatan lansia yang perlu diketahui, yaitu:

1. Kesehatan Fisik Pada Lansia

Faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia. Keadaan fisik merupakan faktor utama menurut kegelisahan manusia. Kekuatan fisik,pancaindera, potensi dan kapasitas intelektual mulai menurun pada tahap-tahap eksklusif.
Baca Juga : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan
Dengan demikian orang lanjut usia wajib  beradaptasi balik  dengan ketidak berdayaannya. Kemunduran fisik ditandai menggunakan beberapa agresi penyakit seperti gangguan dalam sirkulasi darah, persendian,sistem pernafasan, neurologik, metabolik, neoplasma dan mental. Sehingga keluhan yang sering terjadi adalah gampang letih, mudah lupa, gangguan saluran pencernaan, saluran kencing, fungsi indra dan menurunnya konsentrasi. Hal ini sinkron dengan pendapat Joseph J. Gallo berkata, untuk mengkaji fisik pada orang lanjut usia harus dipertimbangkan keberadaannya misalnya menurunnya telinga, penglihatan, gerakan yang terbatas, dan waktu respon yang lamban.

2. Kesehatan Psikis Pada Lansia

Dengan menurunnya berbagai kondisi pada diri orang lanjut usia secara otomatis akan ada kemunduran kemampuan psikis. Salah satu penyebab menurunnya kesehatan psikis adalah menurunnya pendengaran. Dengan menurunnya fungsi dan kemampuan telinga bagi orang lanjut usia maka umum menurut mereka yang gagal dalam menangkap isi pembicaraan orang lain sehingga mudah menimbulkan perasaan tersinggung, tidak dihargai dan kurang percaya diri.

3. Faktor Ekonomi Pada Lansia

Pada umumnya para lanjut usia adalah pensiunan atau mereka yang kurang produktif lagi. Secara ekonomis keadaan lanjut usia bisa digolongkan menjadi 3 (tiga) yaitu golongan mantap, kurang mantap dan rawan. Golongan mantap merupakan para lanjut usia yang berpendidikan tinggi, sempat menikmati kedudukan/jabatan baik. Mapan pada usia produktif, sebagai akibatnya pada usia lanjut bisa berdikari dan tidak tergantung dalam pihak lain. Pada golongan kurang mantap lanjut usia kurang berhasil mencapai kedudukan yang tinggi ,namun sempat mengadakan investasi dalam anak-anaknya, contohnya mengantar anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi, sehingga kelak akan dibantu oleh anak-anaknya. Sedangkan golongan rawan yaitu lanjut usia yang tidak mampu menaruh bekal yang cukup kepada anaknya sehingga ketika purna tugas tiba akan mendatangkan kecemasan lantaran terancam kesejahteraan Pemenuhan kebutuhan ekonomi bisa dicermati dari pendapatan lanjut usia dan kesempatan kerja.

4. Faktor Pendapatan Lansia

Pendapatan orang lanjut usia asal menurut banyak sekali asal. Bagi lanjut usia yang sampai ketika ini bekerja menerima penghasilan dari honor  atau upah. Selain itu sumber keuangan yang lain merupakan keuntungan, bisnis, sewa, investasi, sokongan menurut pemerintah atau swasta, atau dari anak, kawan dan famili (Kartari, 1993 ; Yulmardi, 1995). Upah/gaji sebagai imbalan menurut hasil kerja para lanjut usia tidaklah tinggi.

5. Faktor Kesempatan Kerja Bagi Lansia

Bekerja adalah suatu aktivitas jasmani atau rohani yang membentuk sesuatu. Bekerja seringkali dikaitkan menggunakan penghasilan dan penghasilan seringkali dikaitkan dengan kebutuhan manusia. Untuk itu agar bisa permanen hidup insan wajib  bekerja. Dengan bekerja orang akan bisa member makan dirinya dan keluarganya, bisa membeli sesuatu, bisa memenuhi kebutuhannya yang lain Saat ini ternyata diantara lanjut usia banyak yang tidak bekerja. Tingkat pengangguran lanjut usia nisbi tinggi pada daerah perkotaan, yaitu dua,2%. 

Dengan makin sempitnya kesempatan kerja maka kecenderungan pengangguran lanjut usia akan semakin umum . Partisipasi angkatan kerja makin tinggi pada perdesaan daripada pada kota. Lanjut usia yang masih bekerja sebagian akbar terserap pada bidang pertanian. Di perkotaan lebih banyak yang bekerja di sektor perdagangan yaitu 38,4% sedangkan yang bekerja disektor pertanian 27,0% , sisanya berada disektor jasa 17,3%, industri 9,tiga% angkutan tiga,tiga%,bangunan 2,8% dan sector lainnya relatif mini  1%.Seringkali mereka menemukan fenomena bahwa sangat sedikit kesempatan kerja yang tersedia bagi mereka, walaupun mereka ingin bekerja dan mampu untuk melakukan pekerjaan tadi, lantaran pendidikan yang dimiliki lanjut usia tidak lagi terarah pada pasar tenaga kerja tidak dimasukkan pada kebijakan-kebijakan pendidikan yang berkelanjutan. Pembinaan ketrampilan dan pembinaan yang dilakukan terus-menerus hanya berlaku bagi orang-orang muda . Hal inilah yang menyebabkan sulitnya lanjut usia bersaing di pasaran kerja, sehingga banyak orang lanjut usia yang tidak bekerja meskipun tenaganya masih bertenaga dan mereka masih berkeinginan buat bekerja.

6. Faktor Hubungan Sosial Pada Lansia

Faktor hubungan sosial meliputi interaksi sosial antara orang lanjut usia dengan keluarga, teman sebaya/ usia lebih muda, dan rakyat. Dalam interaksi ini dikaji berbagai bentuk aktivitas yang diikuti lanjut usia pada kehidupan sehari-hari.

7. Faktor Sosialisasi Pada Masa Lansia

Sosialisasi lanjut usia mengalami kemunduran selesainya terjadinya pemutusan hubungan kerja atau tibanya saat purna tugas. Teman-teman sekerja yang umumnya sebagai curahan segala perkara telah tidak dapat dijumpai setiap hari.Lebih-lebih lagi saat sahabat sebaya/sekampung sudah lebih dahulu meninggalkannya. Sosialisasi yang dapat dilakukan merupakan dengan famili dan masyarakat yang relatif berusia muda .Pada umumnya hubungan sosial yang dilakukan para lanjut usia merupakan lantaran mereka mengacu dalam teori pertukaran sosial. Dalam teori pertukaran sosial sumber kebahagiaan manusia umumnya dari menurut interaksi sosial.
Baca Juga : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Keluarga
Hubungan ini mendatangkan kepuasan yang timbul dari konduite orang lain.Pekerjaan yang dilakukan seorang diripun bisa menimbulkan kebahagiaan misalnya halnya membaca buku, menciptakan karya seni, dan sebagainya, lantaran pengalaman-pengalaman tersebut dapat dikomunikasikan menggunakan orang lain.

8. Faktor Tradisi di Indonesia Bagi Lansia

Di Indonesia umumnya memasuki usia lanjut tidak perlu dirisaukan.Mereka relatif kondusif karena anak atau saudara-saudara yang lainnya masih adalah agunan yang baik bagi orang tuanya. Anak berkewajiban menyantuni orang tua yang sudah tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Nilai ini masih berlaku, memang anak harus memberikan kasih sayangnya kepada orang tua sebagaimana mereka dapatkan waktu mereka masih mini  .. Para usia lanjut mempunyai peranan yang menonjol sebagai seorang yang “dituakan”, bijak dan berpengalaman, pembuat keputusan , dan kaya pengetahuan. Mereka tak jarang berperan menjadi contoh bagi generasi belia, walaupun sebetulnya umum diantara mereka tidak mempunyai pendidikan formal.

Pengalaman hidup lanjut usia merupakan pewaris nilai-nilai sosal budaya sehingga dapat menjadi panutan bagi transedental kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Walaupun sangat sulit buat mengukur berapa akbar produktivitas budaya yang dimiliki orang lanjut usia, tetapi produktivitas tersebut dapat dirasakan keuntungannya oleh para generasi penerus mereka. Salah satu produktivitas budaya yang dimiliki lanjut usia adalah sikap suka  memberi.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar