Home » » Cara Mudah Kuliah di Amerika dengan Beasiswa

Cara Mudah Kuliah di Amerika dengan Beasiswa

Cara Mudah Kuliah di Amerika dengan Beasiswa

A. Temukan Informasi Beasiswa Kuliah di Amerika

Sebagian barangkali merasa pertanyaan ini paling mengesalkan karena, hey, bila kamu beneran hendak tahu, sebetulnya kamu dapat mencari sendiri informasi diGoogle tanpa bertanya pada saya. But no, saya sendiri barangkali termasuk orang yang pernah mengemukakan pertanyaan yang sama. Padahal prosesnya ya telah jelas dan tentu yaitu menggali informasi, mendaftar, lengkapi persyaratan, berdoa, dan tunggu hasilnya. Tetapi, pertanyaan ini berulang kali hadir di kepala. Karena jujur saja, kadang saya masih heran dan separuh tidak percaya dapat mendapat beasiswa Fulbright ke Amerika, di di antara universitas yang menurut keterangan dari saya lumayan bergengsi pula, yakni University of Arizona. Bear Down! Saya individu merasa beruntung, tetapi tidak sedikit juga yang memperbanyak hati saya kalau tersebut bukan tentang tuah semata, tetapi pun karena perjuangan serta doa saya dan orang tua. Saat saya medapatkan beasiswa ini, saya tidak berada pada etape ambisius seperti ketika di bangku kuliah, di mana saya terobsesi mesti mendapat nilai yang sangat baik dan lulus sebagai yang terbaik.

Saat melamar beasiswa ini, saya pasrah, saya telah bersungguh-sungguh dan telah berjuang sebaik-baiknya, jadi sekiranya tidak berhasil, saya tidak akan terlampau kecewa sebab paling tidak saya telah mencoba. Namun, lantas saya juga sadar, tersebut juga akumulasi dari usaha saya sekitar sekolah dan kerja, yang pada tadinya bukan untuk membuat CV yang bagus supaya mendapatkan beasiswa. Kenyataannya, ketika melamar kerja atau beasiswa, jejak langkah tersebut akan dianggarkan juga. Seberapa sungguh-sungguh anda dalam belajar atau berkarya sebelumnya, sehingga anda berhak menemukan beasiswa ini? Seberapa bertanggungjawabkah anda akan sekolah dan kegiatan sebelumnya sehingga anda pasti tidak bakal menyalahgunakan beasiswa ini? Saya sengaja menyebutkan ini sebab saya hendak adik-adik yang barangkali masih sekolah atau kuliah bersungguh-sungguh dengan apa yang digarap atau dipelajarinya. Berusahalah menemukan record yang bagus ketika sekolah dan kuliah, sebab prestasi yang anda buat tersebut pasti akan bermanfaat untukmu di sebuah hari nanti. Saya berani menuliskan hal ini sebab saya telah membuktikannya. Saya tidak merasa paling pintar sehingga dapat pergi ke Amerika. Saya dulu memang pernah memiliki mimpi untuk keliling dunia, namun saya merasa itu melulu sebatas angan belaka. Saya ingat pun pernah berdoa supaya saya diberi peluang ke luar negeri walaupun saya tidak begitu merasa jelas apa tujuannya. But it did come true. Saya melulu anak Indonesia biasa yang datang dari suatu desa yang barangkali tidak terdapat gaungnya. Orang tua saya melulu petani kecil biasa. Bahkan tidak terdapat satu juga di family saya yang menjadi pegawai kantoran, ataupun PNS. Saya ialah generasi kesatu yang melanjutkan sekolah sampai jenjang SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Mungkin karena tersebut lah saya bersungguh-sungguh sebab saya tidak hendak jerih payah orang tua saya sia-sia. 

Namun demikian, saya sendiri merasa bila pemikiran saya, bahkan sampai ketika ini, paling sempit sebab memang dunia saya kecil, dan saya melulu menerima apa yang disuguhkan pada saya, sebuahpemikiran yang masih berjuang saya ubah. Jadi bila sebagian orang merasa saya rendah hati, tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab saya memang tidak punya yang dapat disombongkan. Ketika dulu di sekolah saya juara atau ketika kuliah mendapat IPK yang baik, saya tahu saya dapat mempertanggungjawabkannya, sebab saya benar-benar belajar, berjuang dan tidak sebatas berleha-leha, lagipula mencontek supaya dapat nilai ‘A’. Everything comes with a price, tidak boleh dikira saya begitu sebab memang pintar dari sononya. So, this is what I want you to think:

B. Bersungguh-sungguh dalam Mencari Beasiswa

Bisa kuliah di Amerika memang suatu anugerah untuk saya, lagipula saya jadi punya peluang untuk menyalurkan kegemaran ‘mbolang’ saya ke tempat-tempat yang indah. Saya dapat merasakan sendiri rasanya bermain salju ketika musim dingin, menatap daun-daun di pohon yang berubah warna ketika musim gugur, seluruh yang tidak terdapat di negeri saya, Indonesia. 

Namun yang saya bisa lebih dari itu ke Amerika dengan beasiswa, tidak saja tentang mutual understanding antara Amerika dan kebiasaan kita, namun lebih jauh lagi it’s about the world! Saya bertemu dengan tidak sedikit orang dari lintas benua dengan latar belakang yang berbeda. Hal yang menarik ialah saya bisa berdiskusi dengan mereka dan kadang saya terkesima dengan teknik pandang mereka yang sekitar ini tidak pernah terbesit di pikiran saya. Saya jadi tahu kebiasaan mereka dan alih-alih menghakimi, urusan tersebut membuat saya lebih mengerti, memahami, dan menghargai mereka. Jadi sebetulnya pergi ke Amerika (atau negara lainnya) bukan semata-mata untukcheck-in di lokasi berbeda, lebih dari itu ialah untuk membuka benak kita.

C. Mengetahui Lebih Banyak Informasi Beasiswa

Hal beda yang saya senangi dengan kuliah di Amerika ialah saya jadi tahu rasanya menjadi minoritas. Sebagai seorang muslim, saya tergolong dalam kumpulan mayoritas di Indonesia. Meskipun saya selalu bersangkutan baik dengan teman-teman yang bertolak belakang agama, menjadi minoritas di negeri orang tersebut menantang sekali. Awalnya saya cemas akan tidak sedikit orang yang tidak menyenangi saya, terutama sebab saya menggunakan jilbab, paling terlihat identitas keislaman saya. Kita sendiri tidak jarang mendengar tidak sedikit media mengabarkan citra buruk Islam di dunia.Guess what, sejauh ini, Alhamdulillah saya merasa aman dan tenang. Saya bertemu tidak sedikit orang yang paling baik dan ramah pada saya. Mereka paling menghargai dan tidak jarang kali siap menolong saya. Saya merasa terlindungi. Saya jadi berpikir, mungkin kumpulan minoritas di Indonesia menikmati kebahagiaan yang sama ketika kita memuliakan dan menghargai perbedaan yang ada. Dan mungkin, mereka menikmati ketakutan dan kekhawatiran yang sama ketika kita berjuang mencurangi hak-hak mereka. Kekhawatiran saya sebelumnya memang lumrah tapi toh tidak perlu terlampau dirisaukan, sebab dalam hidup ini prinsip dasarnya merupakan:

D. Beasiswa Menuntut Kita Menjadi Orang Baik di Negeri Orang 

Di samping bertemu dengan orang Amerika dan rekan dari negara lain, saya tentunya pun bertemu dengan rekan seperantauan dari Indonesia yang tidak semuanya dibawah naungan Fulbright, namun program beasiswa yang berbeda-beda. Saya jadi malu sebab tidak memahami program-program tersebut sebelumnya. Ternyata peluang beasiswa tersebut jauh lebih tidak sedikit dari yang saya duga. Dan keterbatasan informasi ini, masih menjadi masalah untuk sebagian distrik di bumi Indonesia. Sekalipun peluang beasiswa tersebut banyak, tidak semuanya memiliki akses yang sama terhadap informasi itu dan tidak semuanya terbiasa menggali tahu sendiri. Bukan bermaksud memanjakan tipe-tipe orang yang masih suka ‘disuapi’ dengan informasi semacam ini, tetapi masing-masing orang memerlukan waktu yang bertolak belakang untuk membuka pikirannya sebelum kesudahannya mereka dapat mandiri. Akan lebih baik andai sekolah atau jajaran yang terdapat mengekspos sebanyak barangkali informasi mengenai beasiswa untuk siswa atau mahasiswa sambil mengajar mereka untuk menggali informasi secara mandiri. Kadang mereka tidak mengupayakan bukan sebab mereka fobia tidak berhasil, tapi malah karena mereka tidak tahu bila mereka punya peluang untuk mencoba. Dan andai mereka tidak menggali tahu, mungkin sebab mereka belum terbiasa dengan hal-hal di luar apa yang disuguhkan pada mereka. 

Tugas kita seluruh lah guna merubah urusan ini. Berikan mereka exposurepada peluang yang ada, latih mereka guna mencari peluang ini, dan andai satu atau dua orang berhasil, anda bisa bercita-cita hal tersebut dapat menginspirasi dan memotivasi yang lainnya, tidak saja pada lokasi atau kota besar saja, namun kita pun perlu menunjukkan peluang yang sama di kota kecil atau pelosok lainnya. Dan andai pada kesudahannya memang terdapat yang takut mengupayakan walaupun mereka telah tahu akan peluang yang ada, sekalipun tuah dan hal eksternal tersebut juga berkontribusi pada keberhasilan/kegagalan kita, anda tidak akan pernah tahu bila kita tidak mencoba. Kalau saya tidak mengupayakan melamar beasiswa ini, saya 100% tentu tidak bakal mendapatkannya kan? Kalau saya tidak mencoba, kemungkinannya melulu 1: saya gagal. Dengan mencoba, anda mempunyai dua kemungkinan: sukses dan gagal. Dan kamu dapat terus berusaha, berdoa, dan tidak boleh lupa minta restu orangtua.
Terimakasih telah membca artikel berjudul Cara Mudah Kuliah di Amerika dengan Beasiswa

Kumpulan Makalah
Kumpulan Makalah Updated at: 10/05/2017

0 komentar Cara Mudah Kuliah di Amerika dengan Beasiswa

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak