Home » » Biografi dan Kegiatan Dakwah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri

Biografi dan Kegiatan Dakwah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri

   
Biografi dan Kegiatan Dakwah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri

A. Biografi Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri 

Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri dicetuskan di kota Jeddah Arab Saudi tepat sebelum fajar pada hari Jumaat 16 April 1971 bertepatan 20 Safar 1391 H dari orang tua yang masih keturunan Imam Hussein bin Ali ra.
Habib Ali al-Jufri memiliki penampilan jasmani yang menonjol: tampan, berkulit putih, tinggi, besar, berjenggot tebal dan apik tanpa kumis, sampai-sampai kehadirannya di sebuah majelis tidak jarang menyita perhatian orang. 

Tetapi keunggulannya bukan itu, bila berkata di forum, orang akan diciptakan kagum dengan penguasaannya dalam ilmu Agama lumayan luas dan mendalam serta kaitannya dengan masalah-masalah kontekstual di era modern. Intonasi suaranya menciptakan orang tak hendak berhenti mengekor pembicaraannya. Pada ketika tertentu, suara dan ungkapan-ungkapannya menyejukkan hati pendengarnya. Tapi di ketika yang lain, suaranya meninggi, menggelegar, bergetar, menciptakan mereka tertunduk, kemudian mengoreksi diri sendiri.

Materi yang dibawakan tidak saja mengandalkan retorika semata, tetapi penuh dengan pemahaman-pemahaman baru, penuh dengan informasi penting, dan ditopang argumentasi-argumentasi yang kukuh. Wajar ceramahnya dapat menyentuh kalbu dan menciptakan audiense seperti mendapat  tambahan ilmu dan wawasan baru, pun semangat dan tekad baru guna mengoreksi diri sendiri dan menciptakan 'perubahan'.

Mungkin tersebut sebabnya, Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri menjadi sosok ulama dan da'i muda yang nama dan kiprahnya dikenal luas di sekian banyak  negeri muslim, bahkan pun di dunia Barat.

1. Nasab HabibAli Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri 

Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alawi bin Ali bin Alawi bin Ali bin Ahmad bin Alawi bin Abdurrahman Maulah Al-Arsha bin Muhammad bin Abdullah al-Tarisi bin Alawi al-Khawas bin Abu Bakar Al-Jufri putra Muhammad putera Ali putera Muhammad putera Ahmad al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Sahab Mirbat Muhammad bin Ali Khalil Alawi Qassam anak putera Muhammad putera Alwi putera Ubaidullah Ahmad al-Muhajir ila Allah Isa putera Muhammad al-Naqib bin Ali al -Uraidhi bin Jaafar as-Sidiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin putera dari Hussein (cucu Rasulullah saw) anak dari Ali bin Abu Thalib, suami dari Fatimah al-Zahra puteri Rasulullah saw. Ibunya yang mulia puteri Marumah putera Hassan bin Alawi bin Alawi Hassan bin Ali al-Jufri.

2. PendidikanHabib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri 

Pada masa kecil, Habib Ali al-Jufri mulai menimba ilmu untuk bibi dari ibundanya, seorang alimah dan arifah billah, Habibah Shafiyah binti Alwi bin Hasan Al-Jufri. Wanita shalihah ini menyerahkan pengaruh yang paling besar dalam mengarahkannya ke jalur ilmu dan perjalanan mengarah ke Allah.

Setelah tersebut ia tak henti-hentinya menimba ilmu dari semua tokoh besar. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf ialah salah seorang guru utamanya. Kepadanya ia menyimak dan memperhatikan pembacaan buku Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Tajrid Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, dan kitab-kitab urgen lainnya. Cukup lama Habib Ali belajar kepadanya, semenjak usia 10 tahun sampai berusia 21 tahun.

Ia pun berguru untuk Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, ulama terkemuka dan pengarang karya-karya terkenal. Di antara buku yang dibacanya kepadanya ialah Idhah Asrar `Ulum Al-Muqarrabin. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki pun salah seorang gurunya. Kepadanya ia mempelajari kitab-kitab musthalah hadits, ushul, dan sirah. Sedangkan untuk Habib Hamid bin Alwi bin Thahir Al-Haddad, ia menyimak Al-Mukhtashar Al-Lathif dan Bidayah Al-Hidayah.

Ia pun sekitar lebih dari empat tahun menimba ilmu untuk Habib Abu Bakar Al-`Adni bin Ali Al-Masyhur, dengan menyimak dan mendengarkan buku Sunan Ibnu Majah, Ar-Risalah Al-Jami`ah, Bidayah Al-Hidayah, Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah, Tafsir Al-Jalalain, Tanwir Al-Aghlas, Lathaif Al-Isyarat, Tafsir Ayat Al-Ahkam, dan Tafsir Al-Baghawi.

Pada tahun 1412 H (1991 M) Habib Ali mengekor kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Shan`a, Yaman, sampai tahun 1414 H (1993 M). Kemudian ia menetap di Tarim, Hadhramaut. Di sini ia belajar dan pun mendampingi Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz semenjak tahun 1993 sampai 2003. Kepadanya, Habib Ali menyimak dan menghadiri pembacaan kitab-kitab Shahih Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, Adab Suluk Al-Murid, Risalah Al-Mu`awanah, Minhaj Al-`Abidin, Al-`Iqd An-Nabawi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Al-Hikam, dan sebagainya.

Selain untuk mereka, ia juga menimba ilmu untuk para figur ulama lainnya, laksana Syaikh Umar bin Husain Al-Khathib, Syaikh Sayyid Mutawalli Asy-Sya`rawi, Syaikh Ismail bin Shadiq Al-Adawi di Al-Jami` Al-Husaini dan di Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, pun Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim. Di samping itu, Habib Ali pun mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam sekian banyak  cabang ilmu.
Di antara guru-guru HabibAli Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri  ialah:
- Habib Abdul Qadir bin Ahmad Al-Saqqaf, Jeddah
- Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad
- Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Makkah
- Habib Attas Al-Habsyi
- Habib Abu Bakar Al-Masyhur Al-Adani
- Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar
- Habib Umar bin Hafiz, Yaman, menjadi guru sekaligus sahabatnya pun dari 1993 sampai 2003

B. Kegiatan Dakwah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri 

Habib Ali Al-Jufri sudah memberikan ruang belajar untuk mengajar, bimbingan, nasihat, guna membangunkan orang guna tanggungjawab mereka dan untuk menyuruh orang-orang berpulang kepada Allah dalam tidak sedikit negara, dibuka pada 1412 H/1991 di kota-kota dan desa-desa Yaman. Dia mengawali perjalanan di luar negeri 1414 H/1993 yang masih terus hari ini dan antaranya tergolong negara-negara berikut:
a. Arab: UAE, Jordan, Bahrain, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Oman, Qatar, Kuwait, Lubnan, Libya, Mesir, Maroko, Mauritania, Kepulauan Komoro dan Djibouti.
b. Asia: Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Bangladesh dan Sri Lanka.
c. Afrika: Kenya dan Tanzania.
d. Eropa: Britania Raya, Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Irlandia, Denmark, Bosnia & Herzegovina dan Turki.
e. Amerika: 3 perjalanan yang kesatu ialah pada tahun 1419 H/1998, yang kedua ialah pada 1422 H/2001 dan yang ketiga yang pada 2002/1423, di samping pun mengunjungi Kanada.

Perjalanan dakwahnya ke sekian banyak  negeri memberi kesan tersendiri di hati semua jama’ah yang memperhatikan penjelasan dan pesan-pesannya. Di Jerman, ia menciptakan jama’ah masjid sejumlah tiga lantai menangis tersedu-sedu mendengar taushiyahnya. Orang-orang yang bermukim di Barat, yang ingin keras hatinya, ternyata dapat lunak di tangan Habib Ali. Di Amerika terdapat yang merasa bahwa memandang dan berkumpul bareng Habib Ali Al-Jufri sekitar satu malam lumayan untuk memberinya tenaga dan motivasi untuk beribadah sekitar tiga bulan. Di Inggris ia tercebur pelaksanaan Maulid Nabi di stadion Wembley. Di Denmark ia menyelenggarakan jumpa pers dengan kalangan media massa.

Di Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut masing-masing tahun, bulan Rajab-Sya`ban, ia menjadi pembicara teratur Daurah Internasional. Ia juga merangkul semua dai muda di Timur Tengah, serta menuntun dan menyerahkan petunjuk untuk para pemuda yang berbakat. Ia suka duduk bareng para pemuda dan menyelenggarakan dialog tersingkap secara bebas.

Dalam berdakwah, ia aktif menjalin hubungan dengan sekian banyak  kalangan masyarakat. Ia menginjak kalangan yang sangat bawah, laksana suku-suku di Afrika, sampai kalangan sangat atas, laksana keluarga keamiran Abu Dhabi. Ia bersangkutan dengan kalangan awam sampai kalangan yang sangat alim, laksana Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (mufti de facto negeri Syria), Syaikh Ali Jum`ah (mufti Mesir), dan ulama-ulama besar lainnya.

Banyak bintang film, artis dan aktris, semua seniman, di Mesir yang bertaubat di tangannya. Ini menyebabkan pemerintah Mesir merasa khawatir, bila hal ini dilangsungkan terus bakal memberikan akibat buruk untuk industri perfilman Mesir, yang adalahsalah satu sumber pendapatan utama sesudah pariwisata. Artis yang sebelumnya “terbuka” jadi berhijab, yang dulunya aktor jadi berdakwah. Kini ia juga secara teratur tampil di televisi. Penyampaian dakwahnya menyentuh akal dan hati. Cara dakwahnya yang sejuk dan simpatik, pandangan-pandangannya yang cerdas dan tajam, pembawaannya yang unik hati, membuatnya semakin dominan dari masa-masa ke waktu.

Kemunculan Habib Ali di dunia dakwah membawa angin segar untuk kaum muslimin, khususnya kalangan Sunni. Cara dakwahnya bertolak belakang dengan dakwah kalangan yang ingin keras, kasar, dan kering dari nilai-nilai ruhani, serta ingin menyerang orang lain, dan tidak sedikit menekankan pada model konflik ketimbang harmoni dengan kalangan non-muslim. Bahkan mereka memandang masyarakat muslim kini sebagai reinkarnasi dari masyarakat Jahiliyah.

Beberapa waktu kemudian koran Denmark kembali memperlihatkan kartun Nabi. Berbeda dengan reaksi beberapa kalangan muslim yang sarat amarah dan tindak kekerasan di dalam menanggapinya, Habib Ali Jufri dengan kesejukan hatinya serta ketajaman pandangan, pikiran, akal, dan mata bathinnya telah mengerjakan serangkaian tahapan yang bervisi jauh ke depan. Ia berharap, langkah-langkahnya akan dominan  positif untuk kaum muslimin, khususnya yang bermukim di negara-negara Barat, serta bakal menguntungkan dakwah Islam pada masa sekarang dan bakal datang.

Bukannya melihat permasalahan ini sebagai ancaman dan bahaya terhadap Islam dan muslimin, Habib Ali malah secara cerdas menyaksikan hal ini sebagai kesempatan dakwah yang besar guna masuk ke negeri Eropa secara terbuka, untuk menyatakan secara bebas mengenai Rasulullah SAW dan bercakap-cakap dengan warga serta kalangan pers di sana mengenai agama ini dan tentang gejala muslimin. Singkatnya, ia malah melihat ini sebagai kesempatan dakwah yang besar.

Tentu saja teknik pandang Habib Ali juga diakibatkan pemahamannya yang paling dalam mengenai karakter masyarakat Barat. Salah satu karakter terbesar mereka ialah mempunyai rasa hendak tahu yang besar, beranggapan rasional, dan mempunyai sikap siap mendengarkan. Karakter-karakter umum ini, diperbanyak sorotan perhatian untuk Rasulullah, adalahpeluang besar untuk menyerahkan penjelasan. Mereka hendak tahu mengenai Nabi SAW, berarti mereka dalam situasi siap mendengarkan. Mereka rasional, berarti siap guna mendapatkan keterangan yang logis.

Apabila kita dapat menjelaskan mengenai Nabi SAW dan agama ini untuk mereka dengan teknik yang menyentuh akal dan hati mereka, maka kita malah akan dapat mengganti mereka. Dari yang anti menjadi netral, yang netral menjadi pro, yang pro menjadi muslim, yang antipati menjadi simpati, yang keras menjadi lembut, yang marah menjadi dingin, yang acu menjadi penasaran. Sekaligus pula menangkal simpatisan menjadi oposan, pro menjadi anti dan seterusnya.

Karena karakter masyarakat Barat yang terbuka, toleran, lebih dapat menerima keanekaragaman budaya, maka kesempatan dakwah tersingkap bebas. Inilah ranah ideal guna dakwah Islamiyah. Tentu saja ini untuk para da`i yang berfikiran terbuka, berakal lurus dan tajam, cerdas mengetahui situasi kondisi, dan mempunyai dada yang lumayan lapang dalam menerima tanggapan negatif, serta giat mengerjakan pendekatan yang konstruktif dan positif, serta mempunyai akhlak yang mulia. Di sinilah Habib Ali Al-Jufri masuk dengan dakwahnya yang dialogis.

Tentu saja guna berani mengerjakan dialog dengan pers Barat diperlukan kecerdasan dan keluasan beranggapan serta pemahaman atas pola beranggapan masyarakat Barat. Habib Ali dan semua dai ini, di samping sangat mengetahui masyarakat Barat, pun mempunyai tim eksklusif yang mengerjakan penelitian-penelitian secara ilmiah dan rinci tentang subyek apa juga yang dibutuhkan.

Ketika melihat sekian banyak  reaksi yang terdapat atas permasalahan kartun Nabi, Habib Ali mengejar satu benang merah: semua kumpulan dalam masyarakat Islam marah. Kemarahan yang menggambarkan masih adanya sisa-sisa mahabbah untuk Nabi SAW ini mempunyai sifat lintas madzhab, lintas thariqah, lintas jama’ah, bahkan lintas aqidah. Habib Ali menyaksikan ini sebagai kesempatan pula untuk membulatkan visi kaum muslimin dan menyatukan deretan mereka. Kalau kaum muslimin tak dapat bersatu dalam madzhab, thariqah, bahkan aqidah, mereka ternyata dapat disatukan dalam mahabbah dan pembelaan terhadap Nabi SAW.

Langkah Habib Ali tidak berhenti di sini. Ia menyusun sekelompok dai yang dikenal dengan akhlaqnya, keterbukaan benak dan keluasan dadanya, serta kesiapannya untuk mengerjakan dialog secara intensif dan bebas dengan masyarakat Barat. Kemudian ia bareng kelompok dai ini menyelenggarakan safari intensif keliling Eropa bertemu dengan kalangan pers dan sekian banyak  kalangan lainnya untuk menyerahkan penjelasan.

Habib Ali dan semua dai tersebut memungut momen ini guna memupuk cinta muslimin untuk Rasulullah, guna menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang lama mati, dan untuk menyuruh muslim berakhlaq mulia sebagaimana akhlaq nabinya, seraya mengingatkan kaum muslimin yang berdemo supaya menjaga adab dan akhlaq Nabi. Ia pun menyeru untuk kaum muslimin guna memanfaatkan momen ini dengan menghadiahkan buku-buku mengenai Nabi Muhammad untuk para tetangga dan kawan-kawan mereka yang non-muslim, serta guna membuka topik guna menjelaskan untuk mereka mengenai Rasulullah dan status dia di lubuk hati kaum muslimin.

Bukan melulu itu. Ia juga memanfaatkan momen ini untuk membulatkan dai-dai sejagat dalam satu shaf dan mempelopori berdirinya organisasi dai sedunia. Yang menarik, dalam seluruh tindakan dan tahapannya ini, ia senantiasa menggandeng, berkoordinasi, dan bermusyawarah serta melibatkan semua ulama besar dunia, laksana Syaikh Muhammad Sa`id Ramadhan Al-Buthi, Syaikh Ali Jum`ah (mufti Mesir), dan ulama-ulama besar lainnya. Sehingga gerakan ini menjadi gerakan kolektif, kepunyaan bersama, bukan kepunyaan Habib Ali saja.

Sebagai salah satu akibat dari gerakan ini ialah terjalinnya silaturahim dan tersambungnya komunikasi yang sebelumnya terputus atau tidak cukup intensif salah satu para ulama dan dai muslimin sebab mereka menjadi giat berkomunikasi lintas madzhab, pemikiran, kecenderungan pribadi, bahkan lintas aqidah.
Gerakan yang dipelopori Habib Ali ternyata dapat mengikat sebanyak besar pemuka Islam dari sekian banyak  latar belakang yang bertolak belakang ke dalam satu shaf lurus yang panjang guna bersama-sama menanggapi suatu isu internasional dengan satu suara bulat yang tidak terpecah-pecah.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Biografi dan Kegiatan Dakwah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/05/2017

0 komentar Biografi dan Kegiatan Dakwah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak