Home » » Bacaan Basmalah Dalam Shalat Berdasarkan Pendapat Para Ulama Piqhi

Bacaan Basmalah Dalam Shalat Berdasarkan Pendapat Para Ulama Piqhi

   
Bacaan Basmalah Dalam Shalat Berdasarkan Pendapat Para Ulama Piqhi

A. Pendapat Para Ulama Piqhi Tentang Bacaan Basmalah Dalam Shalat

1. Bacaan Basmalah Sunnah Dibaca secara Pelan

Basmalah bukan termasuk ayat menurut surat al-Fatihah, sunnah dibaca secara sirr waktu membaca al-Fatihah  dalam shalat, baik shalat sirriyyah maupun jahriyyah. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad Imam Abu Hanifah & Sufyan ats-Tsauri.

Menurut penuturan at-Tirmidzi, pendapat inilah yg menjadi pegangan kebanyakan pakar ilmu dari kalangan teman Nabi dan tabi’in misalnya Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Ibnu al-Mundzir menambahkan nama Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair dan ‘Ammar.  Pendapat ini juga dipegangi oleh al-Hakam, Hammad, al-Auza’i, Suyan ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak & kelompok ulama ahl ra’y.

Ulama pada masa ini yg menguatkan pendapat ini di antaranya  Husain bin ‘Audah al-‘Awasyah pada kitabal-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fi Fiqh al-Kitab wa as-Sunnah al-Muthahharah.

Melengkapi informasi pada atas,  Ibnu Rajab lewat Fath al-Bari 5/200 menjelaskan siapa saja yang beropini misalnya ini :
وإلى ذَلِكَ ذهب أكثر أهل العلم من أصْحَاب النَّبِيّ – صلى الله عليه وسلم - ، منهم : أبو بَكْر وعمر وعثمان وعلي وغيرهم ، ومن بعدهم من التابعين ، وبه يَقُول سُفْيَان الثوري وابن المبارك وأحمد وإسحاق ، لا يرون أن يجهر بـ (( بسم الله الرحمن الرحيم )) . قالوا : ويقولها فِي نفسه . انتهى . وحكى ابن المنذر هَذَا القول عَن سُفْيَان وأهل الرأي وأحمد وأبي عُبَيْدِ ، قَالَ : ورويناه عَن عُمَر وعلي وابن مَسْعُود وعمار بْن ياسر وابن الزُّبَيْر والحكم وحماد .قَالَ : وَقَالَ الأوزاعي : الإمام يخفيها .
“Pendapat mensirrkan basmalah adalah pendapat kebanyakan pakar ilmu berdasarkan kalangan sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar, Umar, Usman & Ali dan yang lain-lain sesudah mereka menurut kalangan tabi’in. Yang beropini demikian pula adalah Sufyan ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak, Ahmad & Ishaq. Mereka mengajarkan supaya basmalah dibaca secara pelan ( didengar sendiri). Ibnu al-Mundzir menghikayatkan pendapat ini dari menurut Sufyan ats-Tsauri, ahl ar-Ra’y, Ahmad, Abu Ubaid. Ia juga menyampaikan, “ Kami pula meriwayatkan pendapat ini asal dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir, Ibnu az-Zubair, al-Hakam, Hammad. Ia menyampaikan, ‘ Berkata al-Auza’i : Imam membaca basmalah dengan pelan”.

Ibnu Katsir memberitahukan pada tafsirnya : 1/118 :
وذهب آخرون إلى أنه لا يجهر بالبسملة في الصلاة، وهذا هو الثابت عن الخلفاء الأربعة وعبد الله بن مغفل، وطوائف من سلف التابعين والخلف، وهو مذهب أبي حنيفة، والثوري، وأحمد بن حنبل.
“ Ulama lain berpendirian bahwasanya basmalah tidak dikeraskan dalam shalat, riwayat ini adalah yang tetap (meyakinkan) berdasarkan khalifah empat dan Abdullah bin Mughaffal dan sekelompok ulama salaf, tabi’in dan khalaf. Ini menjadi pilihan madzhab Abu Hanifah, ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal.”

basmalah sunnah dibaca secara sirr saat membaca al-Fatihah  dalam shalat. Pendapat yang dipegang sang Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah & Sufyan ats-Tsauri ini mengajukan beberapa dalil menurut as-Sunnah seperti :
Hadis Pertama :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  )صحيح البخاري - (3 / 186)
“Dari Anas bin Malik, “ Bahwasanya Nabi SAW dan Abu Bakar, Umar radhiyallahu ‘anhuma mereka semua membuka (bacaan) shalat menggunakan alhamdulillahirabbil’alamin”. ( Sahih al-Bukhari : tiga/186)

Hadis Kedua :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ الْقِرَاءَةَ بِ  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  سنن ابن ماجه - (tiga / 40)
“Dari Aisyah ia mengungkapkan, “ Bahwasanya Rasulullah SAW membuka bacaan shalat denganalhamdulillahirabbil ‘alamin. ( Sunan Ibnu Majah : 3/40 )
Hadis ini disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Wa Dha’if Sunan Ibnu Majah : dua/384.

Hadis ketiga :
عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)  صحيح مسلم - (2 / 361)

Dari Anas dia mengungkapkan:
“Saya shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, & Usman, & aku  nir mendengar seorang pun menurut mereka membaca Bismillahir-rahmanir-rahim”. ( Sahih Muslim : dua/361)

Sebuah atsar berdasarkan sahabat Ibnu Mas’ud :
لِقَوْلِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَرْبَعٌ يُخْفِيهِنَّ الْإِمَامُ ، وَذَكَرَ مِنْهَا التَّعَوُّذَ وَالتَّسْمِيَةَ وَآمِينَ 
“ Perkataan Ibnu Mas’ud yg menyatakan : ada empat kasus yang dibaca pelan oleh imam yakni : disebutkan di antaranya bacaan ta’awudz, tasmiyah & amin”.

Hadis-hadis pada atas secara sharih menerangkan bahwa Rasulullah SAW memulai bacaan dengan  al-hamdulillahi rabbil ‘alamin, basmalahnya dibaca secara sirr. Kesahihan riwayat di atas nir perlu diragukan lagi, lantaran diriwayatkan oleh Imam Bukhari & Muslim.

2. Bacaan Basmalah Harus Dibaca Secara Keras 

Basmalah termasuk ayat dalam surat al-Fatihah & harus dibaca bersama al-Fatihah secara keras (jahr) pada shalat jahriyyah & secara sirr dalam shalat sirriyyah. Pendapat ini sebagai pegangan Imam asy-Syafi’i & pengikutnya.

Di kalangan penganut madzhab asy-Syafi’i masih ada kesepakatan , sebagaimana diterangkan an-Nawawi, bahwa basmalah termasuk pada Surat al-Fatihah tanpa terdapat perselisihan.
اما حكم المسألة فمذهبنا ان بسم الله الرحمن الرحيم آية كاملة من اول الفاتحة بلا خلاف ) المجموع شرح المهذب - (ج 3 / ص 333)
“ Adapun aturan kasus, maja madzhab kami bahwasanya basmalah itu satu ayat yang sempurna menurut awal surat al-Fatihah tanp terdapat perselisihan”. ( al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab : 3/333)

Menurut para qurra` Makah, sebagian Kufah & Hijaz, basmalah termasuk satu ayat menurut surat al-Fatihah.

Ibnu Katsir menyebutkan siapa saja yang memegang pendapat ini pada tafsirnya 1/117 :
فذهب الشافعي، رحمه الله، إلى أنه يجهر بها مع الفاتحة والسورة، وهو مذهب طوائف من الصحابة والتابعين وأئمة المسلمين سلفًا وخلفًا  ، فجهر بها من الصحابة أبو هريرة، وابن عمر، وابن عباس، ومعاوية)... تفسير ابن كثير – (1 / 117)

“ Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwasanya basmalah dikeraskan bersama al-Fatihah dan surat(an), ini jua sebagai pendapat segolongan menurut kalangan teman dan tabi’in dan para imam kaum muslimin zaman dahulu & kemudian. Yang mengeraskan basmalah menurut kalangan sahabat di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas & Mu’awiyah...”

Imam an-Nawawi menandaskan bahwa dari madzhab kami (madzhab asy-Syafi’i), basmalah disunnahkan buat dibaca keras pada shalat jahriyah baik pada awal al-Fatihah maupun di awal surat. Lebih lanjut dia menjelaskan siapa saja yg beropini seperti ini, dengan menukil riwayat dari Abu Bakar al-Khathib, pada antaranya berdasarkan kalangan teman  terdapat khalifah yg empat.

Ammar bin Yasir, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Qatadah, Abu Sa’id, Qais bin Malik, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, Syadad bin Aus, Abdullah bin Ja’far, Husain bin Ali, Abdullah Ja’far, & Mu’awiyah serta sejumlah teman dari Muhajirin dan Anshar. Dari kalangan tabi’in ada Sa’id bin al-Musayyab, Thawus, Atha`, Mujahid, Abu wail, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Ikrimah, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Salim bin Abdullah.....Dll.

Basmalah wajib  dibaca beserta al-Fatihah secara keras (jahr) pada shalatjahriyyah & secara sirr dalam shalat sirriyyah. Imam asy-Syafi’i & pengikutnya mengajukan sejumlah dalil berdasarkan as-Sunnah seperti :

Hadis Pertama :
عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ  غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي الِاثْنَتَيْنِ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  سنن النسائي - (ج 3 / ص 459) ,سنن الدارقطني - (ج 3 / ص 291)
مَ

“Dari Nu’aim al-Mujmir dia berkata, “Aku shalat pada belakang Abu Hurairah lalu dia membacaBismillahirrahmanirrahim, lalu membaca Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) sampai beliau membaca :“Waladh-dhaallin”, beliau menyampaikan : “Aamiin”. Maka manusia menyampaikan (juga) : “Aamiin”. Dan dia berucap setiap kali sujud : “Allahu Akbar”, dan ketika bangkit menurut duduk raka’at ke 2 beliau mengatakan :“Allahu Akbar”. Dan bila beliau salam maka dia berkata : “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya akulah pada antara kalian yang paling serupa shalatnya dengan Rasulullah SAW” (Sunan an-Nasa`i : tiga/459, Sunan ad-Daruquthni : tiga/291)

Al-Albani menghukumi hadis tersebut dengan ungkapan :
تحقيق الألباني : ضعيف الإسناد

Hadis ini berdasarkan penuturan Ibnu Hajar pada Fath al-Bari merupakan hadis terkuat tentang bacaan basmalah pada shalat.

Dalam Hasyiah as-Sindi masih ada penjelasan sebagai berikut :

قَوْله ( صَلَّيْت وَرَاء أَبِي هُرَيْرَة فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم ) يَدُلّ عَلَى أَنَّ الْبَسْمَلَة تُقْرَأ فِي أَوَّل الْفَاتِحَة وَلَا يَدُلّ عَلَى الْجَهْر بِهَا وَآخِر الْحَدِيث يَدُلّ عَلَى رَفْع هَذَا الْعَمَل إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَم . )شرح سنن النسائي – (2 / 152)
“Perkataan‘ Aku shalat di belakang Abu Hurairah kemudian ia membaca bismillahirrahmanirrahim’ menampakan basmalah itu dibaca di awal al-Fatihah, tetapi tidak menampakan basmalah itu dibaca menggunakan keras. Akhir hadis tadi menampakan bahwa perbuatan ini disandarkan dalam Nabi SAW.Wallahu Ta’ala A’lam. ( Syarh Sunan an-Nasa`i : 2/152)

Hadis Kedua :
ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)    سنن الترمذي - (1 / 414)
“Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW membuka (bacaan) shalat denganbismillahirrahmanirrahim.” ( Sunan  at-Tirmidzi : 1/414).

Hadis ini dihukumi dha’if sanadnya oleh al-Albani pada Sahih wa Dha’if sunan at-Tirmidzi  1/245.  Abu Dawud juga mengatakan, “ Hadis ini hadis dha’if.”


Hadis Ketiga :

وقد أخرجه الحاكم في المستدرك عن ابن عباس بلفظ : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجهر ب  بسم الله الرحمن الرحيم  ، ثم قال : صحيح . )المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 2 / ص 256)
Al-Hakim mengeluarkan dalam mustadraknya berdasarkan Ibnu Abbas dengan lafadz, “ Adalah Rasulullah SAW mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim”, lantas al-Hakim menyampaikan, Sahih. ( al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain li al-Hakim : dua/256)

Pensahihan al-Hakim yg dikenal suka  tasahul ( bermudah-gampang) pada mensahihkan hadis dikoreksi sang Ibnu Rajab pada Fath al-Bari. Menurut Ibnu Rajab hadis ini adalah dha’if.

Hadis Keempat :
عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم ، قالت : « كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقطع قراءته ( بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ، الرحمن الرحيم ، مالك يوم الدين )المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 7 / ص 36) شعب الإيمان للبيهقي - (ج lima / ص 333)
“ Dari Ummi Salamah bahwasanya dia mengungkapkan, “ Adalah Rasulullah SAW memutus bacaannyabismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ar-Rahmanirrahim, Malikiyaumiddin) (  al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain : 7/36, Syu’ab al-Iman li al-Baihaqi : lima/333).

Komentar ulama ahli hadis terhadap hadis tadi. Menurut ad-Daruquthni isnadnya sahih, perawinya semuanya tsiqat. Al-Hakim mengatakan : Sahih menurut syarat dua imam (Bukhari-Muslim), pendapat ini disetujui adz-Dzahabi.  Ibnu Khuzaimah & an-Nawawi pula mensahihkan hadis tersebut.

Hadis ini hanya menceritakan bahwa Nabi SAW terdapat membaca basmalah, namun tidak ada indikasi atau fakta bahwa beliau membacanya dengan keras.

Hadis Kelima :
عن أبي هريرة : «أنه صلى فجهر في قراءته بالبسملة ، وقال بعد أن فرغ : إني لأشبهكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم » ، أخرج النسائي في سننه ، وابن خزيمة ، وابن حبان في صحيحيهما ، والحاكم في المستدرك, وصححه الدارقطني ، والخطيب ، والبيهقي ، وغيرهم
“ Dari Abu Hurairah, bahwasanya dia melakukan shalat maka dia mengeraskan bacaan basmalahnya, lantas ia menyampaikan setelah terselesaikan shalat, “ Sungguh shalatku ini amat seperti menggunakan shalat yg dikerjakan Rasulullah SAW”. ( Dikeluarkan oleh Nasa`i pada sunannya, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam sahihnya, al-Hakim dalam al-Mustadrak. Disahihkan sang Daruquthni, al-Khatib, al-Baihaqi dan lain-lain.

Dalam evaluasi Ibnu Taimiyyah, hadis-hadis yang menyatakan Nabi SAW terdapat mengeraskan basmalah derajatnya nir meyakinkan. Hadis-hadis yg menjelaskan secara tegas bahwa Nabi ada mengeraskan bacaan basmalah semuanya dha’if bahkan ada yg maudhu’. Lebih lanjut dia mengutip pernyataan Imam ad-Daruquthni ketika ia sudah terselesaikan menghimpun hadis-hadis yang mengeraskan bacaan basmalah, ia ditanya, “ Adakah hadis sahih yang engkau  temukan pada hal ini?”. Ia menjawab, “ Adapun riwayat berdasarkan Nabi tak terdapat yg sahih, sedang riwayat menurut sahabat ada sebagian yang benar ada yg tidak.”

Dalam tafsir Fath al-Qadir karya Imam asy-Syaukani disebutkan dalam Juz dua/61:
قال ابن تيمية : وروينا عن الدارقطني أنه قال : لم يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في الجهر حديث
“ Berkata Ibnu Taimiyah : Kami meriwayatkan menurut ad-Daruquthni bahwasanya beliau mengungkapkan : “ Tak ada satupun hadis benar menurut Nabi SAW yg menerangkan bacaan basmalah dibaca keras”.

وقال الحازمي : أحاديث الجهر وإن كانت مأثورة عن نفر من الصحابة غير أن أكثرها لم يسلم من شوائب
“ Berkata al-Hazimi : Hadis-hadis yg memperlihatkan basmalah dibaca jahr meskipun berasal berdasarkan sekelompok teman Nabi SAW, tetapi mayoritas nir tanggal berdasarkan stigma”.

3. Bacaan Basmalah Makruh Dibaca

Basmalah bukan termasuk ayat dari surat al-Fatihah maka hukumnya makruh dibaca beserta al-Fatihah pada shalat fardhu baik secara pelan juga keras, tetapi boleh dibaca dalam shalat sunat. Ini menjadi pegangan Imam Malik dan pengikutnya.

Di kalangan qurra`, yang berpendapat basmalah bukan termasuk surat al-Fatihah  menurut nukilan al-Baghawi adalah qurra` Madinah, Bashrah & Kufah.

Ibnu Katsir mengungkapkan pada Tafsir Ibnu Katsir :1/118 :
وعند الإمام مالك: أنه لا يقرأ البسملة بالكلية، لا جهرًا ولا سرًا
“ Menurut Imam Malik : Basmalah tidak dibaca secara keseluruhan, baik dibaca keras juga pelan-pelan”

Sedang Imam Al-Qurthubi pada tafsirnya mengungkapkan 1/96:
وجملة مذهب مالك وأصحابه: أنها ليست عندهم آية من فاتحة الكتاب ولاغيرها، ولا يقرأ بها المصلي في المكتوبة ولافي غيرها سرا ولا جهرا، ويجوز أن يقرأها في النوافل. هذا هو المشهور من مذهبه عند أصحابه.
“ Kesimpulan madzhab Malik dan sahabatnya, bahwasanya basmalah bukan termasuk surat al-Fatihah & pula surat selainnya, basmalah tidak dibaca pada shalat fardhu & pula selainnya baik secara sirrmaupun jahr, namun boleh dibaca pada shalat sunat. Pendapat inilah yg masyhur berdasarkan Imam Malik menurut sahabat-sahabatnya”.

basmalah makruh dibaca bersama al-Fatihah dalam shalat fardhu baik secara pelan maupun keras, namun boleh dibaca dalam shalat sunat. Ini sebagai pegangan Imam Malik dan pengikutnya dan al-Auza’i. Untuk mendukung pendapatnya kelompok ini mengajukan dalil menjadi berikut :

Hadis Pertama :
عن أنس قال صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكر وعمر رضي الله عنهما فافتتحوا ب ( الحمد لله رب العالمين ) .)  صحيح وضعيف سنن النسائي – (3 / 47) تحقيق الألباني : صحيح

“ Dari Anas ia berkata, “ Aku shalat beserta Nabi SAW, Abu Bakar, Umar RA mereka membuka bacaan menggunakan al-hamdulillahirabbil ‘alamin” ( Sunana an-Nasa`i : tiga/47, menurut pentahqiqan al-Albani, hadis benar)

Hadis Kedua :

عَنْ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ سَمِعَنِي أَبِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ أَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَقَالَ لِي أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ قَالَ وَلَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَبْغَضَ إِلَيْهِ الْحَدَثُ فِي الْإِسْلَامِ يَعْنِي مِنْهُ قَالَ وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَمَعَ عُمَرَ وَمَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُولُهَا فَلَا تَقُلْهَا إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )سنن الترمذي - (ج 1 / ص 412)
“Dari Abdullah bin Mughaffal ia berkata, “ Ayahku mendengar aku  mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, maka ayahku menyampaikan,” Hai anakku ini termasuk sesuatu yang diada-adakan (muhdats), jauhilah masalah baru yang diada-adakan (bid’ah). Ayahku mengatakan, “ Aku tidak melihat seorang pun menurut teman Nabi yg lebih benci kepada bid’ah pada Islam. Sungguh aku  sudah shalat beserta Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Usman, maka aku  nir mendengar seorang pun mengucapkan basmalah, maka janganlah engkau  mengucapkannya. Apabila kamu shalat maka bacalah al-hamdulillahi rabbil ‘alamin”. ( Sunan at- Tirmidzi : 1/412, & beliau menghukumi hadis hasan)

Imam Nawawi dalam al-Khulashah , menurut penuturan Imam az-Zaila’i, mengomentari hadis ini dengan menyampaikan, bahwa banyak huffadz yg mendha’ifkan hadis ini. Para huffadz itu juga menolak penghasanan yang dilakukan Imam at-Tirmidzi akan hadis ini. Huffadz yang dimaksud di antaranya Ibnu Khuzaemah, Ibnu ‘Abdil Barr, dan al-Khathib. Mereka menyampaikan, “ Persoalannya berkisar pada Ibni Abdullah bin Mughaffal, dia itu majhul”.
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي " الْخُلَاصَةِ " : وَقَدْ ضَعَّفَ الْحُفَّاظُ هَذَا الْحَدِيثَ ، أَنْكَرُوا عَلَى التِّرْمِذِيِّ تَحْسِينَهُ ، كَابْنِ خُزَيْمَةَ ، وَابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ ، وَالْخَطِيبِ ، وَقَالُوا : إنَّ مَدَارَهُ عَلَى ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ ، وَهُوَ مَجْهُولٌ ، انْتَهَى .) نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية  - (dua / 227)
Tuduhan bahwa Ibnu Abdullah bin Mughaffal itu majhul ( nir dikenal) dibantah sang ulama lain bahwa yang dimaksud anak Abdullah bin Mughaffal merupakan Yazid misalnya yg dituturkan ole ath-Thabrani dan Ahmad, jadi tuduhan majhul itu telah terjawab.

Di akhir pembahasan, az-Zaila’i mengomentari hadis Tirmidzi dari Abdullah Mughaffal  yg dikritik sebagian pakar hadis  menggunakan perkataan :

وَبِالْجُمْلَةِ فَهَذَا حَدِيثٌ صَرِيحٌ فِي عَدَمِ الْجَهْرِ بِالتَّسْمِيَةِ ، وَهُوَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَقْسَامِ الصَّحِيحِ ، فَلَا يَنْزِلُ عَنْ دَرَجَةِ الْحَسَنِ ، وَقَدْ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ .) نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية  - (dua / 229)
Kesimpulannya, hadis ini secara terperinci memperlihatkan tidak adanya mengeraskan bacaan basmalah, hadis itu jika tidak mencapai derajat benar, namun tidak kurang dari derajat hasan, misalnya sudah dihasankan oleh at-Tirmidzi”. ( Nashb ar-Rayyah fi Takhrij al-Ahadits al-Hidayah : 2/229)

Hadis Ketiga :
عَنِ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ كَانَ أَبُونَا إِذَا سَمِعَ أَحَدًا مِنَّا يَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ يَقُولُ إِهِي إِهِي صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) مسند أحمد - (ج 41 / ص 500)
Dari Bani Abdullah bin Mughaffal mereka berkata, “ Adalah bapak kami jika mendengar salah  seorang di antara kami mengucapkan bismillahirahmanirrahim, dia menyampaikan : ‘ Hai anakku, aku  sudah shalat di belakang Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar, maka aku  tak pernah mendengar seorangpun yang membacabismillahirrahmanirrahim”. (Musnad Ahmad : 41/500)

Hadis Keempat :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ  الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا )صحيح مسلم - (2 / 362)
“Dari Anas bin Malik, “Saya shalat pada belakang Nabi SAW, Abu Bakar, ‘Umar, dan Usman, mereka membuka dengan Alhamdulillaahir-rabbil-‘aalamiin; tidaklah mereka mengungkapkan Bismillaahir-rahmaanir-rahiim pada awalnya & tidak pula di akhirnya”. ( Sahih Muslim : 2/362 )

Menarik buat dikutip adalah pernyataan sekaligus pengakuan Imam ad-Daruquthni yang poly menghimpun hadis-hadis yg mengeraskan bacaan basmalah, saat ditanya dia secara jujur berkata :
وَلِهَذَا قَالَ الدَّارَقُطْنِيّ إنَّهُ لَمْ يَصِحَّ فِي الْجَهْرِ بِهَا حَدِيثٌ ) نيل الأوطار - (ج tiga / ص 339)
 “ Tak satupun hadis yang menjelaskan mengeraskan bacaan basmalah itu benar”. ( Nail al-Authar : 3/339)
Bahkan sebagian ulama tabi’in ada yg beropini, mengeraskan bacaan basmalah adalah bid’ah.

4. Bacaan Basmalah boleh dibaca keras dan juga pelan

Basmalah dapat dibaca sekali tempo secara keras dan sekali tempo secara pelan, walau secara sirrdianggap lebih acapkali dikerjakan Nabi SAW. Pendapat ini dimotori oleh Ibnu al-

Qayyim dalam kitabnyaZadul Ma’ad fi Hadyi Khair al-`Ibad : 1/119
وَكَانَ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللّهِ الرّحْمَنِ الرّحِيمِ تَارَةً وَيُخْفِيهَا أَكْثَرَ مِمّا يَجْهَرُ بِهَا دَائِمًا فِي كُلّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسَ مَرّاتٍ أَبَدًا حَضَرًا وَسَفَرًا وَيَخْفَى ذَلِكَ عَلَى خُلَفَائِهِ الرّاشِدِينَ وَعَلَى جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ وَأَهْلِ بَلَدِهِ فِي الْأَعْصَارِ الْفَاضِلَةِ هَذَا مِنْ أَمْحَلِ الْمُحَالِ حَتّى يَحْتَاجَ إلَى التّشَبّثِ فِيهِ بِأَلْفَاظٍ مُجْمَلَةٍ وَأَحَادِيثَ وَاهِيَةٍ فَصَحِيحُ تِلْكَ الْأَحَادِيثِ غَيْرُ صَرِيحٍ وَصَرِيحُهَا غَيْرُ صَحِيحٍ وَهَذَا مَوْضِعٌ يَسْتَدْعِي مُجَلّدًا ضَخْمًا .

Ibnul Qayyim mengungkapkan :
“Dahulu Rasulullah SAW. Kadang-kadang mengeraskan lafadz bismillahirrahmanirahim dan lebih acapkali tidak membacanya secara keras. Dengan demikian nir diragukan lagi bahwa beliau tidak selalu mengeraskan basmalah saat shalat 5 ketika dalam sehari semalam, baik waktu bermukim ataupun bepergian. Beliau memperlihatkan hal ini pada khulafa` rasyidin, pada para sahabatnya dan penduduk kota-kota besar . Ini merupakan hal yg paling mustahil sehingga harus dijelaskan lagi. Untuk membahas perkara ini rupanya membutuhkan ruang yg berjilid-jilid yg tebal .”

Ada beberapa ulama yg berusaha mengkompromikan dua pendapat pada atas menggunakan dasar bahwa : Kadang Nabi menjaharkan basmalah & kadang juga tidak. Dan ini juga yg menjadi pendapat Ibnul-Qayyim, walaupun beliau menyatakan bahwa nir dijaharkan adalah lebih banyak  Pendapat ini pula yg dikuatkan sang Syaikh Muqbil & Syaikh Bin Baz (pada ta’liq dia terhadap Fathul-Bari).

Pendapat ini menggunakan thariqat al-jam’u wa at-taufiq ( metode mengumpul dan mengkompromikan) menurut beberapa dalil yang tidak selaras. Metode ini merupakan metode yg seyogyanya ditempuh pertama kali apabila menemukan dalil yang sepintas terindikasikan ta’arudh atau bertentangan.

Di mata ulama gerombolan  ini, riwayat yg menyebutkan bahwa Nabi SAW pernah mengeraskan bacaan basmalah diakui dan diamalkan, tetapi riwayat yg mensirrkan basmalah dianggap lebih kuat dan lebih tak jarang dilakukan oleh Nabi & para sahabat. Agar tidak terdapat sunnah yg diabaikan atau ditinggalkan, maka diamalkan saja keduanya.

5. Membaca Basmalah Secara Keras dan Pelan Sama Saja

Pendapat ini dikemukakan sang Ibnu Abi Laila dan al-Hakam dari penuturan al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari, bahwa basmalah mau dibaca keras atau pelan itu sama saja.
وَحَكَى الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى وَالْحَكَمِ أَنَّ الْجَهْرَ وَالْإِسْرَارَ بِهَا سَوَاءٌ.
Az-Zaila’i menukil, ulama yg berpendapat basmalah boleh dibaca pelan juga keras di antaranya Ishaq bin Rahawaih, dan Ibnu Hazm.

Pada dasarnya pendapat kelima ini alasan yang digunakan hampir sama dengan pendapat keempat. Kedua riwayat berdasarkan Nabi itu sama-sama diakui absah dari berdasarkan Nabi SAW maka berdasarkan itu keduanya sama saja buat diikuti dan diamalkan.

B. Fatwa-fatwa Ormas Islam Indonesia Tentang Bacaan Basmalah dalam Shalat

1. Fatwa Muhammadiyah
Tim Tarjih pada menjawab pertanyaan seputar bacaan basmalah dalam al-Fatihah pada shalat menyimpulkan di akhir jawabannya sebagai berikut :

Dalam menunaikan shalat dituntunkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya buat membaca bismillahirrahmanirrahim pada mengawali bacaan al-Fatihah.
Bacaan bismillahirrahmanirrahim tadi bisa dilakukan menggunakan suara nyaring atau dengan secara sirr ( nir nyaring).

Agar tidak menimbulkan keraguan, bagi imam yang membaca al-Fatihah  menggunakan suara nyaring  seyogyanya membaca bismillahirrahmanirrahim menggunakan bunyi nyaring jua.

Tuntunan yg diberikan Tim Tarjih ini relatif bijak dan sanggup ’ngemong’ jamaah. Mengingat sebagian besar  umat muslim pada Indonesia menganut paham Syafi’iyyah yang memfatwakan basmalah dianjurkan dibaca keras dalam shalat jahriyyah. Sehingga petuah  poin ke tiga dapat dimaklumi. Namun demikian mengingat kekuatan hadis-hadis yang mensirrkan basmalah, kiranya membaca basmalah secara sirr pun perlu dipraktekkan dan disosialisasikan secara sedikit demi sedikit sambil menunggu kesiapan para jamaah.

2. Fatwa KH Muhyiddin Abdusshomad (Ulama NU)
Di bukunya Fiqh Tradisionalis, laman 95 pada akhir jawabannya, beliau menulis :

“Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa basmalah merupakan sebagian surat berdasarkan al-Fatihah, sehingga harus dibaca manakala membaca al-Fatihah pada shalat. Dan juga basmalah disunnahkan buat dikeraskan sebagaimana sunnahnya mengeraskan al-Fatihah pada shalat jahriyyah ( shalat yg disunnahkan  buat menegeraskan suara)”.

3. Fatwa Persis
Ahmad Hassan membahas & mendiskusikan persoalan bacaan basmalah ini dalam deretan fatwanya yang dihimpun, Soal Jawab mengenai Berbagai Masalah Agama, pada jilid I page 95-103 beliau mengupas & mendiskusikan serta mengkritik argumen berbagap pendapat yang ada seputar konflik itu. Di bagian akhirnya beliau berkesimpulan, basmalah harus dibaca beserta al-Fatihah, bisa dengan nyaring sanggup menggunakan pelan.

4. Fatwa Perti ( KH Siradjudin Abbas )
“ Basmalah merupakan termasuk ayat pertama surat al-Fatihah, membaca basmalah dalam al-Fatihah hukumnya harus, dibaca keras dalam shalat jahriyyah dan dibaca pelan dalam shalat sirriyah. Jika basmalah tidak dibaca maka al-Fatihahnya sumbing, nir absah, jika al-Fatihahnya nir absah maka shalatnya jua tidak sah.”

5. Fatwa MTA ( Majlis Tafsir Al-Qur`an)
Dalam kitab   Tuntunan Shalat terbitan Yayasan Majlis Tafsir Al-Qur`an laman 54, tertulis :
“Dari riwayat-riwayat tadi sanggup kita fahami bahwa bacaan basmalah itu kadang dibaca jahr (nyaring) sebagaimana diriwayatkan Daruquthni tadi, dan kadang dibaca sirr ( nir nyaring) sebagaimana diriwayatkan  Ahmad & Muslim tersebut”

Dari kutipan tadi, dalam hal membaca basmalah pada shalat ketika memulai al-Fatihah, MTA menganut paham tengah, yakni kadang mengeraskan basmalah & kadang memelankan basmalah.

6. Pendapat Prof. Tengku Hasbi ash-Shiddieqy
“ Maka jika kita kumpulkan pendapat yg pertama menggunakan yang ke 2, timbullah satu pengertian bahwa Nabi kadang kadang menjaharkan basmalah & kadang-kadang nir. Nabi SAW lebih banyak nir menjaharkannya. Sekiranya Nabi SAW permanen menjaharkannya, tentulah para khulafaur Rasyidin mengetahuinya”.

Dari berbagai kutipan pendapat ormas Islam dan ulama di Indonesia, kiranya berkembang dua paham pada soal membaca basmalah ini, pendapat NU dan PERTI yg menyunnahkan dibaca keras bila al-Fatihah dibaca dengan keras, dan pendapat Muhammadiyah, PERSIS, MTA yang cukup fleksibel menggunakan memberi kebebasan imam untuk membaca pelan atau nyaring.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Bacaan Basmalah Dalam Shalat Berdasarkan Pendapat Para Ulama Piqhi

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/08/2017

0 komentar Bacaan Basmalah Dalam Shalat Berdasarkan Pendapat Para Ulama Piqhi

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak